
Pov Salsa
Jam 10:00 pagi, aku sendirian di rumah. Mama mertua ku pergi setelah menerima telepon entah dari siapa, katanya ada keperluan penting. Ya, aku memaklumi kesibukan mama mertuaku itu di luar, karna ia juga pernah bercerita, Jika Ia sudah membeli hotel tempat nya menginap dulu dan juga akan mendirikan perusahaan baru.
Karna bosan di rumah sendiri. Akhirnya aku menelpon mas Zidan yang berada di kantor, sebenarnya dia tadi sudah mengatakan, jika akan balik siang. Tapi,entah kenapa? rasa nya aku benar-benar kangen sekali dengan nya. Apalagi saat teringat ungkapan Cintanya tadi pagi, rasanya kangen ku semakin tak terbendung.
Di sambungan telepon, aku sedikit merengek membujuk, agar Mas Zidan mengizinkan ku datang ke kantor nya. Dan hasil nya dia mengizinkan juga, meski ada rasa khawatir yang ku tangkap dari ucapannya. Aku sangat senang dan semangat sekali ketika mas Zidan mengizinkan ku datang ke kantor nya. Akupun segera melangkah keluar meminta bang Jefri untuk mengantarkan ku.
Di perjalanan menuju kantor mas Zidan. Aku duduk dikabin belakang sambil menikmati keindahan kota. Sungguh! aku merasa wanita yang paling beruntung memiliki suami seperti Mas Zidan. bukanlah karna wajah tampan dan harta nya yang membuat ku mencintai nya. Tapi sosok nya yang hampir sama seperti laki-laki pertama yang membuat ku jatuh cinta, yaitu Ayah ku. Laki-laki pertama yang aku cintai, Laki-laki yang selalu melindungi ku dengan cara nya sendiri.
****
Bukan kah itu ibu? Ya, itu ibu!
"Bang Jeff, berhenti bang!" aku sedikit teriak meminta bang Jefri untuk memberhentikan mobil, dengan mata yang tetap fokus mengawasi ibu yang terus berjalan.
Mobil berhenti, kubuka pintu dan lansung berlari mengejar ibuku yang berjalan masuk ke dalam sebuah gang sempit yang hanya bisa di lalui pejalan kaki.
"Buu!!! Ibuu!" teriak ku sambil terus berlari mengejar nya. Padahal tadi Ibu sempat menoleh ke arah ku. tapi, kenapa jalan nya semakin cepat? Kenapa dia tidak berhenti? Apa dia tidak melihatku? Atau dia masih marah dengan ku?
Aku membatin sambil terus mengejar nya, Tanpa ku pedulikan suara bang Jefri yang terus memanggil ku dari belakang.
"Buuuu!!!" Aku teriak memanggil nya, saat berada di perempatan gang sempit. Ya, tiba-tiba ibu menghilang. Kenapa ibu seperti menghindariku?
"Nyonya, huhf, huhf," kulihat bang Jefri yang ada di belakangku dengan ke dua tangan nya bertumpu di lutut.
"Nyonya. huhf, huhf, huhf, siapa yang nyonya kejar?" tanya bang Jefri dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tadi Salsa lihat ibu bang, tapi tiba-tiba ngilang," jawabku sambil terus mengedarkan pandangan kesegala arah.
"Apa nyonya tidak salah lihat?" tanya bang Jefri yang seperti tidak mempercayai ku.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Ku lihat foto Mas Zidan yang tampil di layar ponsel. ku dekatkan ponsel ku ke telinga setelah menggeser panah hijau.
"Ya, hallo Mas," sapa ku saat sambungan telepon terhubung.
"Sayang kamu di mana? Kok belum juga sampai?" tanya Mas Zidan, dari nada suaranya yang ku dengar, aku tau dia khawatir.
__ADS_1
"I-iya mas, sebentar lagi sampai," jawab ku, yang terus memperhatikan sekitar tempat itu.
"Ooo--- ya sudah mas tunggu. kamu tidak apa-apa kan?"
"I-Iya, aku nggak pa-pa mas," jawab ku meyakin kan nya.
Sambungan telepon pun berakhir. Aku dan bang Jefri kembali ke mobil. Di dalam mobil aku terus kepikiran dengan ibu. Entah kenapa firasat ku merasa tidak enak.
"Bang Jef, Salsa bisa minta tolong nggak? buat cari ibu. Salsa yakin tadi itu Ibu," pinta ku pada bang Jefri.
"Maaf nyonya, bukan saya tidak mau! Tapi, saya takut tuan marah dan memecat saya," Ya, aku tau Mas Zidan akan marah jika melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan nya. Tapi harus kah aku meminta Mas Zidan untuk membantu mencari ibu? Apa dia mau?
*****
Mobil yang di kendarai bang Jefri sudah sampai di kantor Mas Zidan, tepat berhenti di depan pintu loby. Percaya diriku seketika hilang saat teringat kejadian tempo lalu. Aku memandang pintu loby dimana aku dulu pernah di hina, di usir dan di dorong kasar oleh seorang wanita.
"Kita sudah sampai nyonya," ucap bang Jefri yang sedikit mengagetkan ku. Tapi aku masih duduk diam sambil terus menatap pintu loby.
"Salsa nunggu Mas Zidan di sini saja bang," balas ku sambil mengeluarkan ponsel untuk menelpon Mas Zidan. Sedangkan bang Jefri keluar.
"Halo Mas, aku sudah sampai," ucap ku saat sambungan telepon sudah terhubung.
"Baik Mas," jawab ku lalu sambungan telepon pun terputus.
Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari pintu loby, berjalan melenggok bak pragawati ke arah ku. Aku yang masih duduk di kabin belakang mobil hanya memperhatikan saja wanita itu yang kini sedang bicara dengan bang Jefri.
Setelah itu bang Jefri berjalan kearah ku dan membukakan pintu.
"Nyonya itu sekretaris tuan, dia yang akan mengantarkan nyonya ke ruangan tuan," ujar bang Jefri.
Wanita itu pun berjalan pelan seperti sedang memperhatikan penampilanku, dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan sinis. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum mengusir rasa ketidak percayaan diriku saat itu.
"Apa anda nyonya Salsa?" tanya nya padaku dengan mata sedikit menyipit. mungkin ia masih memperhatikan penampilanku. ya, saat itu aku hanya menggunakan sandal jepit, dan dress kuning yang panjang nya hingga ke bawah betis.
"I-Iya kak," balas ku yang merasa grogi hingga tak tau harus memanggilnya apa. Wanita didepanku itu terlihat sangat anggun dengan stelan Blazer biru yang di padukan nya dengan rok span diatas lutut, seperti sengaja memamerkan kaki panjang nya. Rambut nya pun di sanggul kebelakang hingga leher putih nya bisa di nikmati setiap mata lelaki.
Oh Tidak! Bang Jefri bilang tadi dia sekretaris Mas Zidan. itu berarti? Mas Zidan tiap hari lah menikmati pemandangan seperti ini.
__ADS_1
"Oh. kalau begitu ikuti saya!" ucap yang yang terkesan angkuh. Lalu berjalan masuk ke dalam loby. Aku mengikuti nya dari belakang. Ku perhatikan cara nya berjalan melenggang-lenggok kan pinggul nya seperti di buat-buat. Mungkin dia memang sengaja biar mata laki-laki melirik nya.
Dari lobi hingga berada di dalam lift, Ia memang tidak ada bicara denganku. tapi, aku bisa melihat dari pandangan mata nya yang sinis, seperti tidak menyukai ku.
*****
"Mas," Aku berlari mendekati Mas Zidan saat sudah berada di ruangan nya.
"Sebentar ya sayang," Mas Zidan melihat ku sekilas lalu kembali menatap layar laptop nya.
Mungkin memang dia lagi sibuk pikirku sambil berjalan ke belakang kursi kerjanya.
"Tuan, apa ingin saya buatkan kopi?" tanya sekretaris nya yang masih berada di ruangan itu.
"Ya, seperti biasa," balas Mas Zidan pada sekretarisnya.
Aku memang tidak tau apa saja yang di kerjakan sekretaris. Apakah membuat kopi juga tugas Sekretaris?
"Mas, aku lapar, kita pulang yu," ajak ku sambil mengalungkan tangan ke leher Mas Zidan setelah sekretaris itu pergi. Sebenarnya aku hanya tidak ingin Mas Zidan meminum kopi buatan sekretarisnya itu. Aku saja istrinya tidak pernah membuat kan nya kopi. tapi, bukan aku tak mau, hanya saja Mas Zidan selalu melarang ku untuk melakukan itu.
"Sebentar ya sayang, Mas selesaikan ini dulu," balas mas Zidan yang masih fokus dengan leptop nya.
Tidak berapa lama sekretaris nya tadi masuk kembali ke ruang kerja Mas Zidan, membawa secangkir kopi. ku perhatikan cara dia memandang Mas Zidan sambil terus menyunggingkan senyum nya.
"Ini kopi nya tuan," ucap nya mesra sambil meletak kan kopi itu di samping meja.
"Ya," jawab Mas Zidan sambil melambaikan tangan nya menyuruh wanita itu pergi.
Sebelum pergi mata nya menatap ku sinis, aku cepat memalingkan wajah karna takut beradu pandang dengan nya.
Setelah wanita itu pergi, aku berjalan memutari meja kerja Mas Zidan, dan dengan sengaja aku jatuh kan kopi itu. Percikan airnya sedikit mengenai kaki dan baju ku, tapi menurut ku itu lebih baik, dari pada harus melihat Mas Zidan meminum kopi itu.
"Sayang, kenapa?" Mas Zidan segera berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekatiku.
"Maaf Mas, kopi nya jatoh," dalam hati aku berniat ingin membuatkan kopi itu kembali.
"Tidak apa sayang itu hanya kopi, kamu tidak apa kan?" Mas Zidan memeriksa bagian tubuh ku dengan khawatirnya.
__ADS_1
"Aku nggak pa-pa mas, kopi nya biar aku buatkan lagi ya," aku hendak jongkok memunguti gelas yang sengaja ku jatuh kan tadi.
"Sudah, sekarang kamu duduk di sana, biar gissel yang membereskan ini." pinta Mas Zidan sambil menunjuk sofa yang terletak di sudut ruangan.