
“Aku tak mengira bahwa ada sungai macam ini?” Yongchun bergumam heran lantaran sungai yang ada di hadapannya itu beku dan di satu sisi juga tidak beku.
“Namanya juga alam neraka. Kau pikir ini seperti festival musim dingin atau semacamnya? Termasuk sungai ini pun akan tetap mengalir sepanjang perjalanan kita, namun akan membekukan segalanya yang masuk ke sungai ini.”
Niao dan Yongchun pun bangkit, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rasa dingin juga tidak sepenuhnya mereda justru semakin kuat saja. Kulitnya mengelupas lagi dan lagi.
“Mau aku bantu hangatkan tubuhmu?” tanya Niao yang merentangkan kedua tangan tuk menawarkan sebuah pelukan padanya.
“Aku tidak sudi dipeluk laki-laki. Lebih baik kita segera pergi dari sini,” ujar Yongchun dengan kerutan di dahinya. Seraya ia memeluk tubuhnya yang dingin.
“Hei, aku bisa menjadi perempuan. Aku juga bisa menjadi orang tuamu, nenekmu, kakekmu atau kakakmu juga bisa. Oh, atau kau sudah punya istri?”
“Jangan pernah kau merubah wajah dan tubuhmu sebagai istriku! Tidak akan kumaafkan kau, kalau melakukan hal itu!” ketus Yongchun. Ia terus berjalan tanpa henti. Bahkan saat berbincang dengan Niao saja ia tak melirik.
“Yah, tidak asik.”
“Ngomong-ngomong kapan kita bisa pergi keluar?” tanya Yongchun.
“Aku tidak bisa menemukan lokasi yang cocok untuk membuka pintu di sekitar sini, pendekar pedang. Jadi bersabarlah.”
“Tidak bisakah kau terbang seperti saat sebelumnya?”
Niao menggelengkan kepala. “Di neraka ini, aku tak bisa. Karena terlalu dingin, sayapku pasti akan membeku.”
“Oh, ya? Begitu kah?”
“Memang aku adalah makhluk neraka tetapi aku punya batasan sendiri di setiap lapisan lain yang bukan tempat asalku. Lalu, ingatlah, untuk membuat pikiranmu tetap positif dan jangan terbawa emosi.”
Tersirat beberapa makna dalam kata-kata yang dilontarkan oleh Niao. Sebagai siluman burung, dan sebagai makhluk neraka tentu ia tahu segala hal yang ada di neraka seperti ini.
Niao bilang kalau lapisan neraka terdapat 7 sampai 10 lapisan. Setiap lapisan itu berbeda-beda, termasuk kedua yang pernah dilewati oleh Yongchun.
__ADS_1
Neraka yang panas lalu neraka yang dingin. Keduanya benar-benar tidak bisa Yongchun tahan.
Terutama panas yang sebelum ini ia rasakan, panas itu hampir menyerupai wilayahnya yang selalu bersinar terang dengan hawa panas yang membuat para penduduk cepat kelelahan. Tetapi itu jelas tak sama, panasnya membuat ia mati.
Namun Yongchun beruntung, apa pun yang selama ini ada di dalam tubuhnya sudah berulang kali menyelamatkan dirinya.
“Bisakah kau ceritakan, darimana asalmu, Niao?” tanya Yongchun.
“Aku berada di kegelapan. Kau mungkin tidak akan bisa menahannya begitu lama seperti saat ini,” tutur Niao.
“Aku belum ke sana. Jadi untuk apa kau berkata begitu, orang lain mungkin akan pesimis saat mendengar kalimatmu itu, Niao.”
“Kau benar. Namun, ini betulan yang pertama kalinya. Kebanyakan makhluk neraka saja sudah pasti tak sanggup untuk berada di sana,” celetuk Niao.
“Jadi, itu alasanmu kabur?” pikir Yongchun blak-blakkan.
“Tidak. Aku tidak kabur, aku hanya ingin berkeliling saja. Lalu aku bertemu denganmu yang memiliki takdir kuat. Aku sungguh beruntung,” ucap Niao tersenyum lega.
“Ya. Hanya aku yang bisa.” Niao tidak tersenyum biasa, ada sesuatu sehingga seringai itu ditunjukkan.
Sekilas, Yongchun melihat setitik jiwa di dalamnya. Entah apa maksudnya itu, ia pun memutuskan untuk menghiraukannya saja.
Perjalanan ini semakin lama semakin panjang. Yongchun kalut akan perasaannya sendiri, mengetahui siapa Kaisar Ming yang ternyata bukanlah manusia. Tetapi, mendengar hal itu langsung dari sumber informasi pun takkan cukup untuk membuatnya tenang.
Apa pun, di manapun, ia harus segera keluar dari sini. Karena jika tidak, entah bagaimana nasib orang-orang di luar sana.
Meskipun, di alam neraka terdapat perbedaan waktu dengan dunia. Seperti 1 tahun di neraka adalah 1 hari di dunia. Yongchun tetap merasa gelisah, belum lagi festival musim semi di sana mungkin saja sudah terlewat dan rencana gagal.
“Mendadak jadi khawatir begini. Kalau saja memiliki jalan pintas.” Dalam batin, ia sedikit berharap.
Niao pun mendengarnya lalu ia terkekeh-kekeh. Berjalan di sampingnya sampai bulu-bulu dari sayapnya itu jatuh satu persatu.
__ADS_1
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Yongchun bernada kasar.
“Hm, tidak?” Niao sedikit berdeham. Lalu menghela napas. “Iya. Tidak apa. Hanya saja agak lucu kalau mendengar berharap seperti itu. Padahal kau bisa melakukan apa saja di tempat ini. Apalagi, hidupmu tak seperti manusia yang ada di luar sana,” tutur Niao seraya mendekatkan wajahnya dan memperhatikan setiap garis di wajah Yongchun.
“Hei, menjauhlah!” pekik Yongchun, menjaga jarak dan seketika berwaspada.
“Aku tak pernah dengar manusia dengan tubuh dewa masih punya harapan kuat. Apalagi tujuanmu untuk keluar dari sini. Benar-benar sungguh mencengangkan,” tutur Niao melihat lurus ke depan.
“Aku tak mengerti apa maksudmu ...”
“Dulu ada satu dua orang yang seperti dirimu. Mereka memiliki tubuh dewa tapi apa yang mereka lakukan dengan itu saat menyadarinya? Mereka berfoya-foya lalu mati dalam kenangan terburuk.”
Niao menceritakannya dengan wajah tak bisa dimengerti. Seolah menertawakan mereka yang mati konyol lalu menertawakan Yongchun karena ia memiliki suatu ambisi atau semacamnya.
Meski Niao terlihat seperti mahkluk neraka yang lain. Tapi ia tak pernah mengincar Yongchun semenjak tadi. Entah memang niatnya baik atau ada maksud terselubung.
Kala itu ...
Sosok yang lain telah datang. Entah ilusi atau apa pun itu, Yongchun pun terpaksa menghadapinya. Bahkan Niao di sana tidak terlihat, seolah memang harus ia seorang yang menghadapi sosok tersebut.
Sosok yang terlihat manusia tetapi juga tidak, dengan warna biru keputihan. Warnanya tampak menyatu dengan neraka dingin, sehingga Yongchun mulai menjaga jarak.
Namun tiba-tiba saja, sosok tersebut melesat ke hadapannya. Memunculkan sebuah pedang dan menyerangnya dengan memutar, Yongchun pun hanya menangkis dengan sedikit terdesak mundur. Langkahnya terseret ke belakang lalu mulai memperkuat bagian bawah tubuhnya.
Ketika ayunan pedang darinya cukup lambat untuk dikatakan sebagai serangan, Yongchun mengambil kesempatan itu dengan gerakan pedang yang menusuk ke dalam. Sehingga gerakan dari sosok itu berhenti walau hanya sekejap.
“Neraka ini ada-ada saja ...” gumam Yongchun.
Sebelum bergerak, Yongchun yang telah menusuk bagian tengah tubuhnya melangsungkan serangan secara vertikal, yang kemudian membelah tubuh sosok tersebut menjadi dua bagian.
“Harusnya dengan begini dia akan hancur.”
__ADS_1
Perkiraan Yongchun meleset. Tak ia kira bahwa sosok ini seolah tak bisa ia bunuh. Tubuh yang terbagi itu menyatu kembali dan mengayunkan senjata tepat menuju ke lehernya.