Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
009. Pertarungan Di Arena Batu Kuasa


__ADS_3

Pekan depan akan diadakan pertarungan individu. Setiap para pendekar diperbolehkan untuk ikut termasuk para pemimpin kultus sendiri. Arena Batu Kuasa, siapa pun yang terkuat akan menjadi yang tertinggi di 7 Surgawi.


Banyak calon-calon yang berasal dari keluarga pemimpin kultus saat ini, banyak juga yang keluarga tak dikenal ikut meramaikan. Termasuk Yongchun, ia hendak ikut karena berharap ia akan bertemu dengan Pemimpin Yin.


Sebelum Arena Batu Kuasa diadakan, alangkah baiknya Yongchun meminta untuk diajari Wang Xian atau pengikut yang lainnya. Di sana ia belajar mati-matian bagaimana cara mengalirkan tenaga dalam yang ia punya merasuk ke sebuah pedang.


“Payah!”


“Benar-benar payah!”


Hari ini, Wang Xian sedang ada urusan di luar sehingga yang mengajari Yongchun adalah dua sepupunya, satu laki-laki dan satu lagi adalah perempuan. Mereka masih anak-anak tapi energinya jauh lebih stabil dari Yongchun yang sudah semakin berumur.


“Paman benar-benar payah! Selama ini paman hidup di mana sih, sampai Paman Xian baru menemukanmu? Ya, ampun.” Salah satu sepupu perempuan berkomentar jauh lebih pedas. Tentu saja Yongchun tak menanggapi hal itu.


“Bibi! Apakah selama ini tidak pernah belajar seperti kami?” tanya sepupu laki pada Nia.


“Bagaimana bisa belajar kalau tempat kami selalu terjadi perang, huh.” Nia cemberut.


Perlahan-lahan tapi pasti, setiap kali belajar mengendalikan tenaga dalam, ia mampu menyelaraskan semua kekuatan yang ia punya. Hingga hari di mana Arena Batu Kuasa diadakan telah tiba.


“Paman nanti juga akan melawanku!” seru sepupu laki-laki dengan semangat kepadanya. Wang Nam.


“Heh, dasar bocah,” gerutu Yongchun membuang muka.


Sorak-sorai dari para pendekar yang mengelilingi area pertarungan pun terdengar begitu keras hingga menggema. Mereka sangat bersemangat untuk memulai pertarungan hari ini.


Sedangkan Yongchun, ia berdiri di antara para pendekar lainnya dan sedang menanti kehadiran dari Pemimpin Yin. Namun yang ia lihat hanyalah segerombolan para pendekar dari mulai tahap menengah sampai tingkat menuju nirwana.


“Apakah Pemimpin Yin ada? Sepertinya tidak, ya. Kapan dia akan datang?” Yongchun menengok ke arah kanan dan kirinya berharap menemukan seseorang yang sedang ia cari.

__ADS_1


Pemimpin Wang Xian datang, ia berdiri sejajar bersama dengan para pemimpin kultus lainnya. Namun Yongchun tak begitu menyadari bahwa mereka mungkin juga sama kuatnya dengan Pemimpin Yin.


Hingga pertarungan pun dimulai dari anak-anak yang akan menjadi pemimpin kultus suatu saat nanti. Para calon di sana benar-benar kuat, bahkan tak bisa hanya dikatakan bahwa kekuatan mereka hanyalah terpaan angin saja. Mungkin lebih dari ini, layaknya topan menyerang. Berbagai elemen yang mereka lihat tampak berwarna, menggelegar kuat sampai jejak mereka membekas pada pijakannya.


“Wah, meski tak sekuat dia. Aku yakin para calon ini telah dididik keras. Terutama bocah yang bermarga Luo, apakah dia anggota keluarga dari salah pemimpin kultus 7 Surgawi?” pikir Yongchun merasa bersemangat dan melupakan tujuannya datang kemari.


Pendekar yang memenangkan pertandingan sudah pasti akan maju ke langkah berikutnya dan melawan pendekar lain yang berada di atas setelah tingkatan yang ia miliki.


Begitu pula dengan bocah bermarga Luo, Luo Yan. Bocah laki itu mungkin hampir mencapai tingkat nirwana dan akan melawan ...


“Sambut kedatangan baru dari anggota keluarga Pemimpin Wang! Wang Yongchun!”


“Eh, apa?” Namanya disebutkan, Yongchun seketika berkeringat dingin dan merasa gugup untuk maju ke arena.


“Semangat paman Yong!” Sepupu perempuan Wang menyemangatinya dengan bersorak lebih keras daripada orang lain.


Yongchun gugup sebab ia masih belum bisa menyempurnakan tenaga dalam yang ia punya. Entah yang keluar nanti sedikit itu lebih baik daripada keluar dengan deras pasti akan membuat lawannya mati.


Sesekali ia menghirup lalu membuang napasnya berkali-kali. Tampak Luo Yan meremehkan orang tua itu, belum lagi sikapnya yang sombong membuat Yongchun muak.


Mereka saling memberi hormat sebelum pertarungan dimulai.


“Karena aku gugup, aku diremehkan. Awas saja, kubuat kau jadi bubur baru tahu rasa,” gerutu Yongchun. Semangatnya kembali membara namun bukan karena perasaan senang melainkan karena perasaan kesal sejadi-jadinya.


Semua orang berpaku pada kehadiran Wang Yongchun. Terutama saat keduanya memulai serangan masing-masing. Bersama melesat dan saling berhadapan dengan jarak dekat, yang kemudian disusul oleh ayunan pedang bertenaga dalam.


Syaatt!


Tebasan kilat yang saling menyerang itu memiliki perpaduan warna yang sempurna. Antara warna hitam legam dan keunguan seolah mereka memiliki pola serangan yang sama.

__ADS_1


“Sudah cukup bocah. Aku datang kemari bukan untukmu, jadi jangan marah ya!” tukas Yongchun.


Ia melompat ke arah lain setelah berhadapan dengannya, mengincar bagian titik buta Luo Yan yang membuatnya tumbang hanya dengan pangkal pedang.


Pertarungan hanya berlangsung beberapa menit. Tak disangka, tenaga dalam yang ia keluarkan sangat sedikit sehingga Yongchun merasa lega. Pemenang sudah ditentukan begitu lawan tumbang dan tak lagi mampu berdiri apalagi mengangkat pedang.


“Hm, bocah yang menarik.” Pemimpin Zhao berbicara.


“Tidak. Dia sudah berkeluarga, punya dua istri,” sahut Pemimpin Wang sambil menunjukkan dua jarinya.


“Hoh, kau temukan dia di mana? Sampai membuatnya masuk ke dalam keluargamu?” tanya Pemimpin Zhao seraya tersenyum.


“Dia keluarga jauhku, sudah lama mengungsi ke suatu tempat. Akhirnya sekarang aku bisa membawanya kembali. Ada apa? Kau penasaran dengannya?” pikir Wang Xian.


“Ya. Aku boleh mengajaknya bertarung?”


Sosok Pemimpin Zhao dengan tubuh kekar dan selalu menyunggingkan senyum itu bukan main-main, dia terkuat berada di posisi ketiga di dalam pemimpin kultus 7 Surgawi.


Wang Xian tersenyum lalu menaikkan kedua bahu sebagai tanda, "Lakukan apa yang kau inginkan." Seolah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Yongchun.


***


Pemimpin Zhao Yun merasa tertarik pada Yongchun. Sehingga ia pun naik ke atas arena dan memulai pertarungan dengannya.


“Tidak ada Yin, Zhao pun jadi. Nasibku ternyata tidak terlalu buruk tapi sekarang cukup buruk buatku. Yah, dengan kekuatannya, aku bisa membuat dia ada pihakku nanti. Kalau bisa?” batin Yongchun merasa senang.


Alasan yang cukup jelas untuknya, ketika salah satu pemimpin kultus datang untuk mencoba bertarung namun kondisi Yongchun sedang tidak stabil. Ternyata menggunakan tenaga dalam membuat ia sangat lelah.


“Ya sudah, aku menyerah saja kalau begitu.”

__ADS_1


Keberadaan Pemimpin Zhao saja sudah membuat nyalinya ciut, Yongchun pun memutuskan menyerah adalah yang terbaik selagi ia masih diberi kesempatan untuk hidup.


__ADS_2