
Bertahun-tahun ia berada di dalam neraka, itulah yang Yongchun rasakan namun sekarang setelah keluar dari sana. Dunia hanya berselang selama beberapa hari saja. Sungguh tak dapat dipercaya, omongan Niao ternyata benar.
Aura pekat Yongchun yang semula dapat dirasakan oleh beberapa orang termasuk Kaisar Ming tiba-tiba saja lenyap saat Yongchun sudah jatuh ke laut biru. Nelayan berupaya menolongnya namun tampak kepala Yongchun sedikit berguncang sehingga membuat dirinya terlihat konyol.
Beberapa kali ia terbatuk-batuk serta mengeluarkan air laut yang diminumnya, rasa sakit di dada seolah membakarnya. Tak hanya itu, bekas tapak Niao pun masih ada di dada kanan.
Sangat jelas dan membekas ke kulit dan daging Yongchun. Nelayan itu sangat khawatir padanya, sehingga ia pun bergegas menepi. Kembali ke daratan.
“Kau betulan tak apa?”
“Ohok, ohok! Hoekk ...laut itu asin sekali,” gerutu Yongchun sambil mencekik lehernya sendiri.
“Hei?”
“Ugh, s*al. Niao kurang ajar! Bisa-bisanya aku dijatuhkan begitu saja. Untung saja tidak langsung ke daratan, ergh ...”
Yongchun mengerang kesakitan dan kembali memuntahkan air laut yang masih tersimpan dalam tubuhnya. Setelah beberapa saat, Yongchun kemudian berbaring di atas pasir. Menghirup udara panas serta mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya.
Pikirannya mulai tenang. Nelayan itu sempat pergi dan sekarang ia telah kembali dengan membawakan air minum dan beberapa makanan.
“Minum dan makanlah ini. Kau pasti sangat kaget kalau dijatuhkan begitu, iya 'kan?”
“Sebelumnya terima kasih karena kau telah menolongku. Ini tahun ke berapa?” tanya Yongchun yang kemudian ia menenggak minumannya.
“Tahun? Aku mengingat hari saat tamu asing datang kemari dan sekarang sudah lewat hampir satu pekan,” jawabnya.
“Ah, kupikir aku akan terlambat,” ucap Yongchun dengan lesu.
“Ngomong-ngomong kenapa Raja—”
“Aku bukan seorang Raja. Sudahlah, aku pusing memikirkan hal ini terus. Karena aku harus pergi secepatnya,” kata Yongchun. Ia lantas bangkit dan membersihkan pakaiannya yang saat ini masih basah.
“Pergi ke mana?”
“Hm, tidak apa. Bukan urusanmu. Lalu, kau harusnya jangan pergi melaut untuk saat ini. Karena sebentar lagi mereka akan datang ...”
__ADS_1
Ia merasakan kehadiran beberapa orang yang dikenal. Terlihat dari kejauhan, debu yang mengepul-ngepul akibat langkah cepat beberapa orang menunjukkannya.
Bon, Diola dan Bing He datang menghampiri Yongchun. Mereka terlihat seperti hewan buas mengincar satu mangsa yang sama.
Yongchun terkikik kemudian ia mendengar suara teriakan, “APA YANG KAU LAKUKAN!?”
“Diola sudah kemari, aku harusnya cepat pergi.”
Yongchun berbalik dan segera ia menjauhi mereka yang kini hampir mendekat. Namun tak pernah ia sangka kalau Bon sudah berada tepat di belakangnya.
“Asyura!” teriak Bon seraya menarik pakaian Yongchun dari belakang. Ia menyeretnya mundur sehingga jatuh tersungkur.
“Tunggu! Tunggu! Kalian ini siapa!?”
Mulai lagi. Yongchun benar-benar tak ingin bertemu mereka terutama Bon tentunya. Ia berniat menyangkal dengan dalih melupakan semua orang.
“Kau melupakannya lagi!?”
Merasa tak terima, Bon menjambak rambut Yongchun dan membuat kepalanya masuk ke dalam laut sekali lagi. Yongchun memberontak, ia merasa sesak napas karena belakang kepalanya ditahan oleh Bon.
“Itu bagus! Karena lupa akan membuat nyawamu melayang! hehehehe!”
“Anu, bukankah beliau adalah penguasa wilayah ini?” tanya nelayan itu dengan sedikit cemas.
Bon menoleh dengan wajah tak senang. Ia lantas berkata, “Siapa peduli?” Begitulah katanya.
“Kau!!” panggil Diola dengan mengamuk, segera ia mempercepat langkah berlari lalu saat mengarahkan pedang padanya, Bon lantas menghindar.
“Ergh ...lagi-lagi ...” Kali ini Yongchun benar-benar sial, tak mengira bahwa Bon akan semakin tak waras.
Yongchun akhirnya lolos. Sebelum bilah pedang milik Diola menyentuhnya, Yongchun berlari dan membelakangi Bon. Raut wajah kesal itu kini tak terkendali, ia menebas punggungnya sampai bercak darah pun berceceran ke sekitar.
Bruk! Tubuh Bon ambruk dan gemetaran hebat karena tebasan pedang Yongchun. Diola seketika terhenti lalu menoleh ke arahnya.
“Kau baru pulang?” tanya Diola pada Yongchun. Nadanya sedikit tegas.
__ADS_1
“Apa kau marah, paman? Tapi sebentar lagi aku akan pergi. Urusanku dengan wilayah timur laut belum selesai. Jadi aku harap janganlah menganggu,” tutur Yongchun dengan raut wajah tak biasa. Sangat serius.
“Aku sudah dibuat pusing sana-sini dan sekarang apa? Aku merasa kau sedikit berbeda, apakah karena wilayah itu membuatmu kesulitan sehingga aura-mu mekar menakutkan?” sindir Diola dengan helaan napas.
“Tidak ada waktu. Sebentar lagi, di wilayah sana ...” Yongchun menunjuk ke arah belakang, tepat ke arah timur laut. “Tahun baru dirayakan dengan festival lampion. Aku tak punya banyak waktu untuk berdiam diri di sini. Kau mengerti maksudku bukan?” ujarnya.
“Maksudmu adalah menguasai mereka?”
“Jangan pakai kata-kata yang kasar begitu. Nanti kalau ada orang yang mendengar bagaimana? Pasti aku akan dicap sebagai orang jahat,” lantur Yongchun. Ia sebenarnya juga sudah tahu kalau di sekitarnya ada beberapa orang saat ini mendengar pembicaraannya.
“Ngomong-ngomong, Bon. Kau terlalu lemah hanya karena aku menebas punggungmu. Selama ini apa yang kau lakukan?” sindir Yongchun kepada Bon.
“Aku hanya terluka karena utusanmu.” Bon menjawabnya dengan ketus.
Sejak tadi, keheningan ini terasa seperti di meja diskusi. Nelayan yang merasakan hawa berat tersebut pun menarik mundur. Pergi dan berupaya melupakan apa yang barusan mereka bicarakan.
“Payah. Aku berpikir pasti kau sedang bermain-main,” ejek Yongchun.
“Asyura, aku ingin katakan ini padamu. Kaisar Ming hendak menyerang wilayah ini. Kau harus bergerak secepatnya karena tidak ada yang tahu kapan beliau akan bergerak nanti,” jelas Bing He menegaskan.
“Aku tahu. Aku tahu dia akan menyerang kemari semenjak aku dihapuskan,” ucap Asyura.
“Apa? Dihapuskan? Apa maksudmu berkata begitu? Selama ini juga kau pergi ke mana ...sebenarnya.” Diola menyahut.
“Aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Intinya aku dikirim ke neraka lalu sekarang aku kembali. Sebagian orang sana juga pasti menyadari bahwa aura yang tadi itu adalah aku,” tutur Yongchun.
“Nera—”
“Paman, ah, maksudku penguasa wilayah laut timur tengah sementara. Aku sekarang bukan penguasa yang kalian bicarakan, aku bicara dengan kalian sebagai Wang Yongchun, salah satu petinggi di wilayah timur laut.” Yongchun memotong ucapan Diola.
Orang tua itu dibuat kesal olehnya, kesalnya memuncak. Diola menggenggam pedang dengan kuat seolah-olah hendak menyerang Yongchun.
“Jangan kau lupakan pesan yang disampaikan dari dua pemimpin kultus. Aku pergi!”
Yongchun berbalik dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Seperti saat ia meninggalkan wilayah ini, moral tanggung jawab sebagai penguasa dengan mudahnya dilupakan.
__ADS_1
Namun, bukan karena Yongchun melarikan diri melainkan ia percaya pada semua bawahannya yang mampu menggantikan peran besar tersebut.
Begitu pula dengan bawahannya, Diola, Bing He dan lain-lain, mereka percaya bahwa Yongchun—pemimpin mereka akan kembali tanpa tangan kosong.