
Siang itu Herman dan Rita benar-benar datang kesekolah Salsa, berjam-jam lamanya mereka menunggu Salsa di depan gerbang sekolah. Namun, mereka belum juga melihat Salsa keluar dari gerbang sekolah. Bahkan satpam yang berjaga pun sudah menutup pintu gerbang menandakan tidak ada lagi siswa di dalam nya.
Mereka pun kembali pulang setelah gerbang itu di tutup oleh satpam. Herman melangkah dengan rasa kecewa, karena rencana nya gagal untuk mempertemukan Salsa dengan Rita.
"Kamu pulang saja dulu aku ada keperluan lain," ucap Herman.
"Mas mau kemana?" tanya Rita.
"Berisik lah kau, aku suruh pulang, ya pulang," bentak Herman, berjalan ke arah lain.
"Kenapa Mas Herman jadi seperti itu sifat nya, kadang baik, kadang berubah jadi kasar." gumam Rita lirih.
.
.
.
Di negara lain.
Di sebuah ruangan kerja, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesaran nya, wanita paruh baya itu memegang foto gambar seorang anak laki-laki yang masih berumur sekitar sepuluh tahun. di pandanginya foto itu dengan lekat, seakan menahan kerinduan yang teramat dalam terhadap anak laki-laki yang ada di dalam foto itu.
"Maafkan mama sayang, hiks, hiks, maafkan mama hiks, hiks," isak tangis penyesalan terdemgar memenuhi ruangan.
Setelah tangis nya reda, wanita paruh baya itu kemudian menelpon seseorang dari ponsel nya.
"Alfredo, bagaimana perkembangan pengajuan kontrak kerjasama kita dengan perusahaan ZIRO COMPANY yang ada di indonesia?" tanya wanita paruh baya dari sambungan telepon nya.
"Semua berjalan dengan lancar nyonya, mereka ingin secepat nya bertemu dengan anda untuk membicarakan lebih lanjut kerja sama. kitaini." balas Alfredo di sebrang telepon.
"Bagus, atur pertemuan itu secapat nya." ucap wanita paruh baya itu sebelum memutuskan sambungan telepon nya.
.
.
Di kamar Salsabila.
"Aku kebelet nih mau ke kamar mandi, nggak mungkin kan si Om itu membantu ku juga. lagian ini kaki aku juga sudah nggak sakit-sakit banget, Om itu saja yang terlalu berlebihan, hufh," gumam Salsa menatap Zidan yang duduk di sofa kamar nya.
Secara perlahan Salsa menurunkan tungkai kakinya dari atas ranjang, ia berdiri menopang tubuh nya yang hanya dengan satu kaki. sebelah kaki nya masih terlalu ngilu dan nyeri untuk menapak di lantai.
Tap!
Tap!
Tap!
Dia mmenyeret kaki nya dengan cara melompat. Namun, baru beberapa lompatan saja Salsa sudah berhenti, ia berdiri dengan satu kaki, menghela nafas sebelum mulai melompat lagi.
Tap!
Tap!
__ADS_1
Bruuuuuk!
"Auuuuuuuuwhh," pekik nya saat bokong sudah berada di lantai.
Zidan yang tertidur, jadi terbangun karna suara itu. Tanpa mengumpulkan kesadaran nya terlebih dahulu, suami Salsabila itu lansung melangkah mendekati istrinya.
"Dasar bandel, bukan kah tadi sudah saya katakan, jika butuh apa-apa panggil saya. Apa itu susah?" gerutu Zidan sambil berjalan mendekati istrinya.
Salsa tidak menjawab, mulut nya hanya meringis kesakitan di lantai.
Untuk kesekian kalinya Zidan membopong tubuh Salsa ke atas ranjang.
"Merepot kan sekali," Zidan bergumam sambil terus berjalan membopong istrinya.
"Aduhh, sakiiit, aduuhhh sakit," Salsabila terus meringis menahan sakit, posisi nya sudah duduk di atas ranjang dengan ke dua kaki ia luruskan ke depan.
"Itulah, tidak mau mendengar kan kata-kata orang, kalau sudah begini siapa yang repot," Zidan menggerutu, lalu mengambil botol kecil di nakas, mengolesi kaki Salsa dengan kream yang ada di dalam botol itu.
"Saya mau pergi ke toilet, tidak mungkin Om antarkan saya ke dalam toilet juga," sungut Salsa di sela rintihan kesakitan nya.
"Menjawab saja terus kerjamu," gerutu Zidan tanpa menghentikan tangan nya mengolesi kaki Salsa dengan cream itu.
"Auuuuuwch, sakit, Om mau belas dendam ya," Salsa mendengus kesal, menatap Zidan dengan bibir yang mengerucut.
Zidan tidak menjawab, karna tadi memang ia sedikit keras mengusap kaki Salsa. Namun, mata nya membalas tatapan Salsa yang membuat Salsa lansung menunduk.
"Sudah, selesai," Zidan menatap wajah Salsa yang masih menunduk, dirinya lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi mencuci tangan nya.
Zidan keluar dari kamar mandi, kemudian kembali duduk di tepi ranjang.
Salsa menatap Zidan heran.
"Om mau ngapain?"
"Sudah, geser sana," ucap Zidan tanpa menjawab pertanyaan Salsa.
"Om mau ngapain sih?" ulang Salsa dengan pertanyaan yang sama.
Zidan tidak menjawab, malah satu tangan nya meraih bantal yang ada di belakang Salsa. kemudian membaringkan badannya dengan posisi miring membelakangi Salsa.
"Om, Om, Om ngapain tidur di sini, pergi lah ke kamar Om kalau mau tidur, jangan di sini," Salsa terus merengek sambil menggoyang-goyang kan tubuh Zidan dengan tangan nya.
"Saya tidak tidur, saya hanya berjaga di sini biar kamu itu tidak turun lagi dari ranjang," balas Zidan yang masih membelakangi istrinya.
"Iiiih..... Tapi ngapain Om tidur disini, pergi lah sana," Salsa tak henti merengek.
Zidan kemudian membalikkan badan nya.
"Heh, kamu kira saya senang seperti ini, siapa yang akan menjaga kamu kalau bukan saya," dengus Zidan merasa kesal.
"Tapi saya bisa jaga diri sendiri lah, Om pergi sajalah," Salsa terus merengek.
"Bisa jaga diri sendiri, bisa jaga diri sendiri, cihh... Coba Katakan Sudah berapa kali kamu terjatuh, dan siapa yang menolong?" ucap Zidan terdengar sinis.
__ADS_1
"Cepat katakan," imbuh Zidan menatap Salsa yang sudah menunduk.
"Sudah tiga kali," jawab Salsa tanpa mengangkat wajah nya.
"Siapa yang membantu mu?" tanya Zidan mengungkit.
"Om," lirih Salsa.
"Bagus, kalau kamu sadar," ucap Zidan tersenyum.
"Saya tau lah, saya ini selalu menyusah kan, saya ini-"
"Sudah, sudah, berisik," potong Zidan tak ingin mendengar ucapan memelas istrinya.
Zidanmembalikan badan memunggungi Salsa.
Salsa mengangkat wajah nya, menatap punggung Zidan kesal, rasa nya ia ingin sekali mendorong tubuh kekar yang berbaring di di sampingnya.
.
.
Rendi yang tidak menyerah untuk mendapat kan nomor ponsel Salsa, diam-diam sepulang sekolah Rendi mengikuti Santi sampai kerumah nya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek.
Pintu di buka Santi dari dalam.
"Loh, kok kamu ada di sini?" tanya Santi saat melihat siapa yang mengetuk pintu rumah nya.
"Ya, aku cuma ingin datang bertamu saja," ucap Rendi yang lansung menyelonong masuk ke dalam rumah Santi.
"Hey! Keluar aku sendiri di rumah, nanti tetangga lihat dikira aku melakukan hal macam-macam, keluarlah," ucap Santi panik, menarik tangan Rendi keluar.
Tapi Rendi malah menepis kan tangan Santi, dan segera duduk di kursi tamu.
"Keluar gak! atau aku teriak," ancam Santi.
"Teriak aja," balas Rendi santai.
"Mau mu apa sih?" tanya Santi kesal.
"Aku mau kamu memberikan nomor ponsel sahabat mu. siapa nama nya? Hmm.... Aku lupa," ucap Rendi sembari berjalan mendekati Santi.
"Kamu sudah tau kan kalau Salsa tidak mau ngomong sama kamu, apa lagi kalau aku sampai memberikan nomor nya, dia pasti marah padaku,"
"Kamu tenang saja, aku tidak akan memberi tahu kan dari mana aku mendapat kan nomor itu."
__ADS_1
"Aku gak akan memberikan nya," tegas Santi.
"Ya terserah mu," dengan santai nya Rendi kembali duduk di kursi yang ada di ruangan itu.