Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
071. Gelombang Laut Merah


__ADS_3

Suara ledakan yang begitu keras hingga dapat didengar para pendekar yang tengah bersantai-santai di kotanya. Kepulan asap hitam yang besar pun menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali Diola, semula ia berlari masuk ke dalam perkotaan belakang, kini ia dikejutkan dan merasa bahwa orang yang ia cari ada di sekitar asap hitam itu.


“Bon! Kali ini apa yang kau lakukan, hah?! Tidak ada habisnya aku harus turun tangan seperti ini! Argh!!”


Sakit di kepala Diola makin memuncak, rasa stress yang didapat setelah masalah berangsur-angsur menumpuk satu demi satu semenjak kepergian penguasa sombong itu. Rasanya Diola seperti dipermainkan, hukum juga takkan berlaku bagi seorang pengkhianat, Bon.


Di dalam laut merah, yang terkenal misterius dan sampai saat ini tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi bila mereka masuk ke dalam sana.


Dan sekarang, Zhao Yun dengan Bon, mereka masih saja melanjutkan pertarungan mereka dalam laut merah tersebut. Sebelumnya Bon berhasil merancang rencana dengan membiarkan Zhao Yun menginjak benda peledak itu, tetapi berkat instingnya—Zhao Yun meliputi tenaga dalam tuk melindungi kedua kakinya. Karena itulah, peledak itu takkan mampu melukainya lagi.


Semula, air laut merah tampak tenang. Tetapi beberapa saat telah berlalu, laut mulai bergelombang hebat. Besarnya membuat dampak di pesisir, laut itu seolah tumpah membasahi pasir hingga basah dan merosot ke bawah laut.


Kejadian yang tak bisa dihindari. Sesekali air memberontak keluar dengan tajam ke atas, hal itu disebabkan oleh tebasan pedang Bon. Tak lagi menggunakan peledak andalannya, ia justru menyerang Zhao Yun dengan pedang kosong.


Zhao Yun terkekeh, semaksimal mungkin ia harus bertahan dalam air dengan tenaga dalamnya. Melihat Bon yang begitu antuasias, merasa ada celah yang sangat besar dan Zhao Yun pun memanfaatkannya.


ZRASHHH!!!


Ibarat hujan turun, gelombang laut menjulang naik ke atas, tak terkira seberapa lebar lautnya yang naik kemudian terbelah dan jatuh dengan deras. Sekali lagi, pasir-pasir kembali merosot masuk ke dalam laut. Entah apa yang akan terjadi jika banyak pasir masuk ke sana. Namun kemungkinan terburuknya adalah, mereka berdua bisa terkubur hidup-hidup.


Bertarung bisu, tanpa bicara mereka saling menyerang satu sama lain. Bon yang sebelumnya terdorong mundur karena tinju besi milik Zhao, ia kembali berenang maju namun gerakannya sedikit terhambat.


“Bocah yang tidak bisa mengendalikan tenaga dalam bisa apa? Kekuatan ini mutlak, tak bisa dikalahkan oleh orang biasa,” celetuk Zhao Yun dalam benaknya, meremehkan Bon.


Awalnya memang begitu, sempat ia nyaris tak seimbang karena perubahan gelombang dalam laut merah. Sudah begitu banyak benda-benda tajam di bawah, jika lengah sedikit saja ...


Habislah sudah.


Bon menahan tubuhnya agar dapat seimbang. Namun merasa tak diuntungkan jika ia terus-menerus ada di bawah air, Bon lantas berenang ke permukaan. Melihat Zhao Yun yang mengikutinya, ia melayangkan serangan titik berat memanfaatkan gelombang air laut.

__ADS_1


Tebasan yang sangat lamban, lembut namun mematikan. Zhao Yun masih di bawah dan saat terkena dampak tebasan serta gelombang laut, ia terdorong semakin ke bawah.


“Cih, menyebalkan!”


Bon akhirnya dapat menghirup udara segar. Namun setengah tubuhnya masih terendam oleh laut merah. Ia masih dalam keadaan terombang-ambing, seraya mengambil napas dalam-dalam. Setelah gelombang laut tenang, Bon berenang menuju ke tepian yang dimana pasir basah itu hendak merosot lagi ke bawah.


“Ya, ampun. Dia punya kekuatan aneh. Apa Asyura seringkali berhadapan dengan orang-orang seperti itu? Ah, tapi apa urusanku. Lagipula Asyura itu monster,” ocehnya menggerutu.


Semakin lama, pasir semakin lembek dan turun. Tiba-tiba saja pasirnya membuat Bon kembali jatuh ke laut bersamaan dengan tinju Zhao Yun dengan tenaga dalam yang menyerupai bilah pisau.


Membelah pasir dan laut itu dalam waktu singkat, semua orang yang berjalan ke sana hampir dihujani oleh laut merah.


“Menjauhlah! Jangan kemari! Laut merah itu berbahaya!” seru salah seorang dari mereka, berusaha memperingati rekan-rekannya tuk segera menjauh dari laut merah.


Tetapi, kepulan asap yang sudah menghilang, serta laut yang sempat mengamuk pun kembali diam. Tenang dengan laut yang mengalir pelan.


“Ini aneh, apa yang terjadi? Apa ada seseorang di dalam laut merah?”


“Bodoh, yang ada di dalam mungkin saja musuh. Meskipun mereka bisa keluar, tapi umur mereka pasti akan memendek. Untuk apa ditolong?”


“Musuh? Siapa lagi?”


“Bon, tentu saja. Pria itu masih kekanak-kanakan juga, lagipula kalau tidak ada dia, kita takkan lagi diganggunya.”


Beberapa orang merasa bersimpati akan keadaan orang yang telah jatuh ke laut merah, namun juga terdapat beberapa orang yang mengecamnya, Bon sudah tidak dianggap sebagai orang yang pantas hidup.


Kesenangan orang yang telah berharap Bon akan mati, justru lenyap dalam sekejap saat mereka mendapati dua orang muncul ke permukaan air laut merah.


Mereka semua terkejut, dan menyaksikan pertarungan hebat di antaranya. Bilah pedang Bon mampu menggores tubuh bagian depan Zhao Yun.

__ADS_1


Zhao Yun terlambat bereaksi, ia merasa nyeri karena pengaruh air laut yang masih mengandung garam walau hanya sedikit. Darahnya mengalir dan serupa dengan air laut merah. Namun, Zhao berupaya keras tuk kembali menyerang Bon dengan tinju mautnya.


Buakkk!!


Meski tidak sekeras saat ia di darat, namun dampak dari tinju bertenaga dalam tersebut membuat Bon kewalahan. Kedua bola matanya sempat memutih, nyaris ia tak sadarkan diri dengan mulut bersimbah darah. Organ dalamnya terluka, Bon sudah pasti takkan bangkit dalam kondisi seperti itu.


Pasti semua orang tak terkecuali Zhao Yun juga memikirkan hal sama.


“Pria kekar itu siapa?”


“Jangan banyak omong, cepat pergi dari sini dan laporkan pada Ketua Diola!”


Tubuh Bon semakin tenggelam hingga menyentuh ke dasar laut merah. Semula, pertarungan di antara mereka berhenti sejenak. Zhao Yun tahu betul kalau Bon memanfaatkan sesuatu lagi.


Datang dari bawah, gelombang laut yang dihasilkan oleh Bon kembali mendorong mundur Zhao Yun. Ia terdorong menjauh hingga rasanya ia tak lagi dekat dengan pemukiman.


Tak hanya didorong, bahkan goresan-goresan itu Zhao dapatkan karena serangannya. Bon berenang cepat menuju ke arah Zhao Yun sekali lagi, kedua kakinya mampu melampaui arus laut yang berlawanan arah darinya.


Zhao Yun mengepalkan tinju dengan tenaga dalam yang kali ini berlipat-lipat ganda. Namun suatu waktu, sebuah ide terlintas dalam benak.


Sosok Zhao yang tak pernah menggunakan akal, kini ia menggunakannya. Mencekik Bon dengan lengan besarnya, lantas berenang ke permukaan air.


Mereka berdua berenang ke tepian, Zhao Yun kemudian melempar tubuh Bon ke daratan. Lalu disusul olehnya.


“Aku tak bisa menahan napas lebih lama darimu, dasar!” amuk Zhao.


Bon terdiam bukan karena amukan Zhao ataupun karena luka dalam karenanya. Melainkan ia telah disambut bilah pedang yang siap memenggal lehernya dari belakang.


“Ketua Diola, kau sudah datang! Beruntung, pria kekar itu selamat, bukan?” lantur Bon.

__ADS_1


“Ah, sayang sekali kita tak bisa melanjutkan pertarungan,” gerutu Zhao Yun.


__ADS_2