Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
144. Evolusi I


__ADS_3

“Oh, jadi itulah mengapa kau membunuh mereka?”


“Karena mereka tidak percaya, maka terpaksa aku lakukan agar tidak menganggu. Toh, tidak ada yang rugi kecuali pulau ini hancur.”


Sigar berpikir bahwa pikiran Yongchun terlalu menganggap enteng hal itu, akan tetapi itu fakta dengan bukti sejarah lalu God Ear yang telah mengungkapkan hal-hal lain yang telah banyak diketahui oleh God Ear yang dulu.


“Tidak masuk akal!”


Syat!


Sigar kembali menyerang Yongchun. Dirinya mengganas, ia takut untuk percaya karena itu berarti dia akan mati sebagai pengorbanan mulia. Lantaran Sigar tidak mau mati.


Yongchun juga tidak akan melakukan hal itu jika bukan karena Dewa Hitam. Ia kembali memunculkan pedang dan menangkis semua serangan membabi buta Sigar.


Teriakan Sigar begitu keras, ia menjerit pun bukan karena melampaui semangat melainkan diliputi oleh ketakutan sekaligus amarah.


“Pemikiran lebih cepat!”


Ketika Sigar menyebutkan hal itu, keduanya terdiam. Terutama Sigar yang kaget, ia kini bimbang dan bertanya mengapa dirinya tidak bisa menggunakan kekuatan dewa.


“Apa kau bodoh?”


Zraashh!


Sabetan pedang melingkar sekilas api kebiruan muncul dalam sabetannya. Memotong lengan Sigar, darah pun menyembur keluar tak karuan. Sigar kembali berteriak dengan kencang, ia menahan rasa sakit yang luar biasa mengerikan itu.


“Br*ngs*k kau! God Eye!”


Ia menggeram kesal. Amarah pun nampak begitu jelas dengan adanya angin menerpa tubuh Yongchun hingga terdorong mundur dan menabrak sebatang pohon kecil.


“Lagi-lagi begini. Uh, tulang punggungku sudah rusak lalu sekarang rusak lagi? Dasar, kenapa di sini banyak pohonnya?” gerutu Yongchun.


Bergegas Yongchun bangkit dari sana. Ia melesat secepat yang ia bisa, lalu melayangkan serangan dengan bilah pedang. Mendatar dan membentuk setengah lingkaran dengan nyala api menggelora dalam malam.


Kabut pun terbelah bagai kertas, hilang dan menunjukkan posisi Sigar yang tengah menatap tajam dirinya.

__ADS_1


“Cih!”


Sesuatu di dalam tubuhnya ikut bergetar, tidak, mungkin dia sangat kesenangan. Sosok dewa hitam ini merespon perilaku Sigar yang tidak wajar. Ini berbeda saat ketika Yongchun melawan Pemilik Tubuh Dewa yang lain. Sungguh membuat jantung berdebar kencang, Yongchun mengencangkan rahang serta menyunggingkan senyum sinis.


“Sigar!!” teriak Yongchun seraya membuat pedang bayangan yang cukup besar. Dalam proses itu, sosok Sigar berubah menjadi seperti diri Yongchun dua hari yang lalu.


“Hentikan! Jangan panggil namaku!”


Yongchun memanfaatkan kesempatan serta timing yang pas ini, ia membuat Sigar diambil alih kendali kesadarannya oleh Dewa Hitam.


“Kalau bisa aku ingin membunuh semuanya!”


Malam itu cukup sunyi. Tidakkah dari kalian merasa ada yang aneh? Banyak penduduk di sekitar mereka tapi tak seorang pun melihat keadaan di luar seakan acuh namun pada dasarnya itu salah. Lantaran, mereka berada dalam dunianya Dewa Hitam.


Di mana ia bisa mengubah siang dan malamnya. Dewa Hitam pun takkan melepaskan kesempatan ini untuk mengendalikan Sigar lebih mudah, tapi sayangnya tubuh Sigar ditebas sesaat setelah Dewa Hitam merasuk sepenuhnya ke tubuh Dewa Hitam.


Dua tanduk, taring yang tajam. Tubuh yang bersimbah darah serta kesadaran yang perlahan menghilang.


Swuush!


Yongchun mengayunkan senjatanya ke bawah, hempasan angin pun terbuat hingga membuat kabut menghilang dari gelapnya malam. Rembulan malam tiba-tiba muncul, lalu darah mengalir keluar dari segala luka yang diderita oleh Yongchun.


Tubuh Sigar jatuh ke bawah bersamaan dengan Yongchun yang lemas seketika. Napasnya tersengal-sengal berat tak karuan, berusaha ia untuk bangkit namun goresan hitam yang mendadak muncul di lengannya pun terlihat seakan menahannya.


“Ternyata gagal lagi,” ucap Yongchun mengerutkan kening.


***


Bertempat di kediaman Amiya, wanita muda yang hidup sendiri, namun sekarang tidak lagi karena ada seorang wanita bernama Nia dengan putra dari istri pertamanya, Relia.


Saat itu Nia terbangun karena mendengar suara aneh dari luar, namun tidak terlihat ada kekacauan di luar sana sehingga membuat Nia kebingungan. Nia menghela napas panjang, lalu menepuk lembut punggung putra kecilnya yang terbangun.


“Ayahmu sama sekali tidak peduli denganmu. Betapa egoisnya. Padahal aku pun berharap kamu akan diberikan nama panggilan yang bagus. Apa ya?”


Sesuatu juga menganggu putranya itu, putranya itu terbangun namun dalam keadaan tenang. Tidak menangis sekalipun, ia benar-benar sangat tenang dengan mata terbuka dan tersenyum puas. Sesaat Nia pula merasakan sesuatu dari tubuh putranya itu.

__ADS_1


“Gerhana bulan, malam. Bulannya berwarna hitam ya?” ucap Nia melongok dari jendela. Ia mengintip tuk melihat warna langit serta bulan yang berwarna hitam dengan putih melingkarinya.


Sangat indah, namun juga mematikan karena dapat membuatnya buta.


“Tidurlah, tidurlah. Jangan membuatku begadang,” gerutu Nia dengan lirih seraya memejamkan mata.


Anak itu tetap membuka kedua matanya sampai Nia tertidur pulas, anak itu terlihat seperti menyadari keberadaan seseorang.


“Uh?”


Ia menoleh ke jendela, celahnya sedikit terbuka dan mendapati seorang pria yang kemudian tersenyum tipis padanya.


“Sepertinya kau baik-baik saja. Syukurlah.”


Pria itu kemudian pergi, ialah Yongchun. Tampaknya di malam setelah pertarungan itu, jasad Sigar masih utuh. Sigar mati dengan mengenaskan, setengah bagian dalam tubuhnya hancur akibat Dewa Hitam yang hendak mengendalikan tubuh Sigar.


Yongchun kembali ke tempat itu, selama beberapa waktu dirinya mematung dan menatap mayat Sigar. Lalu ia pun akhirnya pergi dari sana dan berpulang ke penginapan.


Tuk! Tuk!


Niatnya begitu tapi sepertinya tidak bisa. Meskipun secara tak langsung, pria di depan sana terlihat menghadang jalan Yongchun.


Satu-satunya pemilik tubuh dewa yang tersisa, yang diakui hanya Sigar saja. Sekarang, salah satu pemilik tubuh dewa yang bahkan bisa disebut bekas itu muncul. Bon atau dengan nama aslinya Khaleed.


“Aku tidak mengincarmu Bon. Meski hanya setengah dari kekuatan pun itu cukup buatku,” ujar Yongchun seraya mengangkat telapak tangannya ke depan ke arahnya.


“Kau bicara apa? Aku di sini bukan sebagai bagian dari kalian atau kau. Melainkan sebagai Bon, orang yang akan membunuhmu,” tukas Bon menghadapnya, tatapan menukik tajam itu seakan menembus diri Yongchun.


“Oh, begitu? Tapi sepertinya mustahil!”


“Diamlah!”


ZRRRUUUNGG!


Satu kata terucap keluar dari mulutnya, seketika Yongchun dibuat bergidik. Jangankan membuka mulut tuk membalas ucapannya, bahkan menggerakkan seujung jari pun susahnya minta ampun.

__ADS_1


“Padahal setengah kekuatannya kuambil saat aku melawannya waktu itu. Terlebih, kekuatan dewa-nya seharusnya sulit digunakan terutama ketika sisa dewa hitam masih ada di tubuhnya. Harusnya dia merasa sakit,” batin Yongchun seraya menatap Bon dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Yongchun tak dibuat untuk bergerak, rasanya seperti membatu, membujur kaku. Ia hanya bisa berpikir dalam benaknya, yang kemudian mengeluarkan kekuatan dewa Hitam yakni bagian dari tangan. Tangan milik Romusha dulu, sekarang ada pada tubuh Yongchun.


__ADS_2