
Sebilah pedang teracungkan ke leher. Sekali gerak saja pasti akan membuat leher itu terpenggal, menyemburkan banyak darah tak terhingga. Namun, Yongchun menahan bilah pedang itu, tak peduli jika menggores telapak tangannya, setetes darah jatuh tepat di atas pakaiannya.
Krak!
Yongchun menggenggam bilah pedang dengan kuat sampai membuat pedang itu sendiri patah. Yongchun bergegas, menyingkirkan selimut dan beranjak dari alas tidurnya. Ia meraih leher Bon, mencengkramnya dengan penuh nafsu pembunuh.
“Kau siapa? Apa itu kau, Dewa Hitam?”
“Tampaknya kau sedang berbicara dengan orang lain ya, Asyura!”
Klang!
Bon menjatuhkan pedangnya, ia lantas mengambil pedang pendek dari balik pakaiannya. Lalu melayangkan senjata mengincar tepat ke leher Yongchun sekali lagi.
Yongchun bergerak mundur dengan melompat. Bilah pedang pendek hanya menggores ujung lehernya saja dan itu tidak menorehkan luka fatal.
Seraya menekan bagian luka yang tergores itu Yongchun berkata, “Ternyata dia tidak ada di sana. Apakah Bon tidak bisa kau kendalikan juga, Dewa Hitam?”
Tidak ada jawaban Dewa Hitam. Seolah ia tengah tertidup lelapnya dalam tubuh Yongchun. Begitu pun dengan respon tubuh Bon yang hanya biasa saja. Tak terlihat bahwa Bon tengah dikendalikan oleh Dewa hitam.
“Kenapa kau menatapku begitu?”
Jelas bahwa Bon tidak mengerti asal-usul Dewa Hitam. Akan tetapi Yongchun sendiri sadar bahwa Bon lah yang menjadi salah satu pemilik tubuh dewa yang terisa.
“Pantas saja Romusha bilang bahwa God Mouth sulit diajak bicara. Tapi ternyata malah dia sendiri, ha ...betapa ironisnya,” gumam Yongchun menghela napas.
“Kau bilang apa?” tanya Bon tak mengerti.
”Tidak. Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong sedang dan mau apa kau datang kemari?”
“Aku merasakan sesuatu yang berbahaya dari tubuhmu. Jadi, tekad untuk membunuhmu sudah kembali terkumpul. Kali ini, aku harus membunuhmu!”
Bon mengarahkan ujung bilah pedangnya dengan menatap tajam pada Yongchun. Hawa membunuh yang seolah akan menerkam Yongchun, namun Yongchun tidak begitu memperdulikan hal itu. Lain cerita jika Bon dikendalikan oleh Dewa Hitam.
“Bon, kalau kau bicara begitu. Apakah kau sendiri tidak merasakannya di dalam tubuhmu?”
“Bicara apa kau,” ketus Bon. Ia melangkah jauh, mendekat padanya seraya mengayunkan senjata.
Dak!
Yongchun menangkis dengan lengan kanannya, mendorong pergelangan tangan Bon ke atas sehingga serangannya meleset.
“Ternyata kau tidak tahu,” ucap Yongchun. Ia kembali mencengkram leher lalu melempar keluar Bon dari jendela.
Krompyang!
__ADS_1
Kaca jendela pecah. Membuat seisi rumah ini terkejut, lantas bergegas menyusul ke asal suara.
“Siapa?!” Romusha mendobrak pintu ruangan Yongchun. Ia sudah memegang pangkal pedang dan akan menyerang sosok yang menganggu di pagi hari ini.
“God Eye, apakah ada sesuatu?”
Romusha menatap punggung Yongchun lalu ke telapak tangannya yang mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Terlihat seperti dirinya baru saja membunuh seseorang.
“Hoi!”
“Hentikan!” pekik Sigar menghentikan langkah Romusha yang hendak mengamuk di ruangan.
“Kenapa?”
“Kau tidak merasakannya, God Hand? Di luar sana ada God Mouth! Dan God Eye sedang mengatasi keberadaannya yang mungkin akan jadi ancaman kita hari ini,” ujar Sigar menjelaskan.
Yongchun mendengar obrolan mereka, ia pun menoleh ke belakang.
“Kalian berdua ada di sini rupanya. Ngomong-ngomong, apa kalian merasakan hawa membunuhku?” tanya Yongchun seraya mengacungkan jari telunjuk ke dirinya sendiri.
“Apa maksudmu, God Eye? Jangan kau katakan, kau sedang dikendalikan,” sindir Sigar. Melangkah masuk ke dalam.
“Tidak. Bukan itu maksudku. Aku hanya memastikan apakah hawa membunuhku dapat kalian rasakan atau tidak. Karena God Mouth, sama sekali tidak menunjukkan respon negatif.”
“Oh, jadi karena itu rupanya. Pantas saja. Tetapi God Eye, Dewa Hitam benar-benar tidak menaruh kendali pada orang di sana.”
“Sudah kuduga. Ini aneh.”
Yongchun melangkah keluar dari jendela.
“Kau merusak bangunan selama 3x. Bukannya merasa bersalah justru kau mau melanjutkan pertarungan di halaman Kuraki?” sindir Romusha.
“Ngomong-ngomong God Eye, kalau dia tidak dikendalikan itu artinya Dewa Hitam belum tahu namanya,” ujar Sigar.
Yongchun tak menggubris perkataan Romusha. Ia hanya menyahut kalimat Sigar saja dengan menjawab, “Aku tahu itu.”
“Lalu kenapa sepertinya dia memusatkan hawa membunuh itu hanya pada kau saja?” tanya Sigar.
“Sayangnya, dia adalah teman sekaligus musuhku. Karena itulah dia ingin sekali membunuhku,” jawab Yongchun.
Terlihat Bon dalam berada posisi yang stabil. Lebih tepatnya ia masih sanggup berdiri bahkan setelah dilempar kuat-kuat oleh Yongchun. Tatapan mata yang terpancar akan dendam meluap ke sekujur tubuh hingga ke bilah pedang pendeknya.
Bon melesat tak wajar, tampaknya ia menggunakan kekuatan itu secara tak sadar. Langkah yang gesit atau cepat membuatnya mudah menggoreskan luka pada tubuh Yongchun.
“Hm, ini aneh. Bon bilang dia tidak bisa merasakan apa yang ada di tubuhnya tapi sebaliknya dia justru merasakan Dewa Hitam di dalam tubuhku,” gumam Yongchun.
__ADS_1
“Hei! Kau sedang menggumamkan apa sih? Jangan banyak bicara! Di mana pedangmu!?”
Syat!
Mata pedang tertuju ke wajah, reflek Yongchun menundukkan tubuh lalu menggunakan tendangan kaki tuk menjauhkan Bon darinya.
“Akh!” Seketika Bon memuntahkan darah segar. Terlihat ia sangat kepayahan, berusaha untuk bangkit namun rasanya kedua kaki Bon tak mau menurutinya.
“Kau mau aku memegang pedangku?”
“Ya!”
“Hanya untuk melawan dirimu?” Yongchun seakan mengejek dengan pertanyaan yang bahkan itu tidak bisa disebut sebagai pertanyaan.
“Kau membuatku marah!”
“Silahkan?”
Sraaaa!
Keluar api hitam menggelora dari pundak ke ujung jari jemarinya. Memunculkan sebuah pedang yang tidak jauh berbeda dengan miliknya sebelum ini. Hitam dengan garis merah, bahkan pangkal pedangnya juga mirip yang itu adalah milik teman lamanya Gupta.
“ASYURA!” Sembari memanggil nama asli Yongchun, Bon melesat sekali lagi. Kali ini ia mengeluarkan dua bilah pedang pendek.
Untuk sesaat angin berembus kencang melewati tubuh Yongchun yang tampak mulai mewaspadai keberadaan Bon yang sekarang ini.
Ia merasa bergidik, merasa ada sesuatu yang bergelojak. Bon hanya memanggil namanya namun entah kenapa itu membuat Dewa Hitam terkikik di dalamnya.
Swwwuush! Trang!
Kedua pedang beradu. Antara pertahanan dengan dorongan yang tak kalah kuat. Dalam beberapa saat kedua senjata itu bergetar.
“Aku mendengar suara detak jantungmu, Asyura.” Sekali lagi ia menyebut nama Yongchun.
“Lalu? Mengapa?”
Zrash!
Dalam hitungan detik Yongchun melengah, Bon memusatkan serangan pada satu titik dan mematahkan pedang serta menggores tubuh Yongchun lebih dalam.
Tap, tap!
Lalu Bon melompat mundur seraya mengibaskan kedua pedangnya yang berlumur darah. Tatapan matanya tidak berubah hanya saja auranya terasa berbeda dari sebelum-sebelum ini.
“Berlututlah!” Ketika Bon mengucapkan kata ini, seketika Yongchun melakukannya atas dasar paksaan.
__ADS_1