
Relia berada di ujung tanduk. Dirinya berada di ambang batas kesadaran. Akan tetapi ia masih dapat berlari, sebanyak apa pun darah mengalir jatuh membasahi permukaan tanah, ia tetap melangkah.
Drap! Drap!
Berada di area pemukiman penduduk. Dewa Hitam berhenti melangkah, ia lantas menoleh ke belakang dan menatap Relia. Seketika Relia berhenti melangkah karena terkejut.
“Sudah kuduga kau akan kembali datang. Pendekar?”
Entah mengapa Dewa Hitam menyebutnya begitu. Hanya saja keadaan Relia sekarang tidak bisa disebut sebagai pendekar lantaran hanya belati yang sudah usang ini yang menjadi senjatanya sekarang.
Ctang!
Di tengah kerumunan secara langsung, Dewa Hitam mengarahkan senjata pada Relia. Relia bertahan sekuat tenaga dengan sebilah belati pendek usang itu saja. Perlahan kedua kakinya terus terseret mundur, darahnya pun terus merembes keluar hingga orang-orang di sekitar terkejut membelalakkan kedua mata.
“Astaga! Ada pertarungan di sini. Tapi berbahaya!”
“Cepat kabur!”
Pedang Dewa Hitam kian memanjang seakan membentuk tanduk dari kedua sisi. Ia memutar pergelangan tangan, Relia mundur ketika pedang bermata dua itu hampir menyayat tubuh bagian depannya.
“Kau pasti bertanya-tanya kenapa kau harus berada di situasi tak jelas ini, benar?”
“Tidak. Tidak, sama sekali.”
Relia melangkah seraya mengayunkan senjata dari atas, Dewa Hitam memotong bilah itu dengan mudahnya. Hingga patahan belati pun terlempar entah ke mana. Yang pastinya sangat jauh dari posisi mereka berdua.
Buakk!
Bahkan Relia tanpa senjata, masih dapat berdiri tegak. Ia memukul meski pada akhirnya tertahan oleh tubuh pedang. Semburat kehitaman bergerak ke kulit Relia pada saat itu juga.
“Hah?”
Bergegas Relia melepaskan diri dari pedang itu. Terkejut, namun semburat kehitaman tetap menjalar hingga menuju ke leher Relia.
“Argh!” Mengerang kesakitan begitu Dewa Hitam mencekik lehernya. Relia meronta-ronta dan di saat yang sama seluruh tubuhnya menghitam.
Nia berada dekat di sana. Ia berteriak memanggil nama Relia dari kejauhan. Perasaan cemas dan takut, campur aduk menjadi satu tak karuan.
“Oh, di sana rupanya. Ternyata wanita itu terpancing, ya.”
“Tu ...nggu!” Kata-kata Relia tersendat. Rasanya tak dapat bernapas dengan benar. Akan tetapi ia berusaha keras untuk meraih tangan Dewa Hitam.
“Kau mau apa? Sepertinya peranmu telah berakhir,” ucap Dewa Hitam yang kemudian melempar tubuh Relia sembarangan.
__ADS_1
Bruk!
Relia ambruk. Namun kesadarannya tetaplah masih ada. Ia pun bergegas, mengangkat tubuhnya kembali dengan berat. Darah yang terus mengucur juga telah menguras sebagian energi serta kesadarannya. Tapi ia tak pernah menyerah.
Demi anaknya satu-satunya.
“Tunggu, kau!” Relia berteriak dalam kondisi serak. Ia lantas pergi menyusul secepatnya, ia menarik tubuh Dewa Hitam tersebut.
“Dasar, manusia!”
Srat!
Jari jemari Relia terpotong. Dengan pelik ia menahan rasa sakit, tetapi ia tidak berhenti sampai saat itu. Ketika tubuhnya ambruk sekali lagi, Relia menggigit pergelangan kaki Dewa Hitam.
“Dasar!”
“Hentikan!” Nia berteriak, ia berlari ke arah mereka.
Dewa Hitam teralihkan pada Nia dengan bayinya.
“Jangan kemari, Nia!” pinta Relia.
Semburat-semburat hitam itu merubah wujudnya, menjadi api hitam dan terbakarlah tubuh Relia. Nia menjerit histeris, ia bertekuk lutut dengan air mata terus mengalir membasahi wajahnya.
“Kak Relia!” Berkali-kali Nia memanggil namanya. Namun Relia sudah dalam kondisi yang tidak dapat bangun kembali.
“Apa?”
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Dewa Hitam itu. Lantas, Relia bangkit dengan kobaran api hitam menyala selama beberapa waktu yang kemudian lenyap menyisakan bekas hitam di bawah. Seakan-akan Relia bangkit kembali.
“Akan sayang membunuh Pendekar seperti dirinya. Walaupun dia perempuan, dia sepertinya titisan Valhala. Dia patut dipertahankan daripada Pendekar buta itu,” tutur Dewa Hitam memuji.
“Itu ...sama seperti Kak Asyura saat itu. Kobaran api hitam yang bahkan melebihi tenaga dalam yang dia punya,” ucap Nia mengaga tak percaya. Ia menutup mulut dengan menatap heran.
Kretek!
Relia merenggangkan leher ke kiri dan kanannya. Suaranya seperti seakan-akan dipatahkan. Relia kemudian berjalan menghampiri Dewa Hitam, menepuk pundak lalu mencengkramnya dengan kuat.
“Jangan pikir aku mau bersujud di hadapanmu. Aku hanya akan bersujud pada suamiku seorang!”
Drap! Drap!
Meski seolah telah dibangkitkan. Semua luka yang tertutup rapat, kesadaran yang kembali pun rasa amarah justru membludak pesat dari sebelumnya.
__ADS_1
Relia berlari ke arah salah seorang pendekar berpedang yang sedikit berjauhan darinya, ia mengambil pedang itu yang kemudian ia gunakan untuk melawan Dewa Hitam.
Sembari berdiri di tengah mereka Relia berkata dengan menggenggam pedang, “Aku tidak akan membiarkan dirimu menyentuh anakku ataupun Nia!”
“Terserah kau saja.”
Sedikit Dewa Hitam melangkah mundur seraya memegang pedang dengan satu tangan. Ia tampak akan menerima duel tersebut. Walau Dewa Hitam lah yang akan menang.
“Kakak!”
“Tenanglah Nia. Relia akan melimdungimu,” ucap Relia.
Dewa Hitam mengeluarkan aura yang begitu pekat. Kehitaman itu membuat perasaan banyak orang yang melihat sangat tidak nyaman, sehingga menjauh sembari menatap sinis ke arah mereka.
Begitu pun dengan Relia dan Nia. Saat Dewa Hitam melesat dengan aura yang sebegitu mengerikannya, dengan sedikit terlambat Relia bertahan. Pedangnya tak cukup mampu untuk menahan serangan dari Dewa Hitam.
Trang!
Tapi, Relia memilih untuk mendorong pedangnya agar Relia tidak semakin terdesak seperti di awal-awal sebelumnya.
Kobaran api hitam masih menjalar ke seluruh pedang milik God Ear. Lalu, kembali mengayunkannya namun Relia berhasil menghindar dengan merundukkan tubuhnya ke depan.
Srat!
Celah kecil itu Relia manfaatkan, sebilah pedang berhasil menggoresnya sedikit meski luka itu pulih seolah tak pernah disabet sebelumnya.
“Ck, ini terlalu sulit.”
Tentu saja Relia akan sangat kesulitan. Mereka berbeda level yang sangat jauh, sehingga tak ada kemungkinan bagi Relia untuk memenangkan ini.
“Apa kau tak berniat melawanku?” tanya Relia merasa dirinya diremehkan sehingga Dewa Hitam nampak seperti main-main saja.
“Ha, melawanmu yang masih anak piyik, tak perlu sampai menggunakan petir milikku,” ucap Dewa Hitam seraya mengayunkan pedang lebih kuat.
Relia terus menangkis setiap serangan Dewa Hitam. Berkali-kali ia terus menangkis dan terkadang pula juga membalas serangan sedikit demi sedikit. Lalu melangkah untuk mendesaknya lebih kuat dan cepat.
Crak!
Mata pedang menembus pundak Relia, itu bukan pedang yang digenggamnya melainkan pedang bayangan, yang mirip seperti milik Yongchun.
“Ini lagi!” pekik Relia seraya mengayunkan belati yang sebelumnya tersimpan di balik pinggang, ia mengayunkannya ke pedang bayangan yang kemudian menghilang.
Sorot mata Relia begitu tajam, menatap Dewa Hitam seraya mengayunkan kembali senjatanya. Mendaratkan pukulan pada pangkal pedang, dengan memanfaatkan tubuh mereka yang hanya berjarak beberapa senti saja.
__ADS_1
“Keluar kau dari tubuh God Ear!”
Sesaat bola mata Dewa Hitam menghilang namun, kobaran api hitam kembali keluar dari kedua pundak tubuh God Ear. Terakhir kali ia menyeringai tipis.