Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Perkara makan dalam rantang


__ADS_3

Sementara itu Alfredo dan Raka masih berada di lokasi tempat kejadian penembakan Zidan. Lelaki paruh baya itu menyisir setiap inci lokasi disana. Namun tidak menemukan apa-apa.


Sejenak lelaki yang berumur lebih setengah abad itu berfikir melihat kesekeliling tempat.


"Bukan kah kita bisa melihat pelaku, dari rekaman CCTV tuan," ucap Alfredo setelah puas meneliti lokasi namun tidak menemukan petunjuk apa pun.


"Ya tepat sekali tuan," Raka lalu berjalan menuju mobil nya, kebetulan leptop kerjanya ada di dalam mobil. Alfredo juga mengikutinya dari belakang.


Jemari Raka dengan lincah bermain di keyboard. Tidak butuh waktu lama ia sudah mendapatkan rekaman video CCTV saat kejadian penembakan itu.


Kedua bola mata Raka tampak fokus memperhatikan layar leptop. Ia Mempercepat rekaman video sampai sebuah sepeda motor melintas di samping mobil nya, Lalu ia menjeda rekaman video itu.


Tapi sial nya, ia tidak bisa melihat jelas wajah pelaku karna di tutupi helm. Serta plat nomor kendaraan yang di samarkan.


Click


Raka kembali menjeda rekaman video saat orang itu menodongkan senjatanya. Ia memperbesar gambar saat melihat tato kalajengkeng dipunggung tangan orang yang mengacungkan senjata pada nya itu.


Raka sangat tau sekali kelompok yang menggunakan tatto tersebut.


**


Pagi harinya dirumah sakit.


Salsa terbangun dari tidurnya, diatas kursi di samping ranjang pasien. keadannya kini lebih membaik dari sebelum nya. Tapi serangan rasa lapar di lambung, rasa nya tidak bisa ia tahan kan lagi. Ia berjalan mendekati meja yang tidak terlalu besar, di sana ia melihat sebuah rantang besar.


Ini punya siapa? 


Aroma masakan di dalam rantang, semakin membuat cacing di dalam perutnya meronta. Rantang itu hanya di lihat di pegang dan di undus nya saja. Tanpa berani membukanya.


Ceklek 


Pintu ruangan inap itu terbuka. Tubuh Salsa yang tadinya membungkuk karna terlalu menikmati aroma masakan di dalam rantang seketika berdiri tegap saat mendengar suara pintu yang di buka.


"Selamat pagi nyonya," terlihat Raka yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya.


Sama dengan Salsa, penciuman Raka pun tidak kuasa menghirup aroma masakan di dalam rantang itu.


"Ini punya siapa nyonya?" tangan Raka sudah berada di rantang itu hendak membukanya.


Plak


Seketika tangan nya di tepiskan oleh Salsa.


"Iiih, abang, ini bukan punya Salsa." Lagi-lagi hidung Salsa menghirup aroma masakan yang ada di dalam rantang itu, karna tadi sempat di singkap kan sedikit oleh Raka.

__ADS_1


"Nyonya jika makanan itu ada di kamar ini, berarti makanan itu memang sengaja di bawa untuk kita yang ada di sini nyonya," Raka semakin merasa kelaparan saat mencium aroma makanan yang ada di dalam rantang itu.


Zidan pun terbangun dari tidur nya mendengar suara keributan Salsa dan Raka perkara rantang makanan itu.


"Sayang ada apa?" Suara berat Zidan yang terbaring di ranjang menghentikan perdebatan Salsa dan Raka.


"Tuh kan gara-gara abang Raka mas zidan jadi terbangun," Salsa lalu berjalan mendekati suami nya itu. Sedangkan Raka hanya terdiam memandang istri bosnya itu yang berjalan mendekati Zidan.


"Mas udah bangun?" Salsa mengecup sekilas bibir suami nya. Membuat Zidan melongo menatap nya heran. Tidak pernah sebelum nya istri nya itu berinisiatif mencium dirinya selama ini.


"Apa mas lapar?" Salsa kembali duduk di kursi di samping ranjang pasien.


"Kamu makan lah dulu, itu makanan tadi jefri yang membawanya," wajah Zidan meringis seperti menahan sesuatu, yang lansung di tangkap oleh Salsa.


"Mas kenapa? Apa ada yang sakit," Salsa terlihat cemas, ia kembali berdiri memeriksa tubuh Zidan. begitu pun Raka yang ikut berjalan mendekati ranjang pasien saat mendengar suara cemas Salsa.


"Mas tidak apa-apa sayang," Zidan memaksa kan wajah nya agar tersenyum saat melihat Salsa yang mengkhawatirkan nya.


"Mas pasti bohong, biar aku panggil dokter dulu," Salsa hendak melangkah pergi. Tapi satu tangan nya lansung di pegang oleh Zidan.


"Mas hanya merasakan mual, mungkin mas masuk angin," Zidan terlihat hendak mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


"Duh...., mas kenapa sih..?" Salsa semakin terlihat panik saat Zidan mengeluarkan cairan dari mulutnya ke lantai rumah sakit itu.


"Biar saya saja yang memanggil kan dokter nyonya," Raka begegas keluar dari ruangan itu.


Salsa mengusap dahi suami nya itu, karna ia tidak tau mesti melakukan apa.


Tidak lama berselang, Raka kembali masuk kedalam kamar pasien bersama seorang dokter. Salsa sedikit menjauh dari ranjang, mempersilahkan dokter untuk memeriksa suami nya itu.


****


Bagaimana keadaan suami saya dok? Apa yang sebenar nya terjadi padanya?" tanya Salsa dengan cemas nya saat sang dokter sudah selesai memeriksa suaminya.


"Tidak ada yang serius nyonya, anda tidak usah khawatir," balas sang dokter dengan santai nya.


"Tapi kenapa tadi mas muntah-muntah?".wajah Salsa masih terlihat panik.


"Mungkin pengaruh obat setelah operasi semalam nyonya," dokter menjawab masih dengan santai nya.


Wajah Zidan kini semakin pucat dan semakin menyedih kan saja.


****


Setelah dokter pergi, dan melihat mata Zidan yang sudah terpejam, Salsa berjalan menuju toilet.

__ADS_1


"Sayang mau kemana?" Zidan sedikit menegak kan kepala nya ke atas.


"Mau ke kamar mandi sebentar mas," Salsa kembali melangkah masuk ke toilet.


Sementara di sofa, Zidan melihat Raka yang sudah membuka Rantang berisi makanan yang di bawa Jefri tadi.


"Siapa yang menyuruh kau membuka rantang itu?" Raka melihat Zidan yang menatap tajam padanya.


Tapi Raka sedikit mengabaikan nya, toh bos nya itu juga tidak bisa berbuat apa-apa juga pikirnya.


"Raka......!" Suara teriakan Zidan yang terdengar seperti bisikan. tidak mampu menghentikan aktifitas Raka.


Awas kau Raka!!! Kau akan menerima hukuman dariku!!! 


Zidan yang geram hanya bisa mengumpat dalam hati.


Salsa sudah keluar dari kamar mandi.  gegas ia berjalan mendekati Raka yang terlihat akan menyendok makanan ke piring.


"Iiiih, abang makan nggak ngajak-ngajak," Salsa juga mengambil satu piring dan ikut duduk di sofa di sebelah Raka.


"Maaf nyonya, saya sudah tidak tahan dengan aroma nya. perut saya semakin terasa lapar," Raka mulai menyuap makanan yang ada di dalam piring nya.


"Wah, ini memang sedap sekali bang, bukan hanya aroma saja, rasa nya juga begitu sedap. tapi siapa yang memasaknya ya bang? Ini bukan rasa masakan bi Marni?" Salsa memuji makanan yang baru saja masuk ke dalam mulut nya.


"Tepat sekali nyonya, saya pun tadi nya ingin mengatakan itu,"


Salsa dan Raka tidak menyadari jika ada mata yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Tapi ia juga tidak mampu untuk mencegah nya.


"Jangan kau habiskan makanan itu, aku juga lapar," suara Zidan itu berhasil menghentikan tangan Raka yang hendak menambah makanan ke dalam piring nya.


"Tapi ini masih banyak bos! Bos tidak akan bisa menghabiskan nya sendiri," Raka kekeh tatap ingin menyendok makanan di dalam rantang itu ke piringnya.


Kali ini Raka benar-benar membuat Zidan naik darah, entah apa yang membuat ia mengabaikan kata-kata bosnya itu.


****


Selesai makan dan mengemasi sisa makanan di dalam rantang Salsa berjalan mendekati Zidan lalu duduk di sebelah nya. Bertepatan dengan itu perawat juga masuk membawa kan menu sarapan pagi untuk pasien.


"Sayang mas lapar," ucapan Zidan terdengar seperti anak kecil yang merengek meminta makan. Salsa lalu mengambil makanan yang di bawa perawat tadi.


"Aku tidak mau makan itu!" tegas Zidan menolak.


"Terus mas mau makan apa?" tanya Salsa.


"Yang di dalam rantang tadi," mata Zidan memandang Rantang yang sudah tersusun rapi diatas meja.

__ADS_1


"Sudah habis mas," ucap Salsa pelan.


__ADS_2