
Pagi itu Maria sudah pergi, tentu nya ia pulang untuk membuatkan sarapan untuk sang putra dan menantunya. Tepat pukul 08.00 pagi, dua orang perawat masuk ke dalam ruang inap Zidan.
"Selamat pagi kakak, selamat pagi tuan," sapa ramah perawat yang baru masuk, sangka mereka Salsa adik nya Zidan.
Salsa menyahut dan juga membalas senyuman mereka.
"Kak, bisa tolong keluar sebentar, karna kami akan memandikan pasien," pinta perawat itu pada Salsa, mereka terus berjalan mendekati ranjang pasien, dengan mendorong sebuah troli.
Sejenak Salsa yang masih duduk di kursi samping ranjang pasien tertegun, ia menatap Zidan dengan tatapan yang sulit di artikan.
Apa? mereka mau memandikan suamiku.
Salsa terus membatin, dengan melayangkan tatapan nya pada Zidan. Kemudian ia berdiri dari duduk nya menatap nyalang pada dua orang perawat yang baru datang.
"Tidak usah! dia SUAMIKU! biar aku yang memandikan," suara Salsa begitu lantang, dan tegas dengan intonasi penekanan, seakan ia tidak rela jika ada wanita lain yang menyentuh suami nya. membuat Zidan tersentak mendengarnya.
Bukan hanya Zidan, dua perawat yang tadi nya mengira Zidan dan Salsa adalah kakak adik ikut tersentak saat mendengar ucapan Salsa, setelah itu mereka keluar dari ruangan.
"Kenapa? Apa mas mau mereka yang memandikan?" dengus Salsa saat melihat wajah Zidan yang masih melongo, setelah kepergian dua perawat tadi.
Zidan menggeleng cepat, menyanggah tuduhan sang istri. kemudian ia menggaruk badannya sendiri, serta mengibaskan tangan kirinya seperti seorang yang sedang kegerahan.
"Mas kenapa?" tanya Salsa yang memperhatikan nya.
"Badan mas gatal-gatal sayang," Zidan terus menggaruk-garuk badannya sendiri menggunakan tangan kirinya.
"Sepertinya benar, mas harus mandi sayang," lanjutnya.
Salsa masih diam berdiri, memikirkan ucapan nya tadi, yang tegas mengatakan jika ia yang akan memandikan suaminya.
"Sayang, mas sudah tidak tahan nih, badan mas gatal sekali," Zidan semakin kuat menggaruk, hingga menimbulkan jejak merah di kulitnya. namun Salsa masih berdiri diam disamping ranjang.
"Sayang, lihat nih!" Ia memperlihatkan bekas garukan tangan nya yang berubah jadi merah. Salsa yang melihat nya masih berdiri diam.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau membantu, biar saja mas seperti-,"
"IYa, aku bantu mas mandi," sergah salsa menyela ucapan Zidan yang sejak tadi terus mengoceh. tapi ia masih berdiri diam disamping ranjang, memikirkan bagaimana cara memandikan suami nya itu yang hanya berbaring di ranjang.
"Sayang, cepatlah," Zidan terus mendesak.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau, kenapa kamu melarang perawat tadi," mulut Zidan benar-benar nyinyir pagi itu, Ia terus saja mengoceh mendesak Salsa untuk memandikan nya. mau tidak mau Salsa harus melakukan nya.
"Ya,Mau aku lap saja, atau ke kamar mandi?"
"Ke kamar mandi saja," jawab Zidan dengan wajah polosnya.
"Tapi. mas kan nggak bisa bangun!"
"Kalau kamu bantu bisa," sergah nya cepat, ya tadi malam Zidan memang sudah membuka jarum infus di pergelangan tangan nya. Ia juga yang mengangkat Salsa ke atas ranjang. Meski bahu kanan nya masih terasa nyeri, ia melakukan itu sangat pelan tanpa membangun kan Salsa yang tertidur pulas.
Salsa menyipitkan mata, memikirkan bagaimana cara memandikannya nanti di kamar mandi, sedangkan bahu sebelah kanan nya masih di balut dengan perban.
"Cepatlah, bantu mas bangun," Zidan kembali mendesak nya.
Ceklek
Pintu kamar ruangan itu terbuka. Salsa menoleh melihat mertua nya yang masuk membawa rantang makanan. dan beberapa kantong paperbag.
"Selamat pagi sayang, kalian sudah bangun?" Sapa Maria sambil tersenyum penuh arti pada menantunya. ya sebelum Maria pergi ia memang melihat Salsa dan Zidan yang masih tidur berpelukan diatas ranjang. Maria lalu meletakkan rantang dan paperbag yang di bawa nya ke atas meja.
"Pagi juga ma," sahut Salsa yang kini sudah berada di depan sang mertua, lalu ia mencium punggung tangan mertuanya.
"Itu apa ma?" tanya Salsa berbasa-basi, melihat bawaan mertua nya yang cukup banyak diatas meja.
"Kebetulan sekali mama datang, Salsa mau minta tolong untuk membawa mas kekamar mandi, karna mas merasa badan nya gatal-gatal," ujar Salsa.
"Lho, kan biasa nya ada petugas yang membantu memandikan pasien sayang. Kamu tunggu disini sebentar ya biar mama panggilkan," balas Maria yang hendak melangkah pergi.
"Ma," Salsa memanggil Maria yang sudah membalikkan badannya.
"Tadi mereka udah datang ma, tapi Salsa menolak," ucap nya sambil memainkan kedua jemarinya di bawah.
Maria tersenyum menatap menantunya, yang kini tersipu dengan wajah menunduk.
"Bagaimana kalau mama yang membantu membawa suamimu ke kamar mandi," ucap Maria menawarkan diri sambil memegang kedua bahu Salsa.
Salsa mengangkat wajah nya serta mengangguk tanda setuju.
Kedua wanita beda generasi itu kemudian berjalan mendekati ranjang pasien.
__ADS_1
"Mas jadi mandi kan?" ucap Salsa bertanya.
"Hhhhm," Zidan menyahut serta mengangguk pelan, mata nya enggan menatap Maria yang berdiri di sebelah Salsa.
"Kalau begitu, biar aku dan mama membantu membawa mas ke kamar mandi ya," ucap Salsa yang kembali di jawab anggukan kepala dari Zidan.
"Ayo ma," Salsa begitu bersemangat, saat Zidan tidak lagi menolak bantuan dari Maria, meski hanya bantuan kecil, paling tidak ini awal yang baik untuk kedekatan hubungan mereka berdua, pikirnya.
Sama hal nya dengan Salsa, Maria pun sangat bahagia saat itu. Ini pertama kali ia memegang tubuh putra nya, yang sudah belasan tahun ia rindukan, meski Zidan masih enggan menatap nya.
"Bilang ya mas kalau sakit," Salsa dibantu Maria mulai membantu Zidan untuk duduk, yang sebenarnya itu sangatlah mudah di lakukan oleh Zidan.
***
Setelah sampai di kamar mandi, Salsa meminta mertuanya memegang Zidan sementara ia mengambil kursi untuk Zidan duduk nanti.
Zidan merasa canggung saat ditinggal berdua dengan Maria. Wajah nya ia palingkan ke samping menatap pintu kamar mandi.
"Pergilah saya bisa sendiri," Zidan menepiskan tangan Maria yang memegang tubuh nya.
"Mas! nggak boleh ngomong gitu," tegur Salsa yang sudah berdiri di depan pintu.
"Tidak apa sayang, kamu cepat lah masuk," Maria berjalan keluar melewati Salsa dengan wajah sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya. Tidak ada senyum yang biasa di perlihat kan wanita paruh baya itu.
Hati Salsa begitu terenyuh melihat mertuanya itu, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karna ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan hal yang tidak begitu ia ketahui.
Ia masuk kedalam, meletakkan bangku yang di bawanya untuk Zidan tadi dengan kasar.
Kreek
Ia Juga menghempaskan pintu kamar mandi yang tadi terbuka. matanya enggan menatap Zidan yang berdiri di samping nya.
"Cepatlah duduk!" ucap nya tanpa melihat suaminya. Zidan menurut ia pun duduk di bangku plastik yang di bawa Salsa tadi.
Salsa yang masih merasa kesal dengan sikap Zidan pada mertua nya tadi. Membuka baju Zidan dengan memalingkan wajah nya.
"Auw..., sakit, pelan-pelan lah sayang," ringis Zidan saat Salsa mengangkat baju nya ke atas.
"Sakit mas itu tidak seberapa, di bandingkan, sakitnya seorang ibu saat melahirkan," balas Salsa yang masih merasa kesal.
__ADS_1
Zidan hanya diam sambil terus memandang wajah istrinya yang masih terlihat kesal. Kini baju Zidan sudah terlepas, Salsa memasukkan nya ke dalam ember yang sudah tersedia di sana.
Dengan masih memalingkan wajah, Salsa berlutut di depan Zidan, menarik celana suami nya. Zidan juga sedikit mengangkat pinggulnya keatas, agar memudah kan Salsa membukanya.