Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
033. Mata Dewa Bagian III


__ADS_3

“Cepat menyingkir!” teriak Wang Xian menghampirinya.


Ia melepaskan tenaga dalam yang kemudian mengalir ke tubuh Yang Jian. Semua luka karena tusukan pedang bayang perlahan pulih.


Wang Xian tidak membuang waktunya hanya untuk diam mematung seperti tadi, ia menggeser tubuh Yang Jian agar menjauh dari sisi Yongchun dengan sosok yang gila.


Grep!


Ia menyentuh wajah Yongchun dengan tenaga dalam yang berpusat pada satu titik di telapak tangan kanannya. Menggeram atas kekesalan yang menumpuk seiring waktu, Wang Xian membuat tenaga dalam itu mengalir dengan pelan. Seperti aliran sungai yang tenang.


Tak seperti kiasan yang terlukis, justru itu memperburuk keadaan Yongchun. Terasa sangat luar biasa sakitnya hingga teriakan Yongchun terdengar amat keras. Menggema ke sekitar daerah sana.


Relia dan Nia mendengar suara teriakan itu. Sangat jelas dan membuat perasaan keduanya makin gelisah. Firasat buruknya menjadi nyata, mereka pun segera beranjak dari sana tuk menuju ke asal suara.


“Jangan kau pikir ini akan terjadi kembali, Yongchun!” pekik Wang Xian.


Yongchun meronta-ronta, meminta untuk dilepaskan. Jeritannya terdengar sangat nyaring, seakan melolong ke langit.


Kedua matanya pun tak berhenti mengalirkan kekuatan hitam tersebut. Seiring berjalannya waktu, tetesan demi tetesan darah hitam menggenangi di bawah kedua kaki mereka.


“Kuh ...!” Yongchun meringis kesakitan, ia menggenggam pergelangan tangan Wang Xian dengan kuat sampai rasanya tulang itu akan patah.


“Wa ...Wang Xi-Xian!” Menyebut namanya dengan suara serak, guratan-guratan yang adalah wujud tenaga dalam milik Wang Xian telah merasuk ke raga Yongchun sampai membuat kekuatan iblis yang tadi melekat di tubuhnya pun menghilang tanpa jejak.


Begitu juga dengan genangan hitam di bawah mereka. Perlahan menghilang dengan kuatnya ia menekan wajah Yongchun.


“Dia serius ingin membunuhnya?” tanya Li Bai dengan berbisik langsung ke telinga Xie Xie.


Xie Xie secara reflek menghindar dengan malu-malu lalu menjawab, “Aku pikir, Yongchun tak semudah itu ditumbangkan. Kita juga tak perlu ikut campur lagi.”


“Oh, benar juga.” Li Bai menutup kipas kertasnya. “Lagipula hal semacam itu, meski Wang Xian adalah ahlinya, ia takkan mampu menangani Sang Mata Dewa,” imbuhnya.

__ADS_1


Srang!


Baru saja dibicarakan. Semula yang dipikir lebih unggul Wang Xian namun sekarang berbalik posisi, dimana Yongchun memotong lengannya dengan sekali tebasan pedang.


Wang Xian memundurkan langkah dengan menahan rasa sakit yang tak tertahankan.


Kebengisan Yongchun ditunjukkan pada para pemimpin kultus juga pasti membuat Wang Xian senang karena inilah sosok sejati iblis.


Guratan-guratan itu menghilang dan kekuatan Yongchun juga sama lenyapnya. Saat itu ia masih sadarkan diri, menahan kekuatannya itu agar tak lagi bertindak lebih dari yang seharusnya.


Seperti yang Yongchun katakan sendiri sebelumnya, kalau ia bisa saja membunuh Wang Xian dan Kaisar Ming begitu sampai ke wilayah timur laut ini. Bayangkan saja, kalau ia membiarkan kekuatan Mata Dewa itu bergerak sesuai keinginannya, maka pasti wilayah kekaisaran akan hancur tak tersisa.


Sama seperti saat perang saudara.


Wang Xian cukup kolot. Ia menerjang lagi dengan pedang di tangan kirinya. Mengayunkan pedang secara acak, namun pola serangan itu masih terlihat sangat beraturan.


Bagi Yongchun yang menahan diri demi penyatuan negri timur, ia hanya perlu menghindar dari satu sisi ke sisi yang lain. Bergerak cepat meski tak secepat ayunan pedang yang membabi buta itu.


Di tengah pertarungan, Yongchun tanpa sadar mengingat kenangan bersama dengan sahabat karib. Hanya sekilas saja yang ia ingat, dulu sahabatnya pernah bertanya, "Apa yang kau lakukan agar perang di dunia ini tak lagi terjadi?", sesaat ia berkedip lalu menoleh ke arah laut dan gunung.


“Kau lihat ke mana?!” amuk Wang Xian, menggores bawah kelopak matanya.


Melirik ke arah lawan saat ini, ia menghindar satu langkah ke belakang dan memunculkan kembali beberapa pedang dalam wujud bayangan.


Serangan bertubi-tubi yang mustahil untuknya menghindar. Sinar rembulan menyorot wajah dengan terkejut dan pasrah akan semua pedang bayangan menusuknya bersamaan di satu titik tubuh Wang Xian.


“Pemimpin Wang, kau berkata padaku untuk tidak menyingkirkan pria ini, bukan? Kalau iya, maka sudah kupastikan mulai besok dia masih hidup. Meski anggota tubuhnya tak lengkap lagi,” tutur Yongchun berbicara pada Yang Jian yang kini napasnya terengah-engah.


“Mata Dewa benar-benar tidak bisa ...dilawan, benar?” gumam Yang Jian, tetap duduk dengan tenang di sana.


Wang Xian pun ambruk setelah pedang bayangan itu menembus tubuh. Sudah tak sadarkan diri dengan derasnya darah yang terus mengalir.

__ADS_1


***


Di kediaman utama Wang.


“Paman, apa kau tak apa? Hei, bangunlah!”


“Apa kau bodoh? Mana mungkin dia terbangun dalam kondisi sekarat seperti ini. Paman Zhao Yun tidak sempat melindungi dirinya sendiri dan karena itulah seluruh tubuhnya terbakar.”


“Ya, ya, aku mengerti. Aku 'kan hanya takut jika dia tak bangun lagi. Dasar!”


Saat ini Zhao Yun berada di kediaman utama Wang. Tubuhnya terbaring di sana karena sepupu Wang menyelamatkan tubuh besarnya dengan susah payah.


Luka bakar, luka tusuk ataupun sayatan biasa itu tersebar luas di seluruh tubuh Zhao Yun. Sangat mengerikan untuk dilihat namun yang sepupu Wang bisa lakukan hanyalah membiarkan Zhao Yun menghirup dupa berupa pengobatan secara tak langsung.


Sepupu Wang tak dapat melakukan hal lebih selain itu lantaran mereka takut jika itu akan memperburuk keadaannya.


“Hei, perlukah kita memanggil Paman Wang sekarang? Aku pikir mereka tak butuh waktu lama untuk melawan para pemberontak itu,” pikir Nam.


Wang Jiayi menggelengkan kepala. “Tidak. Jangan usik Paman Wang lebih dulu. Dia itu kalau tak pulang sendiri, bakal susah memanggilnya kemari.”


“Lalu Paman pendatang baru itu?” tanya Nam, berpikir untuk meminta bantuan pada Yongchun.


“Kau tak ingat apa yang dikatakan Paman Wang? Kalau Paman Yong itu sebenarnya adalah penguasa wilayah timur laut. Percaya atau tidak, itu adalah faktanya. Nah, sekarang Nam bantu aku untuk ...”


Belum selesai Jiayi berbicara, Nam justru tertidur di sebelah Zhao Yun. Ia meringkuk kedinginan lalu terlelap dalam sekejap.


“Hei, jangan tidur! Di rumah ini hanya ada kita! Setidaknya tunggu sampai Paman Wang datang!” amuk Jiayi, lalu menendang tubuh sepupu laki-lakinya sendiri sampai berguling ke sudut ruangan.


“Hei, kau! Bisa-bisanya menganggu orang tidur!”


Demikian kedua sepupu Wang berkelahi sampai-sampai korban di sana terbangun tiba-tiba.

__ADS_1


“Hoaam.” Zhao Yun menguap. Seketika kedua sepupu Wang diam tersentak melihatnya duduk dengan tenang, seakan-akan ia baru saja bermimpi indah.


“Loh, aku di mana ini?” tanya Zhao Yun, melirik ke sekelilingnya.


__ADS_2