
Setelah dari rumah Ibu kandung Salsabila, Raka kembali lagi ke kantor. Otak nya memikirkan, bagaimana cara agar bisa membebaskan Salsa?
"Apa aku beri tahukan saja masalah ini pada Bos? Mungkin saja Bos ada solusi nya. Arrrrrg..... sial! ini semua salah ku, gara-gara menghajar si Herman bajingan itu, malah nona Salsa yang mendapat masalah." gumam Raka.
Setalah berpikir, akhirnya Raka memutus kan untuk memberi tahukan masalah ini pada Zidan. Diri nya pun lansung menelepon pemilik perusahan Ziro Company.
"Halo bos," sapa Raka setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Ya, ada apa Raka? Apa ada masalah di sana? katakan lah cepat!!! Aku tidak punya banyak waktu," balas Zidan sengit.
"Iya Bos, saya mau menyampaikan soal nona Salsa Bos," ujar Raka gugup.
"Kenapa? Apa ada masalah dengan nya? Katakan cepat, jangan bayak basa-basi denganku," balas Zidan.
Raka menghela nafas besar sebelum mengatakan nya.
"Halo Raka, kenapa kau diam? Apa kau bisa mendengarku? Halo Raka, apa kau mendengarku?" ulang Zidan.
"Nona sekarang di kantor polisi bos,"
"Apa yang kau katakan Raka? Apa Kau mau bilang kalau gadis itu di tangkap polisi? Memang nya apa yang telah dia perbuat? Katakan cepat!" suara Zidan terdengar lebih sengit dari sebelumnya, hingga Raka harus menjauhkan ponsel nya dari telinga.
"Nona tidak berbuat apa-apa bos, ini hanya kesalahan pahaman saja. Sewaktu nona di bawa Herman, saya membari Herman sedikit pelajaran. Tapi tadi istri nya membuat laporan ke polisi, jika nona Salsa yang menyuruh orang untuk memukuli Herman. sehingga nona di tahan polisi, atas tuduhan pengeniayaan. Saya tidak tau apa yang telah di katakan si Herman pada istrinya, hingga. membuat istrinya tega melaporkan putrinya sendiri," tutur Raka menjelaskan.
"Lalu sekarang dimana gadis itu?" suara itu begitu menggelegar di telinga Raka.
"Nona masih di tahan polisi Bos. tadi saya sudah menawarkan uang pada polisi itu, tapi mereka menolaknya," jawab Raka apa adanya.
"Kau sewa pengacara yang hebat, bebas kan gadis itu sekarang juga," titah tegas zidan dari seberang telepon.
"Maaf kan saya Bos, saya juga sudah melakukan itu, tapi untuk bebas, nona harus menungg hingga sidang selesai," terang Raka.
"Kau lakukanlah sesuatu," bentak Zidan suaranya semakin terdengar menggelegar.
"Maafkan saya sekali lagi Bos, polisi itu bilang, hanya ada dua cara agar nona bisa di bebaskan," balas Raka,
"Apa itu? Katakan cepat!!! Jangan kau bertele-tele dengan ku,"
"Maafkan saya bos, cara pertama meminta istri Herman mencabut laporannya, atau cara yang ke dua, harus ada pihak keluarga nona yang menjamin." sahut Raka cepat.
"Lalu? Kenapa kau masih bertanya padaku, lakukan semua itu sekarang, berikan mereka uang agar dia mau mencabut tuntutannya," balas Zidan semakin emosi.
"Maaf bos, itu pun Sudah saya lakukan, tapi istrinya menolak," sergah Raka.
"Kau lakukan cara yang kedua, kau bisa kan, mengatakan pada polisi itu, kalau kau itu keluarganya,"
"Maaf kan saya Bos, itu juga sudah saya lakukan, tapi polisi itu meminta bukti, dokumen yang menyatakan kalau saya benar-benar bagian dari keluarga nona," terang Raka.
"Berhenti lah kau mengatakan maaf Raka brengsek.... Kau hanya membuat darah ku naik," bentak Zidan.
"Sekarang kau cari keluarga gadis itu, minta mereka untuk menjaminnya," titah Zidan.
"Nona hanya punya Ibu saja bos, yaitu istri Herman," balas Raka.
"Argggg...... kau memang tidak berguna Raka," umpat Zidan semakin kesal.
"Maafkan saya bos," sesal Raka.
"Berhenti kau, mengucap kan kata itu, Raka sialan!!!" bentak Zidan sangat keras.
Raka seketika diam. Suasana hening, karna Zidan di sana pun juga ikut diam.
Raka takut bersuara, sedangkan zidan mungkin dia sedang memikirkan sesuatu.
"Sekarang kau siapkan pernikahan ku dengan dia," suara Zidan kembali terdengar.
"Ma-maksud bos apa?" tanya Raka hati-hati tak ingin lagi mendengar amukan si Bos.
"Apa kau tuli Raka?" dengus Zidan.
"Maafkan saya bos. Maksud Bos pernikahan siapa?" tanya Raka lagi.
"Kau itu memang tolol Raka, bukan nya tadi kau yang mengatakan hanya ada dua cara untuk membebaskan gadis itu," terang Zidan.
"Tapi apa hubungan nya dengan masalah nona Salsa dengan Bos mau menikah?" tanya Raka yang sama sekali tidak paham.
"Otak kau tidak akan sampai, lebih baik kau lakukan saja apa yang aku perintahkan," dengus Zidan kesal.
"Maafkan saya bos, memang nya bos mau menikahi siapa?" lagi lagi pertanyaam Raka membuat Zidan semakin naik pitam.
"Dengan gadis itu."
Tuuuuuuut....
sambungan telepon pun berakhir.
"Dasar aneh." umpat Raka.
atapi tunggu dulu..... Bos bilang tadi mau menikahi gadis itu? Hah.....Apa bos ingin menikahi nona? Berarti maksud bos, setelah dia menikah dia sudah menjadi bagian keluarga nona. Hmmmm... Paham, paham, aku paham sekarang." gumam Raka.
"Sudah aku duga dari awal, Bos pasti menginginkan gadis itu, mungkin sekarang kesempatan ini aji mumpung bagi dia, untuk menikahi gadis itu, Bos, Bos... tidak ku sangka termyata selera nya cebe-cabeam," Raka terus saja bergumam sendiri.
__ADS_1
Di mension Zidan. tampak sebuah mobil sedan merah, hendak mesuk ke dalam mension itu.
Tin...
Tin...
Tin...
Suara klakson itu tak kunjung berhenti, tapi pintu tidak kunjung terbuka.
"Maaf nona Niken, tuan melarang kami membuka pintu ini untuk nona?" ujar satpam yang sudah berada di samping mobil Niken.
"Apa kau bilang, Zidan melarang ku masuk?" tanya Niken tak percaya.
"Betul nona, tuan melarang nona masuk," jawab satpam.
Niken kemudian mengambil ponsel nya, menelpon Zidan. Panggilan pertama, masuk tapi tidak di jawab, panggilan kedua sama, panggilan ke tiga pun sama.
"Apa zidan ada di dalam?" tanya niken pada satpam yang masih berdiri di sampingnya.
"Tidak ada nona," jawab satpam.
"Sepertinya kau sengaja menghindari ku honey, baiklah kita lihat saja," gumam Niken
Sementara itu di Jerman.
Zidan lansung menemui Antonio di perusahaan nya.
"Selamat datang tuan, bagai mana kabar anda?" sapa hangat Antonio.
"Semua baik-baik saja, sekarang ceritakan lah apa yang terjadi," balas Zidan dingin.
"Para investor, banyak yang ingin menarik saham nya kembali, karna kesenjangan perusahaan, yang beberapa waktu ini terjadi tuan." terang Antonio menjelaskan masalah yang sedang terjadi di perusahaan nya.
"Kau Aturlah jadwal meeting dengan para investor yang ada," ucap Zidan.
"Baik tuan, kebetulan 1 jam lagi, kita akan meeting dengan para investor," jawab Antonio.
"Baguslah, sekarang berikan saya semua laporan semua devisi 1 bulan terakhir, saya sendiri yang akan memimpin meeting itu," balas Zidan.
"Tapi tuan, apa tidak sebaiknya anda beristirahat dulu, pasti anda lelah, sudah menempuh perjalanan yang sangat lama."
"Lakukan lah apa yang saya minta, saya tidak banyak waktu disini. Secepatnya saya akan kembali ke indonesia." ucap Zidan tegas.
"Baik tuan saya akan melakukan semuanya." jawab Antonio seraya melangkah kan kaki nya meninggalkan zidan.
.
.
"Apa kabar nona?" sapa Raka, ketika Salsa baru menghempaskan duduk di hadapannya.
"Abang.... Kapan Salsa keluar dari sini?" tengek nya dengan wajah menunduk.
"Salsa tak tau apa-apa, kenapa Salsa yang di tangkap," lirih nya.
"Maaf kan saya nona,"
"Sekali lagi, saya minta maaf nona," sesal Raka, tak mampu melihat wajah sendu gadis di depannya.
Salsa masih menatap Raka, sedang kan Raka, hanya tertunduk diam.
"Salsa lapar Bang," ucap nya, memecah keheningan.
Raka kembali menegak kan kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk.
Raka melihat gadis di depannya mengusap-usap perut.
"Nona mau makan apa?" tanya Raka mengeluarkan ponsel dalam saku celananya, bersiap menelpon seseorang dari ponsel nya.
"Nasi padang, pakai rendang, kuah nya di banyakin, tapi daging rendang nya jangan satu, trus apa lagi ya, oo...Iya, bungkus nya pakai daun pisang, jangan pakai kertas," cerocos nya panjang lebar membuat Raka mengerutkan dahi.
"Ini, nona katakan sendiri pada Jefri, saya tidak ingat apa-apa saja yang nona inginkan tadi," ucap raka, memberikan ponsel yang telah terhubung ke ponsel Jefri.
Salsa mengambil ponsel itu dari Raka seraya tersenyum.
"Hallo abang jefri yang ganteng, dan baik hati. Tolong belikan Salsa nasi padang ya, lauknya kasih rendang sapi, terus...... Kuah nya di banyakin, bungkus nya pakai daun pisang, jangan pakai kertas Salsa tak suka, ingat itu ya. terus apa lagi ya. Hmmmm....oh iya dagingnya kasih double ya," seloroh nya di sambungan telepon.
"Baik nona," Jawab Jefri di sebrang telepon.
Setelah itu Salsa memberikan ponsel itu pada Raka.
"Abang, ponsel Salsa tinggal di kelas, sekarang mungkin sudah hilang," ucap nya setelah mengembalikan ponsel Raka.
"Tas, serta ponsel nona di bawa teman nona," balas Raka.
"Siapa?" tanya Salsa.
Raka kemudian menelpon nomor ponsel Salsa, yang di bawa Santi, lalu memberikan nya pada Salsa setelah terhubung.
"Ini nona, bicaralah," ujar Raka memberikan ponsel nya.
__ADS_1
"Halo ini siapa ya?" tanya Salsa yang tidak tahu dengan siapa dia berbicara.
"Ini aku santi Sa," jawab Santi di sebrang telepon.
"Oo.... Syukurlah tas aku kamu yang bawa San," ujar Salsa.
"Ehhh,, kamu lupa aku ini sahabat mu yang siaga. Oo iya kemarin aku lihat kamu di bawa polisi, memangnya kamu dibawa kemana? Terus sekarang kamu dimana, Sa?" tanya Santi.
"Cerita nya panjang, nanti aku ceritain, udah ya, by," Salsa lalu memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengembalikan kembali ponsel Raka. setelah memutus kan sambungan teleponnya.
Raka menghala nafas panjang sebelum menyampaikan maksud kedatangan nya.
"Nona, besok Bos akan datang kesini, Bos akan mengeluarkan nona, tapi-" Raka tidak melanjutkan ucapan nya.
"Tapi apa bang?" tanya salsa penasaran.
Lagi, Raka menghela nafas besar.
"Abang," panggil Salsa serat akan tanya.
"Baiklah, sebelumnya saya mau menjelaskan dulu pada nona agar nona bisa bebas dari sini, polisi memberikan 2 solusi. Solusi pertama harus ada pihak keluarga dari nona yang mau menjamin. Apa nona punya keluarga yang bisa menjamin? tanya Raka.
"Nggak, keluarga salsa hanya Ibu, hanya ibu yang Salsa punya," jawab nya, dengan mata yang berkaca.
"Dan cara yang kedua, polisi meminta keluarga korban agar mencabut laporannya. Itu pun sudah saya lakukan, bicara dengan Ibu nona, tapi Ibu nona menolak nya," ujar Raka.
Salsa menunduk, sudut netra nya kini sudah mengeluarkan air.
"Mungkin Salsa akan di sini selama nya," lirih nya.
"Tidak Nona. Bos Zidan akan menjadi keluarga nona," ucap Raka.
Salsa mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan penuh tanya.
"Bos Zidan akan menikahi nona bosok, persiapkan lah diri nona," terang Raka.
Kedua bola mata Salsa membola sempurna, tubuh nya mematung dengan mulut sedikit menganga.
"Nona. Nona, apa anda baik baik saja nona?" tanya Raka, berdiri menepuk pelan pundak Salsa.
"Uhuk... Uhuk.. Uhuk.." Salsa meraih botol minuman yang di berikan Raka ke tangannya.
"Apa anda baik baik saja nona?" tanya Raka sambil mengusap punggung Salsa.
Salsa mengatur nafas, mengumpulkan kembali oksigen yang terasa hilang dalam paru-parunya.
"Abang bilang apa tadi?" tanya nya, seperti sudah melupakan apa yang diucapkan Raka tadi.
"Cuma itu jalan satu-satu nya nona," terang Raka, yang sudah kembali duduk di tempatnya.
"Tapi Salsa takut," lirih nya.
"Apa yang nona takutkan?" tanya Raka.
"Salsa gak tau lah bang, Salsa takut..... Lagi pula Salsa juga masih sekolah," ujar nya.
"Semua itu bisa nona bicarakan sama Bos, saya rasa Bos tidak akan melarang nona untuk sekolah,"
"Tapi..... Apa nggak ada cara lain bang? Salsa benar-benar takut, dan belum siap," lirih nya.
"Saya hanya menyampaikan saja nona, itu kembali pada nona, masih ada waktu sampai besok, nona bisa memikirkannya terlebih dahulu," terang Raka.
"Percayalah nona, Bos itu tidak seperti yang nona pikirkan, dia sangat peduli pada nona, lihat lah, apa yang telah Bos berikan pada nona selama ini. Untuk nona ketahui Bos itu sama sekali tidak pernah membawa seorang wanita pun ke mension nya. Apa lagi mengajak untuk tinggal, kecuali para wanita lah yang sering mencari Bos ke mension," tutur Raka panjang lebar.
"Apa Om itu punya kekasih, atau dekat dengan perempuan lain?" tanya Salsa.
"Tidak ada nona," jawab Raka.
"Tapi Bos dulu pernah bercerita, kalau dia mencari seorang gadis kecil yang 16 tahun lalu ia temui di saat itu usia Bos masih 12 tahun. Dia pergi dari rumah karna rasa kecewa nya, terhadap perceraian kedua orang tua, ia meninggal kan rumah dengan rasa yang sangat kecewa. Di saat itu Bos mengalami kecelakaan, dan dia di selamatkan oleh sebuah keluarga yang tidak dia kenal. sudah lah itu kan hanya masa lalu nya." tutur Raka.
"Ini nasi padang nya nona, maaf saya lambat membawa nya, karna tidak semua restoran yang menyediakan permintaan nona," ujar jefri yang baru saja datang.
"Terimakasih abang Jefri, Abang memang yang terbaik," ucap Salsa, senyum manis tersungging di wajah nya.
Raka memutar bola matanya malas.
"Huf, dasar," umpat nya yang dapat di dengar Salsa.
"Abang bilang apa tadi?" tanya Salsa penuh penekanan.
"Tidak ada nona, saya tidak ada bicara apa pun," sesal Raka.
"Salsa dengar lah Abang ngomong apa tadi!"
"Iya nona tadi saya juga dengar tuan Raka mengatakan sesuatu," timpal Jefri yang masih berada di sana.
"Oo. awas kau jefri," batin Raka, menatap tajam Jefri.
Jefri yang takut dengan tatapan mata Raka memilih pergi keluar.
"Hah, tuh kan, Abang Jefri juga dengar Abang ngomongin Salsa tadi?"gerutunya.
__ADS_1
"Sudah lah abang pergi saja, Salsa lapar mau makan," ucap nya, lalu melangkah pergi meninggalkan Raka seorang diri.