
Sosok berwujud manusia dengan tubuh yang terbalut oleh warna biru keputihan. Hampir menyatu dengan keadaan sekitar, datang dan menyerang Yongchun tiba-tiba.
Seolah menghadang jalannya.
“Siapa kau?!”
Mengacungkan pedang ke leher Yongchun, enggan mendengarkan lalu merubah mata pedang itu menjadi lebih panjang. Perlahan menggores leher hingga ke tubuh bagian bawahnya, dan menusuk bagian perutnya di akhir.
“Ugh! Meski lambat tapi aku tidak sempat melihat. Ada apa ini sebenarnya?”
Tubuh Yongchun terkulai lemas. Ia terduduk dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Meskipun saat ini lukanya membeku seolah menutup namun hal itu justru memperparah keadaannya sendiri.
“Ilusi? Ilusi neraka datang lagi padaku?” pikir Yongchun sembari menengadah ke atas.
Sosok tak jelas itu hanya terdiam dengan uap dingin keluar dari tubuhnya itu. Kedua mata itu sebelumnya juga tak berwujud namun setelah mereka bertukar tatap satu sama lain, matanya berubah.
Matanya berubah menjadi kehitaman, persis seperti miliknya.
Belum lagi terluka karena sosok itu, perlahan kulit Yongchun mengelupas lagi. Hanya sekali sentuh saja, kulitnya akan terkelupas dan mengeluarkan darah yang begitu deras lalu membeku dalam waktu singkat.
Karena merasa sosok ini tak perlu dipertimbangkan, Yongchun sekali lagi bangkit dan mengeluarkan aura yang begitu besar. Berkobar di sekeliling layaknya api tersiram minyak.
Namun, aura kepekatan itu perlahan menghilang dan mengalir ke kedua tangan serta pedang yang ia genggam sekuat tenaga.
Tipisnya aura tak memungkinan bahwa kekuatannya menurun, justru sebaliknya. Gerakan yang ia miliki dari hasil mengontrol kekuatan pun menjadi semakin cepat.
Kedua kaki itu melesat dan menyamai kecepatan pada ayunan pedang Yongchun.
Syat! Syat!
Sayatan demi sayatan ia arahkan langsung pada sosok tersebut. Tak henti-hentinya ia menyayat dan tidak begitu peduli dengan tubuhnya sendiri yang sedang terluka.
Setiap kali ia menyerang, setiap kali darah itu menetes dan langsung membeku. Kulit dengan banyaknya bekas luka pun semakin mengelupas lebar dan memperlihatkan otot yang menegang serta daging yang ulet.
Kedua matanya pun semakin membara, dan sosok itu hanya terdiam menerima serangan. Malahan ia mendekat lalu berbisik.
__ADS_1
Dengan suara serak, “Apa ini yang kau inginkan?” Lalu berubah menjadi suara yang familiar.
“Bukankah ini yang kau inginkan?” Sosok itu kembali berbisik. Yongchun terdiam untuk sesaat.
“Suaranya ...mirip sekali dengan dia. Tapi ini hanya ilusi semata seperti saat aku ada di neraka api.”
Sempat goyah karena suara yang dimiliki oleh sosok itu mirip seperti suara yang ia kenal. Namun Yongchun tak hanya selemah itu, meski kenal pun, pada dasarnya orang itu sudah tidak ada.
Dan berpikir setiap ilusi yang ditunjukkan di setiap lapisan neraka adalah agar membuat Yongchun terpaku.
Serta luluh terhadap apa yang ditawarkan Niao sebelumnya. Mengatakan bahwa tempat ini jauh lebih baik dari dunia asalnya.
“AKU INI MANUSIA!” pekik Yongchun.
Suaranya yang keras hingga terdengar menggaung di sekitar. Penghuni alam neraka pun mulai bermunculan karena teriakan Yongchun. Dalam wujud manusia besar, kecil, serangga atau hal-hal lainnya.
Memperhatikan siapakah yang memiliki aura sebesar ini. Serta perasaan yang begitu menghangatkan bagi mereka.
“Apa pun kekuatanku, apa pun wujudku. Entah bagaimana pandangan orang lain terhadapku atau pandangan terhadap orang yang kukenal sekalipun, aku merasa bahwa aku tetaplah manusia utuh!”
Slash!
Begitu ia merasakannya, sosok tersebut ada di belakang punggung Yongchun dengan sebilah belati yang menunggu untuk dilumuri darah.
Seringai tipis tersungging. Yongchun merasakan perasaan familiar saat sosok itu lebih mendekat padanya.
“Kita ini sama ... Benar?” Berbisik lembut dan membuat Yongchun terhenti sesaat.
***
Di saat yang sama. Di neraka yang dingin ini, Niao hanya berdiri seraya ia melirik-lirik ke arah belakang. Melihat banyaknya kumpulan para pendosa tengah bersembunyi dan memperhatikan sesuatu.
Yang tidak lain, adalah aura yang keluar dari Yongchun namun di satu sisi Yongchun sendiri tidak melihat seorang pun di sekitar selain sosok yang ia lihat sebelumnya.
Bukan manusia, bukan dewa dan bukan iblis.
__ADS_1
Mungkin lebih menyerupai sosok yang pernah disebut sebagai dewa. Atau sebut saja makhluk setengah dewa.
Niao menyeringai. Melihat keadaan yang dialami oleh Yongchun, lalu tertawa kecil. Tak berniat membantu, ia pun hanya memperhatikan sama seperti kumpulan pendosa yang ada di belakangnya.
“Pendekar Pedang, kau tidak layak untuk menjadi manusia seutuhnya.”
Sebaris kalimat terdengar mengejek. Niao tetap berdiri dengan merapatkan kedua sayap. Sesaat melengos sebentar lalu berjalan ke arah lain meninggalkan Yongchun di sana.
“Niao! Kau di mana?” Yongchun memanggil.
Namun Niao tak membalas panggilannya. Ia pergi menuju ke balik batuan es yang besar. Uap dingin keluar dari sana dan menyejukkan tubuh Niao.
Sebelum ini Niao pernah mengatakan bahwa tubuh yang dimiliki oleh Yongchun adalah tubuh dewa. Berawal dari kedua mata yang menjadi sumber tenaga dalamnya dan membuat tenaga dalam itu kian meningkat.
Berkata bahwa diri Yongchun tidaklah cocok di dunia sana melainkan di sini. Tempat yang disebut sebagai Alam Neraka, adalah tempat yang cocok untuknya.
Mahkluk neraka memang menyerupai iblis itu sendiri. Karena itulah Seni Iblis lahir ke dunia dengan sebagai kekuatan yang dipinjam oleh para pendekar di timur laut.
Hal tabu namun di satu sisi, terdapat beberapa orang yang menggunakannya tanpa ragu. Meski pada akhirnya mereka akan mati sia-sia. Mati konyol dan tidak dianggap berharga oleh orang lain.
Setelah Yongchun terlepas dari genggamannya. Ia sekali lagi menyerangnya lalu menjaga jarak dan memastikan agar sosok itu tak mendekat.
Seraya melirik-lirik ke sekitar guna mencari keberadaan Niao, bahkan hawa keberadaannya lenyap. Namun Yongchun saat ini dalam kondisi buta akan sekitar. Ia hanya dapat melihat dirinya yang terluka sekaligus sosok itu serta neraka dingin yang membuat ia setengah mati.
Seolah ia berada di alam pikirannya sendiri. Dan memperjelas sosok itu sebenarnya. Ialah sosok yang mendiami tubuh Yongchun selama ini.
“Mata Dewa?!”
Sesaat berkedip dan aura itu menghilang. Menurunkan senjata lalu berpikir apakah itu benar? Yang barusan ia pikirkan?
Sebab selama ini ia tak pernah sekalipun mengerti akan keberadaan seperti itu.
“Aku bahkan tak pernah berdo'a. Bahkan apa yang menjadi sebutannya pun sepertinya tidak ada. Tapi apakah hanya aku yang tidak mengerti?”
Membingungkan!
__ADS_1
Sosok yang tidak jelas itu adalah sosok yang disebut dewa atau apalah itu? Tapi, mana mungkin. Yongchun pun terdiam sesaat menatap sosok tersebut hanya diam mematung.
“Ah, harusnya kau tinggal saja di sini,” celetuk Niao berjalan ke arah Yongchun.