
“SUDAH CUKUP, KAU MEMPERMAINKAN DIRIKU, ASYURA!”
Untuk pertama dan terakhir kalinya, Kaisar Ming memanggil namanya dengan keras. Ia benar-benar sudah sangat marah setelah banyak digunjing langsung di depan wajahnya.
“Kesepakatan kita telah berakhir setelah kau berani mengatakan hal-hal buruk itu langsung ke hadapanku! Aku benar-benar ingin membunuhmu!” pekik Kaisar Ming.
Ia menyentuh wajah Yongchun, terdapat sebuah guratan hitam yang mulai menjalar dari wajah ke seluruh tubuhnya.
“Harusnya aku yang bilang begitu,” gumam Yongchun seraya ia berusaha melepaskan genggaman Kaisar Ming.
“Kau tadi bertanya apakah aku yang membunuh Luo? Ya! Itu benar, Yongchun. Aku tak pernah mengira bahwa pengikutku yang setia ternyata bisa berkhianat seperti itu,” ungkap Kaisar Ming dan mengeratkan tangannya lebih kuat.
Wajah Yongchun terasa akan hancur karenanya. Sakit yang ia rasakan membuat aliran darah tersumbat, napasnya pun berat. Sedikit ia merasa sesak dan ada sesuatu yang tengah mengalir di pembuluh darah, sesuatu yang asing entah apa itu.
“Aku melakukan segala cara untuk menghapus jejak pembunuhanku sendiri. Melakukan itu agar kekuasanku semakin berumur panjang hingga saatnya aku mati!”
“Apa ...yang kau ...lakukan itu jelas salah!” sahut Yongchun, hendak meraih salah satu pedangnya.
“Kau yang telah mengetahui segala hal tentangku pasti akan membuat hidupku hancur. Akan aku pastikan jiwa ...tidak, tubuhmu sekaligus masuk ke dasar neraka!”
Sudah terlambat bagi Yongchun untuk menyerangnya, sebuah guratan yang sama persis seperti Wang Xian lakukan sebelum ini. Serta rasa sakit yang sama, seolah ia akan mati karena tertelan guratan-guratan tersebut.
Entah apa yang dimaksud oleh Kaisar Ming, namun ketika guratan itu kembali muncul dan mengalir lebih cepat dari sebelumnya, hempasan angin dapat ia rasakan di sekeliling.
Mengitari diri Yongchun dengan angin berwarna kehitaman. Semakin cepat dan semakin besar. Relia, Bing He lalu Nia, orang-orang yang mengerti akan keadaan itu pun sontak terkejut.
Dan tiba-tiba saja merasa bahwa kehadiran Yongchun lenyap dalam sekejap.
Bahkan para pengawal pendekar yang melihat, sebagai saksi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Menyerahkan segala urusan itu pada Kaisar Ming sendiri, mereka hadir dalam rasa ketakutan yang luar biasa karenanya.
Hempasan angin mengalahankan hangatnya musim semi. Bunga yang bermekaran indah, lalu hilangnya sosok penguasa wilayah timur tengah. Awal musim semi yang seharusnya dirayakan, dinikmati dengan baik apa adanya justru membuat keadaan di sekitar menjadi kacau.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?”
Sosok wanita tangguh, Relia Tan. Bilah pedang miliknya patah begitu ia mengayunkannya. Seolah memberitahukan bahwa hal buruk telah terjadi saat ini. Kedua tangannya bergemetar.
“Yongchun, kau sudah bekerja keras untukku. Tadinya aku ingin sekali kita berdamai, melihat kau sama sepertiku. Tetapi tidak bisa. Sebab, kau telah mengetahui hal yang tak boleh kau tahu.”
Kaisar Ming menatap para pengawal istana. Tatapan yang menukik tajam, dan menghamburkan kepekatan hitam lalu melahap mereka semua. Senyap, tak seorang pun tersisa. Mati dalam keheningan.
Hingga menyisakan Kaisar Ming seorang diri.
“Andai saja dia tak tahu. Maka penyatuan negri akan berjalan lancar,” gumamnya dengan menyeringai.
***
Hangat ...
Tidak!
“Tunggu ini ...neraka? Apa aku sudah mati?”
Neraka, tempat di mana semua orang yang mati setelah banyak dosa yang ia tanggung. Hanya itu yang Yongchun tahu.
Situasi yang rasakan ini, sungguh tak mungkin bahwa itu adalah surga. Melainkan neraka, betul-betul sebuah neraka tak berdasar yang dikatakan oleh Kaisar Ming.
Tanah yang ia pijak juga bagian dari neraka. Langit yang ia pandang juga bagian dari neraka. Sejauh mata memandang hanya terdapat api di mana-mana.
Langit gelap, tanah berapi lalu bau anyir darah dan nanah bercampur jadi satu. Menyengat di hidung. Firasat buruk yang telah lama ia rasakan ternyata karena ini.
“Yang benar saja. Aku sudah mati?!”
Mendapati dirinya di dalam neraka, neraka yang tak berdasar. Lalu, berpikir bahwa ia sudah mati. Namun apakah itu benar adanya? Sebab ia mengingat bahwa Kaisar Ming pernah berkata, "Akan kubawa tubuhmu ke dasar neraka!", sebaris kalimat yang kemudian Yongchun benar-benar tiba di neraka.
__ADS_1
“Hidupku kenapa jadi hancur begini? Dasar Kaisar itu, masih untung aku tak mengangkat senjata. Memang mustahil ya, kalau dalam damai ...”
Tak hanya api yang ia rasakan, bahkan aura miliknya seolah diperkuat. Pancaran aura itu keluar masuk dari dalam tubuhnya, ketika ia berjalan dan terus meregenerasi kakinya yang terbakar, sosok makhluk dengan sayap besar datang dan membawa tubuh Yongchun terbang.
“Eh? Apa?”
Panik, juga terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Ia dibawa ke atas langit yang luar biasa panas rasanya. Nampaknya, burung besar itu membawanya namun tak hanya sekadar membawa, burung itu justru hendak menjatuhkan Yongchun ke lautan api.
“Benar-benar gila, ada apa dengan neraka sebenarnya? Tak kusangka, aku harus mengalami hal ini setelah mati!”
Berpikir bahwa dirinya benar-benar mati, tapi Yongchun terlihat tak hanya pasrah jika tahu dirinya akan dijatuhkan ke lautan api.
Suara nyaring dari burung itu memekikkan telinga, sigap ia menarik pedang dan menebas kedua kaki yang mencengkram pundaknya.
Beruntung, ia memotong kedua kaki burung itu. Karena jika tidak, ia akan jatuh ke lautan api. Setidaknya bisa menghindari kemungkinan terburuknya.
“Ugh! Panas sekali rasanya. Neraka benar-benar mengerikan.”
Meski tak bisa mati, namun bukan berarti tak dapat dilukai. Jelas itulah kondisi Yongchun yang sebenarnya. Menghindari lautan api, tapi berujung ke dasar yang sama.
Tanah untuknya berpijak, seperti bagian dari gunung merapi. Sesaat alam neraka berguncang kuat, ia nyaris terjatuh.
“Kaisar Ming rupanya bukan kaisar biasa. Entah aku memang sudah mati atau hidup. Tapi rasanya tubuh ini semakin kuat jika aku terus berjalan lurus. Dan lagi, pakaian yang aku kenakan, pedang dan lainnya masih ada padaku saat ini. Kalau begitu, apakah aku dipaksa kemari?” celetuk Yongchun dengan kening berkerut.
Tak banyak yang ia tahu mengenai alam neraka. Selain panas yang tak terkira, mengira-ngira apakah ada jalan lain pun sepertinya tidak ada.
Neraka tak berdasar. Sejauh mata memandang, hanya terdapat api yang merupakan bagian neraka. Tak ada hal lain.
Kecuali, beberapa mahluk yang sama datang kembali. Bahkan mahluk yang sudah tidak punya kaki juga nekat untuk mengejar diri Yongchun.
“Bagaimana bisa aku bertahan hidup kalau begini caranya? Bahkan jika aku sudah dianggap mati, tapi ini benar-benar nyata dan dapat kurasakan begitu jelas!”
__ADS_1