
Jatuhnya Yongchun ke tengah laut biru menggemparkan beberapa orang yang di sekitar sana. Termasuk bawahannya yang setia serta musuh.
Setelah ia jatuh di wilayah sendiri, ia pun mendadak pergi lagi. Diola yang tahu apa yang sedang ia rencanakan pun segera membawakan kapal dan menyuruhnya untuk naik agar tidak membuang waktu lebih banyak.
Tetapi, hanya beberapa antek—mantan bawahan Viona (musuh saat peperangan saudara) dan Bing He yang akan ikut bersama Yongchun. Dalam benak Bon, ia menyesal karena telah bertarung dengan salah satu utusan Yongchun—Zhao Yun, karena jika ia tidak bertarung maka pasti sudah ikut. Tentunya bukan untuk membantu melainkan menemukan celah dari Yongchun.
“Sangat bodoh melawannya di saat kau sendiri sedang terluka, Bon.” Diola menyindir.
Kepergian Yongchun untuk yang kedua kalinya menandakan akhir sudah tiba. Kini, Diola tengah memapah Bon untuk kembali ke pemukiman di balik laut merah. Mendapati Li Bai dan Zhao Yun, mereka tercengang melihat Bon yang terluka seperti itu.
Li Bai sempat berkeringat deras seraya melirik ke arah Zhao namun Zhao mengalihkan pandangan darinya sebab tak mau disalahkan.
“Oh, kalian berdua masih ada di dekat laut merah rupanya. Dan tenanglah, orang ini terluka karena pemimpin kami sendiri.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Li Bai bernapas lega karena tahu Bon terluka bukan karena Zhao Yun.
“Barusan, Tuanku. Pemimpin Yongchun yang jatuh ke laut, apa benar?” tanya Zhao Yun.
“Iya benar. Barusan dia pergi lagi dan katanya semua yang dia rencanakan akan segera dilaksanakan,” jelas Diola dengan wajah datar dan kemudian ia menjatuhkan tubuh Bon dengan kasar.
“Hei, kau! Kalau menolong orang itu yang ikhlas!” amuk Bon yang kini tengkurap dan tak bertenaga.
“Baguslah, terima kasih karena sudah menyampaikan. Besok pagi kami akan segera pergi dan menyusulnya dengan kuda. Memang tidak lebih cepat dari kapal, apalagi menyusulnya saja sudah tidak mungkin. Tapi aku berharap bisa membantunya nanti,” harap Zhao Yun seraya mengepalkan kedua tangannya.
***
Terhitung harian untuk sampai ke timur laut meski menggunakan kapal. Apalagi musim di sana masihlah musim semi, mungkin tidak akan ada perbedaan kalau hanya dilihat dari kedua mata. Yang menjadi perbedaan adalah suhu, kalau di timur tengah seringkali musim panas tapi kalau di timur laut sekarang adalah musim semi. Musim yang membuat bunga atau tumbuhan tumbuh dengan mekar, sejuk dan terasa hangat.
“Tuan, kami akan ikut!” seru mereka yang hendak turun dari kapal.
__ADS_1
“Jangan. Kalian tunggu saja di sini sampai semuanya selesai. Kira-kira 1-2 hari lagi, baru kalian akan turun dari kapal. Mengerti?” ujar Yongchun.
“Baik!”
Musim semi hari ini, seolah musim pertama baginya. Sudah lama ia tak menghirup udara di dunia. Namun isi kepalanya masih terngiang-ngiang akan perwujudan neraka yang panas, dingin, ilusi dan lainnya.
Melewati gunung tempat dimana Yin berada, lalu kediaman Xie yang bersebrangan. Tampak, beberapa bawahan dari kedua pemimpin tengah mewaspadai kedatangan Yongchun.
Xie Xie saat itu enggan menyapa. Ia hanya berdiri dan memperhatikan wajah Yongchun yang agaknya berbeda. Terlihat tak seperti biasanya.
Lalu, Yin Ao Ran, pria congkak itu juga ada di sekitar gunung. Sebelumnya Yin dengan Yongchun sempat saling bertatap muka. Seolah Yongchun ingin Yin ikut pergi dengannya.
Ke tempat dimana para pemberontak itu.
“Suasanya masih sama saja,” gumam Yongchun seraya melirik ke sekeliling. Melihat banyak orang yang tengah bekerja ke sana kemari, dan tak seorang pun yang menyadari keberadaan Yongchun yang lewat.
Berjalan menuju ke sebuah rumah yang sudah berlumut. Sudah tak layak dihuni namun masih ada beberapa orang yang tinggal di sana.
“Apa kalian baik-baik saja?” Yongchun menanyakan kabar di tengah-tengah pembicaraan penting mereka.
“Wah, jahat sekali. Aku hanya pergi sebentar dan sekarang aku sudah menemui kalian sesuai janji,” tuturnya berwajah datar.
“Oh, ya? Bagaimana dengan rencanamu, festival di awal musim semi telah berakhir. Apakah kau berencana melakukannya di akhir bulan, saat festival lentera itu?” sahut pria bertubuh kurus.
“Ya. Kalian sudah tahu itu tanpa kuberitahu. Kalau begitu aku pergi, ya.”
Saat Yongchun berbalik badan dan hendak pergi, Rou Ai yang keras kepala sekali lagi menghentikan langkahnya dengan berteriak.
“Apa kau yakin, semua akan berjalan lancar!?”
“Tentu, itu kujamin.”
__ADS_1
“Kau tidak berencana untuk membunuh para penduduk yang tidak bersalah, 'kan?” tanya Rou Ai sekali lagi.
Yongchun menoleh ke belakang lantas berucap, “Tidak akan. Lalu, kalian yang akan muncul pertama di atas panggung dan menyerbu para pendekar yang takkan menggenggam pedang di hari seperti itu.”
Saat mendengarnya, Rou Ai dan orang-orang yang membenci keberadaan orang luar ini menatapnya sinis.
“Tentunya kalian tahu mana yang pendekar dan mana yang penduduk, benar?” imbuhnya dengan seringai tipis.
Mendadak hening seketika. Yongchun pun keluar dari sana dan kemudian berhenti setelah beberapa langkah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, melihat ada seseorang yang mengintip. Namun tidak lama setelah itu ia kemudian melanjutkan langkahnya pergi.
Seakan-akan ia tak lagi mencurigai. Yin Ao Ran pun keluar dari semak-semak. Menghela napas panjang karena berpikir Yongchun tidak mengetahui keberadaannya.
“Sejujurnya aku sangat kasihan dengannya. Tapi dia benar-benar bodoh sekali, aku tak menyangka akan melakukan trik kotor seperti ini lagi,” celetuk Yongchun dalam batin. Raut wajah itu masihlah sama, sepertinya Yongchun benar-benar tidak punya pilihan lain selain melakukan rencananya itu.
Rencana yang takkan diduga. Yongchun tahu betul bahwa rencana ini diketahui oleh Kaisar Ming karena Yin yang melaporkannya. Namun Yongchun tetap diam sebab tanpa rencana ini, mereka semua takkan pernah merasa jera.
Ingin sekali ia melihat wajah penyesalan itu dari pihak manapun.
Dan seperti biasanya, Yin memang telah diperkirakan akan melaporkan hal ini kembali pada Kaisar Ming. Seluruh rencana yang disusun rapi oleh Yongchun, tidak akan pernah dirubah sama sekali.
“Kau yakin itu benar?” tanya Kaisar Ming dengan dahi berkenyit.
“Ya. Semua yang dia bicarakan tidak ada yang berubah. Sebelumnya dia hanya bilang rencananya saat festival dan sekarang festival itu sudah diperjelas.”
Festival lentera. Malam tahun baru bagi wilayah timur laut, semua orang baik pria maupun wanita akan keluar dan merayakannya. Kebebasan, itulah sebutannya.
“Apa dia tahu kalau kau membuntutinya? Tidak mungkin dia tidak tahu. Aku sungguh curiga,” duga Kaisar Ming.
“Sejauh ini tidak ada reaksi yang jelas. Orang itu sungguh tidak bisa ditebak. Tapi kalau memang tidak dirubah bukankah itu artinya ada peluang bagi kita?” pikir Yin.
“Kau terlalu polos. Tapi aku senang karena dia benar-benar akan melakukan rencana sesuai awal yang kau ceritakan. Dengan begini, serangan dadakan dariku ke wilayahnya itu tidak sia-sia,” tuturnya dengan senang.
__ADS_1
“Saya harap, rencana penguasa timur tengah dapat mudah dipatahkan!” tegas Yin dengan berharap.
“Kau pikir siapa diriku? Heh ...” Kaisar Ming mendengus senang. Berpikir semua akan berjalan sesuai rencananya setelah tahu apa yang direncanakan Yongchun.