Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Ulah Herman


__ADS_3

Praaang!


Herman menghempaskan tubuh Rita ke pintu roling besi.


"Apa lagi yang kau mau?" tanya Rita penuh amarah.


"Kau masih bertanya apa yang ku mau!" Herman mendekat dan menjambak rambut Rita hingga wajah Rita menengadah menatap nya.


"Kau itu masih istriku, tak sepantasnya kau pergi meninggalkan suami. Dasar wanita murahan! "


Praang!


Herman membenturkan kepala Rita ke pintu roling kemudian melangkah ke depan membelakangi Rita dengan satu tangan berada di pinggang.


"Kau bilang suami? Suami seperti apa? Hah! Suami yang hanya bisa memanfaatkan istri untuk kepentingan diri sendiri. Itu yang kau sebut suami!" bentak Rita meluapkan amarahnya.


Herman membalikkan tubuh nya, kembali menjambak Rambut Rita dengan kuat.


"Bukan main biadap mulut kau itu sekarang ya! Mentang-mentang sudah tinggal di rumah orang kaya. Sudah berani kau melawan ku!"


Praaang!


Praaang!


Lagi, Herman membenturkan keras kepala Rita.


"Baji*gan kau! Ceraikan aku sekarang juga!!!" pekik Rita yang tak berdaya melawan.


"Cerai. Ha ha ha." Herman terkekeh, tangan nya masih menerik rambut Rita.


"Jangan harap aku akan menceraikan kau," lagi Herman membenturkan kepala Rita ke pintu Roling.


"Laki-laki baj*ngan kau. Mati saja kau." cerca Rita masih melawan meski kepala nya terasa sakit.


"Tak usah banyak bicara kau! sekarang cepat berikan aku uang." Herman lalu menggeledah semua kantong di pakaian Rita.


Namun, puas menggeledah, Herman tidak menemukan sepersen pun uang di dalam kantong pakaian Rita.


"Dimana kau sembunyikan uang nya?" bentak Herman yang masih terus menggeledah pakaian Rita.


"Ha ha ha. Kau pikir aku ada uang. Mati saja kau dasar laki-laki tidak berguna." cerca Rita.


"Dasar bo*oh! Punya menantu kaya tapi tidak mempunyai uang."


Plak!


Plak!


Dua tamparan keras mendarat di pipi Rita hingga wajah nya memerah.


"Woi! apa yang kau lakukan!" teriak seorang pemuda yang masih menggunakan seragam sekolah. Pemuda itu turun dari motor sports nya, berjalan mendekati Herman.


Herman menoleh, melihat pemuda yang masih menggunakan seragam sekolah itu.


"Eh bocah. Pergilah! Ini bukan urusan kau," sinis Herman mengusirnya.


Tapi, pemuda itu semakin mendekat seperti tidak menggubris ucapan Herman.


"Kau saja yang pergi dari sini! Sudah tua berani main tangan sama Ibu Ibu." seru pemuda itu.


Emosi Herman terpancing, mendengar ucapan pemuda itu. Dengan tangan mengepal kuat ia melangkah cepat melayangkan pukulan pada pemuda itu.

__ADS_1


Wush!


Wush!


Wush!


Wush!


Serangan membabi buta yang di layangkan Herman, dengan mudah di hindari pemuda itu.


"Brengsek kau! berani mempermainkan ku," Herman melihat sebuah kayu dan mengambil nya.


"Rasakan ini!" balok kayu ia ayunkan ke arah pemuda itu.


Bakh!


Aaaaw!


Kaki pemuda itu lebih dulu mendarat di perut Herman dengan tendangan berputarnya. Kayu terlepas, Herman meringis memegang perut nya yang terasa sakit.


"Bagaimana? apa masih mau lagi." Pemuda itu mengambil kayu yang terlepas di tangan Herman, kemudian memukul-mukulkan ke telapak tangan nya sendiri.


"Awas kau!" Herman menunjuk pemuda itu kemudian berlalu pergi.


******


Wajah Marni terlihat cemas saat berjalan mendekati Zidan yang menunggu Salsa di luar.


"Tu-tuan, bu-bu Rita tuan----. " gugup Marni bicara dengan wajah panik menunduk.


"Apa? Katakanlah yang jelas Marni." tanya Zidan dengan alis bertaut.


"Bu-bu Rita hilang tuan." jawab Marni.


"Ma-Maaf kan saya tuan. Tadi Bu Rita memaksa ikut dengan saya pergi ke pasar." jawab Marni ketakutan.


Dari dalam mension, Zidan melihat Salsa yang sudah berganti pakaian berjalan mendekatinya.


"Kau dengar! jangan ceritakan apa pun pada istriku." ucap Zidan pada Marni, menahan suaranya dengan rahang yang mengeras.


"BI, mana Ibu?" tanya Salsa yang masih berjalan riang mendekati mereka.


"Bu-bu Rita----."


"Ibu tadi diantar Marni ketempat teman nya," sela Zidan menjawab.


"Dimana? Ya sudah kita jemput sekarang Mas, pasti Ibu belum makan siang." balas Salsa sambil bergelayut di lengan Zidan.


"Tapi, Marni bilang Ibu balik sore. Iya kan Marni." Zidan menatap Marni seolah meminta pembenaran ucapannya.


"Be-benar nyonya," jawab Marni gugup membenarkan ucapan Zidan.


"Terus sekarang gimana Mas? Apa kita jadi makan siang di luar?" tanya Salsa tak bersemangat.


"Terserah kamu sayang. kalau mau makan di luar, ayo kita pergi sekarang." ujar Zidan sambil mengusap puncak kepala Salsa. Satu tangan nya lagi melambai menyuruh Marni agar segera pergi dari sana.


"Nggak usah Mas. kita makan siang di rumah saja lah." balas Salsa hilang semangat.


"Kalau begitu, kamu masuk lah, Mas mau telepon Raka dulu." ucap Zidan.


Salsa kemudian melangkah masuk ke dalam mension. Sedangkan diluar, Zidan mengeluarkan ponsel nya menelpon Raka.

__ADS_1


"Raka, perintahkan anak buah kau untuk mencari Ibu mertuaku sekarang." titah Zidan saat sambungan teleponnya terhubung.


"Maaf bos. maksud bos Bu Rita hilang?" tanya Raka seolah tak percaya.


"Benar Raka. Tadi Marni membawa nya kepasar. Sekarang perintah kan lah anak buah kau mencari nya di pasar. Aku yakin Ibu mertuaku masih berada di sekitar sana." ujar Zidan.


"Baik bos," balas Raka. Sambungan telepon pun berakhir.


Raka pun lansung menghubungi anak buah nya yang berada di Markas untuk mencari Rita. ia juga mengirim kan foto Rita yang diambil nya sewaktu Rita masih terbaring di ranjang pasien rumah sakit.........


*****


"Ibu tidak apa-apa?" tanya pemuda yang menolong Rita.


"Tidak apa-apa nak. Terimakasih sudah menolong ibu," jawab Rita.


"Siapa laki-laki tadi Bu? Kenapa dia memukul Ibu?" tanya pemuda itu.


"Dia suami Ibu Nak," jawab Rita dengan wajah tertunduk.


"Tapi, kenapa dia tega memukul Ibu?" suara pemuda itu sedikit meninggi.


Rita tidak menjawab ia hanya diam menunduk.


"Maaf kan saya Bu, tidak seharus nya saya saya menanyakan hal tadi," sesal pemuda itu.


"Ya sudah, Ibu tinggal dimana biar saya antarkan pulang." tawar pemuda itu.


"Tidak usah Nak, tidak usah Nak, Terimakasih Nak Ibu bisa pulang sendiri." tolak Rita melihat motor sports yang terparkir.


"Ibu tidak usah khawatir, saya mengantarkan Ibu pulang tidak menggunakan motor itu kok. Nanti saya akan memesan taksi." balas pemuda itu seakan mengerti apa yang di pikirkan Rita.


Pemuda itu lalu mengeluarkan ponsel nya, menelpon seseorang meminta datang ke tempat nya sekarang untuk membawa motornya. Serta pemuda itu juga menelpon taksi.


"Mari Bu," ajak pemuda itu setelah selesai menelpon.


Dengan sedikit rasa sungkan, Rita melangkah juga mengikuti pemuda itu. Pikirnya ia juga tidak mempunyai ongkos untuk pulang ke rumah menantunya. Tidak menunggu lama taksi yang di pesan pemuda tadi pun datang.


Tidak jauh dari tempat Rita dan pemuda tadi, anak buah Raka sudah berada di pasar menyisir lokasi, mencari keberadaan Rita. Namun mereka belum menemukan juga Rita........


*****


Di mension. Salsa sudah selesai makan siang. kini ia berada di meja belajar dalam kamar. Tidak ada firasat buruk tentang ibu nya, karna ia percaya dengan ucapan Zidan yang mengatakan jika Rita pergi ketempat teman nya..........


Didalam taksi. Rita sejak tadi memperhatikan atribut di seragam sekolah pemuda itu yang sama dengan atribut sekolah yang di gunakan Salsa.


"Siapa nama mu nak?" tanya Rita yang sejak tadi ingin bertanya.


"Rendi Bu," jawab pemuda itu sopan.


"Apa Nak Rendi sekolah di SMA Tunas Bangsa?" tanya Rita.


"Iya Bu, saya sekolah di sana." jawab Rendi cepat.


"Anak Ibu juga sekolah di sana." ujar Rita.


"Oh ya? Siapa nama nya Bu? mungkin saya kenal."tanya Rendi semangat.


"Salsabila." jawab Rita.


"Kenal Bu, saya sangat kenal." ujar Rendi semangat.

__ADS_1


"Wah! benarkah?"


__ADS_2