
Selain Kaisar Ming, sudah pasti adalah keturunannya namun akan tetapi itu mustahil. Sulit untuk berpikir bahwa pria itu adalah putra Kaisar Ming yang sekarang.
Sebilah belati itu menembus kelopak mata Yongchun, darah mengalir kehitaman dan rasa sakitnya tak tertahankan. Perlahan ia mencabutnya lalu bersandar pada dinding dengan napas yang berat.
“Paman Yong! Kau tak apa?” tanya Wang Jiayi.
“Dasar bodoh, tidak lihat aku sedang terluka,” ketus Yongchun.
“Maaf saja. Aku saja tidak bisa melihat apa yang terjadi tadi, Paman Yong.”
Yah, itu ada benarnya. Di dalam juga tidak ada lilin yang menyala.
Drap! Drap!
Relia datang. Betapa terkejutnya ia melihat situasi yang kacau di dalam. Awalnya Relia sudah lama menduga kalau ini akan terjadi cepat atau lambat.
“Di mana pembunuh itu?” tanya Relia seraya ia melirik ke sekeliling.
“Kau tahu dia adalah pembunuh? Apa yang sebenarnya terjadi?” Yongchun berbalik tanya.
“Istana Wulan memang baik-baik saja. Tapi Relia mendengar bahwa sekelompok pembunuh datang ke kediaman Wang,” jelas Relia sambil ia menggendong Yongchun.
“Tu-Tunggu! Biarkan aku di sini saja!” teriak Yongchun, ia rupanya masih punya rasa malu jika digendong seorang wanita.
“Kenapa? Kau dan anak itu harus dirawat secepatnya. Sekelompok pembunuh itu mungkin takkan menunggu dan akan datang lagi kemari.”
“Jangan berkata seperti itu dengan wajah datarmu. Pokoknya turunkan aku dan rawat saja anak itu. Luka ini bukan apa-apa,” kata Yongchun.
Relia pun menurunkannya lalu beralih pada Wang Nam, ia melakukan apa pun tuk mengobatinya secepat mungkin. Setelah itu juga, semua luka Yongchun pun perlahan pulih.
Segera ia menuju keluar, selain jejak mereka, kehadirannya sama sekali tidak dapat dirasakan. Hawa itu sepenuhnya menghilang, lenyap dalam sekejap.
__ADS_1
“Sekelompok pembunuh itu kenapa mengincarku? Apakah Kaisar Ming mulai bertindak dan berusaha membunuhku?” pikir Yongchun.
“Ya. Kurang lebih begitu. Nia sekarang berada di Istana Wulan bersama Bing He. Mereka lah yang mengetahui rencana ini. Atau mungkin lebih tepatnya dari Putri Yu Jie,” jelas Relia.
Malam yang panjang dirasakan oleh mereka. Semua kekacauan itu menjadi tanda kehadiran dari sekelompok pembunuh. Para pengikut Wang sebelumnya hanya terdiam, mereka terkejut akan kedatangan mereka sehingga tak bisa berbuat apa-apa.
Namun nampaknya mereka masih punya rasa kepedulian antar sesama. Mereka datang ke kediaman utama Wang tuk merawat luka Nam serta membereskan kekacauan yang ada.
Luka Nam mungkin parah tetapi tidak terlalu dalam. Serangan yang unik, hanya dalam sekali tebas. Tipis tapi terdapat setitik racun dalam lukanya.
Kalau diingat-ingat kembali, Yongchun juga memiliki racun yang mengalir di tubuhnya. Tapi racun itu milik Wang dan Yang, sedangkan racun yang ada di dalam tubuh Wang Nam ini berbeda.
“Apa ini tidak apa-apa?” tanya Wang Jiayi.
“Tak jadi masalah. Ini hanya racun saraf dalam jumlah sedikit. Aku juga sudah menyingkirkannya, tenang dan tidurlah untuk malam ini.”
Fajar pun menyingsing tanpa meninggalkan butiran salju yang masih turun. Suhu dinginnya sudah tak separah saat pertama kalinya.
Desiran angin menerbangkan beberapa kertas yang tersusun rapi, sebuah ruangan yang hanya terisi beberapa furnitur itu terasa sepi.
“Suamiku, bagaimana lukamu?” tanya Relia. Wajahnya memang datar tapi sebenarnya ia sedang cemas tak karuan.
Yongchun menjawab dengan singkat setelah ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Hanya berucap dalam sebaris kalimat, “Aku baik-baik saja.”
Sepertinya terdengar sangat buruk. Walau tidak bisa mati namun bukan berarti tidak bisa terluka. Dan inilah hasilnya, racun-racun itu mulai bergelojak dan membuat organ dalam seolah melebur.
“Relia tidak mengerti bagaimana cara mengobatimu.”
“Kau tidak perlu bersusah payah. Sudah kubilang sebelumnya kalau aku akan baik-baik saja, Relia. Jadi tenanglah sedikit lalu ceritakan apa yang kau dengar dari Nia dan lainnya.”
Yongchun masih saja tersenyum lebar, ia menyuruh Relia duduk di sampingnya dan menceritakan apa yang diketahui tentang sekelompok pembunuh yang semalam itu.
__ADS_1
“Relia tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja Relia merasa akan terjadi hal yang gawat kalau suamiku ada di tempat ini.”
“Kalau begitu apa kau tahu salah satu dari mereka?”
“Sayangnya tidak. Relia hanya tahu kalau sekelompok pembunuh dengan caping itu sering menampakkan diri dan mengincar Putri Yu Jie,” ungkap Relia, menengadah.
“Rupanya begitu. Aku tak pernah tahu ada kejadian itu sebelumnya dan aku harap dia baik-baik saja. Lalu, sekarang aku sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mulai dari tindakan Kaisar Ming yang membuatku jadi salah satu 7 Surgawi kemudian hilangnya Pemimpin Wang sejak kemarin,” kata Yongchun dengan perasaan lega.
“Apa yang sebenarnya kau maksud?” tanya Relia tak mengerti.
“Dengar, Relia. Setelah masa 2 bulan berakhir kita akan pulang. Tentunya setelah menyelesaikan kekacauan yang ada di wilayah ini. Kau cukup ikut denganku bersama Nia saat aku mulai menjalankan rencana penggulingan kekaisaran. Kau mengerti?”
Yongchun menoleh ke arah Relia yang kemudian tersenyum sedikit. Sudah jarang sekali Relia menunjukkan wajah manis seperti itu, melihatnya membuat Yongchun lega.
“Mengerti. Sangat.”
“Tapi mungkin kita akan pulang sedikit terlambat. Hilangnya Pemimpin Wang itu justru membuat ini menjadi runyam. Tetapi aku mulai merasakan kehadirannya di sekitar sini, entah dia tak mau pulang atau mungkin ada sesuatu yang harus dia kerjakan,” imbuhnya.
Ketika suasana mulai tenang saat fajar menyingsing. Hari ini, pembunuh yang sama datang kembali seperti yang telah dikatakan Relia. Kehadirannya cukup menganggu ketenangan Yongchun, jelas membuat dirinya marah.
“Relia, coba kau datang pada Wang Nam, anak itu mungkin sudah terbangun dan dia butuh dirimu,” ucap Yongchun seraya menarik pedangnya.
Di halaman luar terdengar kericuhan, pembunuh itu lantas masuk dan menghabisi para pengikut Wang yang tak sebanding. Tahapnya bukan lagi ada di tahap menengah, kemungkinan besar dia sekuat para pemimpin kultus 7 Surgawi.
Dengan mempercepat langkahnya detik demi detik, Yongchun melancarkan serangan acak yang membuat angin setajam pisau itu menyayat setiap bagian tubuh si pembunuh.
Tidak biasanya pembunuh datang di pagi hari seperti ini. Mungkin dia sudah tak punya banyak waktu sehingga bertindak dengan terburu-buru. Memikirkan serangan apa lagi yang akan Yongchun gunakan padanya saja sudah membuat ia bergidik.
Kehadiran Yongchun dengan tenaga dalam hitam itu sungguh menakutkan untuk dilihat. Bahkan tanpa melihatnya saja, mereka juga pasti merasakan.
Para pengikut Wang mundur. Meninggalkan Yongchun bersama pembunuh itu sendirian.
__ADS_1
“TUNGGU!”
Dan sekarang, tanpa diduga datang pengganggu lainnya. Putri Yu Jie datang dengan tubuh yang kotor, ia merentangkan kedua tangannya tuk menghalangi Yongchun menyerang pembunuh itu.