Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Nasehat


__ADS_3

"Masalah apa bos?" tanya Raka.


Apa aku ceritakan saja pada si Raka. Tapi, bagaimana kalau dia menertawakanku? 


batin Zidan merasa ragu.


"Bos!" panggil Raka sedikit keras hingga membuat Zidan tersentak.


"Hmm, I-itu. Sabila dari semalam mendiamkan ku." ujar Zidan sedikit malu. Namun, ia memilih untuk bercerita berharap Raka memberikan solusi untuk nya. Tapi, Raka malah menutup mulut nya karna hendak tertawa.


"Jangan menertawakan ku!" bentak Zidan merasa diri.


"Maaf bos, saya tadi menutup mulut karna menguap." elak Raka memberi alasan.


"Capet katakan! aku harus bagaimana?" desak Zidan meminta saran membelakangi Raka.


"Ya, menurut saya bos harus membujuk Nyonya" jawab Raka.


"Kenapa, kenapa selalu aku yang membujuk nya? Kau tau! Aku juga sedang kesal dengan dia. Gara-gara teman sekolah nya itu yang sok-sok an jadi pahlawan menolong Ibu mertuaku." ungkap Zidan.


"Jadi begini bos. menurut buku yang saya baca. ini menurut buku yang saya baca ya, bos! perempuan itu ibarat tulang rusuk bagian atas yang bengkok kaku dan keras. Jadi, dia akan sangat mudah patah jika bos memaksa untuk meluruskannya dan akan semakin bengkok jika bos membiarkan nya saja." ujar Raka memberi nasehat.


"Bahasa apa yang kau pakai itu Raka, aku tidak mengerti." balas Zidan.


"Artinya sabar bos. bos harus sabar, menesehati Nyonya." terang Raka.


"Ucapan kau terlalu bertele-tele Raka. sekarang kau katakan saja apa yang harus aku lakukan." dengus Zidan merasa kesal.


"Coba minta maaf bos. Ya, meski bos tidak merasa bersalah. Tapi, terkadang dengan kata maaf bisa membuat hati wanita merasa tenang, bos. Dan jika nyonya masih marah juga, coba bos ajak nyonya shoping, karana 90 parsen wanita pasti sangat menyukai itu." ujar Raka.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi Zidan melambaikan satu tangannya menyuruh Raka pergi


Pintar juga kau Raka, tidak sia-sia aku menggajimu besar. 


Gumam Zidan tersenyum senang.......


***


Ujian pertama baru saja selesai. Namun, Salsa memilih duduk di kelas, tidak seperti siswa lainnya yang memilih istirahat di luar kelas, pergi ke kantin atau sekedar nongkrong di taman sambil membaca buku.


Kini di dalam kelas hanya ada Salsa sendiri. Beberapa menit yang lalu Santi juga sudah pergi ke kantin karna perut nya yang terasa lapar. Salsa mengambil ponsel nya dari dalam tas, berharap Zidan ada mengirim pesan untuknya.


Hikz, hikz, hikz. Kok Mas nggak ada ngirim pesan sih. Apa Mas sudah bosan dengan aku. Iiiih. Kenapa aku berpikiran seperti itu sih. 


batin nya sambil memukul-mukul keningnya sendiri.


"Salsa." sapa Rendi yang berdiri di depan pintu.


Salsa menoleh ke sumber suara.


Iih. Kenapa dia kesini sih. 


batin nya merasa tidak suka.


"Boleh aku masuk Sa?" tanya Rendi yang masih berdiri di depan pintu.


"Eh, i-iya masuk aja Rend," jawab Salsa yang merasa gugup.


Rendi pun melangkah masuk kedalam kelas mendekati tempat duduk Salsa. Namun, Salsa malah bangkit dari duduk nya mengambil tas hendak pergi saat Rendi masih berjalan.


"Lho, kamu mau kemana Sa?" tanya Rendi.


"Hmm, anu a-a-aku mau ke kantin Rend." jawab Salsa beralasan.


"Oh, ya udah. kebetulan aku juga mau mengajak kamu ke kantin Sa," balas Rendi.


Aduh......dia ini kenapa sih? nggak paham bahasa kah? Orang jelas-jelas aku mau ngindarin dia.


"Ayo Sa." tegur Rendi yang sudah berada di depan.


"I-iya Rend."


Salsa mengikuti langkah Rendi yang berjalan di depannya menuju kantin.


"Bagaimana keadaan Ibu Sa?" tanya Rendi yang terus melangkah.


"Baik Rend," jawab Salsa singkat.


Sampai di kantin. Santi yang juga berada di sana segera berdiri mendekati Salsa. saat melihat sahabatnya itu datang bersama Rendi. Santi lalu menarik tangan Salsa kemeja tempat ia duduk tadi.


"Iiih. Apaan sih San," gerutu Salsa.


"Duduk!" perintah Santi tegas.


Salsa menurut ia duduk di kursi berhadapan dengan Santi.


"Kamu tu kenapa sih Sa? Dari tadi aku perhatikan sikap mu itu aneh. AKu ajak tadi ke kantin kamu nggak mau, sekarang malah kesini dengan si buaya buntung." sungut Santi kesal.


"Salsa, kamu mau makan apa?" tanya Rendi yang sudah berdiri di samping nya.


"mmm, mmm"


"Salsa nggak makan, dia lagi diet. Udah loe pergi sana." sela Santi sambil melambaikan tangan nya menyuruh Rendi pergi.


"Loe apaan sih San!" bantak Rendi merasa kesal.


"Eh! Loe yang apaan! Orang nggak mau makan malah di paksa." sengit Santi tak mau kalah.


Rendi yang merasa geram mengangkat tangan nya hendak memukul Santi.


"Apa! Loe mau mukul gua! Coba pukul. Ayo pukul." pekik Santi yang sudah berdiri dari duduk nya.


"Udah lah San," Salsa ikut berdiri memegang pundak Santi menenangkan nya.


"Nggak malu loe ya, punya ***** tapi berani mukul cewek," cerca Santi yang sudah emosi.


Rendi menurunkan tangannya lalu berbalik badan melangkah pergi.

__ADS_1


"Kamu juga. aku ajakin ke kantin tadi malah menolak, giliran si buaya buntung itu mengajak malah ikut." racau Santi yang masih emosi.


"Maaf." lirih Salsa menyesali.


"Eh. Tidak usah membuat wajah mu seperti itu padaku ya. Kamu kira aku kasihan." dengus Santi kembali duduk.


"Kamu makan lagi aja San, biar cepat gemuk." ujar Salsa menggoda nya.


"Ya, habis ini kamu yang aku makan." balas Santi lalu menyeruput minuman nya.


"Kenapa kamu bisa kesini sama si buaya buntung itu?" tanya Santi ketus.


"Itu lah San. Dia tadi tiba-tiba nyamperin aku ke kelas. Ya, aku hendak keluar lah karna nggak enak berduaan saja. Terus dia tanya aku mau kemana. Ya, ku jawab mau ke kantin. Tapi, dia nya juga bilang mau ajak aku ke kantin. Aku nggak ada alasan lagi San." ujar Salsa menjelaskan apa adanya.


"Iih! Geram kali lah aku sama si buaya buntung itu! Udah tau kamu punya laki, dia malah semakin gencar dekatin kamu. Aneh nggak sih? Apa lagi laki mu itu tipe posesif dan cemburuan banget. Kalau dia liat kamu berduaan dengan si buaya buntung itu, aku nggak tau lah." gerutu Santi yang terus mengoceh panjang.


Hah! Apa jangan-jangan Mas mendiamkan ku, karna si Rendi kemarin datang ke rumah? 


batin Salsa.


"Eh. Kenapa kamu bengong?" tanya Santi membuat Salsa tersentak.


"Makin aneh deh kamu Sa. Di kelas tadi juga ngomong sendiri, udah seperti." Santi menempelkan telunjuk nya miring di kening.


Salsa meruncing kan bibirnya kedepan.


"Nggak usah buat wajah mu seperti itu. Aku nggak akan kasihan." ucap Santi lalu berdiri melangkah pergi.


"Tunggu San." Salsa menahan tangan Santi yang berjalan melewatinya.


"Apa? Aku mau bayar dulu. bentar lagi bell masuk bunyi." ujar Santi meminta Salsa melepaskan tangannya.


Setelah selesai membayar makanan nya. Santi dan Salsa berjalan di Koridor sekolah menuju kelas.


"Apa yang ingin kamu katakan. Katakan cepat! sebelum bell masuk bunyi. Nanti malah ngoceh sendiri lagi di kelas." sindir Santi.


Salsa yang terlihat ragu untuk bercerita, menghela nafas nya panjang.


"San, sebenarnya aku kepikiran suami ku--" ungkap Salsa ingin bercerita. Namun, lebih dulu di sela Santi.


"Ya elah. Tinggal nunggu 90 menit lagi juga pulang, buat apa di pikirin sih. Ngga sabar banget, itu aja pakai di pikirin. Ingat! ini ujian akhir Sa." balas Santi.


"Bukan begitu San. Mangkanya dengerin aku dulu." Salsa menjeda ucapan nya.


"Sebenarnya Aku dan Mas Zidan itu lagi diam-diaman," ujar Salsa melanjutkan.


Santi menghentikan langkah nya. Menatap Salsa yang diam menunduk.


"Maksud kamu diam-diaman gimana?" tanya Santi tak mengerti.


"Ya, gitu San. Dari kemarin aku mendiamkan nya. Aku berharap dia mau membujuk ku yang lagi kesal. Tapi, dia nya juga malah ikut mendiamkan ku, sampai pagi tadi." keluh Salsa menjelaskan sambil jemarinya menggulung pakaian nya sendiri.


"Apa? Maksud mu kalian sedang perang dingin?" tanya Santi histeris yang di balas anggukan kepala oleh Salsa.


"Semua itu pasti ada penyebab nya. Tidak mungkin kamu kesal sama laki mu itu tanpa alasan, kan. Begitu pun laki mu tidak mungkin juga akan mendiamkan mu tanpa alasan." ujar Santi.


"Emang nya, alasan laki mu mendiamkan mu apa? tanya Santi.


"Aku nggak tau San, tapi itu setelah kami berjumpa Rendi di rumah. Sikap mas Zidan jadi berubah." jawab Salsa.


"Apa! Si Rendi datang kerumah mu! Benar-benar nekat ya si buaya buntung itu!" erang Santi merasa geram.


"Tapi, dia datang hanya mengantar Ibuku San. Jadi kemarin itu Ibuku di bawa om Herman dan Rendi lah yang menolong nya." terang Salsa.


"Ah, Ribet! Pokok nya nanti kamu harus minta maaf sama laki mu." pekik Santi kembali mulai melangkah.


"San," rengek Salsa memanggil.


"Eh, dengarin aku Sa! Setakat mencari wanita, hanya dengan menjentikkan jari saja, bejibun wanita akan datang mendekat pada laki mu itu." ujar Santi ber api-api.


"Iiih, kamu kok ngomong gitu sih San," ringis Salsa merasa takut.


"Eh, coba aku tanya. Laki mu ganteng ngga? Tajir nggak? Sudah lah ganteng harta nya tajir melintir, pewaris utama perusahaan Ziro Company. Aku saja rela jadi madu mu, Sa," ujar Santi berlalu pergi.


"Iiiih. Awas kamu ya Santo!" Salsa berlari mengejar Santi yang sudah jauh di depannya.


****


Senyum Herman mengembang, melangkah membusungkan dada ketika keluar dari ruang ganti pakaian.


"Awas! minggir aku mau lewat." bentak nya pada salah satu pekerja wanita yang menggunakan seragam yang sama dengan yang ia gunakan.


"Eh kau! kalau mau lewat, lewat saja tidak usah berlagak seperti bos besar." sengit wanita itu yang tadinya sedang membersihkan lantai.


"Apa kau tidak tau aku ini siapa?" ucap Herman dengan bangganya.


"Mau kau siapa, bukan urusan ku!" balas wanita itu kembali bekerja.


Awas saja kau, kalau aku sudah menikah dengan yang punya cafe ini. Kau orang pertama yang akan ku tendang dari sini. 


dengus Herman dalam hati.


Herman terus berjalan mengitari ruangan itu mencari Maria.


Itu dia calon istriku. 


batinnya mempercepat langkah.


"Nyonya. Nyonya." teriak nya memanggil Maria.


Maria menghentikan langkah nya, menoleh melihat Herman yang berjalan mendekatinya.


"Maaf nyonya, mengganggu sebentar. saya mau bertanya." ucap Herman di sertai senyum yang mengembang.


"Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan cepat." balas Maria dingin.


"A-anu nyonya. Saya kan tidak punya tempat tinggal. A-apa boleh saya tinggal di sini." ucap Herman terbata.

__ADS_1


Maria menatap nya dengan tatapan elang, seperti hendak memangsanya.


"Ini bukan penginapan atau pun hotel. Kalau kau ingin bekerja, bekerja lah yang rajin, kalau tidak silahkan keluar." jawab Maria kemudian berlalu pergi.


Bagaimana cara aku mendekati dia. Bicara nya saja sudah seperti itu.


****


Zidan kini sudah berada di luar gerbang sekolah menunggu Salsa. Ia akan melakukan saran dari Raka. Ya, ia akan meminta maaf pada Salsa sarta akan membawa nya pergi berbelanja.


Sama hal nya dengan Zidan. Salsa mengayun kan langkah nya cepat agar segera bisa bertemu dengan Zidan. Ya, Zidan memang sudah mengirim nya pesan, memberitahukan ia sudah berada di luar.


"Ingat ucapan ku tadi! menyenangkan hati suami itu pahala buat mu." ujar Santi berjalan mengiringi langkah Salsa


"Iya, iya. Bu Santo." balas Salsa yang terus berjalan.


"Lagi. Jangan suka merajuk, turutin apa kata laki mu, dandan dikit biar laki mu betah dirumah. Ini tidak dikit-dikit merajuk, dikit-dikit merajuk. Giliran laki nggak pulang nangis-" Santi terus saja mengoceh memberinya nasihat.


"San, nanti mau aku antar pulang nggak?" potong Salsa yang merasa bosan dengan ocehan Santi yang melebihi mulut mak mak.


"Kamu tuh ya, kebiasaan kalau di bilangin, selalu mengalihkan ke topik lain. Lagian aku tu malas ikut dengan mu." dengus Santi.


"Lho. kenapa?" tanya Salsa.


"Malas saja aku melihat kamu sok-sok an romantis-romantisan di dalam mobil." ketus Santi.


"Bilang aja kamu iri?! Karna nggak punya pasangan." ledek Salsa menggoda nya.


"Aku Iri? Sorry ya! Aku hanya ingin fokus belajar, jadi aku nggak ada waktu mikir ke hal-hal begituan," sanggah Santi memberi alasan.


Salsa menghentikan langkah, menatap wajah Santi lekat.


"Bagaimana kalau aku kenal kan kamu sama abang Raka," ujar Salsa sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Kamu apaan sih." dengus Santi dengan pipi yang merona.


Salsa terkekeh melihat ekspresi Santi setelah itu melanjutkan kembali langkah nya.


"Salsa!" panggil Rendi dari arah lain.


"Ngapain lagi sih si buaya buntung itu," dengus Santi saat melihat Rendi berjalan mendekatinya.


"Ayo Sa, kita pergi." Santi menarik tangan Salsa melangkah cepat meninggalkan tempat itu.


"Sa, Salsa Tunggu!" teriak Rendi yang masih mengejar langkah nya.


Sampai di pintu gerbang Rendi menghentikan langkah nya dengan cara berhenti di depan mereka.


"Sa, boleh nggak nanti siang aku kerumah mu, untuk belajar bareng?" tanya Rendi.


"Salsabila!" suara bariton dari arah mobil yang terparkir di depan membuat Salsa terperanjat.


Salsa berlalu pergi meninggalkan Rendi dengan wajah menunduk. diikuti Santi yang mengacungkan kepalan tinju nya pada Rendi saat melewati nya.


Salsa menggunakan satu tangan nya membuka pintu mobil. Namun, satu tangan nya lagi masih memegang tangan Santi.


"San, masuk lah. Bantu aku buat jelasin sama Mas," lirih Salsa pelan.


"Aku nggak mau ikut campur lah," Santi melepaskan tangan nya yang di pegang Salsa.


"Da..da..dah Sa... " Santi melambai kan satu tangan nya ke arah Salsa.


Salsa melihat ke arah Zidan yang masih berdiri di samping pintu sebelah kanan dengan sorot mata nyalang menatap nya, seolah menyuruh nya agar segera masuk ke dalam mobil...


*****


Mobil kini sudah melaju meninggal kan sekolah. Salsa yang duduk di sudut kiri, hanya melihat pemandangan di balik kaca mobil. Jemari lentiknya sibuk meremas seragam sekolah. Bahkan ia lupa kebiasan nya mencium punggung tangan Zidan.


Sama halnya dengan Salsa, Zidan pun hanya duduk di sudut kanan dengan pandangan lurus kedepan, sesekali ia mencuri pandang melihat Salsa yang duduk di sebelah nya.


"Mas," panggil Salsa sambil menoleh menatap Zidan.


"Hmmm," Jawab Zidan dingin mempertahan kan egonya.


"Mas. Aku...... Aku...... "


"Aku apa?" sela Zidan dengan suara beratnya.


"Aku minta maaf, karna sudah membuat Mas marah," ucap nya merasa lega.


Zidan lalu menyodorkan satu tangan nya, yang lansung di raih Salsa.


"Terimakasih Mas." ucap nya setelah mencium punggung tangan Zidan.


"Jangan pikir Mas sudah memaafkan mu Sabila! kamu tau! Setiap kamu membuat hati Mas sakit, Mas akan selalu mengingat nya." jawab Zidan dingin.


"Terus, aku harus gimana agar bisa menyembuhkan hati Mas?" tanya Salsa.


"Jauhi laki-laki itu." ketus Zidan.


"Aku nggak pernah dekatin dia. Mas kan lihat sendiri tadi, dia yang nyamperin aku." ujar Salsa menerangkan.


Zidan hanya diam, hatinya masih terasa panas saat melihat Rendi tadi.


"Mas," Panggil Salsa sambil menggeser duduknya lebih mendekat lagi ke Zidan.


"Please jangan marah lagi," Salsa mengangkat jari kelingking nya.


"Ya," balas Zidan singkat lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


"Mas, Siniin kelingkingnya," rengek nya.


"Apa lagi Sabila," dengan malas Zidan menoleh kearah Salsa.


"Kelingking Mas giniin, terus nanti kita tautkan," ujar Salsa sambil memperagakan.


Dengan terpaksa Zidan melakukan apa yang Salsa ingin kan.

__ADS_1


"Jeff belok kanan," perintah Zidan


__ADS_2