Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tak rela.


__ADS_3

Salsa tersentak dari tidurnya, ketika membuka mata, yang di lihatnya adalah wajah Zidan yang masih tidur lelap. Di pandanginya pahatan indah wajah suami nya yang masih tertidur lelap itu dengan penuh cinta. Kemudian diambilnya satu tangan Zidan menempelkan tangan itu ke pipinya.


"Mas tau gak? Waktu pertama kita bertemu. jantung ini berdetak sangat cwpat sekali dan nafas aku tu sesak banget rasanya. 


Awalnya Aku nggak tau kenapa itu bisa terjadi? Tapi sekarang aku sudah tau jawaban nya mas, itu adalah saat pertama aku merasakan jatuh cinta pada mu mas. Jatuh cinta untuk yang pertama kali di dalam hidup ku. 


Mas, jangan pernah tinggal kan aku ya mas, aku tau aku bukanlah yang terbaik untuk mas. Tapi bagi aku mas adalah yang terbaik, mas adalah matahari yang menyinari dunia ku. Hari ku akan gelap tanpa hadirmu mas. Aku sangat mencintai mas, aku bahagia memilikimu,"


Salsa bergumam sambil mencium hangat punggung tangan suami nya dengan penuh cinta.


*


Pagi hari nya.


Zidan dan salsa masih berada di dalam kamar mandi. Mandi bersama di pagi hari, adalah rutinitas pagi yang sudah beberapa hari ini mereka lakukan.


Kini, Zidan sudah siap dengan setelan jas kerjanya. Karna Pagi ini ia ada meeting penting dengan klien yang tidak bisa ia wakilkan pada Raka. Sebenarnya dia berat sekali meninggalkan iatrinya, tapi mau bagaimana lagi, tanggung jawab yang di emban nya sebagai pemimpin perusahaan harus ia jalankan.


Sedang kan Salsa, hari ini masih belum diizinkan Zidan untuk pergi sekolah.


"Sayang ayo kita keluar sarapan," Ajak Zidan yang sudah berdiri di depan pintu.


"Mas. tunggu!" Salsa yang tadinya sedang menyisir rambut, segera berjalan mendekati Zidan. setelah berada dihadapan Zidan tangan nya bergerak kebawah.


Sreeet


Ia menarik keatas resleting celana Zidan yang terbuka.


"Aku nggak rela ya Mas! jika ada orang lain yang melihat ini," ucap nya, membuat Zidan kesusahan meneguk saliva.


**


Dirumah Rita (Ibu Salsa)


Prak


Prak


Prak


"Ritaa......., Rita....... Keluar kau!"


Suara gedoran pintu serta teriakan seseorang dari luar rumah Rita, membangun kan Herman yang masih tertidur pulas.


"Setan dari mana lah yang datang pagi-pagi berisik di rumah orang!"


ucap Herman seraya menutup kedua telinganya.


Rita yang berada di belakang terlihat letakutan. Dia hanya duduk meringkuk di sudut dinding.


"Rita! Keluar kau! Atau ku panggil warga dan pak RT kesini," teriakan suara dari balik pintu depan rumah nya.


Teriakan suara orang dari luar rumah nya itu membuat Rita semakin ketakutan.


Mati aku pasti ibu neneng sudah tau kalau uang nya hilang. 


Pikir Rita yang masih bersembunyi di belakang. Rita perlahan berjalan mendekati pintu berusaha menghilangkan kepanikan di wajahnya.

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka. Terlihat neneng dengan wajah marah nya berdiri di depan pintu.


"Woi Rita, kau kan yang telah mengambil uang ku di dalam dompet." bentak neneng.


"Ti-tidak bu Neneng, sa-saya tidak ada mencuri uang ibu," balas Rita gugup.


"Anak aku melihat kau mengendap-endap masuk kedalam kamar ku, Waktu aku kepasar. Apa kau masih berani mengelak?" ujar neneng menekan.


Rita seketika membisu dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


"Sudah di beri pekerjaan, malah berani kau mencuri di rumah ku!"


"Ma-maaf bu," ucap Rita penuh penyesalan disertai wajah tertunduk menahan malu.


"Aku beri kau waktu tiga hari, kalau kau tidak bisa mengganti uang itu, aku akan laporkan kau ke polisi," ancam neneng.


Rita hanya diam dengan wajah yang menunduk malu, menyesali perbuatan nya.


"Kau ingat itu Rita! Tiga hari."


"Dan mulai sekarang kau tidak usah datang lagi kerumah ku untuk mencuci pakaian." peringatan Neneng lalu ia pun pergi meninggalkan rumah Rita.


Setelah Neneng pergi. Herman keluar dari kamar.


"Siapa itu? pagi-pagi berisik sekali, tidak tau dia orang lagi tidur," kesal Herman menggerutu.


"Ini semua gara-gara kau bajingan!" bentak Rita penuh emosi. Dia memukul tubuh Herman dangan tangan nya. tapi tangan itu dengan mudah di tangkap Herman.


Herman lalu menghempaskan wajah Rita dengan kasar.


"Kalau kau tidak ingin masuk penjara, mending kau minta uang pada anak mu itu. Uang segitu tidak akan ada artinya bagi dia," ucap Herman sembari berjalan ke belakang.


Air mata Rita kini mengucur deras, penyesalan nya pun datang. Ia teringat akan perbuatan yang dulu pernah ia lakukan, memukul nya tanpa ampun, mengusirnya dari rumah bahkan ia sendiri yang menjebloskan Salsa ke penjara. Hanya demi seorang suami yang tidak berguna. Sekarang ia bisa merasakan balasan atas perbuatan nya itu


"Maaf kan ibu, nak,"


berulang kali kata itu ia ucap kan pelan di sela tangisan nya. Ia begitu menyesali perbuatan yang pernah ia lakukan dulu.


Kini ia benar benar tidak bisa lepas dari Herman, karna Herman selalu mengawasi gerak-geriknya.


***


Di mension.


Pagi menjelang siang Maria dan para pengawal nya datang kembali ke mension. Kali ini tidak ada penolakan dari satpam yang berjaga, karna sebelum datang Maria terlebih dahulu menelpon Salsa memberitahukan kalau ia sedang dalam perjalanan menuju mension. Salsa pun segera pergi keluar mengatakan pada satpam agar membukakan gerbang saat mertuanya itu datang.


"Mama," sapanya saat melihat Maria turun dari mobil. ya Salsa memang sudah menunggu kedatangan mertuanya itu di depan, sambil duduk di ayunan depan rumah.


Salsa lalu berjalan mendekati mertuanya itu.


"Ma, Salsa kangen," ucap nya yang sudah berada dalam pelukan Maria.


"Jangan kangen sama mama," balas Maria, yang membuat Salsa melepaskan pelukan nya pada wanita paruh baya itu.


"Kenapa Salsa gak boleh kangen?" tanya nya.

__ADS_1


"Kalau kamu kangen sama mama, bisa-bisa suami mu itu cemburu," jawab Maria.


"Iiiiih..,mama bisa aja," balas Salsa sembari kembali memeluk Maria menyembunyikan pipinya yang kini sedikit merona.


"Sekarang kamu telepon suami mu, bujuk dia agar kamu bisa ikut dengan mama hari ini. takutnya nanti dia makin marah sama mama karna menculik mu lagi," ujar Maria.


"Ikut kemana ma?" tanya Salsa.


"Surprise dong," jawab wanita paruh baya yang masih terlihat anggun itu.


"Tapi gimana kalau mas nggak mengizinkan ma,"


"Sayang, kita tidak akan tau hasil nya jika belum mencoba nya," balas Maria.


Salsa pun lalu mencari nama Zidan di layar ponsel nya dan menekan tombol panggil di layar pipih itu.


"Ya sayang, ada apa?" ucap Zidan saat sambungan ponsel nya baru saja terhubung.


"Mas, boleh nggak kalau aku pergi keluar dengan mama Maria," ucap Salsa bertanya.


"Pergi kemana?" tanya Zidan.


"Nggak tau, kata mama suprise," 


Zidan diam sejenak.


"Boleh ya, mas?"


"Ya, terserah kamu, kalau kamu merasa bosan di rumah pergi saja, tapi jangan lama dan jangan lupa bawa ponselmu," jawab Zidan.


"Makasih mas, Sa...," Salsa tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Maria tersenyum menggoda nya.


"Ya, sudah ya mas aku pergi dulu,"


"Ingat! Jangan lama," tegas Zidan.


"Iya," Balas Salsa lalu memutuskan sambungan telepon nya.


"Bagaimana sayang? Apa suamimu mengizin kan?" tanya Maria.


"Mas mengizinkan ma, cuman katanya gak boleh lama-lama," jawab Salsa.


"Oh ya, kalau begitu tunggu apa lagi, kita pergi sekarang sayang," ucap Maria yang lansung menggandeng tangan Salsa menuju mobil nya yang terparkir.


****


Kini Maria dan Salsa sudah sampai di pusat pertokoan bertingkat sebuah bangunan, yang menjual barang-barang brended.


"Tante Maria," Seorang Laki-laki terlihat berlari mendekati mereka yang masih berada di lantai satu gedung bangunan itu.


Maria menyipitkan matanya saat laki-laki itu sudah berada diantara mereka, begitu pun Salsa yang seperti tidak asing dengan wajah laki-laki itu.


"Apa tante masih ingat aku?" tanya laki-laki itu.


Maria menunjuk-nunjuk laki-laki yang seumuran dengan putranya itu, seperti mencoba mengingat-ingat.


"Rocky tante, saya rocky, apa tante ingat?" ucap laki-laki yang hanya mempunyai satu tangan itu.

__ADS_1


__ADS_2