Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa
118. Jalan Lurus Bersitegang


__ADS_3

Terik matahari yang begitu panas, pertarungan yang telah berakhir. Atau tidak?


God Ear entah kenapa dirinya masih dapat bangkit. Dengan tubuh yang bersimbah darah, ia perlahan bangkit lalu berjalan tertatih-tatih. Napas dan tubuh yang berat ketika ia gunakan untuk berjalan, sulit untuknya menuju ke penginapan Kuraki.


Namun, ia berusaha keras untuk tetap berjalan. Setidaknya sampai keluar dari goa.


Pikiran Dewa, datang, ia bergegas menghampirinya dengan raut wajah gelisah.


“Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi, tapi sepertinya ini karena Dewa Hitam itu? Kebangkitannya mulai kita rasakan satu sama lain. Apa aku salah?”


“Tidak. Kau tidak salah. Tapi aku merasakan perasaan yang aneh saat sebelumnya. Padahal aku merasa bahwa aku mati. Tubuhku berlubang dan aku masih hidup.”


Benar, itu masih menjadi hal yang misterius. God Ear sendiri bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya yang sebelumnya berlubang justru sekarang hanya luka gores saja. Belum lagi keberadaan Dewa Hitam yang tidak ada di sekitarnya, awalnya God Ear berpikir bahwa Dewa Hitam telah bertemu dengan Pemilik Tubuh Dewa lainnya namun ternyata masih belum.


“Sebenarnya dia ada di mana?”


“Di mana? Apa yang kau maksud?” tanya Pikiran Dewa seraya ia menuntun God Ear berjalan menuju ke penginapan.


“Dewa Hitam, sebelumnya aku bertarung dengannya. Dengan ...uhuk!” Detik terakhir, God Ear memuntahkan darah.


“Sudah, berhentilah berbicara. Lukamu parah sekali.”


Semua yang hendak God Ear katakan menjadi kosong lantaran dirinya sudah terluka sangat parah akibat pertarungannya dengan Dewa Hitam. Keberadaan Dewa Hitam sendiri sudah lebih dari keberadaan negri mereka. Namun akan tetapi, di satu sisi ia menginginkan kebangkitan Dewa Hitam dan di sisi lainnya pula ia meragu.


Apakah benar keberadaan Dewa Hitam yang seperti itu memang harus dibangkitkan?


Tanpa sadar God Ear menggumankan hal tersebut.


“God Ear! Jangan bilang seperti itu lagi! Kita bisa terkutuk olehnya. Dan aku tak mau kena imbasnya,” amuknya.


“Tetapi! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan? Kenapa kau begitu menginginkan kebangkitannya?”


“Hei, dengarlah! Kebangkitan itu sudah mencapai tahap awal. Itu berarti God Mouth ada di pulau ini. Apa kau tahu jika kita tidak mengambil kesimpulan maka dunia ini akan hancur di tangannya!” Pikiran Dewa menarik tubuhnya seraya berteriak.


“Lalu bagaimana jika itu tetap terjadi meski sudah dibangkitkan!” sahutnya menegas.

__ADS_1


Debat pun tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Mereka pada akhirnya kembali ke penginapan Kuraki. Di sana, God Ear beristirahat. Tertidur selama beberapa jam, lalu setelah itu ia kembali terbangun dengan perasaan yang lebih nyaman dari sebelumnya.


Semua luka yang ia derita pulih dalam waktu singkat. Kenyataan itu masih tidak dapat dipungkiri. God Ear memandangnya beberapa kali, dan mencoba untuk bergerak dengan berdiri.


“Hup! Sepertinya aku masih baik-baik saja. Tapi luka ini ...terlalu parah. Sebenarnya apa yang terjadi?”


Greeek!


Pikiran Dewa kembali datang, membuka pintu dan seketika raut wajah cemasnya berubah menjadi sedikit lebih tenang ketika melihat God Ear berdiri dengan bersandar pada dinding ruangan.


“Aku menganggumu? Maaf, aku akan segera pergi,” ucap Pikiran Dewa seraya membalikkan badan.


Ketika ia hendak pergi, God Ear berteriak dan memintanya untuk menunggu sebentar saja.


“Tunggu! Ada hal yang perlu kita bicarakan. Ini soal Dewa Hitam. Kau harus mendengarnya dariku langsung,” kata God Ear yang menghentikan langkahnya.


Pikiran Dewa lantas berbalik badan. Kembali masuk dan duduk setelah menutup pintu itu kembali.


“Ada apa? Duduk saja dan katakan.”


“Apa katamu? Tunggu ...sebaris kalimat terakhir itu, tolong jangan gunakan bahasa rumit itu lagi.” Pikiran Dewa tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan olehnya karena bahasa rusia itu.


“Baiklah. Maaf. Maksudku adalah, aku pernah mengatakan bahwa kita dilarang untuk melahirkan keturunan benar?”


“Oh, iya. Kau mengatakan itu pada kami.”


“Dan itu adalah kebohongan.”


Sontak Pikiran Dewa itu terkejut. Bahwasanya yang dikatakan oleh God Ear dahulu kala adalah suatu kebohongan belaka. Merasa ditipu, rasanya ia ingin sekali melukai orang di depannya saat ini.


“Aku paling tidak suka ditipu. Katakan semua yang kau tahu!” pekiknya menegas seraya menatap tajam.


“Yang kita ketahui di awal itu tidak ada satupun yang berubah. Kecuali Dewa Hitam yang memiliki niat tersembunyi yakni menghancurkan dunia kita. Era kita bahkan semua penduduk akan musnah karenanya.”


God Ear menghela napas panjang sesaat sebelum ia melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Lalu, hal yang aku katakan adalah larangan. Pada kenyataannya adalah membuat keturunan kita adalah sebagai dari Dewa Hitam. Menggantikan Dewa Hitam yang asli,” ungkap God Ear seraya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


“Jadi maksudmu kalau benar apa yang kau katakan. Dewa Hitam berniat menghancurkan dunia ini lalu satu-satunya cara adalah menggantikan posisi kedewaan itu sendiri dengan salah satu keturunan kita?”


God Ear menganggukkan kepala. Ia benar-benar serius dengan yang barusan ia katakan kepada Pikiran Dewa. Ini semua terjadi tiba-tiba, sebagai dari bagian Pemilik Tubuh Dewa, tentu Pikiran Dewa masihlah mempertimbangkan banyak hal.


Termasuk saat dirinya tahu bahwa God Ear terluka karena keberadaan Dewa Hitam yang sebelumnya tidak stabil maupun ketika stabil sesaat setelahnya.


“Aku tahu kau akan menganggap hal ini tidak masuk akal. Bahkan hanya dengan energi apalagi menggunakan kekuatan hitam saja pun akan percuma melawannya dan—”


Ketika itu God Ear terdiam begitu teringat akan sesuatu yang barusan dilupakan. Yakni Yongchun, entah berada di mana dirinya saat ini namun yang pasti Yongchun dalam bahaya.


God Ear lantas beranjak dari sana. Ia bergegas keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.


“Hei, kau mau ke mana?” tanya Pikiran Dewa, menarik lengan God Ear.


“Aku akan pergi untuk membantu God Eye, jangan halangi aku. Karena dia sedang dalam bahaya. Kalau kau ingin ikut, maka ikutlah dan bantu aku.”


God Ear menepis genggamannya lantas pergi dari pintu utama. Untuk segera kembali ke tempat di mana ia bertarung sebelumnya.


Tap, tap!


Langkah God Ear yang terburu-buru itu kini berhenti setelah melihat God Hand bersama dua orang asing di belakangnya. Mereka pula sama terkejutnya karena saling bertatapan satu sama lain.


“God Hand, siapa mereka?”


Hari itu, saat Relia dan Nia hendak mencari keberadaan Yongchun namun nasib mereka tidak beruntung karena bertemu dengan God Ear. Kalau-kalau God Ear tahu bahwa anak yang dibawa Relia adalah keturunan Yongchun, maka mungkin terjadi suatu hal buruk.


“Tunggu aku, God Ear!” teriak Pikiran Dewa yang kemudian menyusul God Ear dari dalam.


“Eh? Ada apa ini?”


Situasi yang cukup serius telah terjadi. Di antara mereka, terbesit suatu pikiran buruk yang berbeda-beda.


“Ah ...God Ear. Mereka adalah temanku? Um ...bagaimana, ini sulit dijelaskan.” God Hand menjawab dengan ragu.

__ADS_1


__ADS_2