
"Mas bangun, hiks, hiks, Saya janji akan menuruti kata-kata mas nanti. Mas, bangun, hiks, hiks," lirih Salsa di sela isak tangis nya.
Sebelah kelopak mata Zidan lalu terbuka, itu di tangkap oleh kedua mata Salsa.
"Iiih, Mas nyebelin banget sih," ucap Salsa kesal lalu menghentak kan kaki nya pergi meninggalkan Zidan.
Zidan bangkit dan dan berlari mengejar nya. Ia lansung memeluk tubuh Salsa dari belakang.
"Maaf, saya tadi hanya bercanda," ucap Zidan setelah melingkarkan kedua tangan nya di perut salsa, serta meletakkan dagu nya di bahu istri nya.
"Canda'an mas itu gak lucu sama sekali," sungut nya, masih sesugukan menangis.
Zidan melepaskan pelukannya lalu berdiri di depan Salsa, ia menghapus air mata nya.
"Senyum lah," ucap Zidan menatap lekat wajah istrinya itu,.
"Enggak!" sungut nya tanpa ingin melihat Zidan.
Zidan menarik sedikit sudut bibir Salsa ke atas dengan kedua tangan nya hingga membentuk senyuman.
"Mas itu nyebelin!" rengek nya sembari memukul dada bidang Zidan dengan kedua tangan. Zidan lalu meraih tubuh Salsa, dan merangkuh ke dalam pelukan nya.
Salsa yang masih kesal berusaha melepaskan tubuh nya yang di peluk Zidan.
"Ingat! Saya masih marah! Mas jauh-jauh sana," dengus Salsa sembari mendorong tubuh Zidan menjauh.
"Saya kan tadi sudah minta maaf," balas Zidan sambil sambil terus mencondongkan tubuh ke depan Salsa.
"Tapi Saya kan belum memaafkan mas," sungut Salsa yang melangkah mundur menjauhi Zidan.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan Saya," tanya Zidan yang sudah menghentikan langkah nya.
Salsa berdiri diam seperti memikirkan sesuatu dangan mengerucutkan bibirnya ke depan, sesekali ia juga memutar bola matanya.
"Saya mau mas bawa saya pergi jalan-jalan sekarang. Dan mas juga harus ikutin semua yang saya mau, tidak boleh membantah." tegas Salsa.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Zidan dengan satu alis terangkat.
"Mas jangan banyak tanya deh! mau saya maafin gak?" ancam nya.
Zidan mengangguk cepat menatap lekat istrinya dengan dahi yang berkerut.
"Mas, ayo cepat! Mikirin apa lagi sih?" ucap Salsa sembari merentangkan kedua tangan nya kedepan.
__ADS_1
"Eissh," dengus Zidan, lalu berjongkok membelakangi nya.
Salsa mengalungkan kedua tangan nya di leher Zidan seraya tersenyum senang.
Zidan terus berjalan menuruni tangga mension dengan menggendong Salsa sampai keluar pintu utama.
"Nyonya kenapa tuan?" tanya Jefri cemas, saat langkah Zidan sudah berhenti disamping mobil yang biasa ia kendarai. Jefri melihat Salsa yang bergelayut di punggung Zidan membenamkan wajah nya di punggung suami nya itu.
"Buka saja pintunya! jangan banyak tanya!" balas Zidan dingin tanpa menjawab pertanyaan Jefri.
"Oh iya, maaf tuan," sesal Jefri, ia segera membukakan pintu belakang mobil yang biasa ia kendarai itu.
Zidan terlebih dahulu menurunkan tubuh Salsa yang masih bergayut di punggung nya, sebelum masuk ke dalam mobil.
**
Kini mobil yang di kendarai Jefri sudah melaju di jalanan kota.
"Mas, saya mau makan Es krim rasa strawberry dan juga saya juga mau nonton film di bioskop," ujar Salsa yang kedua tangan nya memeluk erat lengan Zidan, dengan kepala yang ia sandarkan di pangkal lengan kekar suami nya itu.
"Terserah," balas Zidan singkat sembari melihat Jefri dari kaca spion, yang seperti menahan senyum nya.
"Bang Jef, Salsa mau nonton bioskop, abang tau tempatnya kan?" tanya Salsa pada Jefri.
"Tau nyonya! Di sini banyak bioskop nyonya. Nyonya mau yang dimana?" seru Jefri menjawab.
"Terserah! saya gak pernah nonton diluar. Kalau hanya mau nonton di rumah juga ada bioskop," balas Zidan dingin.
"Iiiihh..., nanya sama mas itu bukan nya dapat jawaban, malah bikin kesal. saya mau nya nonton diluar, bukan di rumah." sungut Salsa kesal seraya melepaskan tangan nya yang memeluk lengan Zidan, lalu menyilangkan nya di dada.
Beberapa saat Zidan dan Salsa saling diam.
"Jadi kita kemana sekarang nyonya?" Sela Jefri bertanya di saat keheningan mereka tercipta.
"Terserah abang aja deh. Salsa juga gak tau tempatnya dimana," balas Salsa.
"Nanya sama suami sendiri juga percuma," gerutu salsa mengoceh.
"Jefri, pergi ke bioskop yang ada di jalan XXX saja," ucap Zidan menyebutkan alamat tujuan bioskop yang akan mereka tuju.
***
Kini mobil Jefri sudah terparkir di gedung bioskop yang Zidan sebutkan tadi.
__ADS_1
"Mas aku mau nonton film itu!" seru Salsa sembari menunjuk gambar poster film yang ada anak SMA di dalam nya.
"Ya terserah mu saja," balas Zidan datar.
"Kalau mas mau nonton film apa?" tanya Salsa yang kemudian memeluk lengan Zidan.
"Itu," Zidan menunjuk poster gambar film horror.
"Iiih...., gak mau lah seram," Salsa bergedik ngeri saat melihat poster itu.
"Salsa....." panggil seseorang dari belakang. Salsa menoleh melihat Mira dan Novi yang berjalan mendekati mereka.
"Duh.., kok ada mereka di sini sih!" gumam Salsa.
"Siapa..?" Tanya Zidan yang juga ikut menoleh ke sumber suara yang memanggil istrinya.
"Itu teman sekolah saya," jawab Salsa dengan wajah panik, sembari melepaskan tangan Zidan, yang sejak tadi di peluk nya.
"Terus, kenapa wajah mu tegang seperti itu," tanya Zidan lagi.
"Nggak, saya biasa aja kok," jawab Salsa berusaha menyembunyikan keresahan nya.
"Salsa. kamu mau nonton juga ya?" tanya Novi setelah berada diantara mereka, tapi mata nya terus memperhatikan Zidan sembari tersenyum.
"I-iya," jawab Salsa sedikit gugup.
"Salsa. Siapa cowok ganteng itu?" tanya Novi sedikit berbisik pada Salsa, tapi bisa di dengar oleh Zidan.
"Hmmm.....?"
"Saya pacar nya Salsabila," Zidan yang menjawab, serta merangkul bahu Salsa agar lebih mendekat lagi padanya.
Salsa hanya tersenyum kikuk pada kedua teman sekolah nya yang baru datang itu, sesekali ia melihat Zidan yang masih merangkul bahunya.
"Pantas saja kamu cuekin si Rendi ya, ternyata pacar mu lebih ganteng dari dia," ujar Mira.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau beli tiket dulu," ucap Zidan mesra, lalu melangkah pergi.
"Mas kenapa ya? Kok aneh gitu. Tapi bagus sih, jika dia menyebut dirinya aku." gumam Salsa yang terus menatap punggung suami nya.
"Salsa kamu mau nonton film apa?" tanya Novi.
"Film itu," Salsa menunjuk poster gambar film yang ingin di tonton nya tadi.
__ADS_1
"Wah, sama dong, kami juga mau nonton film itu," sela Mira.
Setelah mendapatkan tiket, Salsa meminta Zidan membelikan popcorn dan air mineral, untuk cemilan mereka dan untuk dua orang teman nya. Mereka juga duduk terpisah, Novi dan Mira duduk di deretan bangku paling depan, sedangkan Salsa dan Zidan di deretan dua baris di belakang Mira dan Novi.