Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
114. Pertarungan yang Sulit Tuk Diakhiri


__ADS_3

Yongchun menendang dagunya. Ia berputar ke belakang lantas pergi ke semak belukar yang ada. Namun langkahnya terhenti saat Dewa Hitam mencegatnya, tiba-tiba datang lebih cepat. Malam ini memang milik sepenuhnya Dewa Hitam.


“Mataku tidak akan menjadi milikmu kembali!” pekik Yongchun memadatkan tenaga dalam ke telapak tangannya yang seolah membentuk senjata itu sendiri.


Slash!


Tak ada keraguan lagi untuknya melayangkan serangan tunggal seperti itu. Tombak menghadang dan membuat getaran kuat di sekitar.


“Itu mataku! Jadi kembalikan!” sahut Dewa Hitam seraya mengulurkan tangannya.


“Aku tidak merasakan niat baik darimu. Jadi kau pikir aku akan memberikannya begitu, hah?!” teriak Yongchun seraya menepis tangannya lantas melangkah mundur ke belakang.


Tombak itu seolah memanjang lebih luas. Dewa Hitam menggunakan petir di ujung mata tombaknya, mengarah ke mata itu langsung. Yongchun mengelak, dan kemudian ia kembali melangkah maju.


CRAK!


Menggores pundak bagian atasnya. Sedikit Dewa Hitam melengah, tampaknya ia tidak bisa melihat secara utuh karena matanya ada pada mata Yongchun.


“Ternyata Dewa Hitam itu begini. Bisa bahaya kalau dia mengincar banyak dari kami. Entah dunia ini lah yang akan hancur atau tubuh kami,” batin Yongchun.


Yongchun kembali berlari ke dalam hutan. Dan Dewa Hitam mengejar dengan tombak petirnya. Malam yang gemerisik, setetes hujan turun secara perlahan dan tak lama setelah itu hujan menjadi deras.


Zrash!!


Yongchun terus berlari. Menginjak genangan air yang berada di mana-mana. Hari ketika malam sepertinya tidak akan berubah dalam waktu dekat, Yongchun yang kelelahan akhirnya berhenti.


Beberapa tombak muncul dari atas langit, ia melihatnya ketika angin kencang menghembuskan dedaunan pada pohon-pohon di sekitar.


Entah di mana saat itu Dewa Hitam berada, Yongchun lantas menangkis semua tombak yang ada dengan tenaga dalamnya. Kedua mata yang sudah tidak tertutup dengan mata buatan itu membuat api kian menggelora.


Api kehitaman itu tidak pernah padam bahkan air hujan mengguyur sekalipun.


“Dia ke mana?”


Srk! Srk!


Semak-semak bergerak dari sisi kanan ke kiri. Beberapa kali Yongchun mendapati suara yang sama dari arah dahan pepohonan di atas. Ia kembali memposisikan dirinya setelah energi kembali pulih.

__ADS_1


Srak!


Dan ternyata yang muncul adalah seekor hewan berbulu putih dengan dua telinga yang panjang. Mata yang merah sempat membuatnya terkejut, namun tidak lagi setelah hewan itu pergi ke arah lain.


“Kupikir apa.”


Malam yang sama. Mengingat tiada hawa keberadaan lain, Yongchun berjalan keluar dari perhutanan. Terkadang suara serangga yang berisik membuatnya takut, dan berwaspada.


Namun tidak setelahnya. Beberapa kali ia menghirup dan membuang napas. Seiring berjalannya waktu, Yongchun membuat dirinya tenang.


“Mata itu milikku!”


Tapi tidak ketika ia hendak bersandar pada sebatang pohon besar. Ia kembali disambut serangan dari Dewa Hitam yang tiba-tiba muncul, mata tombak tertancap di antara kedua kakinya.


Yongchun segera bangkit lantas menyiapkan tenaga dalam membentuk, menggantikan pedang yang patah. Yongchun mengayunkannya dan hanya membelah sebatang pohon di samping itu saja. Tidak dengan tubuh God Soul yang kembali menghilang.


“Dia tidak ada di sini? Ke mana dia? Apa yang tadi aku lihat adalah ilusi? Argh, bisa-bisa aku menjadi tak waras,” gerutu Yongchun seraya mengusap kepala lalu memegang kepalanya dengan kedua tangan sekuat tenaga.


Keberadaan Dewa Hitam benar-benar hilang. Yongchun pula takut akan kewarasan yang kian memudar. Malam berkabut tanpa bintang maupun bulan membuat teror semakin menekan mental Yongchun.


Selang beberapa detik, seluruhnya menjadi gelap. Gelap gulita, tidak apa pun yang bisa dilihatnya. Sekalipun setetes air hujan. Semuanya gelap, gelap gulita.


Sekalipun ia bertanya pada seorang diri, takkan ada jawaban yang terlintas dalam benaknya. Yongchun terdiam selama beberapa waktu tanpa arti. Tiada kehadiran seorang pun kecuali kegelapan yang ia benci.


Ada sebuah rasa sakit yang membelenggu dalam hatinya. Ketika ia tidak bisa melihat, berpijak dengan benar dan hanya mengandalkan beberapa indra tersisa.


“Relia? Nia?”


Lama-kelamaan ia melantur dan mulai hilang kewarasannya. Ketika itu, Yongchun juga melupakan apa yang sebelumnya telah terjadi. Ia kemudian merangkak dengan meraba-raba jalanan.


Zrash!


Hujan deras mengguyur tubuhnya yang terbaring lemas. Suara yang terdengar sangat berisik dan mengganggu.


Tak!


Yongchun menangkap mata tombak itu dengan tangan kosong. Nyaris menusuk kepalanya. Dewa Hitam itu muncul dengan tubuh God Soul yang merapuh. Tampaknya kebencian yang mendalam entah karena apa juga menyelimuti Dewa Hitam.

__ADS_1


“Cacat.”


Dewa Hitam melempar tubuh Yongchun dengan kakinya ke arah goa. Yongchun berada di dalam mulut goa, tengah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


“Tak aku sangka, akan memakan waktu lama. Lihat, apakah kau bisa melihatku dengan benar?” Dewa Hitam menghampiri Yongchun yang masih terbaring lemas dengan napas berat.


Perlahan Yongchun bangkit dengan tubuh gemetaran kuat. Ia kemudian merasa ada yang salah dengan penglihatannya, terasa berat sebelah.


“Hilang.”


“Benar! Aku sudah mengambil sebelah mata itu kembali.”


Memperlihatkan sebelah matanya membara kehitaman pekat. Tanda bahwa sebelah matanya hilang ketika kegelapan pekat terjadi di sekelilingnya saat itu.


“ARRRGHHHH!!!” Yongchun berteriak keras hingga menggema ke dalam goa. Banyak burung berterbangan menjauh serta angin bergemerisik di belakang.


Yongchun bukan sekali dua kali merasakan bagaimana rasanya ketika kehilangan penglihatan.


Pak!


Begitu Dewa Hitam mengayunkan tombak sekali lagi, Yongchun menahannya dengan tangan kosong. Darah mengalir jatuh, tak terhitung berapa liter darah yang ia keluarkan selama beberapa hari ini.


“Kau bukanlah dewa melainkan iblis! Seharusnya, kalau kau memotong tubuhmu maka jangan sampai berpindah ke tubuh orang lain!”


Kemudian Yongchun menatapnya tajam, api hitam yang masih membara di sebelah matanya. Ia lantas berkata, “Dewa macam apa yang balas dendam karena dirinya dibunuh? Hah?! Tak masuk akal!” imbuhnya.


Tangan sosok tersebut menghitam hingga nyaris menyentuh wajahnya, urat bergeliat seolah ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya itu pun menghitam. Petir pada mata tombak bergerak lebih cepat mengiringi setiap gerakan Yongchun yang dikerahkan.


Tenaga dalam yang berupa hitam pun kian meluas. Dalam jarak dekat, ia mengayunkan tangan dari atas ke bawah, membelah tubuh God Soul dengan kekuatannya itu.


“Jangan sombong kau!”


Dewa Hitam memutar tombak usai kedua tubuh itu menyatu kembali. Menghujam dengan ujung tombak bayangan, membuat Yongchun tak dapat berkutik. Mengerakkan jari saja sudah susah ketika ia berusaha bertahan dalam serangan serta auranya yang kian meningkat.


“HEAAAAKKH!”


Sesaat pupus harapan. Namun tekad untuknya bertahan hidup semakin meningkat kala ia mengingat bahwa ada banyak orang yang sedang menunggunya untuk pulang.

__ADS_1


Sabetan pedang energi lagi-lagi membelah tubuh God Soul namun tak hanya itu bahkan goa pun terbelah menjadi dua seolah merobek mulut goa itu sendiri.


__ADS_2