Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
079. Hasutan Iblis


__ADS_3

Kehadiran Yongchun membuat seisi halaman menjadi hening seketika. Tak terkecuali dengan para pemimpin kultus 7 surgawi tersisa, mereka serentak menengadah dan melihat kepala itu yang kemudian terjatuh lalu menggelinding ke arah mereka.


Kaisar Ming dijatuhkan! Tidak, dibunuh! Tanpa belas kasihan sedikit pun. Wajah Yongchun berubah menjadi sedikit sepat meski saat ini ia sedang berusaha untuk menyunggingkan senyum.


Relia, Nia lalu Bing He, mereka bertiga pula merasakan hawa keberadaan Raja mereka lagi. Mereka berlari mengejar di manakah hawa keberadaan itu berada. Setelah sampai di gerbang terbuka, halaman istana dipenuhi oleh banyak orang dengan menatap lurus lantas bertekuk lutut secara bersamaan.


Bruk!! Disusul diri mereka bertiga. Namun tidak dengan Xie Xie dan Wang Xian. Mereka tetap berdiri tegap dan sorot matanya mengarah langsung pada Yongchun seorang.


Keringat dingin mulai bercucuran dengan deras. Para putri Kaisar Ming berlinang air mata. Kepala mereka tertunduk seolah memberi hormat pada sosok pendekar tersebut.


Tak berhenti tangis mereka yang merengek dalam batin tuk membiarkan mereka tetap hidup. Khususnya para pengawal Kaisar yang sama sekali tak berkutik. Terdiam dengan tekanan hebat darinya.


Yongchun mengayunkan pedangnya dan darah yang ada pada pedang itu pun lantas terciprat ke lantai. Tanpa menyarungkan pedangnya, Yongchun kemudian mengulurkan tangan kiri tuk membantu Yu Jie bangkit.


“Tuan ...kau menolongku,” ucap Yu Jie terharu seraya menerima uluran tangannya.


“Sudah kubilang, aku akan menolongmu kalau kau butuh bantuan,” jawabnya dengan dingin.


Pakaian Yu Jie juga terkena simbahan darah saat setelah kepala Kaisar Ming terpenggal lalu tubuh itu terjatuh mengalirkan banyak darah.


Padahal waktunya sangat singkat tapi entah kenapa mereka yang saat ini tengah bertekuk lutut itu merasa waktu serasa diperpanjang. Bahkan jatuhnya Kaisar Ming terlihat melambat seolah mereka harus menyaksikannya dengan tangis sedih bagi para penduduk dan tangis bahagia untuk para pembrontak.


Emosi bercampur aduk menjadi satu. Tatapan Yongchun terlalu sepat untuk dilihat. Terutama gelora api yang seolah membakar kedua matanya. Api hitam bergerak seiring desiran angin malam berhembus ke bagian barat.


Tap! Tap!


Beberapa langkah seraya ia menuntun Yu Jie ke arah kedua kakaknya.


“Apa yang akan Tuan lakukan?” tanya Yu Jie dengan perasaan cemas.


“Apa kedua kakakmu juga menganggumu?” Tidak menjawab justru Yongchun bertanya padanya.

__ADS_1


“Mereka, kakak-kakakku selalu memarahiku. Setiap saat mereka juga terus mengangguku. Aku sudah muak,” ungkapnya dengan penuh kejujuran.


“Hei, apa yang barusan kau katakan?!” Kakak tertuanya berteriak marah.


“Hei, sst ...jangan.” Namun kakak kedua mengisyaratkan dengan satu jari tanda untuk diam saja.


Nampaknya kakak kedua tahu kalau sosok Yongchun sudah tidak dapat dianggap mudah lagi. Mereka mungkin saja akan mati kalau tiba-tiba berbicara, itulah yang ia rasakan.


Yu Jie melepas genggaman tangan dari Yongchun. Kemudian menyatukan genggaman tangan ke dada. Sembari berpikir sesuatu dengan wajah gelisah bercampur ketakutan.


“Jadi, apa yang ingin kau lakukan? Putri Yu Jie ...” Yongchun kembali berbicara.


“Aku akan memaafkan mereka,” tuturnya dengan lembut.


“Benarkah?” Kembali bertanya dengan rasa tak percaya.


Lantas kedua kakak Yu Jie pun merasa senang saat mendengarnya. Kali ini mereka lolos, terbesit suatu pikiran yang sama seperti itu.


Yu Jie tersentak lalu mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Ia ragu dengan keputusannya barusan namun tak tahu harus melakukan apa terhadap dua kakak yang berusaha untuk membunuhnya.


Yongchun kemudian merogoh pakaian salah seorang di sana, ia menemukan sebuah belati yang tampak masih bagus dan tak pernah dipakai sebelumnya.


Yongchun menarik tangan kanan Yu Jie lalu menyerahkan belati ke telapak tangan yang terbuka.


“Hanya memaafkan takkan membuat mereka jera. Nah, kira-kira apa yang akan kau lakukan dengan belati ini?” ujarnya meringis kegirangan.


Pikiran Yu Jie mudah sekali ditebak. Dari awal dia memang sangat lemah namun bukan berarti tak ada kesempatan baginya tik membalas dendam. Yongchun menyerahkan belati itu adalah sebagai tanda bahwa Yu Jie harus melukai atau membunuh sebelum dibunuh oleh mereka ke depannya.


Yongchun sangat licik, memanfaatkan hati yang lemah itu untuk menghasutnya lebih dalam.


“Mereka pantas mati!” tegas Yu Jie sembari menggenggam erat belati itu.

__ADS_1


Mendekat lantas berbisik lembut di telinganya, “Benar sekali. Orang-orang seperti mereka. Yang selalu menginjak kelemahan adalah manusia terburuk yang pernah ada di muka bumi ini!” celetuknya kembali menghasut dendam yang terbenam dalam hati Yu Jie.


Tap! Wang Xian datang, menepuk pundak Yu Jie dan membuatnya tersadar.


“Jangan sampai Putri Yu Jie terhasut oleh ucapan seorang iblis,” ucap Wang Xian dan berbalik menatap Yongchun dengan penuh emosi.


Lantas menarik pedang, sesaat sebelum menyerang, Wang Xian menyuruh Yu Jie untuk pergi selagi bisa. Karena pertarungan di bawah lentera berdarah masihlah belum usai.


Cwak! Ayunan pedang bagai cambuk menghantam keras dan membuat Yongchun terdorong mundur begitu jauh.


Langkahnya terseret, kini masih mampu berdiri. Sedikit ia membungkukkan badan dan menerjangnya dengan ayunan pedang tunggal berkali-kali.


Pertarungan terasa mendebarkan, terutama untuk semua orang yang tengah menonton dan hanya dapat berdiam diri di sana. Tak seorang pun yang menganggu mereka.


Kedua pedang itu pun beradu hingga kemudian saling menahan bilah pedang satu sama lain. Sama-sama kuat, Wang Xian nyaris menyeimbangi kekuatan Yongchun.


Tenaga dalam mereka yang saling berlawanan itu pun kini semakin dikeluarkan sering waktu. Pedang yang lurus dialiri tenaga dorong angin, sekali lagi membuat Yongchun terdorong mundur.


Tidak butuh waktu lama untuknya menyelaraskan serangan. Setelah ia menarik pedang kedua dialiri kobaran hitam, Wang Xian tampak terkejut. Langkahnya menjadi sangat cepat dari sebelumnya, menyilangkan lengan dan bilah pedang tersebut berhasil menggores tubuh Wang Xian tanpa ampun.


Tanpa memberinya napas, Yongchun mengubah posisi bertarung dan cara ia menggenggam pedang. Tepat di ujung, terasa bilah pedang kian memanjang.


Drap! Terdesak, Wang Xian melompat mundur namun api hitam itu kini menyala dan terus menjalar ke arahnya hingga kekuatan itu menusuk dada bagian kiri.


“Hahh ...malam ini sangat dingin,” gumam Yongchun menengadah ke langit. Seraya menyarungkan kembali salah satu pedangnya.


“Dia benar-benar berbeda. Apa hanya aku saja yang merasa bahwa dia masih belum serius menyerangku?” pikir Wang Xian dengan tubuh sedikit merunduk.


Darah yang mengalir dari semua lukanya seketika tertutup saat tenaga dalam menyelimuti tubuhnya dengan baik. Perlahan semua luka itu kembali pulih dan hanya menyisakan bekas saja.


Yongchun menoleh, menatap Wang Xian yang memiliki emosi tertinggi dari sekian banyaknya orang. Ia menghela napas panjang lalu menggosokkan wajahnya berkeringat.

__ADS_1


“Apa karena aku baru saja keluar dari neraka, ya? Aku merasa dingin tapi keringatku terus mengalir.”


__ADS_2