
Yongchun pergi ke rumah Amiya, tempat di mana Nia dan putra kecilnya tinggal untuk sementara. Mereka tidak pulang lantaran tidak bisa sekaligus ada sesuatu yang ingin Asyura cobakan.
Yongchun hanya mengintip dari balik jendela kecil, ia melihat putranya itu semakin tumbuh sedikit demi sedikit. Entah ke umur berapa, ia mulai berbicara walau tidak jelas. Melihatnya sungguh membuat Yongchun senang.
“Aku tidak akan mengorbankannya. Lagi pula sudah seharusnya dia terlibat,” ujar Yongchun.
Ia lantas melangkah pergi. Sesaat Nia merasa ada seseorang yang melihat dari jendela namun dirinya tidak dapat menemukan seorang pun di sana.
“Kak Amiya, apakah itu kau?”
“Kau bicara apa, Nia? Aku ada di dapur!”
Nia menghela napas, ia pun menyerah. Dan berpikir bahwa yang barusan ia lihat hanyalah angan-angannya saja.
Hari ini, tidak akan ada hujan yang turun. Panas pun tidak seberapa seperti hari-hari sebelumnya. Yongchun menengadah ke langit, ia melihat awan putih bergerak saling berlawanan namun juga ada yang searah, lalu menghela napas panjang kemudian.
“Tidak perlu dipikir. Aku sudah terbiasa membunuh seseorang. Benar, ini beban yang harus kutanggung semenjak mengalahkan panglima itu,” gumam Yongchun. Sudut bagian bawah matanya berkedut sesaat.
“Tuan!”
“Ryo? Kau sudah melakukan apa yang kuminta?” tanya Yongchun pada seorang bocah lelaki dari arah belakang.
Ryo, adalah bocah lelaki yang selalu memegang pedang miliki Yongchun. Awalnya ia tak memiliki nama, hingga pada akhirnya Yongchun sendiri lah yang memberikan nama. Sesekali ia mengajarkan Ryo untuk mengayunkan pedang.
“Benar, Tuan.”
“Kenapa kau memanggilku begitu?”
“Kalau begitu apakah boleh aku memanggilmu, guru!?” pinta Ryo dengan semangat membara. Ia sungguh senang jika menganggap pria ini adalah gurunya.
“Terserah saja. Tapi ingat, aku tidak bisa mengajarkan apa-apa padamu. Tempo hari kita berduel latihan itu pun hanya untuk mengasah seberapa jauh kemampuan dalam berpedang.”
__ADS_1
“Tapi aku hebat bukan? Selama ini aku belajar mengamati, jadinya memegang pedang lalu menggunakannya pun serasa bukan untuk yang pertama kalinya,” ujar Ryo yang semakin lama semakin bersemangat saja.
“Ya, ya.” Yongchun mengelus ujung rambut Ryo. Ia turut senang untuknya tapi entah mengapa senyumnya tidak mau keluar. Lebih tepatnya sudah sulit mengeluarkan ekspresi itu.
Sementara Ryo sangat kesenangan, dipuji dan dielus seperti itu adalah hal yang pertama kali terjadi dalam hidupnya.
“Guru, aku ingin bertanya sesuatu. Apakah boleh? Ini berkaitan dengan permintaanmu.” Ryo tampak ingin bertanya hal yang akan menyinggung Yongchun.
Yongchun peka apa maksud dari perkataan dan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Ryo. Ia pun membalikkan badan, dan kembali menengadah ke langit.
“Kau pasti berpikir bahwa aku lah yang membunuh mereka. Mulai dari God Soul dan God Hand. Lalu targetnya sekarang adalah dia,” ungkap Yongchun tanpa basa-basi.
“Eh?!” Ryo terkejut. Ia tak mampu berkata apa pun lagi. Ia pun kini terdiam dalam tubuh yang gemetar sembari merangkul pedang favoritnya itu.
“Ya, yang aku maksud adalah dua mayat yang akhir-akhir ditemukan. Dengar Ryo, aku melakukannya karena jika kami masih hidup maka Dewa Hitam akan bangkit menjadi ke tahap sebelum dia dijatuhkan dari langit.”
Ryo masih terdiam dan hanya mendengar semua perkataan Yongchun kepadanya. Sejenak ia berpikir apakah ada alasan lain dan beratnya ketika Yongchun harus melakukan hal itu.
“Tapi, meskipun dibunuh pasti kami akan hidup kembali sebagai identitas yang baru. Itulah masalahnya. Jadi, aku mengambil kekuatan mereka dan membuatnya berada di dalam tubuhku sehingga mereka tidak akan bangkit kembali.”
“Ryo, aku mengatakan hal ini padamu. Terserah kau ingin mengatakannya juga pada pria itu. Tapi aku sama sekali tak berniat untuk membela diri,” imbuh Yongchun seraya mengelus kepalanya lagi dengan lembut.
“Kalau begitu kenapa kau tega melakukannya? Aku pernah dengar dari orang-orang sekitar bahwa mungkin dewa itu adalah dewa iblis atau semacamnya. Dan seharusnya kalian bersatu!”
“Tadinya ingin begitu. Tapi kau sudah dengar apa yang akan terjadi jika kami tetap hidup,” ujar Yongchun mengatakannya sekali lagi dengan tegas.
“Lalu bagaimana denganmu?"
“Seperti yang kau pikirkan, Ryo.”
Jelas bahwa Yongchun akan mengakhiri ini dalam waktu kurang dari satu pekan. Hingga akhirnya akan mengambil nyawanya sendiri. Entah bagaimanapun caranya.
__ADS_1
“Padahal sebelumnya pun aku berniat begitu. Bahkan membiarkan teman sekaligus musuhku yang sama sepertiku tetap hidup.”
Yongchun kemudian menghadap Ryo sekali lagi. Ia menatap Ryo yang kini menundukkan kepala dengan tatapan sendu, murung atau sedih.
Sekali lagi ia mengatakan sesuatu padanya, “Karena itu Ryo, aku ingin kau menjaga mereka untukku.”
“Mereka? Maksud guru adalah istri guru dan anakmu?” tanyanya sekilas tak percaya.
“Iya.” Yongchun mengangguk, sejenak ia berhenti menatapnya lalu kembali berkata, “Ryo, namaku adalah Asyura. Hanya Asyura saja. Terima kasih lalu maaf.”
Dalam hitungan detik, bahkan Ryo sama sekali tak melepaskan pandangannya pada pria buta itu, lantas Yongchun sudah berada jauh darinya sehingga membuat dirinya terkejut membelalakkan kedua mata.
***
Malam hari ke-3. Rembulan malam telah muncul di langit gelap bertabur bintang. Suasana yang biasa hadir dengan beberapa acara kecil-kecilan atau tradisi, festival atau semacamnya pun berubah dalam sekejap.
Hanya ada malam dengan suasana yang begitu sepi. Sebelumnya Yongchun meminta Ryo untuk memberikan pesan pada Sigar; "Datang ke tempat di mana mayat tergeletak. Aku akan menjawab semuanya."
Melihat Ryo yang memberikan pesan pada Sigar, tentu membuat Sigar langsung tahu bahwa ini ada hubungannya dengan Yongchun. Mungkin ia berpikir bahwa Yongchun terlibat, tapi tidak lagi jika mengingat apa yang terjadi pada Yongchun terakhir kalinya.
"Dia lah dalangnya." Itulah yang Sigar pikirkan.
Sigar tidak akan kabur. Nyalinya tidak akan menciut. Meski tahu siapa dan apa yang akan dilakukan Yongchun kepadanya, Sigar tetap akan mengikuti alurnya.
“Hei kau!”
Malam itu, keduanya bertemu. Sisa dari sisa. Dari pemilik tubuh dewa yang tersisa. Mereka saling berhadapan satu sama lain dalam jarak yang tidak lebih dari 3 meter.
Sosok pria yang berdiri membelakangi bayangan itu sama sekali tidak jelas rupanya. Ia hanya menatap Sigar dari kejauhan tanpa menggenggam senjata pada tangannya. Ia hanya terdiam seolah menunggu-nunggu sesuatu yang akan datang.
“Hei kau! God Eye, itu kau 'kan! Aku tahu bahwa itu dirimu, jadi kemarilah dan tunjukkan batang hidungmu secara langsung!” pekik Sigar tak sabaran. Ia pun mulai menarik pedang dari sarungnya, tuk menyerang sosok pria di hadapannya itu.
__ADS_1
Pada saat itu, ia melangkah ke depan dan tetap membelakangi bayangan pada dinding seolah bersembunyi, namun bayangan sosok pria itu terlihat sangat jelas. Sesuatu muncul dari kepala, berjumlah dua. Sigar melihatnya dari bayangan milik pria itu.
Selang beberapa saat, sesuatu menyelimuti tubuh pria itu, mereka bergerak-gerak. Itu adalah api hitam. Saking hitamnya, Sigar tidak bisa melihat apa-apa kecuali bayangannya.