
Meskipun Zidan sudah pergi dari kamar nya, namun Salsa belum juga bisa tertidur. Ia masih manyadar kan diri nya, menyadarkan ingatannya. Puas ia berperang melawan hati, dan pikiran. tapi semua itu tidak bisa ia pungkiri, status nya sekarang ini adalah seorang istri dari Zidan Alvaro.
Kemudian diri nya bangkit dari ranjang, mendekati kursi yang di depannya terdapat sebuah meja rias juga sebuah kaca besar yang berdiri tegak. Ia pandangi koper dan sebuah kotak persegi yang di jadikan mas kawin Zidan tadi. Tangan nya ter ulur meraih koper dan membuka nya, disana terdapat uang seratus ribuan tersusun penuh di dalam koper.
"Om itu sudah menjadi suami ku sekarang, aku harus berbakti padanya mulai saat ini. Tapi bagai mana dengan sekolah ku? Aku bahkan belum membicarakan ini padanya. Aku harus mengatakan ini dulu pada nya, ya aku harus minta izin dulu," gumamnya sendiri.
Dirinya pun bergegas keluar dari kamar nya, bergegas ke kamar Zidan yang telah jadi suaminya.
Sampai di pintu kamar Zidan, kembali pikiran dan hatinya berperang.
"Aku ketuk gak ya? Tapi nanti dia pasti akan membentak mu lagi Sa. Ketuk saja Sa kamu wajib memberitahu kan nya, dia itu suami mu."
CEKLEK!
Belum usai hati dan pikirannya berkecamuk, belum sempat ia mengetuk pintu itu. Tiba-tiba pintu itu terbuka, disertai berdirinya sosok laki-laki yang masih memegang gagang pintu.
Salsa tersentak kaget kala pintu itu tiba-tiba terbuka, tubuh nya seketika bergetar, disertai, keringat kecil yang keluar dari pori-pori kulitnya.
Zidan menatap Salsa dengan kerutan di dahinya.
"Ada apa? Apa kamu ingin tidur di kamar saya?" tanya Zidan, yang tersirat seperti ejekan.
Namun, ada yang berubah panggilan nya pada Salsabila. Lelaki dingin itu lansung merubah panggilan nya pada Salsa menjadi kamu.
Salsa menggeleng, wajah nya sudah tertunduk menatap lantai, entah apa yang ia lihat di lantai itu.
"Lalu? Apa kamu akan berdiri di sana sampai besok pagi?" tanya Zidan lagi, yang masih memegang gagang pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban dari Salsa, tidak ada gelengan kepala, atau pun anggukan kepala darinya. tubuh nya diam membatu, hanya jari-jari nya saja yang bergerak di bawah sana. Menggulung sudut pakaian.
"Kalau begitu kembalilah ke kamar mu," ucap Zidan dingin, pintu kamar hendak ia tutup.
"Om." panggil Salsa. suara itu menghentikan Zidan yang hendak menutup pintu kamarnya.
Zidan menatap gadis yang memanggilnya Om itu. Namun, gadis itu tidak berkata apa-apa, wajah nya masih menunduk, hanya ekor matanya saja yang sesekali melihat Zidan, disertai dentuman di dada nya yang naik turun.
Bruk...
Pintu itu tertutup lagi, terhempas sedikit kuat.
Salsa kembali tersentak.
"Huffg.... Bagai mana aku bisa mengatakan nya, sedangkan berada di dekat nya saja nafas ku terasa sesak,"
"Tenang Sa, tenang Sa... Dia itu bukan hantu, tapi suami mu jadi tidak perlu takut." gumamnya menenangkan diri sendiri. Mengatur nafas agar kembali tenang.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan cukup banyak nafas dan keberanian, akhirnya Salsa mengetuk kembali pintu kamar itu.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada jawaban, pintu itu masih tertutup rapat.
'Tidak mungkin lah dia sudah tidur?! Cekoba sekali lagi.'
Tok
Tok
Tok
Setelah cukup lama.
Ceklek
Pintu itu terbuka, pandangan mata Salsa lansung di suguhi, pemandangan yang belum pernah sama sekali di lihat nya. Sosok lelaki berdiri di depan pintu dengan dada yang terbuka, dada bidang itu di tumbuhi rambut-rambut halus di tengah nya, serta di bagian perut terdapat tonjolan-tonjolan yang tersusun sangat rapi seperti sebuah pahatan tangan seniman. Terlihat rapi dan begitu indah.
Salsa tidak menutup matanya, ia diam sejenak menikmati pemandangan indah di hadapannya. Hingga sebuah tangan melambai lambai tepat di wajah nya. Seketika itu juga dirinya baru tersentak.
Zidan membekap mulut yang menjerit itu.
"Apa kamu mau membangunkan semua orang di rumah ini?" ucap Zidan membisikkan kata itu tepat di depan wajah Salsa, hingga aroma nafas yang segar itu menghembus di wajah istrinya.
Setelah yakin istri kecil nya itu sudah diam. Perlahan Zidan melepaskan tangan nya.
"Om, om ngapain buka baju?" ucap nya setelah setel tangan Zidan terlepas.
"Ya, saya mau mandi lah, mangkanya buka baju, kamu sendiri kenapa masih berada di sini, malah mengetuk pintu kamar saya." Zidan mendengus kesal.
Lagi, Salsa hanya diam, penyakit serangan jantung mendadak, serta asma stadium akut nya kembali kambuh. Apa lagi saat ini Zidan tepan berada di depannya.
"Oo.... Apa kamu ingin ikut mandi bersama saya?" tanya Zidan yang terdengar sinis, disertai ukiran senyum tipis di wajah nya.
"Iiiih..... Mana ada. Sa-saya cuma mau bilang, besok mau izin pergi sekolah," jawab nya, kedua tapak tangan nya masih menutup rapat mata.
"Cih..... Alasan, kenapa tidak bilang besok pagi saja." Zidan berdecih berusaha memojokkan istrinya.
"Saya takut tidak lupa, saya cuma mau bilang itu saja, sekarang saya mau balik ke kamar," ucap nya, lalu berbalik badan dengan posisi mata masih tertutup.
__ADS_1
Dengan langkah pendek dan sangat cepat Salsabila pergi meninggalkan Zidan yang masih berdiri diam di pintu kamar.
"Ish... Malu nya aku," dia mengumpat diri sendiri sambil terus melangkah ke kamar nya.
Sedang kan Zidan, masih berdiri di depan pintu kamarnya, menatap istri kecil hingga menghilang. Senyum tipis kembali menghiasi sudut bibirnya sebelum kembali masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Pagi nya Salsabila bangun lebih awal dari biasa nya, dirinya ingin menjalan kan tugas sebagai seorang istri. Dengan penuh semangat ia bangkit dari ranjang empuk yang membawanya ke alam mimpi tadi malam. Masuk ke kamar mandi sekedar mencuci muka dan membuang hajat nya. Setelah selasai dengan aktifitas bangun tidur, ia membuka pintu kamar berniat pergi ke dapur.
"Selamat pagi nyonya," sapa salah satu pelayan yang berpapasan dengan nya kala menuruni tangga.
"Hais..... Kenapa dia panggil aku nyonya?" gerutu sendiri.
Para pelayan tampak berkeliaran di dalam mension itu, Salsa bahkan baru tau jika mereka sudah mulai bekerja sepagi ini.
Sapaan-sapaan para pelayan menyebut dirinya nyonya, membuat gadis yang masih berumur 18 tahun itu merasa risih.
"Nyonya mau kemana?" tanya Marni menghalangi langkah nya yang hendak menuju dapur.
"Bi....... Jangan panggil Salsa nyonya lah. Mana ada nyonya masih sekolah?" sungut nya merasa kesal.
"Berarti saya panggil nyonya muda," balas Marni.
"Oo..... Jadi nanti kalau Salsa sudah tua Bibi akan panggil Salsa nyonya tua," gerutunya semakin menjadi.
"Sudah lah, Salsa mau ke dapur buat sarapan, bibi tolong antarkan Salsa," pintanya.
"Maaf nyonya muda, sarapan sudah ada yang membuat nya," balas Marni.
"Salsa tidak peduli, pokok nya mulai hari ini dan seterusnya, Salsa yang akan membuat sarapan, untuk.........?"
"Untuk siapa nyonya?" tanya Marni.
Salsa menggaruk tengkuk nya yang tiba-tiba gatal.
"Pokok nya Salsa hari ini mau bikin sarapan, titik." ucap nya memaksa.
Note:
Minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir batin. Selamat lebaran..
__ADS_1
Terimakasih buat kakak yang sudah baca cerita ku ini.