Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Dua porsi


__ADS_3

Zidan menelepon jefri menyuruh nya membawakan gaun-gaun yang baru saja di belinya.


Zidan keluar dari toko itu dengan langkah lebar. Diikuti Salsa berjalan setengah berlari mengejar langkah Zidan.


"Tadi jalan nya ngesot benget seperti siput, sekarang seperti mau ngajak aku balapan," gerutu Salsa dalam hati sambil terus berlari mengejar langkah Zidan yang cepat.


"Om, kenapa om beli semua gaun itu, bukan nya saya gak pantas memakainya?" tanya Salsa saat langkah nya sudah ber iringan di samping zidan.


Zidan tidak menjawab ia terus saja melangkah ke depan tanpa memperdulikan perkataan Salsa. membuat bahu Salsa Seketika merosot ke bawah, langkahnya pun kini tertinggal jauh di belakang zidan.


"Om, tunggu. Nanti kalau saya hilang gimana?" teriak Salsa asal, lalu berhenti melangkah.


Zidan menghentikan langkah nya, menungg Salsa yang tertinggal tanpa menoleh ke belakang.


"Ha, berhenti juga dia," gumam Salsa.


Salsa yang kesal hendak melempar Zidan dengan botol air mineral yang ada di tangan nya. tapi seketika Zidan malah menoleh ke belakang. Jadi nya Salsa hanya membuka tutup botol itu dan meminum air nya.


"Ish, cepatlah batu, sampai kapan kamu berdiri di sana," ucap Zidan menatap Salsa sinis.


"Dia bilang aku batu. Isshh, yang ada dia itu yang seperti batu, sudah lah galak, bisa nya cuma marah-marah saj, sayang saja wajah nya tampan, kalau tidak sudah aku remas-remas tu wajah nya," gerutu Salsa merasa kesal.


Zidan mendekati Salsa, memegang dagu dan pipi nya, bahkan puncak hidung mereka sudah saling beradu, semakin dekat, semakin dekat kini bibir mereka pun semakin dekat.


"Eh batu, kenapa kamu masih diam," Suara itu seketika membuat Salsa tersentak kaget.


Di lihat nya Zidan yang masih berdiri di depan dengan wajah sinis menatap pada nya.


"Apa yang otak kecil mu itu pikirkan," ucap Zidan sinis.


"Malu nya aku, kenapa bisa membayangkan hal seperti itu tadi, bagai mana kalau dia tau,"  batin Salsa seraya menggelengkan kepalanya.


"Cepatlah saya tidak punya banyak waktu," ucap Zidan yang sudah kembali berbalik badan melangkah pelan di depan.


Salsa mengikuti nya dari belakang dengan wajah merah menunduk malu, sembari memainkan jemarinya.


Zidan melangkah masuk ke dalam restoran yang ada di lantai dua mall itu. diikuti Salsa yang masih berjalan menunduk malu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Zidan setelah mereka duduk.


"Terserah om saja," jawab Salsa sedikit mengangkat kepalanya melihat Zidan.


"Nasi goreng seafood kamu mau?" tanya zidan lagi, yang di balas Salsa dengan anggukan.


Setelah pesanan mereka datang.


Entah karna merasa lapar Salsa dengan lahap menghabiskan makanan nya dengan cepat.

__ADS_1


Tidak sampai lima menit piring yang tadi nya berisi nasi goreng seafood itu, kini hanya tersisa piring nya saja.


"Om, boleh nambah gak?" tanya Salsa dengan kedua tangan yang masih memegang sendok dan garpu.


Zidan  memesan 1 porsi lagi dengan menu yang sama.


"Badan kecil, makan banyak," gumam Zidan melihat Salsa memakan kembali makanan porsi ke dua nya.


Zidan yang terus memandang Salsa makan, sampai lupa menyuap makanan nya sendiri.


Salsa memakan makanan nya sangat lahap sekali, hingga ia tidak menyadari jika Zidan sejak tadi menatap nya.


Salsa menyendok makanan nya, iseng ia mencoba menyuap kan nya pada Zidan.


Zidan yang tersentak, melihat kiri dan kanan, setelah itu membuka mulutnya.


Hap!


Suapan pertama dari Salsa, membuat wajah Zidan tersipu.


Salsa tersenyum senang melihat nya. Lanjut suapan ke dua dari Salsa, Zidan terlebih dulu melihat kiri dan kanan sebelum melahap nya.


Hanya sisa dua suap itu saja, makanan di piring Salsa sudah habis.


"Apa kamu mau nambah lagi?" tanya Zidan datar.


Zidan hanya diam, membiarkan makanan nya di piring yang masih banyak tersisa.


"Om sudah kenyang ya?" tanya Salsa saat melihat piring di depan zidan masih banyak tersisa.


"Belum," jawab Zidan lalu meraih ke dua sendok itu kembali.


Salsa mengangguk-anggukan kepalanya.


Tidak lama Zidan menggeser kan piring nya ke depan Salsa.


"Saya sudah kenyang Om," tolak Salsa, melihat piring yang masih ada makanan di dalam nya.


"Ya sudah biar kan saja," ucap Zidan datar.


"Ihh, gak boleh lho om, membuang-buang makana, itu nama nya mubazir," ujar Salsa yang menatap piring yang masih ada makanan itu.


"Ya sudah, ka- kamu saja yang menyuapkan nya, tangan saya lagi alergi memegang sendok," balas Zidan dengan wajah tegang.


Salsa sedikit tersenyum sebelum meraih piring itu, lalu menyuapkan nya pada Zidan. Untung saja keadaan resto saat itu lagi sepi pengunjung.


Selasai makan, zidan membawa Salsa ke toko sepatu, zidan menyuruh karyawan toko untuk membantu Salsa memilihkan sepatu yang cocok untuk nya.

__ADS_1


Tidak jauh dari tempat zidan dan Salsa berada, niken masih mengikuti dan memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Siapa sebenarnya gadis itu? kenapa zi mau menemani nya ke tempat seperti ini?"  Pikir niken bertanya-tanya.


Setelah mendapatkan sepatu untuk Salsa, mereka pun pulang ke mension.


Di mension.


Salsa yang tertidur pulas di dalam mobil membuat zidan tidak tega membangunkan nya. Secara perlahan zidan mengangkat tubuh Salsa pelan.


Zidan mengangkat tubuh Salsa pelan keluar dari mobil.


Plak!


"Aduuuuuuh,"


Kepala Salsa kepentok di daun pintu mobil, Seketika membuat Salsa terbangun dan memegang ke palanya.


"Om mau ngapain? Lepaskan om," badan Salsa menggelepar di atas tangan zidan minta di lepaskan. Perlahan zidan menurunkan Salsa dari gendongan nya.


Salsa yang baru saja terbangun memegang kepala nya yang terpentok pintu mobil itu.


"Mangkanya kalau di dalam mobil itu jangan tidur, merepotkan saja," ketus zidan, Sembari melangkah masuk ke dalam mension.


"Ish, enak sekali dia ngomong, siapa juga yang menyuruh dia untuk mengangkat aku? Ish, menyebalkan sekali," gerutu Salsa.


Zidan menyuruh Marni untuk membawa barang-barang yang di mobil ke dalam kamar nya. Serta memindahkan barang-barang yang ada di kamar Salsa.


Salsa yang masih kesal berjalan pelan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar nya.


Tok. Tok. Tok.


Baru saja Salsa menghempaskan badannya di kasur, suara pintu di ketuk dari luar. Dengan malas Salsa berjalan membuka kan pintu kamar nya..


Cek lek


Pintu terbuka terlihat Marni yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa bi?" tanya Salsa pada Marni.


"Maaf nyonya, saya di suruh tuan untuk memindahkan semua barang-barang nyonya ke kamar tuan." ujar Marni.


"Gak mau, Salsa gak mau pindah ke kamar om," Ucap Salsa menolak.


"Maaf nyonya saya hanya menjalankan perintah tuan." balas Marni yang lansung masuk ke dalam kamar Salsa dan mengemasi barang-barang di dalam nya.


Salsa dengan tanduk merah yang sudah tumbuh di kepala berjalan ke kamar zidan.

__ADS_1


__ADS_2