Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Amarah Zidan


__ADS_3

"Buka pagar nya Raka! " suara Zidan bergetar hebat. Seiring langkah nya yang semakin cepat mendekati Raka dengan tangan yang mengepal.


"Tidak Bos, saya tidak akan membiarkan Bos pergi," Raka berdiri pasrah.


Bugh!


Bagh!


Dua pukulan keras bersarang di wajah Raka membuat tubuh nya terhuyung ke tanah, hingga cairan merah kental pun keluar di sudut bibirnya. Namun, ia hanya menyeringai melihat Zidan membuka pintu gerbang.


Setalah pintu gerbang terbuka, Zidan kembali melangkah menuju mobil nya yang terparkir. Raka semakin menyeringai lalu bangkit dan menarik pintu pagar itu hingga tertutup kembali.


"Rakaaaa!!! " bentak Zidan lantang ketika mendengar gesekan pintu besi itu.


"Maaf Bos, saya tidak akan membiarkan bos pergi sendiri,"


Dengan penuh emosi Zidan melangkah cepat mendekati Raka. Dada nya naik turun seiring nafas nya yang kian memburu. Mencengkeram kerah kemeja Raka lalu mendorong nya hingga tersudut ke pagar besi.


"Kau tau!! Aku tak punya banyak waktu Raka!!"  Suara Zidan bergetar hebat dengan tatapan yang begitu menakutkan.


"Bunuh lah saya Bos, kalau Bos tetap ingin pergi, " balas Raka dengan suara lemah.


Dering ponsel membuat Zidan terpaksa melepaskan cengkraman tangan nya di kerah kemeja Raka.


Dengan tergesa-gesa ia mengambil ponsel itu dari dalam kantong piyama nya.


"Waktu kau tinggal sepuluh menit lagi kawan," ucap Rocky dari sambungan telepon nya.


"Tunggu Rocky, tunggu! Aku segera kesana. Tolong jangan sakiti istriku, " lirih nya memohon dengan bola mata yang berkaca.


"Kau dengar kawan! Aku tak pernah bermain-main dengan ucapan ku, "


Tuuuuuth.


Sambungan telepon terputus. Zidan memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku piyama nya. Lalu mendorong pintu besi itu hingga kembali terbuka.


"Bos."


"Istriku di sana dalam bahaya Raka, jadi tolong jangan menghalangiku," lirih nya tanpa menoleh pada Raka.


"Tenang lah dulu Bos, berpikir lah yang jernih. Bos tau sendiri siapa Rocky, dia sangat licik,"


Zidan menghentikan langkah nya menghela nafas panjang.


"Apa aku akan membiarkan nya sendirian disana? Raka " Zidan menjeda ucapan nya, mengetur nafas nya yang semakin terasa sesak.


"Dia sekarang pasti sangat ketakutan sekali Raka, kau tau sendiri kan, seperti apa dia. Jadi tolong  jangan menghalangi ku Raka," Zidan mengangkat wajah keatas menatap langit, berusaha menahan cairan bening di pelupuk mata nya agar tak tumpah.


"Bos, biar kan saya ikut, " Raka berjalan mendekati Zidan yang masih berdiri diam menatap langit.


"Tidak Raka!"


Zidan menggeleng lemah.


"Rocky memintaku datang sendiri kesana, Raka, "

__ADS_1


"Sekarang kau pergilah Raka, aku bisa menjaga diri ku sendiri,"


Zidan melanjutkan langkah nya masuk kedalam mobil.


Raka menyingkir memberi jalan ketika mobil Zidan melewatinya. Ia kemudian melangkah menuju mobil nya yang terparkir di luar.


***


Di dalam sebuah bangunan. Salsa di duduk kan di sebuah bangku kayu dengan kaki dan tangan terikat. Wajah ny terlihat pucat. tangis nya tak pernah berhenti kala mendapati dirinya berada di tempat yang sangat asing dan menakutkan baginya. Ia hanya menunduk ketakutan, sesekali memutar bola matanya, melihat Rocky yang tengah asyik memainkan ponsel miliknya.


Tidak lama, Herman masuk ke dalam ruangan itu. Memberitahukan bahwa Zidan sudah berada di lokasi mereka.


"Bro, dia sudah sampai," ucap Herman.


Rocky tersenyum tipis.


"Geledah tubuh nya, pastikan dia tidak membawa senjata apa pun dan pastikan juga tidak ada orang lain yang mengikuti nya," titah Rocky.


"Beres bro, " Herman menyeringai melirik Salsa sambil melangkah keluar.


"Tunggu! Periksa dukumen yang di bawanya dan segera amankan,"


"Aman itu, " Herman kembali melanjutkan langkah nya.


Rocky mendekati Salsa yang ketakutan lalu mengangkat dagunya yang sejak tadi hanya menunduk.


"Jangan sedih sayang, Setelah dia mati, kau akan bersamaku,"


Salsa menggeleng dengan bibir yang bergetar. tangis pun tak mampu ia bendung lagi.


"Berhentilah menangis!" bentak Rocky.


Tidak lama, Herman, togar dan Samuel masuk keruangan itu membawa Zidan dengan tangan yang terikat ke belakang.


"Ha ha ha," Rocky tertawa senang menyambut kedatangan Zidan.


"Akhirnya kita bisa bertemu lagi kawan," ucap Rocky seraya melangkah mendekati Zidan.


Dada Zidan bergemuruh kala matanya menangkap Salsa yang duduk dalam posisi terikat. Seketika Ia palingkan pandangannya, karna tak sanggup melihatnya.


"Kau hanya punya dendam dengan ku, jangan libat kan istriku," ucap Zidan sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan nya.


"Ha ha ha, " tawa Rocky pecah sambil melangkah mengitari tubuh Zidan.


"Tenang lah dulu kawan... Kita bersenang senang dulu, " ucap Rocky tersenyum sinis.


"Bertahun-tahun lamanya aku menantikan pertemuan ini kawan. Kenapa kau tak menanyakan kabar ku terlebih dulu,"


"Kau hanya punya urusan dengan ku Rocky. Jadi lepaskanlah istriku!"


"Kau tau kan, aku selalu menyukai apa yang kau miliki," bisik Rocky kemudian melangkah mendekati Salsa.


"Rocky! Berani kau sentuh dia, ku patah kan tangan kau!" bentak Zidan penuh amarah.


Rocky menghentikan langkah nya, menatap Zidan dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Waw! Benar kah, aku mau lihat sekarang," tantang Rocky, Ia terus melangkah mendekati Salsa lalu mencengkram pipi nya.


Salsa yang semakin ketakutan hanya bisa menangis.


"Cukup Rocky! aku mohon jangan menakutinya, lepaskan lah dia," lirih Zidan, sadar posisi nya saat ini tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi istrinya.


"Kenapa Zi? Bukan kah kau ingin mematahkan tangan ku. Kenapa sekarang kau malah memohon." ejek nya yang masih mencengkram pipi Salsa.


Rocky kembali melangkah mendekati Zidan. Mengitari tubuh nya dengan tatapan sinis.


"Bagaimana kalau kita mulai permainan nya sekarang kawan?" bisik Rocky.


"Lakukan lah apa yang kau suka pada ku, asal jangan pernah kau sentuh istriku," balas Zidan.


"Baiklah,"


Bugh!


Bagh!


Bugh!


Bagh!


Pukulan bertubi-tubi mendarat di perut Zidan hingga tubuh nya jatuh ke lantai.


"Hentikan, jangan pukuli suamiku. Apa salah kami pada kalian!!"  teriak Salsa yang tak kuat menyaksikan suami nya di pukuli.


"Waw, aku semakin suka dengan wanita seperti ini Zi, " ucap Rocky kemudian melangkah mendekati Salsa.


"Bajingan! jangan pernah kau sentuh istriku," Zidan bangkit lalu berlari sekuat tenaganya mendorong Rocky dengan tubuh nya, sampai Rocky tersudut ke dinding ruangan itu. Tak sampai di situ, Zidan membenturkan keras kepalanya ke kepala Rocky.


"Kalian! hajar dia sekarang!" teriak Rocky memerintahkan Herman, Samuel dan togar untuk membantunya.


Dengan penuh semangat Herman mengambil bangku kayu lalu menghantamkan ke punggung Zidan.


Prak!


Bukan merasa kesakitan, Zidan malah menyeringai menoleh kebelakang, sorot mata nya begitu menakutkan. Bersamaan itu tali yang mengikat tangan nya berhasil ia lepaskan.


Bugh!


Satu pukulan keras mendarat di wajah  Herman hingga tubuh nya seketika ambruk ke lantai.


"Bedebah! Kalian kenapa masih diam! Cepat habisi dia!" umpat Rocky.


Melihat tatapan menakutkan yang dilayangkan Zidan, membuat nyali Samuel dan Togar menciut.


"Maju lah! ku pastikan malaikat maut akan menjemput kalian berdua,"


Samuel dan Togar menggeleng cepat.


Zidan tersenyum sinis.


"Ikut kedua bajingan ini, maka kalian akan ku ampun kan,"

__ADS_1


"Ba-baik," balas Samuel dan Togar serentak.


Zidan lalu mendekati Salsa melepaskan tali yang mengikat tubuh nya.


__ADS_2