Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
27. Kejadian di Mall


__ADS_3

"Bagai mana Sa?  Apa Om mu bilang?" tanya Santi tak sabar setelah Salsa menelpon Zidan.


"Ya boleh katanya, tapi jangan lama-lama," jawab Salsa lalu memasukkan kembali ponsel nya ke dalam tas.


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang," desak Santi.


"Apa kita akan pergi menggunakan seragam ini?" tanya Salsa.


"Hmm, iya juga ya. Ya sudah, kamu pakai baju aku saja," jawab Santi memberi solusi.


"Ish.... Aku nggak mau lah, baju-baju kamu tuh sudah banyak yang aku pakai, seragam yang kamu pinjamkan kemarin saja belum aku balikin." tolak Salsa.


"Udah gak apa-apa, kita kan mau pergi shopping, jadi kalau kamu tidak enak kamu bisa menggantinya nanti," Santi tertawa renyah.


"ish.. Kamu tidak ikhlas ya? sungut Salsa.


"Udah ganti baju mu sekarang, jangan buang-buang waktu hanya karna baju."


"San, uang nya kamu saja yang pegang ya aku gak biasa pegang uang sebanyak itu."


"Kamu tenang saja. kalau masalah uang serahin sama aku,"


Salsa memutar bola mata malas. "Huh, dasar matre,"


.


.


.


Herman yang sudah sangat pusing memikirkan bagaimana cara mencicil hutang judi nya pada tuan Albert. kini berada di sekolah Salsa.


'Sial! Aku terhambat, kemana harus aku mencari anak sialan itu? Aku harus segera bertemu dengan dia, karna cuma dia harapanku untuk bisa mendapatkan uang. Berharap pada si Rita dia sudah tidak berguna lagi'


.


.


Salsa dan Santi kini sudah tiba di mall.


"Sa, kita pergi kemana dulu?" tanya Santi kala langkah kaki mereka sudah berada di lantai dasar bangunan yang memliki 8 lantai


"Nggak tau, kan kamu yang sering main ke mall, jadi aku ikutin kamu saja mau ke mana nya terserah kamu," jawab Salsa.


"Bagaimana kalau kita cari buku dulu? Habis itu baru kita pikirin lagi mau kemana," Santi memberi solusi.


"Terserah aku ngikut aja,"


Mereka berdua pun melangkah menuju toko buku ternama yang ada di mall itu.


"Bagaimana caranya kita menemukan buku itu San? Di sini buku-buku nya banyak sekali," tanya Salsa saat mereka sudah berada di toko buku.


"Hm, kamu cari di sini, aku cari di sebalah sana. Nanti kalau kamu sudah menemukan nya, kamu panggil aku, sebalik nya aku pun kalau sudah menemukannya akan memberitahukan mu," tutur Santi.


"Baiklah." jawab Salsa setuju.


Santi kemudian pergi ke tempat yang ia tunjuk tadi, sedangkan Salsa tampak serius mencari satu persatu buku yang ia butuhkan, mencari dari satu rak yang berisi ratusan buku ke rak lain.


"Hai," sapa seseorang yang sudah berdiri di samping Salsa.


Salsa menoleh ke arah sumber suara yang menyapa nya. ternyata itu adalah Rendi.


"Kamu nyari buku ini?" Rendi memperagakan buku yang di pegang nya.


"Iya, nemu di mana?" tanya Salsa.


"Buku ini nggak ada di jual di sini. Kalau kamu mau aku bisa mengantarkanmu ke tempatnya." ucap Rendi membawa penawaran.


"Baiklah, aku akan memberitahu kan nya dulu pada Santi," balas Salsa yang hendak beranjaka pergi ke tempat Santi.


"Hei, tunggu dulu. Tempatnya gak jauh dari sini kok, nanti kamu lansung belikan saja buat Santi. Tenang aja nggak lama kok,"


"Tapi uang ku ada pada Santi, aku panggil dia sebentar dulu," Salsa hendak kembali melangkah.


"Gampang, pakai uang aku dulu, nanti kamu bisa menggantinya," Rendi turus berusaha meyakinkan.


"Tapi-"

__ADS_1


"Udah gak pa-pa, ayok tempat nya di depan itu, gak jauh dari sini kok," ucap Rendi menunjukkan tempat nya.


"Ayo," Rendi mulai melangkah keluar dari toko itu.


Dengan terpaksa Salsa mengekori langkah pemuda tampan satu sekolah nya, sambil menoleh ke belakang di mana Santi berdiri.


Namun, sayangnya posisi Santi terhalang rak buku jadi ia tidak bisa melihat Salsa keluar dari toko itu.


Salsa terus saja mengikuti langkah kaki Rendi, posisi mereka berjalan pun kini sudah sejajar.


"Masih jauh nggak?" tanya Salsa, rasa nya sudah agak lama berjalan.


"Gak kok, di depan ini belok kanan sedikit sudah sampai." terang Rendi.


"Salsabila....!" sebuah suara bariton yang sangat Salsa kenali terdengar memanggil nama nya.


Salsa menoleh ke arah pemilik suara itu.


"Om," secara pelan Salsa berjalan mendekati pria yang sudah menjadi suami sah nya.


Kini Salsa sudah berdiri di samping Zidan dengan wajah yang tertunduk.


Rendi pun berjalan mendekati mereka.


"Kenalin Om nama aku Rendi, teman sekolah nya Salsa keponakan Om," ucap Rendi seraya mengulurkan tangan.


Tanpa memperdulikan uluran tangan Rendi, Zidan menarik tangan Salsa pergi, dari sana membiarkan tangan Rendi yang masih menggantung.


.


.


.


"Tadi kamu bilang pergi sama siapa?" tanya Zidan, kaki nya terus melangkah menyeret tangan Salsa.


"Sa-sama Santi," Salsa menjawab sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki Zidan yang lebar.


"Oo... Jadi yang tadi itu Santi?" tanya Zidan kini telah menghentikan langkah nya.


Buk.


"Heis.. Kalau jalan tu lihat ke depan bukan ke bawah," bentak Zidan menyalahkan.


"Maaf," balas Salsa yang kini wajah nya mulai menunduk.


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, siapa Rendi itu?" tanya Zidan.


"Ti-tidak tau," Salsa menggeleng lemah.


"Heis... Bilang tidak tau, sudah jelas saya dengar dia bilang tadi teman sekolah kamu,"  kesal Zidan.


"Iya dia satu sekolahan dengan saya, tapi saya tidak kenal dengan dia, Om," Salsa sedikit mengangakat wajah nya mellirik Zidan dari ekor mata.


"Ck, sekarang ikut saya," Zidan mulai melangkah.


Salsabila mengekori langkah suami nya dari belakang.


"Om," panggil nya, membuat Zidan menghentikan langkah, Zidan menoleh ke belakang, melihat Salsa yang lagi-lagi kini sudah menunduk.


"Apa?" Zidan mendengus kesal.


"Sa-saya lapar," Salsa menjawab tanpa mengangkat wajah nya.


"Heis, merepotkan sekali." Zidan berdecih, namun saat melihat wajah Salsa yang tertunduk, dirinya pun tak tega. "Sudah ikut saya."


Zidan membawa istri nya masuk ke dalam resto cepat saji.


-


-


Kini mereka telah berada di dalam sebuah restoran cepat saji yang berada di dalam Mall.


"Mau makan apa?!" tanya Zidan masih terdengar ketus.


"Terserah Om," jawab Salsa.

__ADS_1


"Mau makan saja masih tidak tau," ucap Zidan terdengar sinis.


"Om saja yang pesan kan, saya tidak tau menu-menu nya," sahut Salsa.


Zidan lalu memesan kan 2 porsi makanan dengan menu yang sama yang di pesannya besarta minumannya.


Ponsel didalam tas Salsa tiba-tiba berdering, namun salsa membiar kannya saja.


"Kenapa tidak angkat?" tanya Zidan.


Salsa melirik Zidan, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.


"Siapa?" tanya Zidan ketus.


"Santi," jawab Salsa.


"Angkat, louspeaker kan," perintah Zidan dibalas anggukan kepala Salsa.


"Hallo, kamu di mana Sa, kamu jangan bikin aku khawatir lah. Salsa katakan kamu sekarang dimana, biar aku samperin kesana." suara Santi yang terdengar panik di sebrang telepon.


"Aku tidak tau ada dimana San," balas Salsa santai.


"Kamu masih di mall ini kan?" tanya Santi lagi.


"Iya aku masih di mall,"


"Kata kan posisi kamu di mana? biar aku samperin kesana."


"Om ini dimana?" bisik nya pada Zidan, namun pria berwajah dingin itu seperti enggan untuk menjawab nya.


"Halo kamu bicara sama siapa Sa?" tanya Santi.


"Gak, aku gak bicara dengan siapa-siapa," balas Salsa.


"Coba kamu lihat nama toko di sekitar kamu berada, dan di lantai berapa kamu sekarang," tanya Santi lagi.


Salsa mengedar kan pandangan nya, mencari papan nama di sekitarnya, didepannya ada gambar-gambar makanan dan nama merek resto cepat saji.


"Di McDonald San," jawab Salsa setelah membaca papan nama merk resto.


"Kamu tunggu aku disana, jangan ke mana-mana sampai aku datang, ingat jangan kemana-mana!" tegas Santi.


"Kamu gak usah kesini San, aku sama Om," balas Salsa.


"Ehh,, dodol bukan nya bilang dari tadi, kan aku gak panik gini," Santi menggerutu.


"Ya sudah, kamu palang nya sama Om mu itu kan?" tanya Santi meyakinkan.


Salsa melirik Zidan yang duduk di hadapannya.


"Seperti nya iya San," balas Salsa.


"Ya sudah hati-hati, nanti aku hubungi lagi, dahhh," ucap Santi sebelum mengakhiri sambungan telepon nya.


Sambungan telepon terputus, Santi memasukkan kembali ponsel nya ke dalam tas.


"Sudah selesai teleponan nya?" dengus Zidan.


Salsa menggangguk.


"Cepat habis kan makanan mu,"


"Ya," sahut Salsa pasrah.


.


.


.


Selesai makan, Zidan mengantarkan Salsa kembali ke toko buku. Dirinya hanya memerintahkan pelayan toko untuk mencari buku yang Salsa inginkan, tidak lama buku itu sudah di tangan Salsa. Gadis yang sudah memiliki suami itu mengambil dua buah buku, pastilah satunya untuk sahabat nya.


Saat menuruni tangga ekskalator, sebuah troli milik pengunjung lain menabrak tubuh Salsa.


Buk.


Salsa jatuh tersungkur.

__ADS_1


__ADS_2