
“Ajarkan berpedang padaku! Aku ingin! Aku ingin bertarung! Agar ...saat perampok laut kembali datang, aku tidak hanya bersembunyi di balik warga lainnya!”
Sudah banyak kisah yang telah terjadi di pulau Nihonkoku. Dari ujung ke ujung yang di mana mereka selalu mengangkat pedang begitu musuh mendekat ke wilayahnya. Hanya pria-pria saja yang memberanikan diri tuk melawan perampok yang datang dari laut itu.
Tak luput permasalahan yang pernah terjadi, skala yang cukup besar hanya karena beberapa pendekar dibagi menjadi beberapa bagian. Sekutu a, b dan seterusnya yang merasa mereka harus memiliki wilayah yanh sedang diperangi oleh mereka saat itu juga.
Tapi, tahun di mana Yongchun baru saja tiba di pulau Nihokoku ini, ia sama sekali tak mendapati banyak orang-orang seperti itu.
“Tentu saja! Karena ...pendekar di atas level mereka itu hanya kita.” Sigar menyahut atas pendapat Yongchun sebelumnya.
“Maksudmu adalah kita? Itu ...karena keberadaan Dewa Hitam yang ditakuti 'kan? Menurutku tak seharusnya mereka menciut karena di wilayahku, banyak orang biasa yang mampu mengalahkan orang berkekuatan sihir atau tenaga dalam dan semacamnya.”
Yongchun terlihat membanggakan penduduknya yang berada di wilayah timur tengah. Ia membusungkan dada dan tak lupa menyunggingkan lebar senyumnya.
“Setiap orang berbeda-beda. Kau pikir semua sama aja? Jangan bandingkan dengan tempatmu itu,” sindir Sigar.
“He, aku tahu.” Senyumnya hilang hanya dalam beberapa waktu saja. Tampak Arashiyama terkejut, alisnya pun berkedut sebentar.
“God Eye, kau ...jadi berbeda? Kau memang ketus pada kami tapi rasanya sedikit berbeda.”
Kalimat Arashiyama menyinggung Yongchun, hatinya terasa senat-senut karena hal-hal yang pernah terjadi kembali terlintas tanpa disengaja.
“Baiklah, saya tidak akan mengatakan hal itu lagi.” Walau ia tidak menyinggung perasaan namun dirinya tetaplah membuat hati Yongchun kembali merasakan pedih yang sakit.
Senyum adalah bagian dari identitas, sekalipun kedua mata itu tertutup, bibir yang tersungging itu sudah cukup memperlihatkan ekspresi seperti apa Yongchun.
Yongchun terlihat tersenyum di depan atau di di luar tapi tidak di dalam yang pikirannya masih terbayang-bayang oleh darah segar itu.
“Kenapa keberadaanku diabaikan?”
Seketika ketiganya terkejut. Mereka asik bicara sendiri sementara bocah lelaki itu kini terus terdiam. Sigsr mengelus ujung rambut kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
Sambil berkata, “Kami tidak mengabaikan dirimu. Hanya saja sedang berpikir, apakah mungkin mengajarkanmu berpedang di usia yang begitu belia?” ujarnya menekuk kedua alis.
Sontak bocah lelaki itu tersadar. Lihat, betapa kecilnya tubuh ini, betapa rimgannya, kurus dan juga tak bertenaga. Bocah itu nampak sadar diri namun keinginannya justru semakin menguat.
“Tapi, aku tetap ingin melakukannya. Karena tanpa senjata maka aku akan mati duluan!” Bocah lelaki itu menatap ke arah lain yang seolah-olah sangat jauh dengan tatapan membara.
Sigar jadi tidak bisa bicara apa-apa. Ia sepenuhnya bungkam sama seperti Arashiyama yang sejak tadi tak ikut menanggapi keinginan bocah ini.
“Ha ...kamu terlalu gegabah.” Sementara Yongchun menghela napas pendek, tampaknya Yongchun semakin enggan mengajarkannya ilmu pedang.
Lantas, Yongchun bangkit dari sana. Tetap menatap bocah yang juga menatapnya. Dari balik sehelai kain putih, ia jelas melihat bahwa bocah ini akan hidup sampai masa tuanya tiba.
“Nak, aku tidak bisa mengajarkanmu.”
Trang!
Yongchun melempar pedang yang terbagi menjadi dua itu ke tanah, ke hadapan si bocah yang bingung dengan tindakan Yongchun saat ini.
Sraaaaa!
Keluar sesuatu ekstensi dari lengan kanan Yongchun, berupa kobaran hitam yang kemudian menyelimuti tubuh pedang itu. Setelah beberapa saat kobaran api hitam itu membelitnya lalu menghilang.
“Eh?”
Tak hanya bocah itu bahkan Sigar dan Arashiyama pun dibuat terkejut olehnya. Melihat bagian pedang itu kembali menyatu tanpa ada polesan seperti bekas tempaan lagi.
“Bawalah pedang itu sebagai bukti kau adalah bocah yang akan bertemu denganku beberapa tahun lagi. Sampai kamu matang.”
“Aku tidak bisa bertahan hidup tanpa pedang!” Bocah itu menjerit ngamuk.
“Dengar, ini pelajaran pertamamu denganku sebagai seorang yang kebetulan lewat. Pemikiran bahwa hanya dengan senjata kamu bisa bertahan hidup adalah salah, kamu harus tahu bahwa tanpa senjata pun kamu bisa menang.”
__ADS_1
Beberapa kalimat yang tertata dalam otak langsung diutarakan Yongchun begitu saja melewati bibirnya. Entah dengan ekspresi apa yang sebenarnya ketika Yongchun melakukan hal seperti ini. Bahkan sampai membuat Sigar semakin penasaran dengan identitas Yongchun.
“Sebelum kamu memengang pedang untuk bertarung, pastikan kamu harus tetap hidup sekalipun tanpa menggunakan senjata.”
Yongchun berbalik badan dan pergi bersama Arashiyama dan Sigar. Tak banyak perkataan yang dilontarkan, namun begitu mengucapkan 3 baris kalimat atau lebih sedikit membuat bocah lelaki itu terus terpaku dengan punggung Yongchun yang begitu lebar.
Sesekali ia menatap ke arah pedang itu lalu mengambilnya dengan kehati-hatian. Dipikir berapa kali pun, bocah lelaki itu tetap tidak mengerti apa yang sebenarnya Yongchun katakan.
“Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa aku harus bertahan hidup tanpa senjata sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa bahkan tanpa batu kerikil di tanganku.”
Benar saja. Pikiran bocah lelaki tanpa nama itu mulai terusik semua ucapan Yongchun sebelum ini. Ia kemudian menatap telapak tangannya dengan kerutan di dahi.
“Aku juga tidak pernah belajar siasat perang. Lagi pula aku hanya bocah miskin, siapa juga yang ingin mengajariku berpedang?”
Ia pun mereggut kesal. Masih buntu dalam pikirannya, ia pun bergegas membuntuti langkah Yongchun diam-diam.
“Baiklah, aku mungkin tidak akan mengerti tapi setidaknya dengan mengikuti calon guruku, aku bisa melakukan sesuatu.”
Si bocah lelaki pun bertekad keras. Akan ada jalan, asalkan ada kemauan. Itulah kata-kata yang pantas untuk bocah yang mau berjuang untuk bertahan hidup di dunia ini.
Bocah itu juga pernah terjebak siang-malam Dewa Hitam, dan karena itu juga lah ia mau untuk bertahan hidup dan menggunakan pedang.
“Baiklah ...dia sedang apa?”
Ia mengintip dari balik dinding gerbang luar penginapan Kuraki. Tampak beberapa orang berkumpul di teras sembari mengobrolkan suatu hal yang tidak bisa didengar oleh Yongchun.
Setelah beberapa jam mereka bubar, sebagian dari mereka pergi keluar untuk melakukan sesuatu. Namun berbeda dengan Yongchun, ia hanya menengadahkan kepala, menatap langit dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan mudah.
Sampai malam pun tiba, Yongchun masuk ke dalam penginapan. Saat itulah teman-temannya kembali ke penginapan yang kemudian gerbang yang sengaja dibuka sedikit itu telah ditutup rapat oleh mereka.
“Apa? Hanya itu saja kegiatannya?”
__ADS_1
Si bocah tentu akan sangat marah, lantaran Yongchun sama sekali tidak melakukan apa pun yang berguna. Ia menjadi kesal dan akhirnya mendobrak gerbang agar dapat masuk ke dalam.