Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Mandi Malam


__ADS_3

Zidan masih berdiri di samping ranjang, dangan troli yang berisi makanan di depannya.


"Mas, emang benar ya? Mas mau merobohkan sekolah aku," tanya Salsa.


"Makan dulu, habis itu minum obat," balas Zidan datar tanpa menjawab apa yang Salsa tanyakan.


"Tapi aku belum lapar mas," Salsa merengek tanpa melihat Zidan.


"Bagaimana bisa kamu minum obat kalau belum makan?" ucap Zidan dengan suara tegas nya.


"Aku juga nggak mau minum obat. pahit! Mas saja yang mewakili," tolak nya seraya menutup mulut dengan talapak tangan.


"Hais! Dia ini," Zidan mendengus kesal mengusap kasar wajah nya.


"Sabila sayang, makan dulu ya," ucap Zidan membujuk tapi terdengar sangat kaku.


Salsa menahan tawa, sembari menutup mulut dengan ke dua tangan nya.


"Heis.. Kenapa terdengar nya seperti sebuah lelucon," batin Zidan yang merasa malu dengan ucapan nya tadi.


"Ya sudah! kamu mau makan atau tidak?" ucap Zidan ketus yang di balas gelengan kepala oleh Salsa.


"Heis...! Kalau kamu tidak mau makan. Jangan harap------?"


"Jangan harap.....?"


Zidan memikirkan sesuatu.


Salsa mengernyitkan dahinya menanti kelanjutan kata-kata Zidan.


"Jangan harap, kamu bisa keluar dari kamar ini,"


Salsa masih tertawa sambil menutup mulut nya.


"Apa yang lucu?" Zidan membelalakan matanya.


"Cerewet mas itu seperti nenek-nenek. Ha ha ha ha," balas Salsa di sertai tawanya.


"Pokok nya kamu harus makan, sekarang!" ucap Zidan tegas.


"Ya, aku akan makan. tapi mas belikan Es cream dulu," balas Salsa.


"Tidak ada tawar menawar Sabila, cepat makan!" tegas Zidan.


"Memang nya Mas jualan apa?" Salsa masih saja menggodanya.


"SABILA MAKAN....!"


"Iya, iya...." sahut Salsa.

__ADS_1


**


Ditempat lain.


Malam itu Raka memasuki sebuah apartemen, dengan menenteng dua kantong plastik yang cukup besar di kedua tangan nya. Sampai di depan pintu apartemen, ia mengambil access card lalu membuka pintu kamar. Raka menutup pintu itu kembali setelah masuk ke dalam.


Raka yang sudah berada di dalam ruangan apartemen, berdiri di depan pintu, mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan apartemen yang terlihat sangat berantakan.


"Niken, Niken, keluar lah! Ini persedian makanan untuk kau," teriak Raka yang masih berdiri di depan pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam apartement itu. Raka lalu melangkah dangan mata yang terus mengedar memperhatikan ruangan itu. Ia pergi ke dapur, kamar mandi, tapi tidak menemukan Niken di dalam.


Mata Raka tertuju pada pintu kamar, yang belum di periksa nya. Ia lalu berjalan mendekati pintu kamar itu.


Ceklek 


Ia membuka pintu kamar apartemen itu, namun tidak ada siapa-siapa di dalam. Mata nya fokus melihat jendela kamar yang terbuka.


Apa dia terjun ke bawah? batin Raka seraya melangkah masuk ke dalam kamar.


Tap


Dengan sigap Raka menangkap sebuah tangan yang hendak menusuk nya dari belakang.


"Arrggg......... sakit Raka, brengsek!"


teriak Niken yang pergelangan tangannya di pelintir Raka.


ucap Raka merebut pisau dapur yang ada di tangan Niken.


"Raka. Aaaaaaw........ Ampun jangan bunuh aku," Niken meringis memohon.


"Ooo, atau kau ingin aku bawa ke ruang bawah tanah lagi?" ujar Raka memberi penawaran.


"Jangan Raka, jangan! Aku nggak akan mengulangi hal seperti tadi lagi," ucap Niken yang masih memohon.


"Tolong lepaskan dulu tangan ku Raka, ini sangat sakit sekali. Arrrrrghh,"


Raka lalu melepas kan tangan Niken yang di pegangnya. setelah itu ia berjalan hendak keluar dari apartemen itu.


"Raka, unggu!" panggil Niken yang masih berada di dalam kamar, ia bergegas berlari keluar mengejar langkah Raka.


"Tunggu Raka!" ucap Niken setengah teriak melihat Raka yang hendak membuka pintu apartemen.


"Apa lagi?" tanya Raka tanpa membalikkan tubuh nya.


"Aku mau kau mambawa kan seorang pelayan, untuk membantuku, mencuci, memasak dan membereskan apartemen ini,"


"Dasar wanita tidak tau diri," umpat Raka di dalam hati. Ia lalu membuka pintu apartemen itu dan melangkah keluar, menutup serta mengunci nya kembali.

__ADS_1


****


Di mension Zidan.


Salsa telah selesai makan dan meminum obat nya meski harus di paksa Zidan. Setelah itu Zidan keluar kamar hendak mengambil leptop yang berada di ruang kerja nya di lantai dua.


Tidak lama Zidan keluar. Salsa lalu bangkit dari ranjang nya karna merasa tidak nyaman dengan badan nya yang seharian tadi belum mandi, terasa lengket dan berminyak.


Ia lalu berjalan melangkah mencari handuk di dalam kamar itu. Ia kesulitan mencari nya karna letek barang yang berbeda dari kamar Zidan yang ada di lantai dua.


"Dimana bi Marni menarok handuk?" Salsa bergumam sambil terus mencari.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Zidan melihat Salsa yang berdiri didepan lemari pakaian seperti sedang mencari  sesuatu.


"Apa yang kamu lakukan sabila?"


Zidan segera masuk meletak kan leptop dan beberapa file yang di ambilnya barusan dari ruang kerjanya di atas sofa.


"Mas lihat handuk nggak, aku mau mandi." balas Salsa tanpa memperdulikan kekhawatiran Zidan.


"Sabila, ini sudah malam, kalau kamu mau mandi besok pagi saja mandi nya." bujuk Zidan seraya berjalan mendekatinya.


"Iiiih, mas.......!! Lihat nih badan ku sudah gatal-gatal, masa di suruh mandi besok, nanti kalau aku panuan gimana?" gerutunya.


"Tapi mandi malam itu tidak bagus untuk kesehatan mu sayang," bujuk Zidan.


"Mas...... Mana ada seperti itu! bukti nya aku dulu sering mandi malam, tapi tetap sehat saja kok," Salsa terus saja menjawab.


"Ada saja jawaban nya," dengus Zidan kesal.


Zidan menghela nafas panjang, menetralkan emosi nya, teringat ucapan dokter dan Maria tadi di rumah sakit agar ia lebih bersabar menghadapi sikap istrinya yang mudah tersinggung serta sangat sensitif. Sedikit saja ia meninggikan suara mata istrinya sudah berkaca-kaca.


"Mas, tolong tanyain ke bi Marni dong, dimana handuk dia letak kan," ucap Salsa.


Zidan lalu keluar dari kamar nya. Bukan untuk menanyakan pada Marni, tapi ia menelpon dokter Erwin.


"Halo! Ada apa tuan?" ucap dokter Erwin dari sambungan telepon.


"Aku mau menanyakan tentang mandi malam," balas Zidan.


"Maksud tuan? mandi malam setelah melakukan-"


"Heish..., kau jangan berpikir macam-macam Erwin." sela Zidan.


"Istri ku mau mandi sekarang, karna badan nya terasa tidak nyaman," imbuh Zidan menerangkan.


"O'oh. sebaik nya di lap saja badan nya dengan handuk yang di basahi air hangat, tapi kalau dia tidak mau, tidak apa-apa mandi dengan air hangat, asal jangan keseringan saja tuan." ujar dokter Erwin.

__ADS_1


Setelah menanyakan hal itu, Zidan memutus kan sambungan telepon nya, kemudian ia kembali lagi masuk kedalam kamar.


"Kebetulan aku juga belum mandi," gumamnya memikirkan sesuatu.


__ADS_2