
Goa berguncang kuat usai terbelah menjadi dua. Namun itu hanyalah bagian dari luarnya saja. Ketika debu mengepul cukup padat, dan dorongan angin akibat sabetan tenaga dalamnya membuat mereka terdorong. Dewa Hitam terdorong keluar sedangkan Yongchun terdorong masuk ke dalam goa.
Ia jatuh terguling-guling, masuk dari sisi ke sisi lain dalam goa. Hingga ia berada di tempat, di mana ia pertama kalinya melihat serta merasakan sosok Dewa Hitam tersebut.
Tidak butuh lama untuknya bangkit setelah rasa syok. Yongchun kemudian bersandar pada dinding dalam goa seraya mengatur napasnya secara beraturan. Terasa tubuhnya masih gemetaran.
“Sepertinya aku terlalu berlebihan. Tidak aku sangka akan menjadi seperti ini. Hah, ya ampun.”
Napasnya teratur secara berangsur-angsur. Lantas ia kembali berjalan masuk ke salah satu jalan masuk goa lainnya. Tidak ada penerangan sama sekali, sehingga ia hanya dapat meraba-raba pada bagian dinding untuk berjalan.
Perlahan-lahan, ia merasakan anak tangga turun ke bawah. Yongchun tidak pernah tahu ada anak tangga yang turun ke bawah lagi sementara ia sudah turun setelah masuk dari mulut goa langsung.
“Apakah ada rahasia lainnya tentang Dewa Hitam?” pikirnya.
Dari atas sana terdengar jeritan Dewa Hitam yang begitu nyaring memanggil-manggil namanya. Tampak ia sangat marah, ia pun masuk lebih ke dalam dengan tubuhnya yang berdarah-darah.
“Apa aku bersembunyi di sini saja ya? Ugh?!”
Tiba-tiba di tengah perjalanan menurun ke bawah, matanya terasa sakit sekali. Tidak, bukan mata. Tapi seakan-akan matanya masih tersambung dengan Dewa Hitam di atas sana.
Kobaran api hitam yang sebelumnya padam karena mata itu diambil kembali pun kini mulai kembali menyala-nyala dengan kuatnya. Di satu sisi yang sama pula, Dewa Hitam merasakan juga sakitnya. Seperti mata itu menolak Dewa Hitam.
“Ada apa ini tiba-tiba? Ini sedikit aneh, aku yakin sekali bahwa kedua mataku sudah tidak ada. Namun kenapa aku masih merasakan sakitnya, ini seperti ketika mata itu dicabut dariku.”
Duk!
Tak kuasa menahan sakitnya hingga urat nadi itu sekilas terlihat. Panas hingga darah mengucur deras dari kelopak mata yang terbuka lebar-lebar.
“Argh! Ini ...sakit sekali!”
Pats!
Cahaya menyilaukan pandangan Yongchun. Reflek ia menyilangkan kedua lengan ke depan guna menghalau sedikit dari silaunya cahaya tersebut.
“Apa ini? Aku bisa melihat kembali.”
“Hei!”
Suara yang familiar terdengar dari arah belakang. Yongchun menoleh lantas ia ditarik lebih masuk ke dalam goa.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya God Ear.
__ADS_1
Pria berambut panjang putih dengan satu penutup mata. God Ear, ia sangat terkejut begitu mendapati Yongchun tengah terduduk di antara anak tangga. Begitu pun dengan Yongchun, ia juga kaget karena kedatangan God Ear tiba-tiba.
“Harusnya aku yang tanya begitu.”
“Kenapa begitu? Seharusnya kau merasa senang karena aku datang. Bukankah sulit untuk melawan Dewa Hitam sendirian?”
“Kau telat datang kemari. Dan, mataku juga sudah diambil olehnya. Mungkin itu terdengar berita bagus buatmu tapi tidak untukku. Karena menurutku Dewa Hitam atau apalah itu tidak membuat perasaanku tenang.”
“Aku tahu kau akan berkata begitu. Dewa Hitam ternyata punya tujuan kekanakan seperti manusia. Cacat,” ucap God Ear tanpa ragu.
“Aku juga berpikiran hal sama sepertimu. Tapi kenapa kau bisa telat? Seharusnya aura Dewa Hitam itu sudah dirasakan oleh yang lain,” kata Yongchun mencurigainya.
“Sebelum itu, bukankah katamu barusan, matamu itu sudah diambil?” ujar God Ear mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku juga tidak tahu. Awalnya memang diambil sehingga aku tidak bisa melihat lagi. Tapi sekarang, penglihatanku kembali.” Yongchun menjelaskan.
“Apa-apaan itu? Aku sama sekali tidak mengerti.”
Ruangan yang berada jauh dari atas. Sekilas terlihat sama namun akan tetapi terdapat beberapa perbedaan di antaranya adalah tatanan goa dan setiap ukiran yang merupakan sejarah dari Dewa Hitam.
“Menurutmu ini apa?” God Ear bertanya.
“Ah iya. Aku lupa mengatakan satu hal padamu. Aku bisa sampai ke sini karena aku bertemu dengan God Soul yang sudah dikendalikan Dewa Hitam. Dan benar katamu bahwa hidup God Soul mungkin tak lama lagi.”
DRRRRRK!
Goa bergetar kuat. Guncangannya membuat kerikil di langit-langit goa tempat di mana mereka berada pun berjatuhan.
“Dia mengamuk, ya?”
“Sepertinya kedatanganmu membuat akhir ini jadi terburuk. Karena matanya sudah kembali padaku, maka dia akan mengambilnya lagi.”
“Ya, aku rasa apa yang kau katakan benar.”
God Ear meraba-raba dinding yang saat itu ruangan di sana tidak ada penerangan sama sekali. Ia sedikit khawatir, was-was jika goresan di sana mirip dengan yang ia temukan sewaktu dulu.
“Tidak, sepertinya ini berbeda lagi. Mungkin aku ini semacam scroll? Hm, tapi aku tidak begitu mengerti dengan budaya pulau di sini. Jadi tidak bisa sepenuhnya aku artikan.” God Ear membatin.
ZRAAAKKK!
Serangan dari Dewa Hitam itu tidak main-main. Getaran di sana cukup kuat, dan kemudian langit di sana terbelah menjadi dua. Memperlihatkan langit membentang luas. Tampaknya goa saat ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai goa lagi.
__ADS_1
Reruntuhan.
“Cepat pergi!” pekik Yongchun lantas bangkit, samar-samar ia melihat pergerakan dari atas. Siluet hitam putih yang dapat ia lihat, menunjukkan wajah God Soul secara tiba-tiba.
“God Eye! Menyingkirlah!” teriak God Ear seraya mendorong tubuh Yongchun.
Slash!
Mata tombak yang sebelumnya tertuju pada Yongchun, kini menyerang tubuh God Ear sebagai gantinya. Darah menyembur keluar dengan deras namun api hitam itu pun juga keluar dari tubuhnya sehingga luka tebasan pulih dalam waktu singkat.
“Tubuh kalian yang menerima kekuatanku itu tak layak! Tapi benar-benar mengesalkan sekali ya.”
Tap, tap!
God Ear menjauh dari sana. Ia menjaga jarak dari jangkauan serangnya. Untuk sesaat God Ear merasakan daya intimidasi yang lebih kuat dari God Soul sendiri.
“Tubuhmu itu milik manusia. Tak seharusnya kau bangkit dengan cara begitu,” kata God Ear.
“Oh, kau mengharapkan diriku untuk bangkit, ya.”
“Iya tapi kalau kau tidak ada niatan untuk membahayakan dunia manusia.”
“Ha, itu mustahil. Karena suatu saat dunia yang kalian tempati ini akan musnah!”
Langit yang terbelah, langit terbentang luas kebiruan. Jejak yang berat membuat kawah di tempat. Sosok yang sama sekali berbeda dengan yang dipikirkan oleh mereka semua.
Rasanya seperti menghadapi kekosongan manusia.
“Jangankan kau, aku pun sebetulnya tidak peduli dengan dunia yang aku tempati,” ucap Yongchun dengan melepaskan semua tenaga dalamnya dalam waktu singkat.
“Ternyata ada manusia yang muak juga.”
“Tidak hanya aku. Bahkan semua orang yang memiliki bagian dari tubuhmu.”
Tombak muncul dari udara yang kemudian membelah diri menjadi beberapa bagian. Sekali ia mengayunkan lengan ke depan, semua tombak itu melesat ke arah mereka berdua.
Dengan cepat Yongchun menggerakkan lengan dan memotong semua tombak itu. Di satu sisi God Ear juga melakukan hal sama disertai dengan elakan.
Lalu, keduanya mengeluarkan serangan yang sama. Yakni berupa banyaknya pedang bayangan. Menyerupai serangan Dewa Hitam sebelumnya.
“Oh, ternyata kita memiliki teknik yang sama.” God Ear meringis dan menatap Yongchun.
__ADS_1