Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
067. Kehadiran Bon Bagian I


__ADS_3

Anak gadis itu pun kembali berlari dan menjauhi mereka setelah suasananya menjadi hangat.


Setelah beberapa saat, kedai yang ada di belakang mereka tiba-tiba saja ambruk dan mengeluarkan suara yang begitu keras.


“Dia melakukannya lagi?! Cepat pergi dari sini!!”


Sorak-sorai dari orang-orang yang ada di dalam pun terdengar sangat keras. Mereka berhamburan keluar dari sana seraya memastikan bahwa apa pun yang sekarang ada di dalam tidak ikut keluar.


Dengan kewaspadaan tingkat tinggi, dahi mereka berkerut serta menggertakkan gigi kuat-kuat. Melihat barusan yang terjadi, Zhao Yun dan Li Bai berpikir apakah Kaisar Ming sudah dekat?


Apakah peperangan memang tak dapat dihindari? Keduanya mulai gelisah. Namun Bing He terlihat biasa saja, ia menatap ke arah kedai seraya melipat kedua lengan ke depan dada. Tampak ia sedang berpikir keras akan sesuatu.


“Hei, Bing He! Apa yang kau lakukan?! Cepat bawa orang-orang yang bukan pendekar itu pergi dari tempat itu!” pekik Li Bai yang sudah menuju ke tempat tersebut.


“Kenapa? Kau khawatir itu adalah Kaisar Ming? Tenang saja, Li Bai. Kau juga, Zhao Yun.” Bing He tetap tenang lalu berjalan santai menuju arahnya.


“Tentu saja!”


“Oh, kau? Kau ini Tuan Gagak, ya?” Salah seorang menegur Crow.


“Iya, itu benar. Nah, sekarang. Di mana singa itu?”


Li Bai dan Zhao Yun terkejut saat mendengar kata-kata, "Singa", nyatanya ambruknya kedai bukanlah karena pendekar yang menyerang wilayah ini. Namun ternyata hanyalah seekor singa.


Singa itu kini sedang tertidur pulas di atas meja yang sudah hancur. Beserta isi dari kedai pun tidak lagi nampak wujudnya. Benar-benar kacau.


“Makhluk apa itu?” tanya Zhao Yun penasaran.


“Itu namanya singa. Tenang saja dia sudah jinak. Tapi agak nakal. Apalagi terhadap orang asing seperti kalian, tetap berhati-hatilah.” Bing He memperingatinya.


Li Bai terdiam mematung lantaran tak dapat berkata apa-apa, selain ia ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Kedua alisnya tampak menyatu sesaat, dan tubuhnya pun gemetaran.


“Kau tak apa?” tanya Zhao Yun seraya menepuk pundak Li bai.

__ADS_1


“Katakan ini mimpi,” lirih Li Bai. Berharap apa yang ia lihat bukanlah kenyataan.


“Hah, jangan bermimpi di siang bolong. Ini nyata. Oh, ya, aku sampai lupa. Katanya kau ingin memastikan jalan lain yang bisa ditempuh oleh Kaisar Ming saat kemari, 'kan?”


Li Bai terdiam lagi. Perlahan ia melangkah mundur dan berdiri di belakang punggung Zhao Yun. Sekali-kali ia melirik ke arah singa itu dan berpikir apakah dia akan menyerang atau tidak.


Tetapi, Bing He justru mendekat padanya. Mengelus rambut-rambut yang lebat nan lembut. Singa itu tampak tertidur pulas.


“Bing He! Apa dia manusia?” tanya Zhao Yun tak masuk akal.


“Dia ini hewan. Sejenis makhluk buas, Zhao. Jelas-jelas dia bukan manusia.”


“Eh, begitu rupanya. Kupikir dia setengah siluman atau apa. Tapi kenapa ada hewan seperti itu di sini? Apa kau membawanya dari daerah barat?” pikir Zhao Yun.


“Tidak. Ini ulah pemimpin yang lalu. Dia yang membawanya dan dijadikan bahan pertarungan antar pendekar. Tapi saat itu hanya induknya saja yang dijadikan sasaran, Asyura-lah yang menyelamatkan anaknya ini.”


Mendengar alasan di balik kedatangan singa itu, Zhao Yun jadi mengerti. Betapa mengerikannya era sebelum hadirnya satu penguasa dulu.


“Lalu apa yang dia lakukan di sini?” tanya Zhao Yun mendekat. Li Bai tetap mengekor di belakang.


“Dia bisa melakukan hal itu? Cukup dewasa baginya.”


Zhao Yun tertarik sekali dengan hewan itu. Bahkan sudah jinak, ia pun memberanikan diri untuk lebih mendekat dan melakukan hal yang sama seperti Bing He.


“Ini, benar-benar unik.” Zhao Yun benar-benar menyukai rambut singa itu.


Entah kenapa suasananya jadi tak bisa diganggu. Mereka bubar satu persatu dan pemilik kedai itu pun kembali masuk dan menyuruh mereka untuk membayar semua tagihannya.


Sedangkan Li Bai pergi diam-diam. Yang barusan Zhao katakan itu benar, ia harusnya memeriksa jalan lain sejak tadi.


Jalan yang memungkinkan Kaisar Ming akan datang dari sana dan memniatnya menjadi tidak ada. Istilahnya Li Bai berharap tidak ada jalan lain selain jalan laut agar Kaisar Ming tak dapat menuju kemari.


Ke wilayah yang tentram ini.

__ADS_1


“Lautnya sungguh luas sekali.”


Seraya ia menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup. Rasanya sejuk dan sedikit panas karena memang ini wilayah yang tak kenal musim selain musim panas.


Setelah ia menuju ke daerah laut merah. Ia pun menuju ke daerah terdalam. Yang di mana terdapat beberapa bangunan lain yang berjejer rapi.


Di sana sangat ramai sekali. Meski penduduknya terbilang sangat sedikit, tapi orang-orang di timur tengah benar-benar sudah berubah. Tak seperti dulu yang kebanyakan rumor mengatakan wilayah ini sungguh kacau hingga tak layak ditempati.


Bahkan Bing He juga pernah bercerita kalau dulu, tempat yang berada di belakang seperti ini, adalah tempat berebut makanan. Dengan mengalahkan satu sama lain, mereka akan mendapatkan makanan itu.


Yah, terdengar sangat kacau. Terutama bandit-bandit yang dulu sering berkeliaran. Hampir menyerupai wilayah timur laut, namun tak separah di sini.


Tetapi mendengar cara memimpin Yongchun atau Asyura, ia lega. Karena caranya kurang lebih sama seperti Kaisar Ming Fu. Mendekatkan diri secara langsung pada orang-orang sekitar, rakyat mereka.


“Andai saja putranya juga bisa seperti itu,” gumam Li Bai.


Setelah ia berjalan lurus. Entah berapa lama ia berjalan hingga tak sadar ia sudah berada di dalam daerah sana.


Hingga langkahnya terhenti. Sebab seseorang menghalangi jalannya.


Mula-mula ia terdiam dan memperhatikan penampilan pria itu. Pria yang berpostur tinggi, rambut hitam mencuat dari kain yang ada di kepalanya. Sama sekali ia tak terlihat seperti seorang pendekar. Hanya seorang pedagang, Li Bai rasa.


“Siapa orang ini? Aku jadi penasaran, tapi melihat dari cara berpakaiannya tentu saja bukan orang dari barat, 'kan? Timur laut juga sepertinya tidak.”


Kini dalam benaknya, Li Bai hanya berpikir bahwa pria tersebut hanyalah perantauan. Entah apa yang sedang ia lakukan saat itu. Namun yang Li Bai tahu, pria ini hanya menengadah ke atas. Melihat langit dari suatu gang kecil.


Seharusnya melihat pemandangan langit ke atas dengan dua bangunan yang menghimpit di sisi kiri dan kanan, pasti takkan membuat ia puas.


“Hei, kau. Boleh aku tahu siapa dirimu? Kebetulan aku mencari seseorang untuk mengajakku berkeliling,” tegur Li Bai dengan berani.


Sontak pria itu pun beralih ke Li Bai seorang. Pandangannya menatap lurus, sinar matahari sedikit menyorot ke arah sudut matanya yang menukik.


Dan Li Bai sadar akan satu hal. Pria ini menggenggam sebuah kotak kecil berwarna hitam. Waktu sebelum keberangkatannya kemari, Yongchun pernah memberitahukan satu hal bahwa ciri-ciri dari pria itu harus ia hindari.

__ADS_1


Dan jangan sampai pria itu menyadari bahwa Li Bai adalah sekutu Yongchun saat ini.


__ADS_2