
Ketika pagi sudah tiba, suasana yang hangat, damai dan tentram kembali mereka rasakan. Perlahan-lahan arti dari kedamaian mulai terlihat begitu jelas di mata para penduduk. Setelah apa yang terjadi, seolah pengaruh Kaisar Ming telah lenyap sepenuhnya.
Sekadar menjentikkan jari pun begitu mudah, itulah saat mereka kembali memikul beban sebagai pekerja. Tidak hanya melindungi melainkan juga merawat anak-anak mereka.
Tetapi, bagi pihak yang merasa diuntungkan namun juga tidak. Pilu dengan tatapan sendu itu terlukis di wajah para Pemimpin Kultus 7 Surgawi. Sebagian dari mereka sudah tiada dan sisanya masih berada di wilayah lain. Lalu Pemimpin Wang Xian yang kini menjadi pondasi pun kurang lebih sama seperti para pemimpin yang tersisa.
Duduk di atas takhta, singgasana Kaisar. Menggantikan posisi Kaisar serta memikul beban yang jauh lebih besar dan berat. Wang Xian banyak dipuja-puja oleh mereka para penduduk.
Sedangkan di tempat lain, Pemimpin Xie Xie hanya merenung seraya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Di arah dekat perhutanan, Yin berada di sana. Ia menyeret tubuhnya sendiri hingga dapat bersandar ke pohon yang rindang. Kedua matanya terbelalak terkejut, perasaan gelisah bercampur takut serta rasa sakit yang kembali muncul pada sekujur tubuhnya.
“Mata Dewa yang terkutuk sekaligus berkah. Apakah kau menjamin apa saja yang barusan kau katakan?” Yin bertanya dengan mata yang semakin membulat namun memudar warnanya. Kesadarannya menghilang secara perlahan.
“Benar. Kaisar Ming adalah neraka. Lebih tepatnya Panglima Neraka itu sendiri! Dan kau hanyalah salah satu orang yang dimanfaatkan agar kehidupannya semakin panjang. Tentunya kau yang sebagai pengguna seni iblis,” jelas Yongchun membuka telapak tangannya dan mengarahkan ke wajah Yin.
“Tetapi ...lalu bagaimana dengan janjinya?” gumam Yin.
Brugh! Seketika Yin dikejutkan, bagian belakang kepalanya membentur batang pohon hingga meninggalkan jejak.
“Janji?”
“Ja-janji agar aku bisa terlepas dari kekuatan iblis ini ...” jawab Yin terbata-bata.
Yongchun diam mendengarkan sebaris kalimat yang ia rasa perlu dipikirkan lebih matang. Detak jantung Yin kian melemah. Kalau saja ada lebih waktu, mungkin ada hal yang bisa ia lakukan untuk Yin.
Tapi sudah terlambat. Perlahan, bilah pedang milik Yongchun sudah berlumuran dengan darah segar. Terus menetes, mengalir lalu membasahi tubuh Yin itu sendiri.
Dengan pedang yang sudah menembus tubuh, kini nyawa seorang lelaki dengan sifat naif pun telah tiada. Seutuhnya tak dapat bergerak lagi.
__ADS_1
Sembari menarik kembali pedangnya ia mengucapkan beberapa patah kata, “Aku tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Jadi, kulakukan saja apa yang menurutku benar.”
Crash! Darah dari luka tusukan pedang itu kembali mengalir dengan deras. Meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan, Yongchun menginjaknya.
“Karena aku bukan dewa atau sejenisnya. Jadi jangan harap kau bisa mati dengan damai,” sambung Yongchun lantas pergi meninggalkan Yin.
Suasana di wilayah timur laut kembali tentram. Ya, benar. Sangat benar kalau terlihat dari jauh. Namun tidak begitu ia merasakan kehadiran para pemberontak.
Mereka melihat Yongchun dengan tatapan tidak mengenakkan. Sepat dan benci, itulah yang Yongchun rasakan ketika berjalan di antara mereka. Mungkin sebagian dari mereka hendak menyerangnya namun tak bisa karena kondisi mereka yang cacat.
Cacat dalam artian penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Mereka yang tinggal di daerah terbelakang, hanya mampu menatap punggung Yongchun dari jauh.
“Aku lupa dengan wabah ini.”
Tidak berhenti sampai situ, kini Yongchun berjalan menuju ke pondok Wang. Tempat di mana Yang Jian berada.
Setelah Yang Jian mengijinkan, ia pun masuk. Mendapati Yang Jian yang tengah duduk termenung sendirian di sudut ruangan.
“Apa yang kau lakukan?” Kemudian Yongchun kembali bertanya namun Yang Jian hanya menggelengkan kepala tanda tidak ada masalah padanya.
Namun apa itu benar? Terlihat sekali wajahnya sedih, hati yang ia miliki patah menjadi berkeping-keping. Rasa sakit dan sedih yang ikut mengalir dirasakan oleh Yongchun juga.
“Aku lumpuh,” ucap Yang Jian dengan dahi berkernyit lalu menoleh ke arah Yongchun.
“Begitu ...” singkat Yongchun.
“Dan adik—”
“Akulah yang membunuhnya,” ucap Yongchun memotong kalimat Yang Jian. Mengakui perbuatan yang telah ia lakukan.
__ADS_1
Dengan tangan sendiri, Yongchun membunuh Yin Ao Ran tanpa ragu. Karena ia, Yin sebelumnya juga terluka parah.
“Sudah cukup kau ceritakan itu. Aku tahu kau akan membalas kami satu persatu. Tetapi, apa memang seperti ini caramu memerangi wilayah lain?” sindir Yang Jian dengan tatapan sendu, kesal lantas merundukkan kepala.
“Tidak juga. Lagipula, aku hanya memikirkan apa yang terbaik ke depannya untuk wilayah timur laut. Dulu sekali, sahabatku pernah mengatakan hal. Bahwa kita harus mencurigai seseorang yang baru pertama kali kita kenal, namun aku tak bisa,” ucap Yongchun dengan helaan napas di akhir.
“Aku berpikir, kalau aku mempercayai kalian maka tanpa pertarungan pun ...semua akan kembali seperti sedia kala. Wilayah yang kalian dambakan akan kembali dan berkatku juga,” sambung Yongchun.
“Kau terlalu mempercayai seseorang. Tapi niatmu untuk membantu benar-benar tulus. Bahkan sampai saat ini aku masih tak percaya kalau kau datang hanya untuk meminta kebutuhan demi para pendudukmu di sana,” balas Yang Jian.
“Aku juga sudah bilang. Akan aku lakukan apa pun demi pendudukku. Dan saat aku tahu, kalau Kaisar Ming ternyata menyembunyikan banyak hal dari penduduk di sini, aku kecewa. Tak kusangka penguasa itu justru berfoya-foya sendiri. Lalu mengambil keuntungan dari mereka yang bahkan nyaris tak bercukupan. Kemudian untuk orang yang terkena wabah itu ...”
Tentu Yongchun menjadi kesal sendiri saat melihat Kaisar Ming tidak begitu peduli dengan penduduk. Terutama pada sebagian orang yang terkena wabah itu.
“Untuk seorang penguasa, kau terlalu merendahkan dirimu di depan kami,” ketus Yang Jian.
Lantas Yongchun menjawabnya dengan tersenyum. Berkata, “Karena prinsipku adalah merendah diri sebelum direndahkan oleh orang lain. Dan yang berperilaku baik akan disanjung di akhir cerita.”
“Sejak kapan orang yang dirumorkan bengis menjadi bijak begini? Apakah selama ini kau menggunakan kata-kata manismu agar semua orang menyanjungmu?” pikir Yang Jian sedikit menyindir dan terkekeh.
“Tidak. Dari awal aku bukanlah orang sejahat itu,” sangkal Yongchun.
“Meski setelah kau membuat penduduk saling bertarung sama lain?”
Apa pun yang diucapkan oleh Yang Jian padanya, Yongchun akan tetap menjawab, “Iya.” Seolah tak kenal dengan dosa. Membenarkan segala perbuatan yang dilakukannya semata-mata demi kedamaian antar wilayah mereka.
Itulah sifat Yongchun. Keras kepala, licik dan selalu melakukan semaunya.
“Benar-benar tidak cocok disebut sebagai Penguasa.”
__ADS_1