Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
145. Perebutan Posisi Kekuatan dan Kedewaan


__ADS_3

Kedatangan Bon di hadapannya membuat Yongchun tersentak. Ia semula diam dan memperhatikan namun setelah beberapa saat dengan bertukar kata dengannya, Bon mengucapkan kata dengan kekuatan dewanya.


“Kau pasti bertanya-tanya ada apa denganku? Kenapa aku masih bisa menggunakan kekuatan yang katanya sakral itu, 'kan?” Seolah mengejek Yongchun, Bon memalingkan wajah seraya mengangkat kedua bahunya namun lirikan Bon masih menatap sinis Yongchun.


“Terserah kau saja, Khaleed. Tapi aku tidak ada urusan denganmu,” gumam Yongchun yang akhirnya dapat berbicara kembali.


Dari lengan kanannya muncul selaput kehitaman yang lalu berkorbar, api hitam seolah menyulut dengan ganasnya permukaan kulit Yongchun.


“Ah, itu pasti salah satunya ya?”


Ada hal yang sedikit janggal, Bon tampak biasa saja meski dirinya menyebut nama asli Bon. Bon sama sekali tak bergeming, seolah tubuhnya kebal.


“Pastinya kau kebingungan. Tapi, dia sendiri sudah berada di puncak yang sama.” Tiba-tiba suara bergema dalam tubuh Yongchun.


Dewa Hitam lah yang berbicara, sempat Yongchun terdiam sejenak berpikir apa yang dimaksud olehnya. Lantas, setelah perubahan Bon barulah ia mengerti.


Perubahan Bon dari segi penampilan dan sikapnya yang sedikit aneh itulah yang membuat Dewa Hitam berkata bahwa Bon dan Yongchun berada di posisi yang setara saat ini.


Tumbuh dua tanduk di kepalanya, taring tajam serta kuku yang tajam. Badan yang tidak berubah namun auranya sangat berbeda drastis sebelumnya. Yongchun terpengarah melihatnya yang juga memiliki evolusi yang sama.


“Tidak aku sangka kau berniat merebut posisi kedewaan? Katakan, apa alasanmu!” Perangai Yongchun yang semula tenang berubah menjadi amarah yang membludak tiba-tiba.


Yongchun sangat khawatir apabila Bon berniat melakukan suatu hal yang buruk dengan itu.


“Membunuhmu adalah prioritasku!” teriak Bon padanya.


TRANG!


Pedang mereka berdentang, bergetar kuat begitu saling beradu. Posisi Yongchun yang tiba-tiba berada di depan Bon dan menyerangnya memang membuat Bon terkejut tapi tidak membuat Bon lengah.


Merebut kekuasaan kedewaan kah?


Hal seperti itulah yang membuat di antara manusia saling bersitegang. Entah alasan baik atau buruk, semuanya sama saja. Pada akhirnya mereka akan saling bertarung untuk keserakahan mereka.

__ADS_1


“Kalau kau berniat untuk bunuh diri, maka aku takkan menghalangimu merebut kekuatan Dewa Hitam. Tapi aku tidak begitu yakin bahwa kau akan melakukannya!”


Syut! Syut! Syut!


Beberapa pedang bayangan muncul dan melesat dengan cepat dari arah belakang Bon yang kemudian menghujam keras punggungnya.


“Heh, kau pikir ini mempan untukku!”


Orang yang biasa menyebut rivalnya adalah Iblis, justru ia sendirilah yang cenderung dengan sikap sekaligus penampilan yang begitu mirip dengan Iblis jahanam.


Bon mempersiapkan serangan, namun langkahnya sedikit gentar karena mata kirinya mendadak jadi buta. Yongchun mendongakkan kepala yang sebelumnya tertunduk, ia terkejut saat melihat Bon memiliki Mata Dewa.


“Puh, mangsa terberat!”


Sembari meludah ke samping, Bon menggunakan sebelah tangan untuk menahan pedang Yongchun lalu menggunakan satu tangannya yang lain untuk menyerang.


Ia memusatkan suatu energi dalam tubuhnya ke jari jemari, membentuk seakan ia membuat pedang baru. Bon mengangkatnya tinggi lantas mengayunkannya ke bawah menyerang bagian tubuh depan Yongchun secara langsung.


Bersamaan dengan itu, reflek Yongchun melompat mundur namun serangan Bon tetap mengenai tubuh Yongchun. Menebasnya dan membuat luka semakin bertumpuk-tumpuk.


“Berlututlah!”


BRUK!


Satu kata ibarat perintah mutlak tertanam jelas pada otak Yongchun yang seketika duduk berlutut seperti perintahnya itu. Bon berjalan menghampirinya sembari menyunggingkan senyum puas.


“Aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini, Asyura.”


Bon kembali mengangkat pedang pendeknya. Pedang pendek itupun bukanlah pedang pendek miliknya sendiri, yang berarti pedang itu terbuat oleh kekuatan Dewa Hitam.


“Tunggu!” Suara jeritan anak kecil terdengar, dan seketika Bon menghentikan gerakannya lalu menoleh ke belakang.


“Siapa?” Merasa terganggu, ia sangat geram terhadap suara yang memintanya untuk menunggu.

__ADS_1


Muncullah seorang anak lelaki dengan pedang berwujud asli. Semula pedang itu dalam keadaan tenang, garis merah yang biasa redup dan gelap itu seketika menjadi terang. Menunjukkan keberadaan pemegangnya saat ini yang berada di balik kabut.


“Pedang itu, tak aku sangka kau masih menyimpannya? Tapi tunggu, kenapa bentuknya berbeda dari yang aku lihat sebelumnya? Dan oh ya, baru sadar ketika menginjakkan kaki ke sini kalau kau sudah tidak memiliki pedang yang asli.”


“Hentikan ocehanmu!” pekik Yongchun seraya melayangkan serangan ke leher Bon, namun Bon masih sempat menghindar dengan baiknya. Ia bahkan tak pernah melepas senyum sok liciknya itu.


“Aku tidak menyangka bahwa kau akan memiliki ekspresi seperti itu selain ekspresi geram kepadaku, Bon. Sebenarnya seberapa besar kau dendam kepadaku?”


Yongchun kemudian berdiri setelah kata dari kekuatan God Mouth lenyap dalam beberapa waktu. Ia menatap Bon dengan sebelah mata yang masih dapat melihat.


“Seberapa besarnya? Itu tidak terhingga. Di samping aku iri, aku juga sangat membencimu hingga ke akar-akarnya,” ketus Bon mengangkat sebelah alisnya seraya menurunkan bilah senjata itu.


Yongchun melirik ke belakang sembari mengucapkan, “Hei, bocah! Di sini tidak aman! Pergilah!” Ia meninggikan suaranya.


“Ta-ta-!” Bocah itu sangat gugup, kata-katanya terbata-bata.


“Pergilah!” Kemudian Yongchun berteriak lagi.


Bocah yang baru saja diberi nama Ryo itu pun beringsut. Ia menjadi tak berguna ketika sang guru membutuhkan bantuan entah dengan apa pun caranya. Sejujurnya Ryo datang juga karena khawatir jika terjadi sesuatu pada Yongchun.


Kedengkian Bon membuat amarahnya semakin membesar dan tak wajar, itulah yang terjadi padanya saat ini. Ia melayangkan segala serangan disertai amarah, meski kuat namun masih banyak celah-celah walau celah kecil sekalipun.


“Aku tidak akan membuatmu merasa bangga atas dendam ini, Bon!” Tekad Yongchun membulat, ia takkan membiarkan pengorbanan istri tercintanya menjadi sia-sia.


Syak! Syak! Syak!


Sabetan pedang membentuk beberapa bilah yang tajam seketika melesat dan mengayun dalam udara ke arah Bon. Seperti biasa, Bon mudah menangkis setiap bilah itu bahkan juga sekilas ia terlihat seperti melenyapkannya dengan membakar.


“Api hitam yang sama. Sungguh tak terduga,” gumam Yongchun yang kemudian memperpendek jarak di antaranya.


Bon sempat terkejut karena kecepatan Yongchun yang pada saat itu menggunakan kekuatan pikiran, namun lagi-lagi Bon memiliki serangan tuk menangkis segala kelemahannya. Seolah ia sama sekali tidak memiliki celah, celah sebesar langit-langit pun rasanya sama sekali tidak terlihat.


Swwuuushh!

__ADS_1


Datang angin menerpa Yongchun, langkah Yongchun terseret mundur karenanya hingga menyapu kabut malam yang berada di belakang. Tak butuh waktu lama Yongchun kembali mempersiapkan serangan, dari pedang ke tangan hitam itu lagi.


__ADS_2