Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
End


__ADS_3

Maria dan Rita sudah kembali ke mension.


Sedangkan Raka dan Santi yang masih berada di rumah sakit mulai resah, sesekali ia melihat arloji di pergelangan tangan. Pasal nya malam ini ia juga berencana mengajak Santi untuk makan malam. Ia memberikan kode pada Santi melalui lirikan mata sebelum pamit pergi.


Tidak lama setelah Raka keluar dari ruangan itu. Kini giliran Santi yang mulai uring-uringan. Beberapa menit kemudian ia pun pamit pulang.


"Eh, Sa aku pulang dulu ya, udah malam nih. Lagian, aku juga belum mengerjakan tugas kuliah," Setelah mengatakan itu ia mencium pipi sahabat nya lalu bergegas keluar.


"San," Salsa memanggil Santi yang hendak membuka pintu.


Santi berusaha memasang wajah datar sebelum berbalik badan.


"Ya, ada apa Sa," sahut Santi setelah membalikkan badan nya.


"Hmm,? Hm?? Ya, sudah lupakan lah." Salsa mencoba mengingat apa yang ingin ia katakan. Namun, ia lupa.


"Salam buat Tante dan Om Edi di rumah ya," ucap Salsa setelah Santi berbalik badan dan menarik pintu ruangan itu. Santi membalas dengan anggukan sebelum berlalu pergi....


Malam semakin larut. Diatas ranjang pasien, Salsa juga sudah tertidur lelap. Zidan yang masih terjaga mengangkat pelan sebuah kursi meletakkan di sebelah ranjang pasien. Box bayi ia letakkan di sisi kiri nya. Kemudian ia duduk bersandar di kursi itu.


Aneh kenapa mataku berat sekali untuk di buka. 


gumamnya sambil terus menguap.


***


Sementara itu di luar kamar inap Salsa di rawat. Bobi sudah berhasil membuat para pengawal yang berjaga di kamar inap itu tertidur pulas.


Ternyata ampuh juga obat bius yang di berikan wanita itu. Hingga sampai ke dalam ruangan ini efek nya. 


Bobi terus melangkah masuk ke dalam kamar inap, mendekati Box bayi yang terletak di samping ranjang pasien.


Ah sial, kenapa bayi nya ada dua? Jika aku bawa kedua nya pasti sangat merepotkan sekali. Tapi, bukan nya wanita itu hanya menyuruhku mengambil seorang bayi. yang mana harus ku ambil? Ah masa bodo lah penting bayi dari kamar ini. 


***


Pagi-pagi sekali Maria dan Rita sudah berada di rumah sakit. Mereka merasa ada yang aneh ketikanmelihat para penjaga masih tidur di luar. Tanpa menghiraukan itu, ianbergegas melangkah masuk ke dalam kamar inap.


Maria lansung mendekati box bayi. Dan, alangkah terkejut nya ia saat mendapati hanya ada satu bayi di dalam box bayi itu. Maria menJerit histeris seraya menggoyangkan tubuh Zidan, matanya terus menatap box bayi itu.


Sedangkan Rita berlari keluar, mamanggil pihak medis kerna melihat wajah cucu nya yang terlihat pucat.


"Bangun Zi!! Bangun!! Mana cucu mama!??" teriak Maria menggoyangkan kasar tubuh Zidan.


Cukup lama Maria menggoyang kan tubuh Zidan, baru lah Zidan tersentak.


Seketika Zidan menoleh melihat box bayi yang ada di samping nya.


Sama halnya dengan Maria, Zidan juga histeris saat mendapati baby twins nya hanya tinggal satu. Ia gegas keluar dengan jantung yang berdetak hebat.


"Aaaaaarg. Sialan, " Ia mengusap wajah kasar melihat para pengawal di luar masih tertidur.


Bagh


Bugh


Bagh


Bugh


"Bangun kalian sialan!!" umpat nya sambil terus menendang para pengawal yang masih tertidur itu.


Dari arah lain, terlihat Rita berjalan tergopoh-gopoh mengikuti langkah dua orang suster di depannya. Mereka terus melangkah masuk kedalam ruangan itu. Untuk memeriksa keadaan satu baby twins yang masih ada.  Tidak lama, seorang suster berlari keluar.


Melihat langkah suster yang terburu-buru membuat Zidan semakin cemas. Ia kembali masuk ke dalam ruangan itu. Wajah Maria dan Rita terlihat begitu cemas menyaksikan Sester menangani sang baby.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" bentak nya pada suster itu.


"Ma-maaf tuan, saya belum bisa memastikan. Tapi seperti nya bayi tuan menghirup obat bius, hingga tertidur sampai sekarang. Teman saya sedang memanggil dokter untuk memastikan nya. Mohon bersabar tuan,"

__ADS_1


"Sabar! Kau suruh aku bersabar!" Zidan melangkah mendekati suster itu dengan amarah di dada nya.


Pancaran auranya begitu menakutkan. Seperti hendak menelan suster itu hidup-hidup.


"Sudah Zi, sudah! Biarkan dia menangani baby mu. Lebih baik kamu cari Zio," Maria berdiri didepan suster itu.


Dengan amarah yang bersarang di dada, Zidan melangkah keluar.


Bugh


Plak


Bugh


Plak


Zidan memukul para pengawal nya yang sudah berbaris dengan mata yang masih mengantuk.


"Sampah kalian semua! tidak berguna! Apa aku menggaji kalian untuk tidur?!" umpat nya dengan penuh amarah.


Semua pengawal itu diam. berdiri dengan wajah tertunduk.


"Jawab!!!"


"Ma-maaf kan kami tuan," ucap salah satu pengawal.


"Maaf?! Enak sekali mulut kau mangatakan kalimat itu," Zidan mencekik leher pengawal itu.


"Kalian tau! gara-gara kelalaian kalian anak ku hilang." Suara Zidan terdengar parau, diikuti lutut nya jatuh ke lantai.


"Cepat! Cari anak ku sekarang!" Lirih nya disertai air mata nya mengucur deras.


***


Satu jam berlalu....


Raka dan Alfredo. Segera memeriksa rekaman CCTV. Dari rekaman itu memang terlihat seseorang keluar dari arah kamar inap Salsa, membawa ransel besar. Namun, mereka tidak bisa mengenali wajah orang itu karna di tutupi Masker.


Berbekal wajah pelaku yang ia dapatkan dari rekaman CCTV. Raka mengirimkan foto itu ke media meminta mereka agar meliput berita penculikan itu. Ia juga mengirimkan foto si pelaku ke semua ponsel anak buah nya.


"Tuan Raka, apa kah tuan Zidan punya musuh? Musuh dalam bidang bisnis, atau pun dendam pribadi?" Alfredo mencoba bertanya.


"Ya musuh,. Anda benar tuan Fred," Raka mencoba meng ingat-ingat.


"Ah sial... Kenapa aku bisa melupakan, jika kejadian ini sama dengan kejadian di markas dulu,"


"Maksud anda kejadian apa tuan?" tanya Alfredo.


"Ya, pembiusan seperti ini pernah di lakukan dulu di markas dan juga......... "


"Rocky??? apa mungkin dia yang melakukan semua ini? " Raka mencoba menerka-nerka.


"Tuan Fred, ikut lah dengan ku sekarang," Raka melangkah cepat menuju parkiran, di ikuti Alfredo di belakang nya.


***


Sesampai di markas. Raka dan Alfredo melangkah cepat ke ruang bawah tanah, tempat Rocky dan Herman di tahan. Kedua laki-laki itu terlihat begitu menyedih kan tanpa kaki dan tangan.


"Mau apa kau datang kesini penjilat," umpat Rocky saat melihat kehadiran Raka di sana.


Raka tersenyum miring. Lalu menarik rambut Rocky hingga wajah nya mendongak keatas.


"Kali ini aku tak ingin berbasa basi dengan kau Rocky. Katakan!!! siapa Sekutu kau yang masih berada di luar?!"


"Aku tak tau apa yang kau maksud,"


"Kau bilang tak tau, baiklah." Raka kemudian keluar mengambil gunting rumput lalu masuk kembali ke ruangan jeruji besi itu.


"Kau mau apa Raka???" mata Rocky melotot saat melihat Raka memain kan gunting besar itu.

__ADS_1


"Pegang dia. Dan tarik lidah nya keluar," titah Raka pada Togar dan Samuel yang berjaga di sana.


"Jangan kau lakukan itu Raka, jangan aku mohon,"


"Sekali lagi ku tanyakan. Siapa orang kau yang masih berada di luar???"


"Niken. Dia juga terlibat sewaktu menculik istri Zidan," ucap Rocky mengakui.


"Dimana dia sekarang!?" tanya Raka penuh penekanan.


"Dia bekerja di rumah Zidan,"


*


"Mas,. Mana Zio, Mas, mana anak ku,"


Zidan memeluk erat tubuh Salsa yang sudah duduk di ranjang.


"Mas, mana Zio, mana Zio." Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya.


"Ma, Bu mana Zio???" tangisnya menatap hampa pada box bayi. Namun, Tak ada yang menjawab. Semua yang ada di ruangan itu hanya diam dalam tangisan.


"Kenapa kalian hanya diam! Mana anak ku!" Salsa berteriak semakin histeris. dengan tenaga nya ia menepiskan tubuh Zidan.


Salsa bangkit dari ranjang. Mengabaikan rasa sakit usai persalinan nya. Dengan tertatih ia mendekati box bayi yang hanya ada Zia di dalam nya.


Zidan memilih keluar dari ruangan itu dengan linangan air mata yang tak mampu ia tahan. Hatinya hancur, bagai tersayat pisau tajam. Tak sanggup Ia mendengar jerit tangis istrinya. Langkah nya semakin menjauh hingga tak terdengar lagi jerit tangis  Salsa yang menyayat hatinya.


**


Raka dan Alfredo sudah berada di mension. Mereka terus melangkah masuk kedalam.


"Marni, mana pelayan baru itu?"


"Apa yang tuan maksud Diana." jawab Marni.


"Iya, mana dia?"


"Itu lah tuan, dari kemarin dia tidak datang lagi, tuan" jawab Marni.


"Maksud kau apa? Marni,"


"Itu lah lah tuan, kan kemarin dia ikut saya ke pasar, setelah itu dia mengatakan ingin ke toilet. Tapi, saya tunggu-tunggu dia tidak juga kembali. Akhirnya saya putus kan untuk pulang saja. Sampai sekarang dia belum juga kembali. Mungkin dia kesasar tuan," terang Marni menjelaskan.


"Aaaaaarg! sial!"


THE END.


___________________________


Mohon Maaf Sebelumnya ceritanya aku tamatkan sampai di sini🙏


NB:


BACA KELANJUTAN CERITA INI DENGAN JUDUL.


ISTRI UNTUK TUAN MUDA KEJAM.


Menceritakan tentang perjalanan hidup Zio.


Blurb.


Zio/Rain di rawat oleh seorang wanita pecandu obat-obatan terlarang. Rain juga mempunyai seorang adik dari orang tuang yang merawatnya bernama Carla. Semenjak usia 5 tahun Rain keringat Rain sudah di peras oleh ibu angkat yang membesarkannya.


Bahkan Ibu angkat yang membesarkan nya tega menjual Carla, demi untuk mendapatkan obat-obatan terlarang.


Hingga suatu hari Rain harus berpisah dengan adiknya Carla.


*

__ADS_1


Ketika menginjak usia remaja. Rain menjadi ketua gangster yang sangat di takuti di kota tersebut.


Bagaimana perjuangan Zio/Rain bertahan hidup, yang tak pernah secuil pun mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya semenjak kecil. Bagai mana nasib Salsa dan Zidan? Kemana pergi nya Diana? Baca selanjutnya di buku aku yang berjudul. "ISTRI UNTUK TUAN MUDA KEJAM"


__ADS_2