
God Soul saat ini berada dalam perjalanan menuju ke negeri asalnya. Arashiyama yang secara tak langsung merasakan sekaligus melihatnya dari kejauhan. Ia melihat bahwa God Soul pergi dengan raut wajah yang tidak bisa digambarkan.
Pokoknya, antara senang dan sedih itu berdampingan. Mengingatkan Yongchun akan kebahagiaan sesaat yang ia rasakan sebelum ini.
“Mungkin akan lebih baik kita minum sebentar?” ujar Sigar seraya memperagakan jari jempol ke atas mulut, tanda mengajak Yongchun untuk minum.
Yongchun terdiam selama beberapa saat. Ia mengangkat kedua alisnya dengan perasaan heran memandang pria dengan poni yang sedikit panjang itu.
“Baiklah.” Sebelum berucap, Yongchun mengangkat kedua bahu dan menyunggingkan senyum.
“Tapi sepertinya kita harus menunggu God Soul terlebih dahulu. Karena aku yakin dia akan kembali untuk menuntaskan masalah yang ada di sini,” ucap Sigar mendadak menunjukkan wajah seriusnya.
“Kau benar. Belum lagi God Mouth, entah kenapa perasaanku hari ini sampai ke depannya tidak enak.” Yongchun menggosokkan tengkuk kepalanya yang serasa gatal. Dalam beberapa waktu ia menengadah lalu menghela napas lantas berbalik badan dan pergi.
“Mau ke mana kau? Aku ikut denganmu sebentar,” ucap Sigar berlari menghampiri Yongchun seraya menepuk pundaknya.
“Kalau begitu, saya juga ikut. Tentu saja untuk minum bersama juga,” sahut Arashiyama yang bergegas mengikuti langkah mereka berdua yang lebih cepat darinya.
“Minum? Memangnya kau sudah berumur?” sindir Sigar.
“Oh, tentu saja. Saya hampir menyentuh usia 30 tahun.”
Seketika Yongchun dan Sigar terkejut. Sigar bungkam dengan mata terbelalak. Sempat mereka berhenti melangkah saking terkejutnya mereka karena pernyataan tersebut.
“Ya, terserahlah.”
Mereka menyambungkan langkah, kaki mereka bergerak secara bersamaan. Tadinya yang merenung mendadak mengikat pertemanan walau secara tak langsung.
“Hei, kau tidak akan membunuhku atau apa karena tahu di dalam tubuhku ada Dewa Hitam bukan?” tanya Yongchun agaknya ia masih khawatir.
“Aku tidak akan melakukan itu. Karena Romusha, pria berotak otot itu sudah memberitahuku kejelasannya. Kau sudah berjuang keras melawan keberadaan itu sendiri,” ujarnya yang menyuruh Yongchun untuk tidak menganggap Sigar sebagai musuh lagi.
“Jadi luka di setengah tubuhmu itu karena berkelahi dengannya?”
__ADS_1
“Ha, benar!” Seolah ia memenangkan pertarungan itu. Sigar kini menyombongkan diri karena ia masih hidup meski tubuhnya harus dibalut banyak perban saat ini.
Dalam perjalanan mereka menuju ke penginapan, seorang anak kecil berlari-lari kecil menuju ke satu tempat ke tempat lain. Ia nampaknya sangat tergesa-gesa, raut wajahnya sedikit memucat ketika ia terjatuh sampai pedang yang terbagi menjadi dua itu terlepas dari dekapannya.
“Argh!”
Anak itu pernah sekali bertemu dengan Relia. Bocah lelaki yang terjebak siang-malam dan mencuri bagian pedang milik Yongchun.
Ia kembali bangkit tak lama setelah itu. Ia kembali berlari menuju ke jalan yang sedikit besar, tak peduli seberapa banyak luka berupa lecet-lecet hingga berdarah-darah di beberapa bagian tubuhnya saat ini.
“Ah itu dia!”
Begitu pandangannya menangkap punggung seorang pria dengan rambut hitam tergerai panjang, bocah lelaki itu pun mempercepat langkahnya menuju ke sana.
Gedubrak!
Karena larinya terlalu cepat, bocah itu pun menabrak mereka sampai jatuh tersungkur ke tanah. Terdengar suara rintihan, Yongchun dan lainnya menoleh ke belakang mendapati seorang bocah tengah meringis kesakitan sambil memegangi tubuh bagian belakangnya.
“Turunkan tanganmu,” pinta Yongchun seraya menurunkan lengan Arashiyama. Ia kemudian mengangkat tubuh anak itu agar dapat berdiri seperti sebelumnya.
“Terima kasih. Ah, tidak. Maaf! Aku tidak sengaja! Maaf!” pekiknya seraya membungkuk badannya, naik-turun secara bergantian dengan niat meminta maaf lebih dalam.
Orion menghentikan gerakan bocah lelaki itu dengan bicara, “Hentikan. Kamu tidak sengaja melakukan itu, dan katakanlah kamu sedang apa sampai menabrak orang segala?”
“Pertama, ijinkan aku untuk meminta maaf. Karena pedang ini ...dulu aku pernah ambil ini,” ucap bocah lelaki itu sambil menyodorkan bagian pedang yang masih berada dalam dekapannya.
Sontak Yongchun terkejut, ia pun menerima bagian pedang yang sudah terbagi menjadi dua. Dirinya teringat bahwa pedang ini patah karena digunakan olehnya sendiri saat bertahan di anak tangga menuju kuil Romusha.
“Kudengar bagian anak tangga hancur karena sabetan pedang. Apakah itu karena pedang milikmu?” tanya Sigar.
“Dari mana kau tahu? Tapi ...bukan karena sabetan pedang ini melainkan kekuatan Dewa Hitam.”
“Hooo...” Sigar baru mengetahuinya.
__ADS_1
Dalam benak Yongchun berpikir, apakah Shira tidak memberitahukannya pada Sigar bahwa pria itu adalah saksi mata atas pertarungan Yongchun dengan Dewa Hitam. Namun pemikiran yang telah berlalu itu pun dialihkan oleh bocah lelaki yang menatap patahan pedang itu.
“Apa kamu berniat untuk menjualnya?” tanya Yongchun seraya menyodorkan pedang itu kembali padanya.
“Jangan!” Arashiyama sedikit meninggikan suara sambil menyilangkan kedua lengan ke depan. Wajahnya tetap datar.
“Wajah datar itu membuatku teringat dengan Relia,” batin Yongchun mendesah lelah dengan tundukan kepala.
“Kau ...berpikir bahwa saya mirip dengan istri ...mu?” Entah mengapa ucapan Arashiyama agaknya ragu dengan apa yang barusan ia dengar menggunakan kekuatannya.
“Kau jangan seenaknya mendengar perasaan orang lain. Aku paling tidak suka itu,” ucap Yongchun kesal.
Yongchun menghela napas panjang lalu memberikan pedang itu kembali pada si bocah. Namun Arashiyama lagi-lagi menolaknya, padahal itu bukan pedang miliknya.
“Jangan berikan itu. Pedang itu mengalir kekuatan Dewa Hitam. Maksudku, sebagian dari Dewa Hitam.” Alasannya cukup masuk akal.
“Tadinya aku berniat untuk menjual benda itu, tapi seorang wanita ...membuatku kepikiran.”
Bocah lelaki itu kembali membuka mulutnya dan bicara, seorang wanita membuatnya kepikiran, katanya begitu. Namun tak seorang pun dari ketiga orang yang berada di hadapan bocah itu mengerti maksud darinya.
Maka Yongchun bertanya, “Wanita, siapa yang kamu maksud?”
“Kata wanita itu, pedang ini adalah milik temannya. Jadi kupikir, harusnya aku kembalikan saja meski sudah tidak utuh saat ditemukan,” tuturnya.
“Rupanya Relia menjaga rahasiaku dengan baik.” Yongchun membatin lalu tersenyum tipis membayangkan wajah Relia dalam benaknya.
“Kalau begitu, apa kamu ingin menyimpannya? Aku ijinkan, termasuk menjualnya pun terserah.”
Bocah lelaki itu mendorong pedang itu kembali pada Yongchun.
“Tidak.” Bocah lelaki itu menggelengkan kepala. “Sebagai gantinya, ajarkan aku menggunakan pedang!” tegasnya dengan semangat. Kedua mata bocah lelaki itu berbinar-binar.
Tak hanya Yongchun, bahkan Sigar dan Arashiyama tersentak kaget.
__ADS_1