Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Datang ke kantor


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Jefri kini sudah sampai di kantor Zidan. Mobil itu berhenti tepat di depan loby kantor. Salsa yang masih duduk di dalam mobil, sedikit memiringkan kepalanya, menatap ke atas bangunan yang menjulang tinggi dari balik kaca mobil itu.


"Apa nyonya mau saya antarkan masuk ke dalam?" tanya Jefri.


Salsa seperti tidak mendengar pertanyaan Jefri barusan, bola matanya hanya fokus menatap bangunan itu.


"Apa Mas Zidan kerja di sini bang?" tanya Salsa masih menatap ke atas bangunan itu.


"Benar sekali nyonya, gedung ini milik tuan Zidan. Apa nyonya mau saya antar kan masuk ke dalam?" balas Jefri.


Salsa mengangguk, tanda setuju menerima tawaran Jefri.


"Baiklah nyonya, kalau begitu nyonya turun lah dulu, tunggu saya di dalam loby. Setelah memarkirkan mobil ini saya akan mengantarkan nyonya menemui tuan," ucap Jefri.


Salsa yang masih terlihat ragu, membuka pintu lalu turun dari mobil. Ia berdiri diam sejenak, sembari menyelempangkan tas nya di bahu. Salsa menatap dua orang satpam yang berjaga di depan pintu sembari tersenyum kikuk.


Satpam itu sedikit membungkuk kan tubuh nya pada Salsa, karna melihat Salsa yang turun dari mobil yang sering mengantarkan Zidan ke kantor.


Mobil yang sejak tadi mengikuti mereka. juga berhenti tidak jauh dari kantor Zidan.


*


Salsa yang masih berada diluar, melihat-lihat keadaan di dalam loby, dari balik pintu kaca yang ada di depannya. perlahan ia melangkah pelan ke depan, lalu mendorong pintu kaca untuk masuk kedalam loby kantor.


Langkah Salsa sejenak terhenti, setelah berada di dalam loby kantor itu. tepat nya di depan pintu loby, Salsa menghela nafas panjang. Lalu ia kembali berjalan pelan, sembari menatap kagum melihat desain dan interior ruangan itu yang di domisili oleh warna coklat susu. Ia melangkahkan kaki sembari menoleh kan wajah nya kiri, kanan, depan dan belakang. Seperti seorang yang sedang ke bingungan.


Brak!


Tiba-tiba bahu Salsa disenggol seseorang.


"Aw!" Salsa meringis, sembari satu tangan memegang bahunya.


"Eh udik! Mangkanya kalau jalan itu pakai mata," bentak seorang wanita, yang menyenggol bahunya tadi.


"Ma-maaf," lirih Salsa dengan wajah yang menunduk.


"Dasar kampungan! Apa yang kau lakukan di sini? ini itu kantor! bukan sekolahan!" bentak wanita itu lagi, dengan suara lantang. ia menelisik tubuh Salsa dari ujung kaki hijgga ke ujung kepala, seperti memandang jijik padanya.


Salsa hanya diam menunduk dengan tubuh yang gemetar, sembari kedua tangan nya memegang tali tas yang ia selempangkan disamping bahunya.


Tiba-tiba seorang wanita lain, berjalan menghampiri mereka.


"Ada apa sih, Memi? Kok ribut-ribut," tanya wanita yang baru datang itu.


"Ini lho Win! ada anak SMA nyasar masuk ke kantor kita. Bukan nya sekolah, ehhh...., malah dia keluyuran gak jelas di kantor kita," jawab Memi yang menatap sinis pada Salsa.


Wanita yang bernama Winda melihat Salsa yang berdiri ketakutan di depan mereka.


"Adik cari siapa di sini?" tanya Winda ramah.


"Sa-saya.... "


"Alah! Pasti gadis kampung ini mau mencari Om Om tajir lah. Dia itu mau menawarkan tubuh nya demi mendapatkan uang," potong Memi menghina Salsa disertai pandangan jijik nya.


"Enggak! Saya gak cari om-om!" jawab Salsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Eh, gadis kampung, lalu kau mau cari siapa di sini? Apa bapak dan ibu kau bekerja di sini?" tanya Memi masih menghina Salsa.


Salsa hanya diam menunduk, bola mata kini sudah mengeluarkan air.


"Adik sebenarnya cari siapa disini?" ulang Winda bertanya.


"Sa-saya mau bertemu de-dengan Mas Zi-Zidan," lirih nya berkata gugup.

__ADS_1


Ke dua wanita itu saling pandang, kemudian kembali menatap Salsa.


"Mas Zidan siapa yang adik maksud?" tanya Winda lagi.


"Alah, dia itu pasti sok kenal saja dengan nama Bos kita," sela Memi sinis, sebelah bibir atas sengaja ia naikan.


"Mana mungkin bos kita kenal dengan wanita kampungan seperti ini, itu hanya modus dia saja," imbuh Memi.


"Memi, kamu bisa diam dulu nggak!" bentak Winda.


Salsa hanya menunduk sambil menangis dengan kedua tangan masih memegang tali tas nya.


"Keluar sana!" bentak Mimi sembari tangannya mendorong tubuh Salsa.


Bruak!


Salsa jatuh kelantai, akibat di dorong Memi.


"Aduhh.....,Sakit....." ringis Salsa disela tangis nya, posisi tubuh nya miring di lantai, dangan sikut yang tertimpa tubuh nya sendiri.


Kini, para karyawan yang berjalan di loby kantor itu semakin banyak yang berkumpul menyaksikan keributan yang terjadi. Mereka semua melihat Salsa yang kini sudah duduk di lantai sembari menangis terisak menutup wajah nya dengan tas sekolah.


"Satpam....! Mimi berteriak memanggil satpam yang berjaga di luar.


Dua orang satpam yang berjaga di depan pintu l berlari mendekati kerumunan para karyawan.


Wajah Salsa saat itu sudah di banjiri air mata, hinaan yang di lontarkan Memi begitu menusuk ke hatinya.


"Woi! Satpam! Kenapa kalian hanya melihat saja, cepat bawa dia keluar!" perintah Memi pada kedua satpam yang sudah ada di sana.


"Nyonya..."


Jefri yang baru datang, mendekati Salsa dan berjongkok di samping nya.


"Apa yang terjadi nyonya?" tanya Jefri khawatir.


Jefri mengambil ponsel nya dari dalam saku celana, lalu ia menelpon Zidan.


"Maaf tuan, nyo-nyonya sekarang ada di bawah," ucap Jefri cemas saat sambungan telepon nya terhubung.


Tuuuuuuuth


Sambungan telepon itu lansung terputus.


Tidak berapa lama Zidan keluar dari pintu lift, ia berlari mendekati para karyawan yang berkerumun.


Tubuh Zidan seketika menegang saat melihat Salsa yang duduk di lantai sambil menangis.


Zidan mendekati Salsa dan lansung membopong tubuh nya.


Salsa yang malu dengan orang-orang di sekitar menyembunyikan wajah nya di dada bidang Zidan. Dengan tangan yang terpaksa ia lingkarkan di leher suaminya. Zidan berjalan melewati Jefri sembari membisikan sesuatu padanya. Kemudian ia kembali melangkah menuju pintu Lift. Para karyawan nya kini terlihat menunduk ketakutan.


Setelah Zidan menghilang dari sana. karyawan yang berkerumun tadi hendak meninggal kan tempat itu.


"Jangan ada yang pergi dari sini!" tegas Jefri yang membuat langkah mereka terhenti.


Wajah Memi berubah pucat seketika, dengan keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.


***


Jefri segera menelpon Raka. Ia menyampaikan apa yang di bisikan Zidan tadi padanya. Agar ia melihat rekaman CCTV yang ada di loby. Raka segera pergi ke ruangan yang terdapat monitor besar di sana. Ia memutar kembali rekaman CCTV tiga puluh menit yang lalu.


Di monitor itu Raka melihat dari awal Salsa yang baru turun dari mobil sampai ia di bawa Zidan pergi.

__ADS_1


Raka kembali ke loby, dan melaksanakan apa yang di sampaikan Zidan pada Jefri tadi. Ia memecat semua karyawan yang berkerumun tadi dengan tidak hormat, yang berarti nama mereka akan di blacklist dari semua perusahaan.


Dan untuk memi, Raka menyuruh satpam untuk menahan nya dulu, menunggu keputusan  Zidan.


*


Zidan membawa Salsa ke dalam kamar yang ada di ruang kerja nya. Kemudian ia membaringkan tubuh Salsa di ranjang. Zidan duduk di pinggir ranjang, menatap Salsa khawatir.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zidan dengan suara seraknya, sembari membelai lembut rambut Salsa.


Salsa meraih tangan Zidan yang membelai rambutnya, ia mengenggam dengan ke dua tangan nya.


"Istirahat lah dulu disini, saya mau melanjutkan pekerjaan dulu sebentar," ujar Zidan. Sembari memegang puncak kepala Salsa dengan satu tangan nya yang lain.


"Nggak mau," balas Salsa sembari menggelengkan kepala, kedua tangannya yang semakin erat mengenggam tangan Zidan.


Zidan mengernyitkan dahi saat Salsa mengusap-usapkan telapak tangan nya ke pipi.


"Saya ngantuk, Mas di sini saja ya. jangan tinggalin saya," lirih nya disertai mata yang semakin lama semakin terpejam.


Haru.


Zidan harus menengadahkan wajahnya ke atas menahan sesuatu yang akan keluar dari matanya.


Perlahan, tangan nya yang di genggam erat Salsa tadi mulai melonggar. Ia menatap Wajah istrinya itu lekat, dengan perasaan takut saat teringat ucapan istri nya tadi, jangan tinggalin saya. 


"Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu Sabila, tidak akan pernah," lirih nya lalu mencium lembut kening Salsa.


Sangat pelan, Zidan berdiri dari ranjang, ia berjalan mengangkat satu kursi yang ada di kamar itu, lalu meletak kan nya pelan di samping ranjang.


**


Salsa bangun setelah satu jam lebih ia tidur di kamar itu. ia melihat Zidan yang tidur dengan posisi duduk bersandar di kursi samping ranjang.


Salsa kemudian turun dari ranjang, ia duduk di lantai tepat di bawah kaki zidan. Dengan Kedua tangan yang ia lingkarkan di ke dua betis Zidan. Lalu pipinya ia topang kan di paha Zidan.


"Sabila, kamu kenapa?" tanya Zidan yang terbangun dari tidurnya. Ia meraih dan mengangkat kepala Salsa yang berada di atas pahanya.


"Gak kenapa-napa," balas Salsa sembari mendongakan wajah menatap Zidan lalu meletakkan kembali pipi nya di paha Zidan.


Zidan membelai lembut rambut Salsa yang ada di atas kepalanya. Cukup lama posisi mereka seperti itu.


"Mas, saya pulang ya," ucap Salsa sembari berdiri, dan mengambil tas sekolah nya.


Zidan hanya menatap istrinya itu dengan tatapan heran. Salsa lalu menarik kedua tangan suami nya itu dengan kedua tangan nya, membantu Zidan berdiri dari duduk nya.


"Mas nanti pulang nya cepat ya," imbuh Salsa setelah membantu Zidan berdiri. yang di balas anggukan oleh Zidan. Salsa lalu memeluk tubuh suami nya itu serta mengecup bibir nya Sekilas.


*****


Di perjalanan menuju mension, mobil yang di kendarai Jefri tiba-tiba di Salip mobil lain dan berhenti tepat di depan mobil Jefri.


Dahi Salsa sampai terkena sandaran depan, karna rem mendadak yang di lakukan Jefri.


"Kanapa bang?" tanya Salsa sembari memegang dahi nya yang sedikit sakit.


"Nyonya segera lah hubungi tuan, dan jangan pernah keluar dari mobil," perintah Jefri, lalu ia segera keluar dari dalam mobil.


Satu orang laki-laki bertubuh besar itu melawan Jefri, sedang kan dua orang nya lagi mendekati mobil yang ada Salsa di dalam nya.


"Toloong.....!"


Teriakan dari dalam mobil membuat Jefri lengah, hingga ia mendapatkan pukulan di perutnya.

__ADS_1


Bugh!


tubuh Jefri roboh seketika sembari memegang perutnya yang sakit. Ia hanya bisa melihat Salsa di bawa tiga orang laki-laki berbadan besar itu.


__ADS_2