Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tunggu aku ya pacar.


__ADS_3

Raka lalu berjalan dan masuk ke dalam mobil nya, ia menghidupkan mesin dan menjalankan nya pelan. Tepat di depan gerbang ia berhenti, menurunkan kaca samping kiri mobil nya.


"Naik lah, akan ku antarkan kau ke tempat bos," ucap Raka dari dalam mobil, menatap Niken yang masih di pegang oleh satpam yang berjaga.


"Kau jangan mempermainkan ku, Raka! Aku tau Zidan ada di dalam," tolak Niken setengah menjerit.


Kemudian Raka turun dari mobil yang mesin nya masih menyala. Ia menyuruh pengawal membawa Niken ke dalam mobil. Raka juga mengamankan ponsel Niken terlebih dulu dan ia juga menyuruh dua orang penjaga untuk memegang tangan Niken yang terus memberontak meski sudah berada di dalam mobil.


"Tutup mulut dia dan ikat tangan nya dengan lakban ini," titah Raka pada penjaga yang memegang tangan Niken, ia melemparkan satu gulung lakban warna hitam ke kabin belakang, setelah itu baru lah Raka melajukan mobil nya.


*


Sementara Salsa yang sudah berada di dalam kamar. Ia duduk di pinggir ranjang setelah memasuk kan buku-buku pelajaran yang akan di bawa nya besok ke sekolah. Mata nya melihat laci nakas yang ada di samping, Ia lalu manarik laci nakas itu keluar. Di dalam  ia melihat beberapa album foto.


Salsa mengambil salah satu album foto paling atas. Ia membuka nya, membalikkan lembar demi lembar album foto itu. di dalam album foto itu, banyak potret Zidan yang masih remaja dengan seorang pria paruh baya, yang masih terlihat gagah dengan bermacam-macam pose.


"Ternyata suami ku sangat tampan sekali."


Salsa bergumam sambil jari nya terus membalikkan album foto itu.


Salsa memasukkan kembali album foto yang sudah di lihatnya, lalu mengambil album foto yang ku dua. Di album itu terdapat potret Zidan yang masih menggunakan seragam SMA. 


Ada satu foto yang menarik perhatian Salsa saat itu. Yaitu foto Zidan dengan seorang laki-laki, mereka terlihat saling merangkul bahu.


"Siap laki-laki di foto ini? Seperti nya mereka kelihatan sangat akrab. Apa dia abang Raka?Ah, sepertinya tidak mungkin, wajah nya terlalu berbeda." Salsa bergumam saat melihat foto suami nya dengan seorang laki-laki di dalam foto.


Selesai melihat album foto yang ke dua, Salsa meletak kan nya kembali di dalam laci serta menutup nya.


Tangan nya kini membuka deretan laci ke dua di nakas itu. Di dalam laci, ia hanya melihat sebuah kotak persegi warna hitam.


Salsa mengeluarkan kotak hitam itu dari dalam laci.


"Apa ini?" Salsa bergumam memegang kotak persegi itu.


Cletek! 


Kotak itu ia buka.


"Astagah!" 


Salsa menutup kotak itu lagi setelah melihat isi di dalam nya. Segera ia letak kan kembali kotak hitam itu ke tempat semula dan menutup laci nakas itu.


"Kenapa Mas menyimpan benda itu? Apa mas juga selalu membawanya pergi? Tapi untuk apa mas membawa benda itu? batin Salsa bertanya.


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Zidan berjalan mendekati ranjang dengan wajah yang masih lusuh.


"Capek ya mas?" tanya Salsa yang masih duduk di pinggir ranjang.


Zidan menggeleng.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Zidan yang sudah duduk di sebelah nya.


"Ya, aku kan nunggu mas," jawab Salsa sedikit gugup. 


Zidan menatap wajah istrinya itu lekat.


"Aku....?" ulang Zidan menyipitkan mata nya. Ini kali pertama dia mendengar Salsa menyebut dirinya aku padanya. 


"Kenapa? Mas nggak suka ya?" Salsa menundukkan wajah nya. 


"Suka," balas Zidan sembari membelai wajah istrinya yang menunduk.


"Benarkah?" Mata Salsa berbinar menatap Zidan.


"kalau begitu mas juga memanggil "aku" ya! Tadi kan, mas bilang sama teman aku kita ini pacaran." goda Salsa sembari tersenyum senang.


"I-itu kan karna kamu tidak mau orang lain tau hubungan kita," balas Zidan.


"Iih, mas nyebelin!" Salsa mendengus kesal memalingkan wajah nya ke samping. 


"Mas tidur saja sendiri, gak usah nyuruh saya," Salsa berkata ketus tanpa melihat Zidan.


Zidan menghentikan langkahnya menatap wajah kesal istrinya yang masih duduk di pinggir ranjang. 


"Tunggu aku ya pacar, sebentar lagi aku akan menidurkan mu," ucap Zidan merasa geli sendiri. 


"Iiih! Mas!" Salsa melempar satu bantal, yang tepat mengenai punggung Zidan yang berjalan ke kamar mandi.


"Lah, kenapa lagi?" tanya Zidan tak mengerti.


"Mas, nyebelin!" Salsa kemudian berhambur ke ranjang, membenamkan wajah nya di bantal. 


***


Keesokan harinya di sekolah Salsa.


Pagi itu Salsa di panggil buk Nurmaini ke ruangan guru untuk memastikan ke ikut sertaan nya dalam acara pentas seni.


"Salsa, kenapa kemarin tidak ikut latihan?" tanya buk Nurmaini melihat Salsa yang hanya menunduk. 

__ADS_1


"Maaf buk. Tapi Salsa memang nggak bisa lagi ikut pentas seni itu," jawab Salsa yang masih menunduk.


"Tapi kenapa Salsa?" Protes buk Nurmaini sedikit kecewa mendengar keputusan Salsa. 


Salsa menghela nafas besar dan menghembuskan nya perlahan, mencoba agar tetap tenang. 


"Wali Salsa nggak mengizinkan Salsa ikut serta dalam pentas seni itu, buk," jawab Salsa.


"Wali....? Maksud kamu orang tua?"


Salsa terpaksa mengangguk kan kepalanya. Tidak mungkin ia akan mengatakan jika yang tidak mengizinkan nya ikut pentas seni itu adalah suaminya.


"Ya sudah, kalau begitu bawa orang tua mu besok kemari. Ibuk mau bicara dengan nya," ucap buk Nurmaini.


"Tapi buk....?"


"Tidak ada tapi Salsa. Ibuk minta besok kamu bawa orang tua. Jika tidak kamu akan tetap memerankan tokoh cinderella itu." tegas buk Nurmaini.


"Sekarang, kamu boleh masuk ke kelas mu lagi," imbuh nya. 


Salsa bangkit dari duduk nya melangkah gontai meninggalkan meja guru keseniannya itu.


"Bagaimana cara nya aku membawa ibu kesini? Nggak mungkin kan aku bawa Mas menemui buk Nurmaini?" batin nya sembari berjalan menuju kelas nya.


Tap!


Tiba-tiba pergelangan tangan nya di sentakan seseorang. Salsa bergelinjat kaget nyaris ia hampir terjatuh saat tangan nya di tarik kasar oleh orang itu.


"Lepas Siska! Lepaskan aku! Kamu mau membawa ku kemana?" Salsa memberontak, mengikuti langkah Siska yang menarik paksa satu tangan nya.


Siska terus berjalan menarik paksa tangan Salsa hingga tiba di toilet sekolah.


Di dalam toilet, Siska mengunci pintunya. Salsa berdiri wajahnya terlihat ketakutan saat ini, Menatap wajah Siska yang penuh amarah.


"Kenapa kamu membawa aku ke sini Siska, apa salah ku?" tanya Salsa dengan suara yang bergetar. 


Tanpa menjawab tanya Salsa, Siska malah menarik rambut Salsa dengan satu tangan nya dan satu tangan nya lagi mencengkram wajah Salsa.


"Lo nggak usah sok polos di depan gue. Lo itu cari muka kan sama buk Nurmaini, agar mendapatkan peran Cinderella itu!"


"Tidak Siska, aku bahkan tidak menginginkan peran itu," balas Salsa yang menahan sakit di kepalanya.


"Munafik lo!"


Buk

__ADS_1


Siska mendorong tubuh Salsa, hingga kepalanya membentur ke dinding. 


Seketika tubuh Salsa merosot ke bawah, disertai pandangan matanya yang mulai berkunang-kunang sebelum semua menjadi gelap.


__ADS_2