
Salsa sejak tadi berbaring uring-uringan diatas ranjang. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin buang air kecil yang di tahannya sejak tadi.
"Bagai mana cara nya ini, aku sudah tidak tahan lagi," batin nya.
Kemudian Salsa duduk di ranjang itu
"Om, saya mau ke toilet," ucap nya dengan wajah yang merah.
Zidan lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang tempatnya berbaring tadi.
"Cepat lah saya bantu," ucap Zidan dengan santai.
Seketika wajah Salsa berubah panik, bola matanya membola sempurna.
"O-Om, bilang apa?" tanya Salsa gugup.
"Memang nya kamu bisa sendiri ke sana?" balas Zidan seraya menunjuk pintu kamar mandi.
"Ta-tapi Saya tidak mau Om yang membantu saya," Salsa memberanikan menatap Zidan.
"Lalu kamu mau minta tolong sama siapa? disini tidak ada orang lain," balas Zidan.
Salsa berpikir sejenak, matanya mengedar melihat tombol merah yang ada di samping ranjang.
"Saya bisa panggil Bi Marni," ucap nya seperti menemukan solusi yang sempat ia lupakan.
"Heis, apa kamu tidak tau hari ini semua pelayan sibuk." ucap Zidan meyakin kan dengan nada suara yang ia tinggikan, sampai urat lehernya keluar.
Salsa duduk dengan muka tertunduk melihat jemarinya yang bermain dibawah. badan nya sejak tadi tidak bisa diam, bergoyang ke depan, ke belakang, ke kiri dan ke kanan, karna rasa sesak yang ingin buang air kecil.
"Cepat lah, apa kamu mau pipis di sini?" ucap Zidan sinis.
Kali ini bukan bola mata Salsa saja yang mau keluar, tapi pipi nya juga sudah seperti kepiting rebus. Tentu dirinya sangat malu sekali, membayangkan harus kekamar mandi di temankan Zidan.
Salsa menggeser tubuh nya mendekati Zidan, wajah nya menunduk menahan malu bercampur kesal.
Zidan yang melihat semua itu tersenyum senang.
Hap!
Dengan gerakan kilat, kini tubuh salsa sudah berada dalam gendongan Zidan, tangan Salsa terpaksa melingkar di leher Zidan. Mata nya memejam kuat, hingga terlihat jelas kerutan di sudut matanya.
"Hais, badan saja kecil tapi beratnya minta ampun, kebanyakan dosa kamu ini," ketus Zidan sambil terus berjalan ke kamar mandi.
"Dia bilang aku banyak dosa! haiis, seperti dia banyak pahalanya saja," gerutu Salsa dalam hati, bibir nya juga sedikit bergerak.
Zidan mendudukkan Salsa di toilet, lalu dirinya berbalik badan, melangkah menjauhi istri kecilnya.
"Cepat," ucap Zidan ketus.
"Om, jangan melihat kesini," ucap Salsa dengan rasa malu yang teramat sangat. Rasa nya lebih baik dia tenggelam ke dasar sumur tua yang tidak berpenghuni, dari pada merasakan situasi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sesak untuk membuang hajat nya juga sudah tidak bisa ia tahankan.
"Tidak ada guna nya saya mengintip kamu," dengus Zidan.
"Ishh, kenapa dia itu kalau ngomong selalu menyakiti hati," gerutu Salsa dalam hati.
"Om keluar aja lah, nanti kalau sudah selesai saya panggil," pinta nya.
"Dua menit lagi saya masuk," ucap Zidan, lalu berjalan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Hah! dua menit, tapi gak apa lah, dari pada dia di sini, bisa mati malu aku," gumam nya.
Kini, lepas sudah rasa hajat yang Salsa tahan sejak tadi, ia sudah kembali duduk di atas ranjang.
Tiba-tiba ponsel nya yang tergeletak di atas ranjang berbunyi, ia melihat tidak ada nama pemanggil di layar ponsel nya itu. Salsa membiarkan saja suara ponsel itu berbunyi tanpa ingin menjawab nya.
Zidan menatap Salsa dengan mata yang menyipit.
"Siapa?" tanya Zidan kemudian.
"Saya tidak tau siapa yang menelpon," jawab Salsa.
Satu kali panggilan itu terabaikan. Tidak lama suara ponsel itu kembali berbunyi dengan nomor pemanggil yang sama.
Zidan lalu meraih ponsel Salsa dan menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo siapa ini?" tanya Zidan setelah sambungan telepon itu terhubung.
"Saya Rendi Om, boleh saya bicara dengan Salsa,"
Deg!
Seketika zidan memutuskan sambungan telepon itu dan memblokir nomor nya.
Zidan menatap tajam istrinya yang hobi menundukkan wajah di depannya.
"Siapa Rendi?" tanya Zidan marah, melemparkan ponsel itu ke arah Salsa.
"Saya tidak kenal dia, caman dia satu sekolahan,"
"Tidak kenal? Lalu kenapa dia menelpon," tanya Zidan nada nya masih terdengar marah.
"Saya nggak tau, Om," jawab Salsa dengan wajah yang masih menunduk.
"Nggak. Saya bahkan nggak tau bagaimana cara melihat nomor ponsel sendiri," jawab Salsa jujur.
Kemudian Zidan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi Raka.
"Belikan saya nomor ponsel baru," ucap Zidan lalu memutuskan kembali sambungan telepon nya.
Zidan menekan tombol merah di samping ranjang itu untuk memangil pelayan, sebelum pergi meninggalkan kamar Salsa.
Salsa meraih ponsel nya kembali, setelah melihat Zidan tidak ada lagi di dalam kamar.
"Dari mana dia mendapatkan nomor ponsel aku ya? Kan Yang tau nomor ponsel aku disekolah cuman Santi, apa santi yang memberikan nya? Ish, anak itu," gerutu Salsa.
Tok
Tok
Tok
Terdengar Suara ketukan pintu dari luar kamar. Salsa diam tidak menyahut.
"Nyonya, apa saya boleh masuk," terdengar suara Marni di balik pintu.
"Masuk aja Bi," teriak Salsa menyuruh Marni masuk.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, terlihat Marni dan dua orang pelayan di belakangnya berdiri di depan pintu.
"Bi sini," panggil Salsa, yang melihat Marni masih berdiri di depan pintu.
Marni masuk dan berdiri di samping ranjang, di ikuti dua orang pelayan di belakang nya.
"Ada apa Bi," tanya Salsa yang duduk bersandar di ranjang nya.
"Harus nya saya yang bertanya seperti itu nyonya," balas Marni.
"Apa nyonya butuh sesuatu?" sambung Marni bertanya.
"Gak, Salsa gak butuh apa-apa," jawab nya.
"Bukan kah nyonya yang memanggil saya?" tanya Marni lagi.
"Gak, Salsa gak ada manggil Bibi,"
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya." ucap Marni, berlalu pergi.
"Bi tunggu, kalau Bibi tidak sibuk, bibi temani Salsa di sini ya." pinta Salsa.
"Baik nyonya," balas Marni kemudian menyuruh dua orang pelayan kembali.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu. Kini kaki Salsa telah ber angsur membaik, ia sudah bisa berjalan dengan kedua kaki nya, meski terkadang masih sedikit merasakan nyeri.
Selama tiga hari itu pun Zidan menghabiskan waktunya di kamar Salsa, menjaga istri kecilnya dari pagi hingga pagi nya lagi.
Mereka Seperti pengantin baru yang berbulan madu, tidak ada aktifitas lain selain di atas ranjang. Tapi bulan madu itu sangat membosankan bagi Salsa.
"Om, Salsa besok boleh sekolah ya," ucap nya meminta izin, sembari memasukan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas.
"Hmm, apa kamu butuh tongkat, atau kursi roda," tanya Zidan yang berbaring di ranjang sembari memainkan ponsel nya.
"Tidak usah, kaki saya sudah sembuh," balas Salsa yang sudah selesai mengemasi buku dan alat tulis nya.
"Om, saya kan sudah sembuh, Om kembali lah ke kamar Om,"
"Ish dia ini, apa dia lupa kalau aku ini suami nya. Kenapa dia menyuruh ku pindah, harus nya dia yang pindah ke kamar ku, tapi bagai mana cara-nya dia pindah ke kamarku," Zidan membatin.
"Om, Om dengar saya gak, sih," tanya Salsa, melihat Zidan yang sedang memainkan ponsel.
Zidan kemudian duduk di pinggir ranjang, melihat kaki Salsa yang sakit.
"Kaki kamu belum benar-benar sembuh, nanti kalau kamu jatuh di kamar mandi atau tiba-tiba kaki mu sakit kembali, siapa yang repot, saya juga, kan," ucap. Zidan.
"Nggak, saya janji saya akan hati-hati."
"Saya tidak percaya. nanti kalau ada apa-apa dengan mu siapa yang repot? Sekarang kamu tidur lah," Zidan mendengus kesal.
"Kamu mau sekolah besok apa tidak," ancam Zidan.
Terpaksa Salsa bangkit dari duduk nya, berjalan perlahan mendekati ranjang.
__ADS_1
"Tuh, lihat kaki kamu berjalan saja masih seperti itu," ucap Zidan, memperhatikan langkah kaki Salsa yang memincang.
Salsa tidak menjawab ia turus berjalan pelan ke ranjang nya, setelah sampai ia berbaring di sudut ranjang di sebelah Zidan. Lalu, Menarik selimut sampai ke atas kepalanya.