Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Mengganti Baju


__ADS_3

"Bi, nona Niken itu siapa?" tanya Salsa setelah Zidan pergi.


"Oo, nona Niken itu teman nya tuan, nyonya," jawab Marni.


Salsa mengerutkan dahinya.


"Om, galak itu punya teman cewak juga, apa jangan-jangan dia itu pacar nya? Tapi kata Abang Raka si Om  itu nggak ada punya pacar. Ishh, kenapa juga aku mesti memikirkan itu,," Salsa membatin sendiri.


"Apa mereka sudah lama saling mengenal Bi?" tanya Salsa lagi.


"Sudah nyonya, tuan dan nona Niken sudah berteman sejak kecil, bahkan mereka dulu sudah pernah-" Marni seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, hampir saja dia keceplosan mengatakan apa yang tidak perlu ia katakan.


"Pernah apa Bi?" tanya Salsa penasaran.


"Apa nyonya mau sarapan? kalau begitu saya akan mengambil kan nya," ucap Marni mengalihkan pertanyaan Salsa.


"Bi," panggil Salsa.


"Sebentar nyonya, saya akan  membawakan sarapan untuk nyonya," balas Marni tergesa-gesa pergi meninggalkan Salsa.


"Sepertinya Bi Marni menyembunyikan sesuatu tentang nona Niken itu, pasti nona Niken itu sangat cantik sekali, tidak seperti aku, sadah jelek, nyusahin orang pula. Aku penasaran lah, dengan nona Niken itu. Aku yakin si Om galak itu pasti tidak hanya berteman saja dengan nona Niken itu." batin Salsa.


Dreeet...


Dreeet...


Dreeet...


Ponsel Salsa bergetar, dirinya lansung saja mengangkat sambungan telepon, setelah melihat nama Santi yang tertera di layar.


"Hallo jeng, kamu sekarang dimana? Kenapa aku belum juga melihat batang hidung mu?" tanya Santi setelah sambungan telepon nya terhubung.


"Aku nggak masuk hari ini San, kamu izin kan aku ya," balas Salsa.


"Loh, kenapa kamu nggak masuk?" tanya Santi lagi.


"Kaki aku terkilir," jawab Salsa apa adanya.


"Terkilir? kamu terkilir dimana? gimana ceritanya? Terus, sekarang keadaan mu gimana? Apa sudah di obati?" cerca Santi dengan banyak pertanyaan.


"Sudah lah nggak usah banyak tanya, kaki ku tambah sakit mendengar suara mu itu. Aku baik-baik saja kok, kamu nggak usah khawatir." balas Salsa tanpa menjawab semua pertanyaan dari sahabat nya.


Salsa kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan Santi, ketika melihat Zidan berjalan mendekatinya.


"Siapa yang menelepon mu?" tanya Zidan yang sudah berdiri di samping Salsa.


"Santi, Om," jawab Salsa melirik Zidan sekilas.


"Kenapa kamu masih menggunakan seragam itu? Bukan kah saya sudah menyuruh Marni untuk membatu mu,"


Salsa tidak menjawab, dirinya hanya menunduk.


"Sekarang Mana Marni? apa dia tidak mau membantu mu?" tanya Zidan.


"Bi Marni ke bawah ambil sarapan, Om jangan marahin Bi Marni." balas Salsa.


"Lalu kapan kamu akan mengganti seragam mu itu?" tanya Zidan lagi.


"Om pergi lah, saya akan ganti baju sekarang," jawab Salsa ketus.


"Kenapa saya harus pergi?" tanya Zidan menatap Salsa yang sejak tadi hanya menunduk saja.


"Ya kan saya mau ganti baju, nggak mungkin kan, saya ganti baju di depan Om," jawaban Salsa masih terdengar ketus.


"Ya kamu ganti saja, saya juga tidak mau melihat tubuh mu itu," sengit Zidan, lalu membuka lemari pakaian Salsa.


"Aiss, siapa yang akan percaya dangan dia? Bagai mana kalau dia mengintip aku," batin Salsa di dalam hari.


"Ini baju kamu," ucap Zidan, meletakkan baju Salsa di atas ranjang, kemudian dia melangkah ke pintu dan menutupnya.


"Om, ngapain tutup pintu," Salsa memekik, kalau melihat Zidan mendekatinya setelah membuka pintu.


"Bukannya kamu mau mengganti baju?" Zidan bertanya dengan nada santai.


"Iya, saya mau ganti baju, tapi Om keluar dulu lah," ucap Salsa sengit.


"Ya...... Kamu ganti saja, saya juga tidak mau melihat tubuh mu itu," ucap Zidan sinis, lalu berbalik badan membelakangi Salsa.


"Dia bilang nggak mau melihat tubuh ku, awas saja kalau sampai dia melihat, aku congkel kedua mata nya itu," gerutu Salsa didalam hati.


"Cepat ganti," perintah Zidan yang masih berdiri membelakangi Salsa.

__ADS_1


"Iya," sahut Salsa ketus, dirinya mulai membuka kancing baju seragam nya.


"Sudah belum, cepat sedikit, saya hitung sampai lima, dan harus selesai dalam hitungan ke lima," ucap Zidan.


"Om"


"Jangan balik badan dulu, sebelum saya selesai," pekik nya.


"Baik lah, kalau begitu saya tambah menjadi sepuluh," ucap Zidan yang ingin sengaja menggoda istri kecilnya.


Dengan cepat, tangan Salsa membuka kancing-kancing baju nya.


Zidan mulai menghitung.


"Satu,"


"Dua,"


"Tiga,"


Dan hingga hitungan kesepuluh, Salsa sudah selesai mengganti baju nya dengan baju yang di berikan Zidan tadi.


.


.


.


Siang harinya di sekolah Salsa.


"San, Santi! tunggu,"  panggil Rendi, berlari mendekati Santi.


"Apa," sahut Santi ketus, memutar tubuh nya ke arah Rendi.


"Mana sahabut mu, San? Kok sejak pagi aku nggak ada melihat nya?" tanya Rendi.


"Mana aku tau," jawab Santi semakin ketus.


"Ya biasanya kan kalian selalu sama-sama. Kan nggak ada salah nya aku nanya," balas Rendi.


"Hari ini Salsa nggak masuk, dia sakit," ucap Santi.


"Kaki nya terkilir," jawab Santi singkat.


"Aku boleh minta nomor ponsel nya nggak?" pinta Rendi.


"Nggak,"


"please, San," Rendi menyatukan ke ke dua tapak tangannya.


"Nggak, aku gak akan berikan nomor dia, pada kamu," tegas Santi.


"Kenapa?" tanya Rendi.


"Ya kamu minta saja sendiri lah sama dia," jawab Santi semakin kesal.


"Ya, gimana aku bisa minta nomor dia? Kan dia nya lagi gak ada di sini," balas Rendi.


"Ya, kamu tunggu saja sampai dia masuk sekolah lagi,"


"Kalau rumah nya kamu tau gak?" tanya Rendi lagi.


"Aku cuman tau Rumah Ibu nya," jawab Santi.


"Memang nya Salsa nggak tinggal dengan ibunya?" tanya Rendi lagi.


"Kepo," ketus Santi seraya membalikan tubuh nya membelakangi Rendi.


"Ya, aku kan cuman nanya, San," balas Rendi.


"Dan aku juga berhak nggak menjawab, kan," sengit Santi tak mau kalah.


"Please San, aku hanya mau menjenguk dia saja, kok. Aku ingin tau keadaan nya sekarang." Rendi menyatukan kembali kedua tangannya.


"Aku nggak tau dia tinggal di mana?"


"Kalau begitu berikan aku nomor ponsel nya saja. please San," mohon Rendi.


"Ya sudah, aku tanyain sama orang nya dulu, kalau dia mengizinkan aku akan kasih. kalau orang nya nggak ngizinin, jangan paksa aku lagi," jawab Santi lalu menghubungi nomor ponsel Salsa nya.


"Baiklah," ucap Rendi, tersenyum.

__ADS_1


"Halo Sa," sapa Santi saat sambungan telepon nya sudah terhubung.


"Ya, ada apa San?" balas Salsa di seberang telepon.


"Sa, ini si Rendi, mau minta nomor ponsel mu," ucap Santi, mata nya melirik Rendi yang memberi kode meminta bicara dengan Salsa.


"Buat apa dia nomor ponsel ku?" tanya Salsa.


"Ya mana aku tau. Orang nya juga lagi sama aku nih, dia mau ngomong sama kamu," jawab Santi, yang masih melihat Rendi memohon agar Santi memberikan ponsel nya.


"Jangan kasihkan nomor ponsel ku, dan aku juga gak mau ngomong sama dia," balas Salsa.


Rendi dengan cepat merebut ponsel itu dari tangan Santi.


"Halo Salsa, ini aku Rendi,"


Tuuuuuuuuuuuuuut!


Baru saja Rendi bicara, sambungan telpon itu langsung terputus.


"Halo... Halo Salsa... Halo....." Rendi mengira ponsel itu masih terhubung dengan Salsa.


"Sudahlah Ren, Salsa itu nggak mau ngomong sama kamu,"


"Mungkin tadi sambungan nya terputus karna masalah jaringan, coba kamu telepon lagi," Rendi masih kekeh


"Sini ponsel ku," Santi merebut ponsel nya dari tangan Rendi.


"Hai, Ren, ngapain sih kamu dekat-dekat dengan cewek gak jelas ini." ucap seseorang yang baru saja datang mendekati mereka.


"Eh loe juga cupu, ngapain dekat-dekat dengan cowok gua," ucap seseorang yang baru datang itu seraya mendorong tubuh Santi.


"Alice loe apa-apa'an sih, sejak kapan gua jadi cowok loe!" bentak Rendi pada seseorang yang baru datang itu.


"Kamu kan memang cowok aku sayang," balas Alice tanpa rasa malu.


"Mantan," tegas Rendi berlalu pergi.


"Sayang tunggu," panggil Alice yang hendak mengejar Rendi.


"Eh loe ingat ya cupu, jangan pernah loe dekatin cowok gua lagi. Paham!" ancam Alice pada Santi, lalu mendorong tubuh Santi dangan satu tangannya.


"Iiiih... Najis sekali," Santi mengibaskan baju nya yang di pegang Alice tadi.


.


.


.


Dirumah Ibu Salsa.


"Sayang, hari ini kita jadi kan pergi ke sekolah Salsa," Herman melingkarkan tangan nya di perut Rita dari belakang.


Rita tidak menjawab dirinya masih saja mengaduk masakan nya di kuali.


"Kamu siap-siap sekarang ya, biar aku saja yang melanjutkan nya," Herman melepaskan tangannya di perut Rita lalu mengambil sendok di tangan istrinya.


"Tapi mas-" ucapan Rita terhenti karna di potong lebih dulu oleh Herman.


"Sudah, cepat kamu siap-siap sekarang," potong Herman seraya mendorong pelan Rita agar segera bersiap.


"Dengan cara ini pasti aku akan mudah mendapat kan uang dari anak itu," batin Herman dalam hati.


.


.


.


Di Mension Zidan.


Salsa yang sudah di periksa oleh dokter Erwin, kini sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja untuk beberapa hari dokter meminta Salsa agar tidak terlalu membebankan kaki nya.


Zidan melarang Salsa untuk tidak berjalan. Istrinya itu hanya di bolehkan beraktifitas di atas ranjang saja. Mulai dari makan, minum, belajar semua hanya boleh Salsa lakukan di atas ranjang.


Setelah dokter pergi, Zidan duduk diam di sofa kamar Salsa.


Notes;


Like & komen dong biar aku semangat.

__ADS_1


__ADS_2