Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Cemas


__ADS_3

"Tu-, tuan, nyo-, nyonya tuan. Nyo-nyonya-." ucapan Jefri yang terbata-bata dari sambungan telepon.


"Bicaralah yang jelas Jefri," bentak Zidan dari sambungan teleponnya.


"Nyo-nyonya di bawa tiga orang pria tadi tuan," ujar Jefri.


"Kau bicara yang jelas Jefri bangsat! sebelum ku potong lidah kau," ancam Zidan dengan penuh amarah.


"Maafkan saya tuan, tadi ada mobil yang menghadang perjalanan kami, lalu turun tiga orang pria, saya tidak bisa melawan mereka sendirian tuan. Dan mereka sekarang sudah membawa nyonya pergi. Maafkan saya tuan, maafkan saya," ujar Jefri ketakutan.


Beberapa saat Tubuh Zidan diam terpaku. Wajah nya pucat dengan tatapan mata kosong. Kemudian ia memutuskan sambungan telepon nya dengan Jefri. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Salsa, terhubung, tapi tidak diangkat. Ia coba sekali lagi menghubungi, namun Sama tetap tidak diangkat. Zidan lalu menelpon Raka. Menyuruh nya untuk melacak nomor Salsa. Setelah itu ia kembali memutuskan sambungan teleponnya.


Selang beberapa menit Raka masuk ke ruangan Zidan, ia sudah mengetahui posisi ponsel Salsa yang tidak jauh berada dari kantornya.


"Cepat, kita kesana sekarang Raka," ucap Zidan dengan wajah cemas nya, ia lansung berjalan keluar dari ruang kerjanya.


*


Di sekolah Salsa.


Bel pulang sekolah sudah sepuluh menit yang lalu berbunyi. Yang berarti hampir semua siswa sudah meninggalkan sekolah itu.


Di ruang kesenian, buk Nurmaini dan beberapa Siswa yang akan ikut dalam acara pentas seni yang akan diadakan beberapa hari lagi di sekolah, sudah berkumpul di ruang kesenian, untuk melakukan latihan di hari ke dua. Mereka saat ini tengah menunggu Salsa, yang sampai sekarang belum juga datang.


"Buk, ayo kita mulai saja latihannya," ucap Aulia yang akan memerankan tokoh saudara tiri Cinderella, menggantikan Siska.


"Kita tunggu Salsabila lima menit lagi, jika dia tidak datang baru kita mulai latihannya," ujar buk Nurmaini.


"Salsa tidak akan datang buk, kata teman nya dia izin pulang pagi tadi, karna tidak enak badan," timpal Rendi.


"Aduh....., kalau begini ibuk yang pusing, kemaren Siska, sekarang Salsa, besok siapa lagi?" gumam buk Nurmaini pasrah.


**


Berberapa menit kemudian, Zidan Sudah sampai di lokasi titik ponsel Salsa berada. Di sana ia hanya melihat, mobil yang biasa di kemudikan Jefri terparkir di tepi jalan.


Zidan kembali menghubungi ponsel Salsa, benar saja dari dalam mobil nada dering ponsel Salsa berbunyi.


Kamu dimana sekarang sabila sayang? gumam Zidan sembari mengusap kasar rambut nya.


Sementara itu Salsa yang di bawa tiga orang laki-laki tadi kini sedang berjalan masuk ke dalam sebuah restoran.


"Tante-----!" ucap Salsa kaget bercampur senang, saat melihat seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa ruangan VIP restoran itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu lalu berjalan mendekati Salsa dan memeluk nya.


"Jangan panggil saya tante, panggil, mama," ucap wanita paruh baya itu sembari memegang kedua pipi Salsa lalu mencium nya.


Salsa tersenyum canggung, karna waktu dimension ia hanya memperkenalkan dirinya, sebagai anak pelayan yang bekerja di sana.


"Kamu pasti heran kan, kenapa mama bisa tau? kalau kamu itu istri, Zidan."


Salsa hanya diam dengan pipi yang merona merah.


"Berani kamu membohongi mama ya!" imbuh wanita paruh baya itu sambil tangan nya memegang dagu Salsa.


"Maaf, Ma-," lirih Salsa yang merasa canggung dengan mertuanya yang bermata biru itu.


"Ayo duduk, nak,"


"kalau mama tidak menculik mu, mama tidak akan pernah bisa mengobrol banyak dengan menantu mama yang cantik ini," ujar wanita paruh baya itu sembari membawa Salsa berjalan ke sofa tempat ia duduk tadi.


Salsa masih merasa canggung saat duduk bersebalahan dengan mertua nya, yang masih terlihat sangat cantik itu.


"Kamu belum makan siang kan? sekarang kamu pesan makanan dulu, sebelum kita ngobrol lebih banyak lagi," ucap wanita paruh baya itu seraya memberikan buku menu pada Salsa.


"Samakan dengan mama saja,," balas Salsa yang kembali meletak kan buku menu itu atas meja.


Kedua wanita yang berstatus sebagai mertua dan menantu itu bercerita panjang lebar. Mulai dari Salsa yang bercerita awal pertemuan nya dengan Zidan, sampai akhir nya ia menikah.


Salsa dan Wanita paruh baya itu terlihat semakin dekat, saling tertawa dan bercanda, tidak terlihat sebagai mertua dan menantu, tapi terlihat seperti sahabat baik.


"Kalau mama? Awal ketemu sama papa gimana?" gantian Salsa yang bertanya.


Wanita paruh baya itu menghela nafas, sembari tersenyum pada Salsa.


"Mama dan papa nya Zidan pertama bertemu itu di Jerman. Saat itu kita sama-sama kuliah di kampus yang sama, papa Zidan itu sama percis dengan Zidan sekarang, susah untuk mengungkap kan perasaan nya-,"


"Berarti sifat mereka sama dong ma," ujar Salsa yang di sertai gelak tawa.


"Terus gimana caranya papa melamar mama? apa sama dengan cara mas Zidan?" imbuh Salsa bertanya di sela gelak tawa nya.


Raut Wajah wanita paruh baya itu seketika berubah menjadi sedih, saat Salsa melontarkan pertanyaan itu. Salsa juga menyesali pertanyaan nya saat menangkap perubahan raut wajah wanita paruh baya itu.


"Mama dan papa Zidan menikah tanpa restu ke dua orang tua mama. Tapi kami sangat bahagia," Kedua bola mata wanita paruh baya itu kini sudah mulai berkaca-kaca. Ia menghala nafas panjang sebelum melanjutkan kembali cerita nya.


"Tapi setelah orang tua mama mengetahui keberadaan kami. Dia mengirimkan orangnya untuk menjemput mama. Hikz..., hiks...., mama terpaksa mengikuti nya, karna orang tua mama mengancam akan membunuh papa Zidan, jika mama tidak ikut dengan orang suruhan nya itu,"  tutur wanita paruh baya itu, yang sudah menangis terisak.

__ADS_1


Salsa memeluk tubuh mertuanya itu, sembari mengusap lembut punggung nya.


Setelah selesai makan dan puas mengobrol di restoran itu. Wanita paruh baya itu lalu mengajak Salsa jalan-jalan dan shoping.


*****


Sore harinya Salsa diantar kan oleh mertuanya, ia sangat bahagia sekali saat itu. Setelah turun dari mobil, Salsa berjalan memasuki gerbang utama dengan beberapa paper bag di kedua tangan nya.


"Nyonya.......!" ucap Jefri yang menghentikan langkah Salsa. Jefri mengusap ke dua matanya seperti tidak percaya apa yang dia lihat.


"Ada apa bang?" tanya Salsa, sembari menoleh pada Jefri.


"Nyonya dari mana saja? bukan kah nyonya tadi di culik?" tanya Jefri.


"Salsa kan hebat bang, penjahat nya sudah Salsa hajar semua," ujar nya sembari mengayun-ayun kan tangan nya di udara.


"Saya bertanya serius nyonya," ujar Jefri.


"Ihhhh, emang Salsa bercanda," balas nya sembari membalikkan badan lalu melangkah masuk ke dalam mension.


Syukurlah, nyonya baik-baik saja, aku harus beritahukan ini pada tuan. gumam Jefri.


Jefri lalu menelpon Zidan, tapi tidak pernah diangkat nya. Ia kemudian menelpon nomor Raka.


"Ya, da apa Jef?" tanya Raka saat sambungan telepon nya mulai terhubung.


"Nyonya Salsa sudah ada di mension tuan," ujar Jefri.


"Kau jangan bercanda Jef," balas Raka.


"Saya tidak bercanda tuan, barusan nyonya datang dengan wajah yang sangat bahagia," terang Jefri.


"Awas kau kalau bercanda Jef," ancam Raka.


Tuuuuuuuth


****


Tiga puluh menit kemudian Zidan datang bersama Raka. Ia lansung berlari masuk ke dalam mension, menuju kamar.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, tapi Zidan tidak menemukan Salsa di dalam, ia berjalan memasuki kamar mandi, tapi tidak juga menemukan Salsa. Ia hendak berjalan kembali keluar untuk menemui Jefri.

__ADS_1


Tiba-tiba langkah nya terhenti saat sebuah tangan melingkar di perut nya yang rata.


__ADS_2