Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
019. Memangnya Apa Keuntungan Memulai Peperangan?


__ADS_3

Atas dasar apa ia mengatakan bahwa dirinya akan menggulingkan kekaisaran?


Tak banyak alasan yang perlu dicari untuk tindakan yang sembrono itu. Selain apa yang terjadi pada Pemimpin Luo, mati bunuh diri namun semua orang hanya tahu kalau Luo dibunuh oleh seseorang yang mencapai tahap nirwana. Hal logis pun berubah menjadi fakta, penduduk percaya begitu saja.


Di sisi lain, Wang Xian mengatakan kebenaran Pemimpin Luo yang bunuh diri. Entah karena apa tapi yang ia tahu, maksudnya adalah berniat menjatuhkan orang luar. Yongchun.


Luo memang sudah mati bunuh diri. Tapi itu bukanlah salahnya, justru Yongchun lah yang menyelamatkan ia. Akan tetapi kenapa bisa terjadi seperti ini?


“Kaisar ini saja menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada penduduk. Bagaimana mungkin aku percaya kalau negri timur akan menyatu hanya dengan sebuah pernikahan?”


Itu tak salah juga. Nyatanya Yongchun tahu betul. Termasuk saat ia pertama kali datang kemari, saat bertemu Crow atau Bing He nama lainnya.


Jelas saja kalau Bing He ternyata adalah mata-mata yang dikirimkan Kaisar Ming ke wilayah timur tengah. Dengan dalih mencari sosok pemimpin bijak tuk menengahi apa yang telah terjadi di wilayah timur laut itu. Tapi setelah semua usai, dengan mudahnya Bing He dibuang.


Seolah tak ada gunanya lagi.


“Dia tidak cocok untuk menjadi penguasa!”


“Lantas, apa yang akan kau lakukan untuk menjatuhkan Kaisar?”


“Tanpa bantuan orang lain, aku pasti takkan bisa. Karena itulah, aku meminta para pemimpin kultus untuk berada di pihakku,” tutur Yongchun.


“Hanya karena masalah Luo saja kau begitu? Hei, ada kalanya sosok penguasa menyembunyikan sesuatu dari para rakyat demi kebaikan mereka bersama.”


“Kalau begitu, kenapa Pemimpin Wang membunuh Pemimpin Luo?”


Benar saja, Yongchun tahu kalau Pemimpin Wang membunuh Pemimpin Luo. Ia tahu berkat Bing He.


Tetapi, bukankah sudah jelas? Para pemimpin kultus itu sedang perang dingin antar sesama. Mereka bertarung bukan di Arena Batu Kuasa, melainkan menjadikan kediaman masing-masing sebagai medan perang itu sendiri.

__ADS_1


Pemimpin Xie tahu itulah telah terjadi. Kalau pun benar mereka bertarung, di satu sisi juga ia bertanya-tanya, mengapa Kaisar Ming menyembunyikan hal tersebut?


“Pemimpin Wang tahu siapa diriku sebenarnya. Pemimpin Wang pula mengetahui sifat sejatiku. Meski tidak semua ...” ucap Yongchun dengan lirih.


“Kau tahu darimana kalau Wang Xian membunuh Luo?” tanya Xie.


“Tahu dari teman lamaku.”


“Kalau benar mereka bertarung–”


“Ah! Tidak!” Yongchun memotong kalimat Xie. “Mereka tidak bertarung. Pemimpin Wang menggunakan diriku sebagai pembunuh Pemimpin Luo beserta para pengikutnya. Jahat sekali, bukan?” ungkap Yongchun.


“Dari teman, ya. Lalu kalau menurutmu Kaisar Ming tidak pantas menjadi penguasa karena berbohong pada penduduk maka bagaimana denganmu? Yang telah meninggalkan wilayahmu sendiri? Dengan datangnya kau kemari, sudah sebagai bukti bahwa kau lari dari tanggung jawabmu!” sindir Xie.


Memang itu menyakitkan. Namun itulah kebenaran. Meninggalkan wilayah timur tengah, padahal dirinya adalah seorang penguasa di sana. Ialah yang bertanggung jawab atas semua nyawa penduduk.


“Aku meninggalkan mereka bukan berarti aku meninggalkannya begitu saja. Ada pemimpin lama di sana. Lagipula aku hanya ingin negeri timur menjadi lebih tenang dengan perdamaian tanpa perang jika bisa,” ucap Yongchun.


“Dia membuatku kehabisan kata-kata. Benar-benar kurang ajar! Pria brengsek! Apa yang ada di pikirannya saat ini, sih!?” Dalam benaknya Pemimpin Xie, ia menggerutu karena semua perkataan itu ada timbal balik yang sudah dimengerti olehnya.


“Hei, dengar ya! Asyura, penguasa wilayah timur tengah! Meski kau meninggalkan mereka bersama dengan pemimpin lama, apa kau berniat percaya begitu saja?! Sedangkan kau sendiri tahu bahwa ikatan tali persaudaraan antar pemimpin kultus itu terputus!” amuk Xie.


“Sangat disayangkan kalau mereka tidak akur. Yang tidak seperti Pemimpin Zhao dengan Pemimpin Xie Xie ini. Aku pun pernah berkali-kali dikhianati oleh temanku. Tapi aku berusaha untuk kembali mempercayai mereka, setidaknya agar perang tidak terjadi lagi. Apa aku salah?”


Mungkin terdengar naif, namun beginilah sanh penguasa wilayah timur tengah. Yang dirumorkan kejam, bengis, tak punya hati nurani? Belas kasih sedikit pun?


Kali ini apa pun yang dikatakan langsung oleh Yongchun, benar-benar sangat berbanding terbalik dengan apa yang didengar oleh Pemimpin Xie Xie.


“Kenapa kau bisa mempercayai mereka ...bahkan setelah mereka pernah mengkhianati dirimu? Asyura ...” Sudut pandangnya menurun, tatapan itu memelas tak percaya.

__ADS_1


“Pemimpin Xie, untuk saat ini panggil aku Wang Yongchun. Lalu, aku berharap kita bisa akur untuk ke depannya. Karena aku kalau kau ini orang yang sangat baik.”


Yongchun menyunggingkan senyum. Ekspresi itu jelas terlihat. Relia ikut tersenyum lega melihatnya. Begitu juga dengan Xie Xie, ia masih tak percaya bahkan matanya pun sempat berkedut.


Xie membuang muka, duduk di kursi yang nyaman dengan perasaan cemas tak karuan.


“Kenapa bisa dia mengatakan hal itu dengan mudahnya? Apa dia bodoh? Menggulingkan kekaisaran dengan bantuan pemimpin kultus? Aku saja belum tentu akan bergabung dengannya, meski aku berharap bahwa kedamaian benar-benar tercapai di era ini. Tapi dia mengatakan rencananya padaku? Yang kapan saja aku bisa melaporkan hal ini pada Kaisar? Dia bercanda, ya, sial!”


Pemimpin Xie jadi kacau. Lin Lin menjadi bingung dengan situasi hari ini.


“Terserah apa pun yang kau katakan padaku, Wang Yongchun! Atau pun Asyura! Aku sebagai pemimpin kultus di posisi ke-6, meski tak sekuat mereka, aku pun berharap negri ini damai. Tapi pikirkan kembali, apa yang bisa kau lakukan selain meminta bantuan kami yang bahkan belum tentu akan memihakmu?”


“Jika ada salah satu dari mereka yang mau mencapai perdamaian, aku sungguh beruntung karena nanti yang mati hanyalah Kaisar itu saja. Namun jika tidak ada sama sekali, dan kalian memilih untuk menjadi musuhku. Maka jangan harap semua akan baik-baik saja, Pemimpin Xie Xie.”


Kedua alisnya seolah menyatu saat kening pria itu berkerut. Ia menunjukkan bahwa saat ini ia merasa sedih kalau pilihan kedua itu benar-benar terjadi. Tatapan pilu, yang sudah dilanda oleh kebusukan dalam perang.


Perang itu tanpa aturan. Tak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Saat dulu berperang, tak pernah sekalipun ia menutup mata dengan benar. Kecuali saat dirinya sekarat dalam diam.


Menyembunyikan luka walau itu mustahil, dikhianati pun rela.


Agar ...


“Pemimpin Xie Xie, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Apa yang kau dapatkan setelah memenangkan sebuah perang? Emas? Tanah? Atau apa?”


Agar kedamaian itu tercapai tanpa perang. Apa yang harus dilakukan Yongchun (Asyura) selain mempercayai seseorang yang suatu waktu ia akan membutuhkan bantuan seseorang itu?


Membunuh juga tak ada habisnya. Yang ada juga hanya dendam.


Pertanyaan pria yang katanya kejam itu bahkan membuat jantung seorang pemimpin berdegup lebih kencang. Tak berkutik.

__ADS_1


“Berisik! Sana pergi!”


Pemimpin Xie marah dengan perasaan kagum sesaat. Ia mengusir Yongchun dengan menendangnya keluar di saat badai salju masih menerjang.


__ADS_2