Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
101. God Soul Bagian III


__ADS_3

Penginapan Kuraki.


“Tuan akhirnya pulang. Ah? Anda kehujanan? Padahal tidak ads hujan turun, jangan bilang ada anak-anak bermain air sehingga terciprat, ya?”


Betapa terkejutnya Kuraki, dan matanya sungguh jeli padahal pakaian Yongchun sudah cukup mengering. Sisa basahan pun tidak begitu terlihat karena pakaiannya yang hitam.


Kuraki mengusap wajah dan beberapa bagian tubuh Yongchun yang terbuka. Setelah itu Yongchun dibawa ke pemandian namun Yongchun menolak.


“Tuan tidak mau menghangatkan diri? Airnya cukup hangat, saya jamin.”


“Tidak perlu. Aku hanya ingin berdiam diri di kamar.”


Sembari mendorong punggung Yongchun ia berkata, “Maksud Tuan mengurung diri? Itu tidak baik, lebih baik Tuan segera—”


Kalimat Kuraki terhenti lantas melihat seorang lelaki yang berdiri di jendela kamar Yongchun.


“Sejak kapan pintu terbuka?”


“Kuraki, mundurlah. Dia bukan orang baik-baik. Akan lebih baik jika kau cepat beritahu hal ini pada lainnya.”


“Baik, saya mengerti!”


Kuraki bergegas pergi. Lantas Yongchun masuk ke dalam ruangan, mendapati seorang pria dengan ciri yang sama. Ia pun menggenggam senjata tombak berwarna kebiruan.


“Oh, jadi ini tempat tinggalmu? Kumuh sekali,” cerocos God Soul.


God Soul, orang yang terakhir kali bertarung dengannya namun berakhir ketika God Soul melarikan diri.


“Apa kau tidak punya adab? Kalau ingin bertamu silahkan lewat pintu depan. Ataukah kau datang sebagai pelanggan?”


“Heh, mana mungkin aku mau tinggal di sini!” pekiknya mengejek tempat penginapan Kuraki seraya melihat ke sekeliling dalam ruangan.


“Sepertinya ada orang yang tidak waras di sini.” Yongchun melangkah ke depan seraya menarik dua pedangnya.


Whuungggg!


God Soul memutar tombaknya dan membuat angin sekitar mengikuti arah tombak itu berputar. Selagi berputar, God Soul menginjak lantai ruangan.


Clank!!


Dalam sekejap, satu gerakan membuat keduanya tertahan senjata mereka sendiri. Saling mendorong dan menatap tajam.


Trang!


Sedikit berdenging ketika tombak kembali diputar. Yongchun terdorong mundur beberapa langkah. Lantas God Soul kembali mengambil langkah ke depan dengan angkat dagu.


“Kau harus mati sebelum kau membunuhku!” pekik God Soul melayangkan senjata dengan angin yang didapat.


Swooshhh!!

__ADS_1


Seketika Yongchun tak dapat berkutik, hempasan angin begitu kencang hingga kedua kakinya terus terseret mundur keluar dari ruangan.


Blaarrr!!!


Kobaran api merajalela di sepanjang dua bilah Yongchun.


“Ini kesempatan bagus untuk mengujinya. Dan semoga saja tidak sampai rusak karena aku belum membayar tagihannya,” gumam Yongchun.


Dash!


Ia melesat dengan kecepatan yang sulit dilihat. Tapi tidak bagi God Soul, sebagai sesama Pemilik Tubuh Dewa—God Soul pula mempunyai kelebihan yang sama dan lebih dari pendekar biasanya.


Ayunan pedang yang melingkar, diikuti tebasan menukik dari ujung tombak yang runcing. Sekali lagi kedua senjata kembali beradu.


“Jangan di sini, nanti rusak!” tegas Yongchun


Duak!!!


Lantas Yongchun menggunakan tendangan kaki tuk mendorong tubuh God Soul keluar dari ruangan melewati jendela.


Kemudian disusul Yongchun yang mengikut keluar dari jendela. Hempasan angin menyibak tirai dan tatami jadi tergesek hingga rusak.


“Hei, kau merasakannya?” God Hand bertanya seraya ia keluar dari kamarnya.


“Iya, aku juga.”


“Tidak, bukan.”


Segera mereka keluar dari kamar dan menuju ke asal sumber suara pedang serta dua aura yang berpadu. Terasa mencekam, terutama yang mereka rasakan lebih dari Yongchun.


Saat itu Yongchun dengan God Soul masih saja saling menyerang. Rerumputan di halaman belakang pun habis terpotong bahkan sampai menunjukkan tanahnya.


Awan masih sangat gelap hari itu, menunjukkan tanda cuaca buruk akan tiba tak lama lagi. Namun suasana antar pertarungan mereka cukup menegangkan dan tak ada satu pun dari mereka yang mau menghentikan mereka.


Tentu saja, dibanding mengurusi hal itu. Mereka yang benci dengan Yongchun pasti berharap dia lebih cepat mati.


Srat! Syat!


Goresan di wajah, lengan, kaki hingga menyentuh leher. Nyaris Yongchun terpenggal karena ujung tombak tersebut. Tombak yang diayunkan membuat cipratan air ke mana-mana.


Ia mengendalikannya bak sihir, terus membentuk senjata dan mirip dengan bayangan api milik Yongchun.


“Kau masih sangat khawatir padaku? Padahal aku sama sekali tidak berniat membunuhmu,” tutur Yongchun.


Klang! Klang!


Dua kali gerakan dan ditahan oleh tombak yang panjang. Memutar ke belakang seraya kembali mengayunkan pedangnya, bersamaan dengan api yang melayang-layang menusuk tubuh God Soul.


Akan tetapi itu saja tidak akan mempan.

__ADS_1


Slash!!


Menebas punggungnya yang harusnya berakibat fatal, justru tidak berpengaruh pada tubuh God Soul. Ya, walaupun darah terus mengalir tombak tetap kokoh sams seperti tubuhnya yang ringan.


Semilir angin yang mengelilingi tubuh God Soul berwarna kehitaman. Muncul sosok jiwa yang bersemayam itu kembali, hawa yang pekat dan tekanan yang kuat membuat tubuh Yongchun bergidik, tak berkutik sekalipun.


Tombak yang kebiruan seperti air yang jernih pun berubah perlahan dengan angin yang mengelilingi. Menjadikan tombak diliputi aura yang sama pekatnya.


Sebagaimana warna hitam, sebagai sesama Pemilik Tubuh Dewa, tentu mereka saling mengenali. Bahwa apa yang dimiliki oleh mereka adalah suatu kesamaan dari satu pemilik.


Kuro Kami.


Ctar!!


Petir menggelegar dan menyambar diri God Soul. Bukannya tumbang dan terluka, ia justru terlihat seperti mengambil kekuatan alam.


Gerakannya yang secepat kilat mengimbangi pergerakan Yongchun. Seiring berjalannya waktu dan awan mulai menggelap seutuhnya, gemuruh dan hujan deras turun secara alami.


Genangan air yang ada di mana-mana itu sungguh menganggu jalannya pertarungan bagi Yongchun. Namun tidak bagi God Soul yang justru memanfaatkan hal tersebut untuk menumbangkan Yongchun.


“Hei, lihat? Sepertinya Mata Dewa kewalahan. Aku jadi kasihan.”


“Kalau kasihan kenapa tidak menolongnya? Dia berniat membunuhnya loh. Jikalau Mata Dewa tumbang, kita juga tidak akan tahu akan menunggu selama apa kebangkitannya.”


“Heh, dari awal aku tak peduli jika dunia betulan hancur. Tapi itu hanya seberkas ramalan. Mana aku percaya.”


Blar!


Api menyembur ke sekeliling God Soul yang kemudian membalas serangan dengan hujaman tombak dari langit.


“Pola yang sama lagi. Ini terlalu mudah,” gumam Yongchun.


Slash!!


Ia memutar tubuh serta ayunan kedua pedangnya. Menebas secara bersamaan, sedikit ia mematahkan tombak God Soul yang kemudian berhasil menorehkan luka.


Tang!!


Dua pedang Yongchun ditahan ke bawah oleh tombaknya. Kekuatannya sangat kuat, rupanya ia sangat berniat untuk membunuh Yongchun saat ini juga.


“Matamu perlu tekad yang lebih dari ini. Baiklah, aku akan membuatmu bertekuk lutut hari ini.”


Sembari mengatakan hal tersebut, Yongchun melepas genggamannya pada pedang lantas menyerang dengan tenaga dalam yang menyelimuti kepalan tangan.


Jrashh!!


Pukulan menembus tubuh God Soul. Seketika semua kekuatannya seolah tertelan kembali. God Soul tumbang dan masih mendapatkan kesadarannya.


Sembari ia menancapkan pedang di samping kepala God Soul, Yongchun berkata, “Aku jadi penasaran, bagaimana jika aku mengambil Jiwa Dewa yang ada di tubuhmu?”

__ADS_1


__ADS_2