
Sampai malam pun tiba, Yongchun masuk ke dalam penginapan. Saat itulah teman-temannya kembali ke penginapan yang kemudian gerbang yang sengaja dibuka sedikit itu telah ditutup rapat oleh mereka.
“Apa? Hanya itu saja kegiatannya?”
Si bocah tentu akan sangat marah, lantaran Yongchun sama sekali tidak melakukan apa pun yang berguna. Ia menjadi kesal dan akhirnya mendobrak gerbang agar dapat masuk ke dalam.
“Hei!” Bocah itu berteriak keras, suaranya itu dapat didengar oleh Yongchun yang baru saja berbaring di alas tidurnya.
“Hei bocah! Kenapa kau berada di sini? Cepat pergi!” Sigar mengusirnya dengan kasar. Lantaran sangat menganggu di malam hari.
“Biarkan aku bertemu dengannya! Dengan yang memiliki pedang ini! Aku ingin bertanya, kenapa dia tidak pernah mengayunkan pedang walau hanya latihan saja?”
“Hei, aku bilang pergi. Kau tidak boleh menganggu kediaman ini. Oh, atau kau ingin menginap?”
“Hei keluar!” teriak bocah itu sekali lagi.
Sigar mengerutkan kening, seraya ia menahan langkah si bocah dengan erat. Sama sekali Sigar tidak tahu, kenapa bocah ini mendadak marah.
“Aku keluar, nih.” Yongchun keluar dari kamarnya. Ia menghampiri bocah lelaki dengan raut wajah biasa saja, terkesan datar.
“Lepaskan!” Bocah itu pun berlari, ia menarik tangan Yongchun dan membuatnya menatap tatapan itu.
“Kenapa kau tidak melakukan apa-apa? Padahal kau bilang sendiri, kalau aku harus belajar dengan apa yang aku lihat. Lalu bertahan hidup tanpa senjata. Tapi kau sama sekali tidak menunjukkan apa-apa!” amuknya.
Yongchun mendengar semua ocehan bocah lelaki. Kurang lebih ia cukup mengerti dengan yang dimaksud olehnya. Untuk sesaat dahinya berkernyit kesal.
“Hei jawab aku!” Bocah itu kembali berteriak padanya.
“Kau mengoceh sepanjang waktu hanya karena aku tidak melakukan apa yang kau harapkan. Itu berarti kau selama ini melihatku, tapi kenapa kau melakukan itu?” sahut Yongchun.
“Tentu saja untuk belajar! Aku ingin lihat bagaimana cara kau bertahan hidup tanpa senjata.”
“Padahal aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti diriku,” kata Yongchun menggelengkan kepala.
Bocah lelaki itu pun tersentak. Seketika ia membisu dalam mata berkaca-kaca. Perlahan ia menundukkan kepala dalam-dalam, menahan rasa kesal serta rasa malu.
__ADS_1
Kesalnya, hingga bocah lelaki itu mengertakkan gigi. Ia hendak pergi namun Yongchun menahan pundaknya.
“Aku tahu kau tidak menyuruhku begitu. Tapi—” Kata-katanya sudah tidak bisa dilanjutkan. Ia mengepalkan tangan sekuat tenaga seraya menggigit bibir bawahnya sampai terluka.
“Dengar, aku menyuruhmu untuk bertahan hidup tanpa senjata dan meskipun kamu memintaku untuk mengajarimu namun itu bukan berarti kamu hanya perlu melihat apa yang aku lakukan.”
Ibarat cahaya yang terang-benderang muncul. Semilir angin berembus, membuat kedua matanya terbuka lebar. Sesaat ia merasa senang, ia memahami maksud dari calon gurunya itu.
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang bisa kamu lakukan, bahkan tanpa senjata pun kamu sudah kuat. Tanpaku pun sama saja,” tutur Yongchun memperjelasnya begitu mudah.
Bocah lelaki itu menoleh ke belakang. Menatap Yongchun yang tidak menunjukkan bahasa wajahnya sama sekali. Untuk sesaat harapannya sirna ketika mendambakan seorang guru yang ramah dan bertekad dalam perang namun begitu ia merasakan sakit di pundaknya, lantas harapannya semakin besar terhadap Yongchun.
“Aku membutuhkanmu,” ucap bocah itu.
“Aku membutuhkanmu agar aku bisa menguasai ilmu pedang. Tolong, ajarkan aku. Dengan senjata apa pun tidak masalah,” imbuh bocah itu meminta pada Yongchun sekali lagi.
“Pergilah, dan lakukan apa yang bisa kau lakukan untuk sekarang. Gunakan pedang ini untuk apa pun, yang kamu mau. Apa pun itu.”
Tak banyak kata yang ia utarakan kepada si bocah. Sesekali ia memperingatkan apa yang menjadi nasihat. Sama, terus berulang kali Yongchun mengatakannya sampai bocah itu merasa bosan.
“Kau membiarkan dia pergi. Padahal aku sempat berpikir bahwa kau akan mengajarkannya ilmu pedang?” tukas Sigar, nampak ia terkejut heran. Ia menghampiri Yongchun.
“Aku tidak mau melakukannya sementara dia belum siap dengan yang di hadapannya,” kata Yongchun.
“Apa maksudmu?” tanya Sigar tidak mengerti seraya melipat kedua lengannya ke depan dada.
“Perang,” singkat Yongchun. Kata yang singkat. Benar-benar sangat singkat, namun maknanya sangat mendalam.
Peperangan masih berlanjut. Selanjutnya, satu keping yang belum berhasil ditemukan akan menjadi penentuan. God Mouth.
“Yah, kupikir itu keputusan baik dengan tidak membiarkan bocah itu begitu sombong hanya dengan memegang pedangmu saja,” ujar Sigar yang sepenuhnya mengerti.
“Loh, aku pikir tamu datang untuk menginap. Tapi rupanya hanya ada kalian berdua,” sahut Kuraki yang tengah keluar dari penginapan.
“Kuraki! Ini sudah malam, dan mana mungkin ada tamu yang mau menginap di pulau ini.” Sigar mengangkat kedua tangannya, menganggap hal itu enteng. Ia berjalan menuju ke dalam penginapan.
__ADS_1
“Ah, begitu.” Kuraki tampak kecewa namun tetap menyunggingkan senyum.
“God Eye, masuklah. Jangan membuat tuan rumah merasa tidak enak karena kedatangannya tadi,” ucap Sigar.
“Aku sedang tidak memikirkan apa pun.”
Yongchun berbalik badan, dan saat dirinya hendak melangkah masuk ke dalam, ia sempat merasa ada seseorang yang mengintip dari celah gerbang.
“Apa bocah itu masih ada di sana?” pikir Yongchun, menoleh ke belakang.
Kehadiran yang dirasakan oleh Yongchun mendadak menghilang dalam sekejap. Yongchun mengerutkan kening, merasa ada yang salah, ia pun pergi menuju ke gerbang.
Suasananya terasa mencekam. Yongchun menyentuh gagang pintu gerbang tuk membukanya namun ada gembok di sana.
“Hei God Eye! Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!” teriak Sigar dari kejauhan.
Yongchun lantas mengurungkan niatnya untuk memeriksa di luar gerbang itu. Tanpa tahu ada sesuatu di sana, ia pun segera berbalik badan dan masuk ke dalam penginapan.
“Baiklah.”
***
Fajar telah menyingsing. Terdengar sayup-sayup dari luar ruangan pria buta itu. Meski dirinya masih berbaring, mata Yongchun terbuka beberapa menit yang lalu.
Silau mentari memantul tepat di ujung bilah pedang. Dengan cekatan Yongchun menangkap bilah pedang yang diarahkan langsung ke lehernya.
“Sudah kuduga itu kau, God Mouth,” ucap Yongchun.
Sosok pria berdiri di dekatnya, raut wajah terpampang amat kesal dan terdapat kebencian dan dendam yang begitu mendalam, mengakar erat dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Pria yang kerap kali mengenakan sorban putih dan berkulit kecoklatan.
“Atau mungkinkah aku harus memanggil namamu, Bon?” imbuh Yongchun. Setetes darah jatuh ke atas pakaiannya.
“Apa? Bon? Ha, tak kusangka kalau kau akan memanggilku dengan nama itu. Yah, mau bagaimanapun nama itu pemberian dari guru kita. Ya, Asyura?” Pria itu menyunggingkan senyum tipis. Bukan merasa senang namun justru merasa jengkel.
__ADS_1
Bon, ialah teman sekaligus musuh Yongchun (Asyura) kini telah muncul dengan sosok yang baru. Yang di mana kekuatan Dewa Hitam mengalir ke tubuhnya, artinya salah satu Pemilik Tubuh Dewa.