Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Bab spesial Santi & Raka


__ADS_3

"Aku boleh foto dengan mu nggak Sa, please ini hanya sebagai kenang-kenangan saja Sa," pinta Rendi.


"Wah lama-lama ini anak ngelunjak! Di kasih hati minta jantung. Ayo Sa kita pergi!"


Santi menarik tangan Salsa berlalu pergi dari sana.


"Sa, tunggu Sa, Salsa tunggu," baru beberapa langkah Rendi sudah kembali berdiri di depan menghalangi langkah mereka.


"Eh. Lue itu ya, emang nggak tau diri banget."


Santi menatap Rendi dengan tatapan merendah kan. Namun, Rendi mengabaikan Santi, ia lebih fokus menatap Salsa yang menunduk ketakutan.


"Gua panggilin lakinya baru tau rasa lue," ancam Santi.


"Minggir!" Santi mendorong bahu Rendi, lalu menarik tangan Salsa berlalu pergi.


Diluar gerbang sekolah. Zidan dan Jefri  menunggu Salsa keluar. Tidak lama Raka datang dengan mobil nya.


"Pagi bos!" sapa Raka setelah turun dari mobil.


"Hm. " Balas Zidan dingin.


Raka tak ingin bertanya lagi karna melihat ekspresi Zidan yang tak bersahabat.


Dari kejauhan Zidan sudah melihat Salsa dan Santi berjalan ke arah mereka.


"Hai abang," sapa Salsa dengan menyunggingkan senyum pada Raka.


Raka tersenyum kikuk melirik ke arah Zidan seperti matanya berbicara jangan salah paham bos. Sedangkan Zidan manarik tangan Salsa berdiri sejajar dengan nya. Salsa sangat tau, saat ini suami nya itu pasti sedang cemburu.


"Sudah selesai kan? kita pulang sekarang." suara Zidan terdengar dingin, tanpa melepaskan tatapan nya pada Raka yang berdiri diam menunduk.


"Nggak mau. Kita makan siang dulu, masa mas nggak mau merayakan kelulusan aku," Salsa berjalan sedikit menjauh dari Zidan.


"Heis. Ya sudah cepat masuk mobil," tanggap Zidan yang seperti terpaksa lalu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah di bukakan Jefri.


Senyum Salsa terlihat mengembang mendengar perkataan suaminya.


"San, kamu numpang sama abang Raka ya. Boleh kan bang?" Salsa melirik Santi yang diam menunduk dengan wajah merona kemudian beralih melihat Raka yang seperti tercekat dengan kedua bola mata membola.


"Abang, titip teman aku ya," tanpa mendengar persetujuan dari Raka terlebih dulu, Salsa lansung menyusul Zidan masuk kedalam mobil.


Mobil yang di kemudikan Jefri perlahan melaju. Salsa menurunkan kaca lalu melambaikan tangan nya pada Santi.


Raka segera masuk ke dalam mobil, tanpa melihat Santi yang sudah mengangkat kepala melihat padanya.


Tin


Tin


Tin


Berulang kali Raka membunyikan klakson mobil memanggil Santi agar segera masuk ke dalam mobil nya. Namun, Santi tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


Merepotkan sekali. gerutunya.


Raka lalu memundurkan mobilnya, membuka kaca jendela samping.


"Woi betina! Kau mau aku tinggal! " teriak Raka dari dalam mobil.


Kenapa dia sangat kasar sekali? 


gumam Santi yang masih diam berdiri.


Tin


Tin


Tin


"Woi budeg! Cepat masuk!" Raka kembali meneriaki nya dari dalam mobil.


Oo... dia bilang aku budeg. Awas saja kamu Raka, aku aduin sama sahabat ku nanti. 


Santi lalu mengayun kan langkah nya membuka pintu mobil depan.


"Siapa yang menyuruh kau duduk di depan?" bentak Raka.


Santi menghela nafas panjang kemudian menghempas kan pintu mobil itu dengan kuat.


"Eh. Kau kira ini mobil nenek moyang kau!" Wajah Raka memerah menahan kesal....


Di dalam mobil Santi hanya diam menatap keluar jendela.


Menyesal aku minta di kenalkan dengan si kepala batu ini. Tidak ada baik-baik nya sama sekali. Ganteng iya, tapi mana ada cewek yang mau dengan sikap nya seperti ini. Coba saja, kalau dia seperti laki nya si Salsa, perhatian, apa kehendak di turuti, tampan, tajir juga. Oooh, ... Senang nya aku. 


Nada dering ponsel membuyarkan lamunan Santi. Ia segera menggeser panah hijau saat melihat nama Salsa yang tertera.


"Ya, hallo," sapa Santi saat sambungan teleponnya baru saja terhubung.


"Kalian sudah di mana?" tanya Salsa dari sambungan telepon.


"Nih, lagi di jalan," jawab Santi tidak semangat.


"Oo. Ya udah cepat ya, aku tunggu di cafe mertua ku," balas Salsa.


"Aku mana tau cafe mertuamu," ketus Santi.


"Bilangin aja sama bang Raka, dia tau tu," balas Salsa.


Santi melirik ke arah Raka dari kaca spion yang terlihat fokus mengemudi.


"Malas aku bicara dengan nya," desis Santi.


Mata Raka menatap nya tajam dari kata spion.


"Lhoo, kenapa?" tanya Salsa.


"Aku mau pulang saja lah Sa," lirih Santi seketika mengalihkan tatapan nya pada kaca spion.


"Lho, kok gitu sih San? Tadi malam kamu yang bersemangat, sekarang malah minta pulang. Aku sengaja meminta Mas datang kesini untuk mu San, biar kamu dan bang Raka bisa saling mendekatkan diri." ujar Salsa.


"Gimana mau dekat! aku di bentak terus," ucap Santi mengadu.


Perlahan mobil Raka menepi.


"Masa sih, Bang Raka sekasar itu?" ujar Salsa tak percaya.


"Ya, sama kamu baik, karna kamu istrin--," ucapan Santi terhenti karna ponsel nya di rebut paksa oleh Raka dari tempat nya duduk.


Raka memutuskan sambungan telepon itu dan melemparkan ponsel nya di atas dashboard mobil. Lalu Ia memutar badannya kebelakang.


"Kau mau mengadu?" mata Raka menatapnya tajam.


"Suka aku lah!" jawaban Santi tak kalah sengit. Tak ada rasa takut tergambar di kedua bola matanya.


"Eh, kau jangan berharap aku akan suka dengan kau. Cam kan itu!" Raka kembali membalikkan badan nya ke depan memegang stir mobil.


"Cih! Siapa juga yang suka dengan mu. " pandangan Santi menatap nya remeh.


"Bagus, dan aku harap jangan pernah kau meminta untuk bertemu ku lagi." Raka lalu merogoh saku celana, mengambil ponsel nya yang berdering. Ia segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ke telinga.


"Dimana kau sekarang?" suara Zidan yang dingin terdengar dari sambungan telepon.


"Masih di jalan bos." jawab Raka.


"Segera lah datang kemari. Di cafe mama," ucap Zidan kemudian sambungan telepon pun terputus.


"Eh kau betina! Jangan pernah mengatakan apa pun nanti pada Salsa. Paham kau!" Raka menatap nya dari kaca spion.


Santi memutar bola mata nya, melihat wajah Raka dari kaca spion kemudian ia membuka pintu mobil dan berlalu pergi.


Sial. 


Raka segera keluar dari mobil dan mengejar nya.


"Woi, berhenti!" teriak Raka memanggil Santi yang terus melangkah cepat menyusuri trotoar jalan.


Apa sih mau nya? Menyebalkan sekali! 


Raka lalu berlari mengejar langkah Santi yang sudah jauh di depan.


"Eh, kau!"


Raka memegang tangan Santi saat berhasil menyusul langkah nya.


"Mau kemana kau?" mata Raka menatap nya tajam.


"Lepas! Aku mau kemana itu bukan urusan mu!" sengit Santi berusaha menepiskan tangan nya.


"Kau tak usah bertingkah. Masuk ke mobil ku sekarang!" suara Raka tertahan karna malu di dedengar orang yang berlalu lalang.


"Nggak!" sanggah Santi cepat.


Raka mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kemudian dengan gerakan cepat ia mengayun kan tubuh Santi ke pundak nya. Kini kepala Santi menghadap ke bawah.


"Lepas! Lepas kan aku! Apa yang kamu lakukan. " Santi terus meronta sambil memukul punggung Raka.


****


Di cafe. Salsa terlihat gelisah karna sudah satu jam mereka menunggu di sana namun Santi belum juga terlihat. Ia terkadang berdiri mengangkat lehernya tinggi kebalik kaca.


Zidan yang duduk hanya melihatnya dengan dahi yang berkerut.


"Mas, telepon bang Raka lagi lah," rengek nya sambil menggoyang kan lengan Zidan.


"Jangan terlalu di pikirkan sayang, mereka bukan anak kecil lagi. Kan tadi juga sudah Mas telepon" Zidan berusaha menenangkan istrinya yang tengah gelisah.


"Tapi kok mereka datang nya lama benget Mas. Perasaan ku nggak enak nih." Salsa kembali menghubungi nomor Santi. Namun, sejak tadi nomor nya tidak aktif.


"tu, orang nya datang," Zidan meruncing kan bibirnya menunjuk kearah pintu.


Salsa segera bangkit dari duduk nya melangkah mendekati Santi.


"Kok lama sih San?" Salsa lansung meraih kedua tangan Santi.


Tanpa Salsa lihat, Raka melayangkan tatapan horor nya pada Santi seperti hendak menelannya hidup-hidup.


"Tadi macet Sa," jawab Santi, yang lansung memutus kan kontak matanya dengan Raka.


Salsa menatap Santi, rambutnya terlihat kusut, wajah nya pun pun seperti tertekan.


"Abang. abang apakan Santi?!" Salsa memberikan tatapan intimidasi pada Raka.


"Ti-tidak ada nyonya, be-benar tadi hanya macet," jawab Raka gugup.


"Awas Saja kalau abang bohong," ancam nya lalu membawa Santi duduk...


Tidak banyak obrolan mereka di cafe, karna setelah Salsa selesai makan Zidan segera mengajak nya pulang.


"Abang, nanti anterin Santi pulang ya. awas saja kalau nggak abang anterin." ancam Salsa.


"Baik, nyonya," balas Raka datar.


"San, aku balik dulu, kalau bang Raka macam-macam sama kamu bilang ya. Biar kita gelitikin dia sampai minta ampun---,"


"Sabila!"


Zidan menarik tangan Salsa keluar dari cafe. Salsa hanya menyeringai sambil melambaikan tangan nya pada Santi....


Kini, Raka dan Santi hanya tinggal berdua. Santi sangat merasa canggung dan takut dangan laki-laki yang berdiri di sebelah nya.


Raka kembali duduk di sofa sedang kan Santi melangkah meninggalkan Raka yang duduk di sofa.


"Mau kemana kau?" Raka kembali berdiri menatap nya tajam.


"Mau pulang lah," ketus Santi tanpa melihat Raka yang sudah berdiri di belakang nya.


"Oo. Kau mau pergi, nanti kau mengadu, mengatakan aku tidak mau mengantarkan kau, begitu kan?" balas Raka.


"Nggak. aku nggak akan mengatakan itu." sergah Santi yang masih berdiri memunggunginya.


"Kau kira aku akan percaya."


"Terserah, mau kamu percaya atau enggak, aku nggak peduli." Santi kembali mengayunkan langkah nya.


Menyebalkan sekali dia. 


Raka mengusap rambut nya kasar. Lalu berlari mengejar langkah Santi.


****


Malam harinya. Salsa mengambil ponsel nya karna hendak menelpon Santi, tak sabar rasanya ia ingin mendengar cerita sahabat nya itu.


"Mas, aku mau nelpon Santi sebentar." Salsa lalu melangkah hendak keluar kamar.


"Kamu mau kemana? Bukan nya di sini juga bisa menelpon?" tanya Zidan.


"Iya, di sini juga bisa nelpon. Cuma kalau di sini nanti Mas gangguin. Malas aku." jawab nya ketus.


"Tidak, Mas janji kali ini tak akan mengganggumu."


"Benar ya, .....," Salsa lalu duduk di samping Zidan yang bersandar di ranjang. Setelah itu ia mencari nomor Santi dan lansung menghubungi nya.


"Gimana San? Sukses?" tanya Salsa saat sambungan teleponnya mulai terhubung.


"Hmm," suara Santi terdengar tidak bersemangat.


"Lho? Kamu kenapa Santo?" goda nya.


"Dah lah, malas aku cerita Sa." rajuk Santi.

__ADS_1


"Ada apa? cerita lah." desak Salsa.


"Udah lah Salsa, aku lagi ngantuk, udah ya." keluh Santi lalu memutuskan sambungan telepon nya.


"San, tunggu dulu, San halo, halo," ucap nya tanpa tak ada sahutan lagi.


Salsa mencoba menghubungi kembali nomor Santi. Namun, nomornya sudah tidak aktif.


"Kenapa sayang?" Zidan merangkul pundak Salsa.


"Santi Mas, ini pasti gara-gara bang Raka." rengeknya mengadu.


Zidan terkekeh karna ia sangat tau sifat asisten nya yang dingin itu.


"Iiiih. Mas kok ketawa sih." dengus nya kesal.


"Sudah lah, tidak usah di pikirkan Raka itu memang begitu, terlihat kasar. Tapi, kalau teman mu itu mau bersabar lama-lama Raka pasti mencair juga." ujar Zidan.


"Mas, telpon lah bang Raka tu, suruh dia minta maaf dengan Santi, Kasihan Santi Mas." rengek nya.


Zidan menghela nafas panjang. Tidak mungkin rasanya ia ikut campur masalah peribadi asisten nya itu.


"Mas, ayo lah telpon bang Raka." Salsa terus merengek meminta Zidan untuk menelpon asisten nya itu.


"Hmm. Baiklah." balas Zidan.


*****


Pagi hari nya, mobil Raka sudah berada di depan rumah Santi. Tentu itu atas perintah Zidan. Hingga pagi-pagi ia sudah berada di sana.


Setelah Raka mengetuk pintu, tidak lama pintu di buka oleh wanita paruh baya.


"Cari siapa? " tanya Wati tidak bersahabat. Ya, wanita itu adalah Mama nya Santi.


"Saya Raka tante. Boleh saya bertemu Santi." ujar Raka sopan.


"O. Jadi ternyata kamu yang membuat anak saya menangis semalaman." bentak Wati menunjuk Raka dengan tangan nya.


"Kamu tau! Gara-gara kamu anak saya dari semalam tidak makan." Imbuh nya.


Raka melangkah mundur karna Wati semakin melangkah maju menyerang nya dengan kata-kata yang belum bisa ia cerna dengan baik.


"Ada apa sih Ma? Pagi-pagi sudah ribut." Edi keluar dari dalam rumah. Ya, Laki-laki paruh baya berpererawakan sangar dengan otot besar di lengan adalah Papa nya Santi.


"Ini Pa, orang yang membuat anak kita semalaman tadi menangis," ujar Wati menoleh pada suami nya.


"Oo, jadi kamu yang membuat putri kami semalaman menangis," Edi menyingsingkan lengan kaos nya yang memang tidak ada lengan.


"Saya tidak mengerti, maksud tante dan om apa?" Raka semakin melangkah mundur saat Edi berjalan semakin mendekat padanya.


"Udah Pa, hajar saja dia Pa," ujar Wati memberikan semangat pada suami nya.


Edi lansung menyerang Raka dengan mengalungkan tangan besar nya ke leher Raka. Wati tak tinggal diam ia mengambil sapu lantai dan memukul kan tangkai nya pada Raka.......


"Aw, aduh!"


"Aw, aduh!"


Ada apa sih? 


Santi melangkah keluar karena mendengar suara keributan


"Astagah! Ma, Pa," Santi melangkah mendekati Edi dan Wati yang sedang menggebuki seseorang.


"Ngapain kamu kesini?" dengus Santi saat mengetahui yang di hajar orang tuanya adalah Raka.


Wajah Raka sudah memerah karna lehernya di kalung kuat oleh Edi.


"Bilang pada orang tua kau ini, agar melepaskan ku," ringis Raka.


"Lawan saja, bukan nya kamu hebat," ketus Santi yang memunggunginya.


"Kau yakin? Awas saja kalau kau menyalah kan ku lagi. Jika terjadi sesuatu pada orang tua kau ini."


******


Hoek!


Hoek!


Hoek!


Di depan wastafel Zidan berdiri memuntahkan isi di dalam perut nya. Salsa memijat tengkuk nya pelan. Setelah selesai memuntah kan semua nya. Zidan diam beberapa saat. Lalu memutar tubuh nya menghadap Salsa yang berdiri di belakang nya.


"Mas terlihat pucat banget, aku telpon dokter Erwin ya." ucap Salsa sambil membelai wajah Zidan.


"Tidak usah sayang, Mas tidak apa-apa." Zidan memegang tangan Salsa yang memegang wajah nya.


"Tapi wajah Mas pucat banget," Salsa terlihat khawatir menatap lekat wajah suaminya.


"Mas baik-baik saja sayang, tidak usah terlalu kamu khawatirkan." kekeh Zidan lalu melangkah gontai keluar dari kamar mandi.


"Gimana aku bisa tenang, Mas. Mas itu muntah-muntah dari tadi sampai bikin badan Mas lemas gini." Salsa meletak kan tangan Zidan di pundak nya, satu tangan nya memegang pinggang Zidan....


Tok


Tok


Tok


"Mas, aku buka pintu dulu ya," Salsa segera berdiri dari ranjang setelah mendapat anggukan kepala dari Zidan.


"Mama," sapa nya melihat Maria yang berdiri di depan pintu.


"Kenapa kalian belum juga keluar kamar? Apa mama suruh Marni membawa sarapan kedalam?" ucap Maria sambil tersenyum penuh arti.


"Nggak usah Ma. Sebentar lagi kami keluar," ujar Salsa dengan pipi merona karna tau maksud senyum Maria.


"Ya sudah, Mama tunggu di meja makan." ucap Maria berlalu pergi.


Setelah menutup pintu Salsa kembali melangkah mendekati Zidan.


"Siapa?" tanya Zidan.


"Mama ngajakin sarapan." ucap Salsa duduk di pinggir ranjang.


"Ya sudah, pergilah!


"Terus Mas gimana?"


"Mas di kamar saja, perut Mas rasanya tidak enak, takut nya Mas muntah lagi." ujar Zidan memaksa senyum.


Salsa diam menatap lekat wajah suaminya yang terlihat pucat itu.


"Sudah pergilah, Mas tidak apa-apa sayang." Zidan membelai wajah Salsa sambil tersenyum.


"Emang nya nggak pa-pa Mas tinggal sendiri?" Salsa seperti ragu meninggalkanya.


"Nanti Mas kangen, " goda Salsa yang sebenarnya tak ingin meninggal kan suaminya itu seorang diri di dalam kamar.


Sebenarnya Aku juga tidak ingin jauh darimu sayang. 


batin Zidan menatap wajah istrinya yang belum juga beranjak pergi.


"Ya, udah, aku keluar dulu. Mas mau aku bawakan sarapan apa?"


Zidan sejenak tampak berpikir.


"Rasanya Mas mau makan jeruk Sayang. " jawab Zidan, seperti sangat menginginkannya.


"Jangan, iiiiih! Mas kan belum sarapan apapun, bisa-bisa perut mas tambah sakit nanti."


"Tapi Mas ingin memakan jeruk sayang," wajah Zidan terlihat memelas.


"Tapi Mas, harus sarapan yang lain dulu, Sebelum memakan jeruk," ujar Salsa lalu melangkah pergi ke ruang makan......


"Lho, sayang suami mu mana? Kok kamu sendirian." tanya Maria saat melihat Salsa berjalan sendiri. Tidak seperti biasa nya yang selalu menempel.


Salsa menarik kursi yang biasa didudukinya, lalu menghempas kan bokongnya di sana.


"Biasa Ma, mual Mas kambuh lagi." jawab Salsa apa adanya.


Maria tersenyum simpul.


"Beruntung kamu sayang,suami mu pasti sangat menyayangimu," ujar Maria.


"Iya, Ma." Salsa tersenyum penuh arti.


"Sayang, bagaiman dengan pendidikan mu? Apa kamu lansung melanjutkan kuliah, atau melanjutkan setelah melahirkan?" tanya Maria.


"Itu lah Ma, aku juga bingung, Sekarang perut aku juga sudah sudah semakin besar," jawab Salsa.


"Ya, itu bagaimana baiknya saja sayang, buat mama, yang terpenting kamu dan bayimu sehat, " ujar Maria.


***


"Aaaw! pelan-pelan lah," Raka meringis saat Santi mengobati luka lebam di wajah nya akibat pegulatan nya dengan Edi. tentunya Raka kalah telak karna Edi adalah mantan juara bela diri.


"Udah nggak usah cerewet, masih untung kamu di kasih ampun sama papa," dengus Santi.


Beberapa jenak mata Raka tak berkedip memandang Santi. Ia tatap wajah itu begitu lekat. Wajah keibuan di balik gaya tomboy nya.


"Aaww!" Santi menekan kuat luka nya, karna tau dirinya sedang di perhatikan.


"Aku hanya tidak ingin, melawan orang yang lebih tua saja, kalau tidak sudah habis ku hajar orang tua kau itu. " kilah Raka beralasan.


"Ya ea lah , kalah ya kalah saja. " Santi memutar bola matanya seperti merendahkan.


"Udah selesai! Sana pergi!" ketus Santi mengusir nya.


"Kau mengusir ku?" bentak Raka dengan mata yang membola.


"Ehem," suara deheman Edi dari ruang tengah membuat Raka mengecilkan suaranya.


Santi tersenyum seperti mengejek nya.


"Sudah pergi sana! sebelum kamu dihajar papa ku lagi." ujar Santi lalu berdiri dari duduk nya.


"Tunggu!" Raka memegang tangan nya.


"Apa lagi?" ketus Santi tanpa melihat padanya.


"Aku minta maaf," lirih nya mendongak kan wajah menatap Santi.


"Sudah lah, pergi sana." balas Santi yang enggan menatap wajah nya.


"Tapi kamu mau maafkan aku kan."


"Apa? Coba ulangi lagi!" pinta Santi karna tadi sayup-sayup ia mendengar Raka menyebut nya kamu.


"Sudah lah aku mau pergi," ucap Raka seperti salah tingkah.


Dasar aneh! 


batin Santi.


****


Di negara lain seorang wanita terbaring di ranjang pasien rumah sakit, sebagian wajah nya di perban karna baru beberapa minggu selesai melakukan operasi wajah. Ya, dia adalah Niken. Setelah menjual rumah mewah peninggalan papanya. Ia memutuskan untuk melakukan operasi wajah agar tidak bisa di kenali lagi. Tentu ia sangat tahu sekali konsekuensi dari kesalahan nya yang pernah mencelakai Zidan. Apalagi saat ia mendapat kabar jika Samuel dan Togar sudah di temukan oleh Raka. Pasti semua itu sangat mengancam hidupnya.


Tunggu aku Zi, aku akan mendapatkan mu kembali. 


***


Dikantor. Pikiran Raka saat ini terus saja di bayangi oleh wajah Santi.


Argggh, kenapa wajah gadis sialan itu selalu terbayang di kepala ku ini. Apa jangan-jangan aku sudah di pelet nya?  Sial! Kenapa aku seperti merindukan dia. 


Raka mengusap kasar wajah nya. Akhirnya ia tak mampu lagi menahan kerinduan nya pada Santi. Ia menutup leptop kerjanya dan segera melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Di dalam mobil Raka berpikir keras mencari alasan tepat, agar terkesan tidak ter egeh-egeh sekali dengan nya.


Aku harus jawab apa nanti ya? Kalau dia bertanya. Tidak mungkin kan aku bilang aku kangen. Ahh, sial. Bisa besar kepala dia. Apa aku jual saja nama nyona Salsa? Yah hanya itu cara nya. 


Mobil Raka terus melaju menuju rumah Santi. Setelah menempuh perjalanan lima belas menit. Mobil pun sudah terparkir di halaman rumah Santi.


"Selamat siang om," sapa Raka pada Edi yang sedang memandikan burung nya.


"Hmmm... Buat apa lagi kamu datang kesini? " tanya Edi tidak bersahabat.


"Saya ada perlu dengan Santi sebentar om." jawab Raka takut-takut.


"Santi tidak ada di rumah. Ada perlu apa nanti saya sampaikan. " tanggap Edi yang terus memandikan burung nya.


"Kalau boleh tau, Santi nya pergi kemana ya om?" tanya Raka terdengar lebih sopan.


"Pergi ya pergi! Tidak usah banyak bertanya. Laki-laki kok cerewet." dengus Edi merasa kesal.


"Pa, Pa, Santi udah pulang dari warung belum?" teriak Wati dari dalam rumah.


"Belum." jawab Edi menatap tajam pada Raka.


Raka bergedik ngeri saat bertemu pandang dengan tatapan Edi yang menghunus jantung. Bagaimana tidak, pukulan di wajah nya saja masih bisa ia rasakan sakitnya sampai sekarang.


Bagaimana caranya aku harus bisa mengambil hati orang tua ini. 


batin Raka.


"Om suka burung juga ya, di rumah saya juga banyak burung om," Raka mencoba berbasa-basi. Yang sebenarnya seekor burung pun ia tak punya.


Edi menoleh menatap nya.

__ADS_1


"Benarkah?" Wajah edi bersinar cerah berjalan mendekati Raka.


"Mari duduk," Edi merangkul bahu Raka membawanya keteras rumah.


"Ma! buatkan kopi dua," teriak nya ke dalam rumah.


Tidak lama berselang Santi datang membawa kantong kresek hitam yang entah apa isi nya. Ia melihat Raka yang terlihat akrab mengobrol bersama Edi.


Ngapain lagi sih dia kesini? 


batin Santi menatap nya sinis.


Santi gegas melangkah masuk kedalam rumah mencari Wati.


"Ma, itu orang ngapain lagi sih kesini?" tanya Santi seperti tak suka.


"Mama juga tidak tau, tadi mama dengar dia datang nyariin kamu," jawab Wati.


"Nyari aku? Buat apa dia nyari aku ma?" tanya Santi.


"Ya, kok nanya mama, tanya sama orang nya lah." balas Wati yang terlihat sibuk dengan masakan nya.


"San, Santi. ....." Teriak Edi dari luar.


"Iyaaa, ... " Sahut Santi melangkah keluar.


"Ya, ada apa Pa?" tanya Santi bersiri di depan pintu.


"Ini, nak Raka katanya mau bicara dengan mu, ada hal penting katanya." ujar Edi.


"Suruh pulang aja Pa, Santi malas ketemu dia," dengus Santi berlalu pergi.


"Santi, ...... Sini dulu Nak," panggil Edi.


"Ada apa lagi pa? Santi sibuk mau bantu mama masak. " ucap Santi memberi alasan.


"Tidak boleh begitu Nak, tamu itu harus di hormati. " ujar Edi.


Santi melirik Raka yang menyeringai padanya.


"Ada apa?" tanya nya ketus.


"Santi, ...... tidak boleh bicara begitu pada orang yang lebih tua, kamu lupa apa yang sering Papa sampaikan, " sela Edi.


"Ya,. pa,"


"Ada apa? tanya Santi terdengar lembut.


"Om, boleh tidak saya bawa Santi keluar sebentar," pinta Raka.


"Boleh, ..... Boleh, ..... Silahkan." ucap Edi yang membuat mata Santi membola. Pasal nya orang tua nya itu biasa nya tidak pernah mengizinkan anak nya pergi keluar dengan laki-laki lain. Tapi, kenapa sekarang Papa nya itu berubah?


Malahan, dulu pernah ada temannya laki-laki yang mengantarkan nya kerumah, setelah itu tidak berani lagi datang kerumah nya. Entah apa yang di katakan Edi padanya.


*****


"Menurut mas mana yang lebih baik aku kuliah tahun ini, atau tahun besok. Ya soal nya kan aku lagi hamil Mas. Kuliah taun ini perut ku juga sudah besar. " tanya Salsa meminta pendapat.


"Kalau menurut Mas, ya mending kamu lebih fokus dulu ke kehamilan kamu sayang. Mas tidak ingin pikiran mu nanti akan terbebani, dengan tugas-tugas kuliah. Tapi itu Mas serah kan ke kamu, Mas akan dukung apa yang menjadi pilihan mu. " ujar Zidan.


"Makasih ya Mas," ucap nya.


"Gimana Mas? manis nggak Jeruk nya?" tanya Salsa yang menyuapkan jeruk ke mulut Zidan.


"Kalau kamu yang menyuapkan, pasti akan selalu manis Sayang. " jawab Zidan memnuat hati Salsa semakin berbunga-bunga.


*****


"Emang tempatnya masih jauh ya? " tanya Santi. Ya, Raka tadi memang mengatakan jika ia di suruh Salsa untuk mengantarkannya ke tempat Salsa.


"Tu di depan. " jawab Raka.


Mobil kini sudah terparkir di depan sebuah cafe.


Raka segera turun dari mobil lalu membukakan pintu belakang mobil untuk Santi. Raka sebenar nya tadi sudah membukakan pintu depan, tapi Santi malah masuk ke pintu belakang. Ya, mungkin kata-kata Raka waktu itu masih teringat oleh nya.


Kini mereka sudah berada di dalam cafe. Santi mengedarkan pandangan nya mencari sosok Salsa namun tidak menemukan nya.


"Mana Salsa?" tanya nya.


"Mungkin belum datang. Bagaimana kalau kita duduk di sana dulu sambil menunggu nya." ucap Raka sambil menujuk meja kosong yang menghadap ke jalan raya.


Santi menurut, ia mengikuti langkah Raka yang melangkah di depannya.


Raka lalu menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Santi duduk di sana. Sejak tadi otak Santi salalu bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya dengan lelaki kepala batu ini?


Seorang pelayan datang memberikan buku menu pada mereka. Ya, terlihat seperti sebuah kencan, karna mereka duduk di meja yang hanya ada dua kursi dan meja kecil di tengah nya.


"Kamu pesan apa San?" tanya Raka yang membuat alis Santi bertaut menatap nya.


Kenapa dengan si kepala batu ini? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah perhatian? Apa jangan-jangan karna Salsa yang memintanya bersikap seperti ini padaku? 


Batinnya.


"San, kamu pesan apa?" tanya Raka untuk kedua kalinya.


"Hmm. Terserah." jawab Santi.


Raka pun memesan empat porsi makanan dan minuman yang sama dengan nya. Dua porsi nya ia minta di bungkus.


"Mana Salsa? Kok belum datang juga." tanya Santi.


"Mu-mungkin sebentar lagi mereka datang." jawab Raka gugup.


Kening Santi semakin berkerut melihat tingkah Raka yang semakin terlihat aneh.


Tidak lama berselang pesanan mereka pun datang.


Santi segera menyantap makanan seafood yang terlihat menggugah selera nya itu. Dan memang rasa nya memang sangat memanjakan lidah.


Makanan sudah habis. namun, Salsa belum juga terlihat. Ingin dia menelpon Salsa. Tapi, ponsel nya tertinggal di rumah.


"Mana Salsa? Kok belum juga datang?" ucap Santi bertanya.


"Atau mungkin dia nggak jadi datang. Biasa lah kan dia lagi hamil," dalih Raka memberi alasan.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Nggak enak aku nanti di marahi Papa kalau pulang malam." ujar Santi.


Setelah membayar di kasir mereka pun melangkah keluar menuju mobil. Sampai di mobil Raka kembali membuka kan pintu depan untuk Santi karna pintu belakang terkunci Santi terpaksa masuk juga.


Tidak ada obrolan mereka selama di dalam perjalanan. Raka hanya bisa mencuri-curi pandang saja.


"Eh, kalian sudah pulang." sapa Edi yang segera bangkit dari duduk nya, menyambut Raka dan Santi yang baru datang.


"Iya om, kan tadi saya bilang nya hanya sebentar," balas Raka lalu mencium punggung tangan Edi.


"Ini, saya sengaja bawakan buat om dan tante. Semoga saja om dan tante suka," ujar Raka menyerahkan makanan yang sengaja di bungkus nya tadi.


Santi segera masuk kedalam rumah, meninggalkan Edi dan Raka yang semakin terlihat akrab.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya om. tante mana?"


"Tante mu ada di dalam." jawab Edi.


"O, . ... Ya sudah, kalau begitu titip salam saja sama tante, ya om," ujar Raka kembali mencium punggung tangan Edi sebelum melangkah pergi.....


Santi mangambil ponsel nya dan segera menelpon Salsa. Ia sangat penasaran sekali dengan perubahan sikap Raka pada nya.


"Halo Sa," sapa Santi saat sambungan ponsel nya terhubung.


"Ya, San. Ada apa?'" tanya Salsa dari sambungan teleponnya.


"Sa, Tadi kamu ngajak ketemuan di cafe Simpatik kan?" ucap Santi yang juga bertanya.


"Nggak, seharian ini aku di rumah menemani suamiku." jawab Salsa.


"Bukannya kamu menyuruh si kepala batu menjemput aku ke cafe simpatik?" tanya Santi.


"Nggak ada Santo, aku seharian ini di rumah jagain suami aku." ucap Salsa menyangkal.


"Uuuh. Pasti si kepala batu itu sengaja mengerjai aku." dengus Santi kesal.


"Kamu kenapa San? Si kepala batu, si kepala batu, itu siapa?" tanya Salsa.


"Siapa lagi? Kalau bukan abang mu," ketus Santi.


"Abangku? Siapa? " tanya Salsa.


"Ya, abang mu yang sok ketampanan itu lah." jawab Santi.


"Siapa?" tanya Salsa yang memang tidak tau siapa yang di maksud Santi.


"Abang Raka mu itu lah!" ketus Santi.


"Ooo. Dia udah minta maaf sama mu kan?" tanya Salsa.


"Sudah kuduga pasti kamu yang menyuruh nya datang kesini." dengus Santi.


"Bukan aku, kalau aku mana dia mau. Tapi suami aku yang menyuruh nya." balas Salsa.


"Nggak usah suruh lagi dia datang kesini, aku sudah malas melihat nya," ucap Santi.


"Iya," balas Salsa.


*****


Tengah malam, perut Zidan terasa sangat lapar sekali. Ia menoleh kesamping melihat wajah istri nya yang tertidur pulas.


Zidan memegang perutnya yang semakin terasa lapar, bahkan Cacing-cacing di dalam perut nya sudah berteriak agar si empu segera memasukkan makanan ke perutnya. Karna seharian tadi tidak ada makanan lain yang masuk perutnya kecuali jeruk.


Perlahan ia bangkit dari ranjang. Melangkah gontai menuju dapur. Di dapur ia membuka lemari pendingin mengambil sebuah apel hijau lalu duduk di kursi.


Di dalam kamar Salsa menggeliat, tangan nya meraba sisi ranjang. Sontak ia membuka mata karna tidak merasakan kehadiran Zidan di sampingnya.


"Mas, ..... Mas, ........ Mas, ..... "


Tak ada sahutan. Salsa lalu bangkit dari ranjang, sambil terus memanggil -manggil Zidan. Namun tak ada sahutan. Salsa lalu melangkah ke kamar mandi. Namun, disana ia juga tidak menemukan Zidan.


Perlahan ia menapak keluar kamar. Mencari Zidan ke ruang utama, hasinya Zidan juga tidak di temukan di sana.


Rasa cemas mulai menghantui otak nya. Pasal nya, tak pernah sebelum nya Zidan melakukan hal seperti itu.


Ia lalu mengetuk kamar Maria sambil menangis. Tidak lama Maria membuka pintu.


"Ada apa sayang?" tanya Maria sambil mengusap puncak kepalanya.


"Mas Zidan Ma," ucap nya sambil terisak.


"Kenapa dengan suamimu sayang?" tanya Maria.


"Mas Zidan hilang Ma," tangis nya semakin nyaring. Hingga terdengar sampai keluar. Jefri dan beberapa pengawal lainnya masuk kedalam.


"Ada apa nyonya?" tanya Jefri khawatir.


"Jeff, apa kau melihat Zidan keluar?" tanya Maria.


"Tidak ada nyonya." jawab Jefri yang memang tidak melihat Zidan keluar.


Tangis Salsa semakin pecah. Hingga terdengar di telinga Zidan yang sedang mengisi perut di dapur.


Zidan lalu berlari keluar menuju suara tangis istrinya.


"Itu tuan. " ujar Jefri.


Zidan terus berjalan mendekati Salsa yang masih terisak lalu memeluk nya.


"Maafkan Mas, Mas tadi lapar Sayang,"


"Mangkanya Zi. Kalau pergi itu bilang, jangan asal ngilang saja, kasihan tuh istrimu." oceh Maria.


Jefri dan para pengawal yang berdatangan kembali keluar. Sedangkan Salsa masih terus terisak di dada bidang Zidan.


Tanpa melepaskan pelukan nya Zidan berjalan pelan masuk kedalam kamar.


*****


Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kantor mobil Raka sudah terparkir di halaman rumah Santi. Dengan berbekal membawa sarapan untuk membujuk Edi dan Wati. Raka melangkah penuh percaya diri mengetuk pintu rumah Santi.


"Eh, Nak Raka, ada apa pagi-pagi sekali datang kesini?" tanya Wati yang masih berdiri di depan pintu.


"I-Ini tante saya datang kesini mau numpang sarapan tante." jawab Raka.


"Duh, gimana ya Nak, Tante belum ada membuat sarapan nih." ucap Wati.


"Tidak apa-apa tante saya ada membawa sarapan kok." ujar Raka lalu menyerahkan sarapan di tangan nya pada Wati.


"O, ya sudah silahkan masuk dulu, biar sekalian tante panggilkan papa nya Santi." Wati menerima kantong yang berisi sarapan itu lalu membuka kan pintu lebar-lebar.


"Terimakasih tante." ucap Raka, di dalam hati bersorak senang.


Raka masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu Sedangkan Wati pergi kebelakang sekalian memanggil Edi ke belakang yang sedang berlatih bela diri.


Tidak lama, Edi pun sudah berada di ruang tamu.


"Eh, Nak Raka. Kapan membawa om melihat burung-burung langka di rumah mu? " tanya Edi terdengar bersemangat.


Raka tercekat, karna sebenarnya ia bukan lah penggemar burung.. Bahkan di apartemen nya pun tidak ada memelihara seokor burung.


"I-iya om, nanti kalau ada waktu pasti saya bawa om. " jawab Raka.


"San, San Santi!" panggil Wati membangunkan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2