
Maria keluar dari kamar inap Zidan dengan wajah sendu, ia mengusap setitik air yang lolos begitu saja dari sudut matanya. ia terus berjalan di Koridor rumah sakit dengan langkah gontai.
"Tante....! Tante Maria, tunggu tante," dari arah koridor lain seorang wanita berlari mendekati nya.
"Niken!"
"Tante dari mana?" tanya Niken berbasa-basi sambil kepalanya menoleh kiri dan kanan seperti seorang yang sedang ketakutan.
"Habis mengantarkan makanan untuk Zidan," jawab Maria yang terus memperhatikan Niken, ia melihat Niken yang begitu berantakan.
"Kamu kemana saja Niken? Kenapa tidak pernah lagi menemui tante?" tanya Maria.
"Tante, nanti aku ceritakan semua nya, tapi tidak di sini tante," lagi Niken berkata seperti seorang yang ketakutan.
"Oo baiklah. ikutlah dengan tante sekarang." ujar Maria sembari melangkah lebih dulu di depan.
Sementara Salsa yang masih berada di kamar mandi, masih sibuk membersihkan tubuh Zidan. Rasa kesal akan ucapan suami nya tadi pada sang mertua masih ada. tapi ia tetap menjalan kan tugas nya, meski tanpa melihat Zidan yang duduk di kursi, yang terus saja memperhatikan nya.
Salsa hanya mengguyur tubuh bawah suaminya dengan air. sedangkan bagian perut ke atas ia hanya melap nya dengan handuk basah, karna luka Zidan yang masih di balut perban.
Wajah Salsa masih cemberut, dengan bibir yang meruncing kedepan, meski Zidan sudah menggodanya, namun Salsa tidak menanggapi, ia terus saja melakukan tugas nya. Pikirannya juga tidak bisa lepas memikirkan sang mertua.
"Sayang, jangan diam saja," Zidan yang sudah lelah dengan semua candaan nya, akhirnya pasrah meminta Salsa untuk bicara dengan nya.
"Aku nggak mau ngomong sama mas, sebalum mas minta-," ucapan Salsa lansung di potong Zidan.
"Berhentilah membahas hal itu Sabila!!!!"
Deg
Tubuh Salsa seketika kaku, ia mengatur nafas yang terasa sesak saat mendengar suara bentakan Zidan padanya. pandangan mata nya sedikit mengabur, tangan nya yang sedang menggosok punggung Zidan terhenti, kini tangan itu ia gunakan untuk memijat dahi nya sendiri.
Zidan segera bangkit dari duduk nya, saat ia menoleh melihat perubahan wajah Salsa yang terlihat sedikit pucat.
"Sayang kamu kenapa?" tanya nya panik sambil merangkuh tubuh Salsa ke pelukannya.
"Nggak, aku nggak apa-apa mas," Salsa menggelengkan kepalanya dalam pelukan Zidan.
"Sayang, mas minta maaf, maafkan mas ya," Sesal Zidan seakan menyadari ucapan nya tadi. Ia juga mengeratkan pelukan nya pada Salsa.
"Aku yang harus nya minta maaf mas, nggak seharus nya aku ikut campur masalah mas denga mama Maria," Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya.
"Tidak sayang, ya mas nanti juga akan minta maaf dengan nya," Zidan semakin mengeraskan tangan nya yang memeluk tubuh Salsa.
__ADS_1
Salsa lega saat mendengar Zidan akan meminta maaf pada Mama mertuanya. Tapi ia tidak bisa melanjutkan membantu Zidan mandi karna tubuh nya yang kehilangan tenaga.
Dengan hanya memakai dalaman bawah saja, Zidan memapah Salsa berjalan keranjang pasien, membantunya berbaring di sana.
Gegas Zidan mengambil ponsel nya yang ia letakkan di dalam laci meja nakas, lalu mencari nomor kontak Dokter Erwin dan lansung melakukan panggilan suara dengan nya.
"Kekamar ku sekarang," ucap Zidan tegas, hanya kata itu yang ia ucapkan saat sambungan telepon nya terhubung kemudian ia memutuskan sambungan telepon nya.
Zidan lalu berjalan mengambil paper bag yang di bawa Maria tadi, yang berisi pakaian untuk nya dan Salsa. Zidan tadi memang mendengar saat Maria menyebut isi di dalam paperbag yang di bawanya.
Setelah memakai pakaian yang di bawa Maria, Zidan kembali mendekati ranjang pasien, mengusap lembut puncak kepala istrinya. Salsa meraih tangan Zidan yang berada di atas kepalanya membawa tangan itu ke pipinya.
"Mas, tolong maafkan mama," lirihnya memohon sambil terus mengusapkan tangan Zidan ke pipi.
Zidan tidak menanggapi permintaan Salsa, atau pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. ia hanya memandang wajah teduh istrinya yang berbaring di ranjang pasien.
Tidak lama dokter Erwin masuk kedalam ruangan tempat Zidan di rawat, satu alis nya terangkat naik saat melihat Zidan yang berdiri di samping ranjang, dengan tangan yang seperti sedang membelai wajah Salsa.
Kenapa jadi istrinya yang berbaring di ranjang? Apa dia ingin menunjukkan kemesraan nya padaku.
racau dokter Erwin dalam hati.
"Ehem," Dokter Erwin berdehem sebelum melanjutkan langkah nya mendekati Zidan.
Bahkan di sini pun dia berani membentak ku.
sungut dokter Erwin kesal sambil mengayunkan kaki nya melangkah mendekati ranjang.
"Kenapa kau masih berdiri? cepat periksa istriku!" Zidan kembali berdecak lidah saat melihat dokter Erwin yang kini berdiri di sebelahnya.
"Bagaimana saya memeriksa nya tuan, jika anda masih berdiri di sana," sungut dokter Erwin tanpa melepaskan matanya dari tangan Zidan yang berada di pipi Salsa.
Salsa memang sudah melepaskan tangan Zidan yang tadi di pegangnya sejak dokter Erwin datang, tapi saat itu tangan Zidan masih saja berada di pipi Salsa.
Menyadari hal itu Zidan lalu menarik tangan nya, dan memundurkan langkah nya kebelakang.
"Tuan duduk lah dulu di sofa itu, setelah ini saya akan memeriksa luka tuan," ujar dokter Erwin memerintahkan nya.
Zidan tidak menanggapi ia tetap saja berdiri di sana dengan terus memperhatikan istrinya.
Dokter Erwin mulai memeriksa Salsa, ia meraih pergelangan tangan Salsa merasakan denyut nadinya sebelum menggunakan tencimeter untuk memeriksa tekanan darah nya.
"Apa yang anda rasakan saat ini nyonya?" tanya dokter Erwin setelah selesai melakukan pemeriksaan nya.
__ADS_1
"Pusing dok, dan nafas saya sedikit sesak," Salsa mengatakan keluhan yang di rasakannya saat itu.
Dokter Erwin mengehela nafas panjang, kemudian mengemasi peralatan yang di bawanya.
"Mari tuan, Sekarang saya akan memeriksa luka anda," dokter Erwin lalu berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu.
Zidan mengikuti dokter Erwin, bukan untuk memeriksa dirinya, melainkan untuk menanyakan penyakit Salsa.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Kenapa kau tidak pernah menjelaskan apa pun tentang penyakitnya," tanya Zidan dengan suara yang ia tekan kan pelan.
"Sungguh tuan, saya pun belum bisa memastikannya. Karna untuk memastikan suatu penyakit perlu di lakukan serangkaian pemeriksaan."
"Saat ini terlalu berisiko jika pasien di periksa tuan. apalagi saat ini pasien tengah hamil pertama. Tapi Jika tuan tetap memaksa untuk melakukan pemeriksaan, saya akan lakukan, tapi tuan perlu menanda tangani surat persetujuan, Karna saya tidak ingin tuan menyalahkan saya nantinya," terang dokter Erwin.
Zidan tertegun diam, mencerna apa yang di katakan dokter Erwin pada nya.
Dokter Erwin kemudian berdiri dari sofa yang ia duduki, ia berjalan kebelakang Zidan ingin memeriksa luka nya.
"Tuan, tolong lepaskan baju anda," Pinta dokter Erwin yang sudah berdiri di belakang Zidan.
Zidan menurut karna saat itu Salsa menatap nya dari ranjang pasien.
Dokter Erwin lalu membuka perban di luka Zidan.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi tuan?" tanya dokter Erwin sambil membuka perban di luka Zidan.
"Tadi aku tidak sengaja membentak nya," jawab Zidan jujur, wajah nya juga menunjukkan rasa penyesalan.
"Tuan, bukan kah saya sudah pernah mengakatakan. anda harus benar-benar menjaga perasaan nya, jangan sampai membuat dia stres, ketakutan dan cemas, karna itu semua akan memicu tekanan darah nya menurun secara tiba-tiba, sehingga membuat aliran darah dan suplai oksigen ke otak nya akan berkurang. Beruntung tadi dia tidak sampai pingsan." terang dokter Erwin memberi penjelasan, sambil tangan nya terus bekerja memeriksa luka di bahu kanan Zidan.
"Ya, itu tidak akan terjadi lagi," Sesal Zidan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. luka tuan saya lihat juga sudah lumayan kering. Jika tuan ingin pulang hari ini pun bisa. tapi nanti saya akan memberikan beberapa obat tambahan yang harus tuan minum, untuk pemulihan," ujar dokter Erwin.
"Terus, bagaimana dengan istriku?" tanya Zidan yang mengkhawatirkan istrinya.
"Nanti saya juga akan memberikan beberapa vitamin untuk nya. Tapi yang terpenting bukan lah itu. Yang terpenting adalah perasaan nya. tuan benar-benar harus menjaga itu, abaikan lah sedikit ego tuan untuk dia dan calon anak tuan," jawab dokter Erwin.
****
Maria membawa Niken ke sebuah cafe. Tanpa di tawari Maria terlebih dahulu, Niken sudah memesan banyak makanan untuk nya. Maria belum menanyakan apapun, ia membiarkan Niken menghabiskan semua makanan yang di pesannya tadi.
Niken makan seperti orang yang tidak pernah makan berhari-hari, terlihat sangat rakus. Tampilan nya pun sudah seperti gelandangan yang tidak mandi berhari-hari.
__ADS_1