Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Demam


__ADS_3

Setiba nya di mension. Salsa masih tidur dengan kepala di atas kedua paha Zidan. Tadinya Zidan ingin mengangkat tubuh istrinya itu seperti yang sering ia lakukan dulu. tapi saat ini ia merasa  tubuhnya tak bertenaga untuk melakukan itu. Tenaganya seakan hilang begitu saja. Pandangan nya pun terasa berputar, di sertai rasa nyeri dan dingin yang begitu menusuk ketulangnya.


"Tuan kita sudah sampai," ucap Jefri yang masih duduk di bangku kemudi setelah memarkirkan mobil nya.


"Ya aku pun tau. Kau keluarlah lah!" titah Zidan.


Setelah mematikan mesin mobil, Jefri pun keluar dari mobil menuruti perintah Zidan.


Zidan membiarkan Salsa tidur di dalam mobil tanpa ingin membangun kan. Ia membuka jaket dan menyelimuti tubuh Salsa.


*


Salsa terbangun saat cahaya matahari menembus masuk kedalam kaca mobil. Gegas ia duduk saat kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.


Kenapa mas nggak membangunkanku? atau biasa nya mas lansung membawa ku ke kamar. Kenapa mas memilih tidur di dalam mobil? tanyanya didalam hati saat melihat Zidan yang tidur dengan posisi duduk bersandar di kabin belakang mobil.


Salsa menggeser duduk nya mendekati Zidan yang terlihat pulas tertidur dengan posisi duduk.


"Mas. Mas. Mas," Ia menggoyang kan bahu Zidan namun tidak ada respon, lalu tangan nya membelai kedua pipi Zidan.


"Ya Tuhan kenapa badannya panas sekali,"


"Mas. Mas. Bangun mas." Salsa kini merasa panik saat merasakan suhu tubuh Zidan yang begitu panas, serta wajah nya yang terlihat pucat saat Salsa memperhatikan nya.


"Mas, bangun mas! bangun....," kini suara Salsa semakin keras terdengar seraya menepuk-nepuk pelan wajah suaminya.


Jefri yang berada di luar mendengar suara Salsa dari dalam mobil segera datang dan lansung membuka pintu kemudi. "Kenapa nyonya?" tanya Jefri yang juga ikut khawatir.


"Bang, tolong bang, mas Zidan nggak mau bangun, badan nya pun terasa panas sekali," jawab Salsa cemas.


"Heis, aku tidak apa-apa sabila, jangan terlalu mencemaskan ku." ucap Zidan tanpa membuka matanya. Ia teringat kata dokter, agar tidak membuat istrinya merasa cemas dan ketakutan berlebihan.


"Mas! badan mas panas sekali! kita kerumah sakit sekarang!" ucap Salsa yang masih terlihat begitu cemas.


"bang Jeff antarkan kami kerumah sakit!" pinta nya pada Jefri.


"Tidak perlu sayang, aku hanya ingin istirahat di kamar saja," tolak Zidan seraya membuka pintu mobil.


"Mas, mas itu demam, kita kerumah sakit sekarang ya, " bujuk Salsa seraya memegang satu tangan Zidan yang hendak keluar dari mobil.


"Aku tidak sakit sabila! aku hanya kurang tidur saja," kekeh Zidan, lalu ia keluar dari mobil serta lansung mengayunkan kaki memasuki kediamannya dengan langkah pelan. Ia menolak saat Jefri ingin membantu memapah tubuh nya.


Salsa gegas keluar dari mobil berjalan mendekati Zidan. Lalu Ia meraih satu tangan Zidan ke pundaknya.


"Heis, kenapa kamu tidak percaya kalau aku ini baik-baik saja sabila," ucap Zidan pasrah.

__ADS_1


"Bang Jeff, tolong panggilkan dokter datang kesini," Salsa yang tidak peduli malah meminta jefri untuk memanggil dokter.


**


Salsa hendak keluar dari kamar untuk mengambil handuk kecil serta air hangat setelah membantu Zidan berbaring di ranjang.


"Kamu mau kemana?" tanya Zidan yang berbaring di ranjang.


"Mau memanggil bi Marni, mas tunggu sebentar ya!" jawab Salsa.


'Tidak usah, kamu disini saja," ucap Zidan yang tidak ingin di tinggal.


"Sebantar saja mas," Salsa kembali melangkahkan kaki nya.


"Sabila! jangan pergi!" lirih nya memohon. Salsa menghentikan langkah nya, kembali berjalan mendekati Zidan yang berbaring di ranjang.


"Ya sudah aku di sini saja."


"apa mas butuh sesuatu?" tanya nya yang kini sudah duduk di tepi ranjang. satu tangan nya mengusap dahi Zidan yang terasa panas.


"Sayang, turunkan suhu AC nya, badan mas dingin sekali," ucapnya yang lansung di turuti Salsa.


Setelah menurunkan temperatur suhu AC Salsa juga membentangkan selimut untuk menutupi tubuh suaminya.


"Bagaimana mas? Apa masih dingin?" tanya Salsa setelah menyelimuti tubuh Zidan.


Tanpa ragu Salsa lalu berbaring masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Zidan erat. Ia menempelkan tubuh depan nya ke tubuh depan Zidan, hingga wajah dengan pandangan mata mereka begitu dekat, saat ini Salsa bisa merasakan hembusan nafas Zidan yang hangat menerpa wajah nya.


***


Beberapa menit berlalu, posisi tubuh mereka masih menempel. bahkan tubuh Salsa kini sudah mulai berkeringat karna hawa tubuh Zidan yang hangat di tubuh nya. Sesekali mata Zidan yang sudah mulai sayu kadang terpejam, dan terbuka kembali seperti takut untuk tertidur


Tok


Tok 


Tok


"Nyonya, tuan, dokter Erwin sudah datang,"


Bunyi ketukan pintu dari luar serta suara Jefri yang memanggil, terdengar jelas di telinga mereka.


Salsa melepaskan pelukan nya pada Zidan, tapi malah kini kedua tangan Zidan yang memeluk nya erat entah merasa terlalu nyaman entah karna takut di tinggal.


"Mas, aku mau buka pintu dulu," Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya.

__ADS_1


"Biar saja," Zidan menolak melepaskan tangan nya, Tapi malah semakin mempererat nya hingga tubuh mereka kembali saling menempel.


"Mas-,"


"Lima menit lagi," sela Zidan memotong ucapan Salsa.


Dari luar kamar, masih terdengar ketukan pintu serta suara Jefri yang memanggil mereka. Salsa hanya bisa pasrah menunggu lima menit lagi sesuai permintaan suami nya.


****


Kurang lebih lima menit Salsa bangkit dari ranjang, setelah merapikan pakaian nya yang sedikit kusut, ia lalu berjalan membuka pintu kamar yang sudah tidak ada lagi suara ketukan pintu atau pun suara Jefri terdengar.


Untunglah dokter belum pergi. 


Salsa bernafas lega saat melihat dokter Erwin yang duduk di sofa ruang utama. Ia lalu berjalan mendekati dokter Erwin setelah merapikan rambut ikalnya yang berantakan.


"Maaf doktor, karna sudah menunggu lama," ucap Salsa sedikit malu karna terlalu lama membuka pintu kamar.


"Tidak apa-apa nyonya, saya juga baru sampai," balas dokter Erwin.


"Kalau begitu mari dok, mas Zidan ada di dalam kamar, badannya sangat panas dok, tapi ia merasa kedinginan." ujar Salsa memberitahukan pada dokter Erwin.


Salsa mempersilahkan dokter Erwin masuk ke dalam kamar, sedang kan ia sendiri pergi ke belakang mencari Marni, memintanya untuk membawakan sarapan ke kamar.


Sebenarnya dari dulu Salsa ingin sekali menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Zidan dengan tangannya sendiri. tapi Zidan dengan tegas melarang nya, bahkan Zidan akan memberi hukuman pada Marni jika membiarkan Salsa berada di dapur.


Setelah menyampaikan pada Marni, Salsa kembali lagi ke kamar. Ia berdiri di samping ranjang memperhatikan dokter Erwin yang sedang memeriksa Zidan.


"Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Salsa saat dokter yang telah memasukkan alat-alat kerja nya ke dalam tas.


"Tidak usah terlalu khawatir nyonya, tuan hanya kurang istirahat saja," jawab dokter Erwin.


"Tapi suhu tubuh nya begitu panas dok, apa itu nggak apa-apa?" tanya Salsa yang masih khawatir.


"Tidak apa nyonya, dan kalau bisa cegah lah tuan untuk mandi air dingin di malam hari," saran dokter Erwin.


"Dan pastikan tuan meminum obat ini setelah sarapan nanti," imbuh nya sembari menyerahkan beberapa obat pada Salsa lepas itu ia pun pamit pergi.


****


Setelah selesai sarapan, Salsa memberikan obat yang di berikan dokter Erwin tadi untuk di minum Zidan. Tapi Zidan malah menolak nya. Seperti anak kecil yang tidak mau meminum obat karna alasan pahit.


"Mas, mas harus meminum obat ini!" tegas Salsa membujuk nya.


"Tidak, itu pahit sekali," tolak Zidan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


Hhhm..., bagaimana caranya ya agar mas mau meminum obat ini? 


pikir Salsa didalam hati


__ADS_2