
"Mas, lepasin!" Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang mencengkram pergelangan tangan Maria.
Zidan menatap Salsa dengan sorot mata yang susah di artikan, lalu melepaskan pergelangan tangan Maria yang di pegangnya, ia melangkah mundur kembali duduk di sofa sambil meraih ponsel nya yang terletak di atas meja.
Maria lansung memeluk Salsa yang berdiri di depan nya. Salsa semakin bingung, ditambah ia mendengar suara isak tangis Maria yang memeluk tubuh nya.
"Ma, mama kenapa?" Salsa mengusap lembut punggung Maria yang menangis sambil memeluk tubuhnya.
"Hiks, Hiks, maafkan mama Nak, hiks, hiks," Maria semakin sesegukan menangis dengan terus memeluk tubuh Salsa.
"I-iya ma," jawab Salsa terbata sambil menoleh melihat Zidan yang sudah duduk di sofa.
Setelah tangis Maria sedikit reda Salsa mengajak nya untuk duduk di sofa. Zidan yang lebih dulu duduk di sana hendak berdiri, tapi tangan nya di tahan oleh Salsa. Meski sebenarnya dengan mudah Zidan bisa menepiskan tangan istrinya itu. tapi, ia tidak melakukan nya.
"Mama kenapa?" Salsa kembali bertanya setelah duduk di sofa sambil memegang kedua tangan sang mertua.
"Sayang, mama Minta maaf!" lagi hanya kata itu yang mampu Maria ucapkan. Sungguh, ia merasa malu untuk menceritakan yang sebenarnya. tidak mungkin rasanya ia menceritakan kebodohan nya yang terlalu mudah di pengaruhi oleh orang lain.
"I-iya ma. tapi, untuk apa mama minta maaf, emang mama salah apa?" tanya Salsa dengan polosnya. Sungguh ia bingung tidak mengerti sama sekali, baru tadi mertuanya itu datang dengan sikap acuh nya, sekarang datang lagi, dan lansung minta maaf menangis sesugukan.
Salsa kemudian menoleh melihat Zidan yang duduk di samping nya. terlihat wajah kesal Zidan yang seperti tidak peduli dengan kehadiran Maria. Ia hanya sibuk memainkan ponsel nya.
Apa mas tadi menelpon mama dan memarahinya?
pikir Salsa yang terus mencari tau penyebab mertuanya itu menangis.
"Mas!" tangan Salsa sedikit mencubit pinggang Zidan yang masih sibuk bermain ponsel.
"Apa?" Zidan menggelinjang kaget.
"Mas, Cepat! minta maaf sekarang sama mama," bisik nya di telinga Zidan.
Zidan mendelik kan matanya, seakan menolak permintaan istrinya itu.
"Cepat!!" bisik Salsa lagi, dengan sorot mata memaksa.
Zidan mendengus kesal.
"Ya, Maaf," hanya dua kata itu yang Zidan ucapkan tanpa sedikitpun menoleh pada Maria.
"Ma, maaf in mas Zidan ya, jika ucapan nya menyakiti hati mama-,"
"Heais! kenapa kamu menyalahkan mas," dengus Zidan memotong ucapan nya.
"Udah mas diam dulu!"
__ADS_1
Zidan kembali mendengus, ia membalikan tubuh nya membelakangi mereka.
"Ti-tidak sayang, Zidan tidak melakukan apa-apa," terang Maria tak enak hati.
"Ckk. Sudah pergi lah! tidak usah membuat drama disini! mengganggu orang saja!" desis Zidan yang terus memainkan ponsel nya.
"Mas!" Lagi Salsa kembali mencubit pinggang Zidan.
"Sakit lah sayang," Zidan meringis karna cubitan tangan Salsa cukup kuat di pinggangnya.
Maria yang sejak tadi memperhatikan mereka merasa tidak enak hati, mungkin kata Zidan ada benarnya. Jika kehadiran nya hanya mengganggu hubungan mereka saja.
"Kalau begitu mama pergi dulu ya," ucap Maria sambil meraih tas nya yang ia letak kan di atas meja.
"Ya pergilah, dan jangan pernah mengganggu kami lagi," lagi suara Zidan terdengar sinis, tangan nya tetap memainkan ponsel.
"Mas," tegur Salsa lalu berdiri menatap suami nya.
"Kenapa kamu terus saja membelanya," dengus Zidan tidak suka.
"Ma, tunggu sebentar ya," ucap Salsa lembut menahan mertuanya agar tidak pergi.
"Mas, sini!" Salsa melangkah menuju ranjang pasien meminta Zidan untuk mengikuti nya. Sambil berdiri, Zidan menatap Maria dengan sorot mata yang membuat Maria tidak mampu melihat nya.
"Apa?" tanya Zidan malas yang sudah berdiri di depan Salsa.
"Tapi-," ucapan Zidan terhenti saat matanya melihat bibir Salsa yang bergetar dan bola mata nya yang berkaca-kaca.
Zidan lalu meraih tubuh Salsa kepelukannya.
"Hiks, hiks," tangis Salsa pun pecah dalam pelukan Zidan.
"Sudah, sudah lah, kamu mau apa? mas akan turuti," Suara Zidan terdengar lembut, meski tidak sepenuh hati.
Salsa berusaha melepas kan tangan Zidan yang memeluk nya.
"Benar mas mau menurutinya?" bibir Salsa mengerucut kedepan.
"Iya," jawab Zidan sambil memegang kedua pipi Salsa, mengusap sudut mata nya dengan ibu jari.
"Janji," Salsa mengangkat jari kelingking nya.
"Hmm," dungus Zidan dengan wajah datar nya.
"Janji dulu," Jari kelingking Salsa masih mengacung ke depan Zidan.
__ADS_1
" Ya," Zidan lalu menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Salsa.
"Sekarang mas harus benar-benar minta maaf sama mama," pinta Salsa terdengar seperti sebuah perintah.
"Hmm," dengan malas Zidan membalikan badannya berjalan ke arah Maria yang masih duduk di sofa.
Zidan mengulurkan tangan nya pada Maria.
"Kalau bukan istri saya yang meminta, saya tidak akan melakukan ini," ucap nya dengan suara pelan.
Maria berdiri dari duduk nya dan lansung memeluk tubuh Zidan.
"Zi..., hiks, hiks, maafkan mama nak, maafkan mama," tangis Maria kembali pecah.
"Ck. Sudah lah berhentilah bersandiwara," ternyata Pelukan hangat Maria belum mampu mencair kan hati Zidan yang keras membatu.
Dari sudut ranjang pasien, Senyum Salsa terbit. Ia membayang kan jika suatu hari nanti, ia juga bisa memeluk ibu nya.
****
Niken segera bersembunyi saat melihat mobil Raka yang memasuki parkiran rumah sakit.
Ia bersembunyi di antara tiang tembok. matanya terus memperhatikan Raka dan Alfredo yang berjalan di Koridor rumah sakit menuju ruang inap Zidan.
Ceklek.
"Slamat so-," ucapan Raka terhenti saat matanya menangkap Maria, Zidan dan Salsa yang saling berpelukan seperti teletabis.
Raka kembali menutup pintu serta memundurkan langkahnya keluar.
"Heis, sudah seperti bermain drama saja," dengus Zidan yang berusaha melepaskan tangan dua orang wanita yang merangkuh tubuh nya.
Zidan kemudian keluar menemui Raka yang tadi memang di suruh nya datang untuk mengurusi kepulangan nya.
Sedang kan Maria saat mengetahui Zidan dan Salsa akan pulang, begitu bersemangat hingga ia lupa kalau harus memberi hukuman pada Niken.
"Ma, nanti di rumah, ajarin Salsa masak enak ya, karna mas Zidan sangat suka masakan mama,"
"Pasti sayang," Mereka kembali berpelukan.
****
Kini mereka sudah berada di parkiran, Zidan terpaksa ikut naik ke mobil Maria karna Maria sedikit memaksa Salsa naik ke mobil nya.
Kemacetan jalanan di sore itu membuat mobil hanya bisa melaju pelan. Mata Zidan terlihat fokus memperhatikan seorang laki-laki yang menyeret tangan seorang wanita paruh baya.
__ADS_1
Itu kan si Herman, siapa wanita yang bersama nya itu? Kenapa wajah nya tidak asing bagi ku.