
Seni Iblis. Ialah kekuatan gelap, inti dari kekuatannya berangsur-angsur dari terang menjadi gelap. Semua orang yang memiliki seni ini sudah dipastikan roh-nya takkan bisa diselamatkan.
Dan kini, Zhao Yun menemukan. Bertarung dengan mantan pengikut setianya yang kini benar-benar menjadi iblis. Tenaga dalam yang ia punya tak cukup tuk melawannya. Meskipun tahu hal itu akan mengancam nyawa, Zhao Yun tak bisa menyerah begitu saja. Tekad yang dimiliki olehnya tak sebanding dengan tekad yang dulu pria itu punya.
“Nah, sekarang. Apakah kau masih mampu untuk berdiri? Ya, aku rasa masih. Karena iblis itu kolot sama sepertimu, makanya kalian ini cocok. Iya 'kan?” gumam Zhao, tersenyum dengan tatapan menurun sendu.
Harus ia hentikan, apa pun resikonya. Apa pun yang akan datang nanti.
“Makan ini lalu tidurlah!”
Menyerukan kalimat guna menambah semangat, tenaga dalam miliknya pun membuat angin dingin bergelora di sekitar. Kepingan salju itu terhempas dan tak satu pun dari mereka yang berani jatuh di atas tubuhnya.
Tinju maut mampu menghalau kepekatan. Lalu memadat jadi satu berupa senjata yang lancip. Melesat dan terfokus pada Zhao seorang, walau kini ia berlari menghindarinya selagi mencari celah, kekuatan itu masih mampu mengejar lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Sayang, begitu lengah sedikit, lengan Zhao pun menjadi korban.
“Ugh, kena sedikit saja sudah membuat tulangku begitu nyeri,” keluh Zhao yang masih berlari tuk menghindar mati-matian.
Awalnya hanya berupa satu senjata besar, kekuatan itu kini terbagi menjadi beberapa bagian. Sekecil jarum namun tak terhitung jumlahnya, bahkan saking banyaknya, Zhao yang mematung tak dapat melihat rembulan di atas sana.
Crak! Crak! Crak!
Sekecil apa pun bentuk seninya, yang tajam tetaplah tajam. Sangat mematikan terlebih tak bisa dihindari karena posisi Zhao sudah seperti tikus yang disudutkan. Hampir semua jarum yang tak sebesar jari kelingking Zhao menghujamnya.
“Hah! Aku takkan menyerah hanya karena hal sepele macam ini!” jerit Zhao sekali lagi.
Dengan kekuatan fisik yang luar biasa, ia membangkitkan semangat bergelora, seolah api membara. Ia bangkit dan kembali berlari lalu melayangkan tenaga dalam yang berpusat pada genggaman tangan kanannya.
Jarum-jarum itu tercabut satu persatu dari tubuh Zhao dan kembali menyembuhkan inangnya yang terluka. Seluruh tubuh Zhao merasa nyeri, merasa tak sanggup kembali berdiri namun ia tetap tegak.
“Duh, sangat merepotkan sekali. Aku yang berada di posisi ketiga sekarang bisa apa menghadapi seni iblis yang pertama kalinya? Oh, iya jika dipikir, jarang sekali para pemberontak mau menggunakan seni iblis yang mempertaruhkan nyawa.”
__ADS_1
Sekilas, beberapa kalimat yang diutarakan Zhao Yun terdengar seperti wasiat. Bahkan terbesit olehnya sendiri, bahwa mungkin maut akan menjemput hari ini.
Tidak mungkin, benar? Pemimpin Zhao yang berada di posisi ketiga itu sungguh kuat. Takkan ada kalimat, "Baiklah aku akan menyerah saja" atau "Mati ya mati" itu tidak ada dalam akalnya.
Otot besar itu bukanlah pajangan seperti lukisan yang dipamerkan ke seluruh dunia. Bahkan jika tanpa tenaga dalam pun, Zhao masihlah sangat kuat.
Bruak!!!
Dentuman keras hingga membuat tanah berguncang. Bahkan para pendekar serta pemimpin kultus yang kini berada jauh darinya pun merasakan guncangan hebat ini.
Mungkin jika orang biasa pasti akan berpikir bahwa guncangan ini karena gunung yang mengamuk.
“Tidak! Ini masih belum cukup!”
BUAK! BUAK! BUAK!
Sekali dan sekali lagi, berkali-kali Zhao Yun melayangkan pukulan sehingga guncangan pun dapat dirasakan terus-menerus. Sampai kekuatan seni iblis tak mampu menghalau, seolah kehabisan energi, inangnya tak lagi bergerak.
“MAU SAMPAI KAPAN KAU TERUS HIDUP?! HEI, IBLIS!!”
Cipratan darah segar lalu cipratan darah hitam itu menyatu. Salah satu kaki pria itu bergerak, terlihat ia begitu menderita. Zhao mencekik leher yang kini masih utuh dan sekali lagi pukulan yang memusatkan tenaga dalam di satu titik menembus tubuhnya.
Segala pergerakan darinya terhenti dalam sekejap. Darah yang menggenang hitam itu tak lagi memadat dan menjadikannya senjata.
Zhao Yun berpikir, “Apakah dia sudah benar-benar mati? Aduh, aku jadi tak tega ...tapi aku sangat kesal,” gerutunya dengan mendengus kesal.
Sebelum genggaman Zhao Yun yang menghentikan pergerakannya itu ia lepaskan, kobaran api menyambar tubuh Zhao Yun beserta inang yang tak lagi bergerak.
Seolah minyak disiramkan ke tubuh Zhao, api dengan cepat menyambar dan membakarnya hidup-hidup. Rintihan sakit samar-samar terdengar dan tubuh perlahan membujur kaku. Bergerak sedikit saja, membuat tulangnya semakin cepat meleleh.
Krak!
__ADS_1
Tiba-tiba saja sambaran api itu berhenti setelah Zhao Yun tak sengaja mematahkan tulang dada milik pria itu.
“Apakah dia benar-benar sudah berhenti?” Sekali lagi Zhao Yun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Napas yang berat dan rasa lelah menumpuk bersamaan salju yang turun perlahan. Rembulan malam juga semakin dilihat semakin bersinar, Zhao Yun terbaring dekat jasad yang sudah tidak terbentuk lagi.
Seni iblis yang ada di inang pun berangsur-angsur menghilang. Seakan-akan angin malam membawanya pergi jauh dari sisi Zhao.
Kedua sepupu Wang yang berada di luar sana hanya terdiam memeluk kedua kaki yang gemetaran.
Para pendekar yang kini bertarung di daerah lain selain utara tengah sempat mendongak ke atas, sebab mereka merasakan apa yang baru saja melewati mereka, bersama dengan hembusan angin malam hari ini.
***
Di sisi lain, bagian selatan.
Para pemberontak dengan sedikit jumlah sudah tumbang tak bernyawa. Para pemimpin kultus yang datang ke sana, tak disangka akan menemukan sebuah jalan yang tertutup tanaman yang tumbuh lebat.
Di sana terdapat sebuah goa yang cukup besar menampung ribuan orang.
“Aku tak pernah melihat hal ini. Daerah ini, siapa yang pegang, sih? Sampai tak tahu adanya jalan tersembunyi,” sindir Yang Jian.
Li Bai tampak menyembunyikan ekspresinya dengan kipas kertas, tapi kerutan di wajahnya jelas terlihat.
“Aku 'kan juga tidak tahu mengenai hal ini. Rumah bambuku juga tidak dekat dengan area ini,” sahut Li Bai.
“Hah, kau keasyikan main dengan banyak wanita. Makanya jadi tak pernah ada waktu untuk menjelajahi wilayahmu sendiri,” sahut Yang Jian sekali lagi.
“Apa katamu?” Li Bai menatap tajam ke arahnya. Seolah itu tak benar tapi dirinya tak mampu menyangkal.
“Sudahlah, jangan bertengkar. Ngomong-ngomong Pemimpin Yin, ada di mana?” tanya Wang Xian.
__ADS_1
Seketika itu, situasi menjadi hening sesaat. Kehadiran Pemimpin Yin Ao Ran juga tidak terasa setelah mereka menemukan sebuah goa.
“Aku yakin, si kejam itu sudah masuk ke dalam,” ungkap Yongchun seraya menunjuk ke dalam goa. Ia menyebut Pemimpin Yin sebagai, "Si kejam", karena sikap sombongnya itu, meski dalam hati ia amat mengaguminya.